Polusi asap Indonesia 2014

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search
Kondisi kabut asap di Kawasan Muaro, Padang pada sore hari (kiri) dan Pekanbaru pada pagi hari.

Polusi asap Indonesia 2014 adalah asap yang muncul akibat dari pembakaran hutan dan lahan yang tak terkendali untuk areal perkebunan kelapa sawit. Kabut asap ini berdampak di beberapa provinsi di Sumatera dan Kalimantan seperti Riau, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi, dan Kalimantan Barat.

Penyebab[sunting | sunting sumber]

Berdasarkan gambar satelit, Greenpeace mengklaim telah menemukan titik-titik api pada tanah yang dimiliki oleh 36 perusahaan kertas dan kelapa sawit. Banyak di antara mereka adalah anak perusahaan Malaysia dan Singapura. Walaupun demikian, sulit membuktikan bahwa pihak-pihak tertentu adalah yang memulai pembakaran. Dari kasus tahun lalu, perusahaan Adei Plantation & Industry, anak perusahaan Kuala Lumpur Kepong, yang terdaftar di Malaysia merupakan satu dari delapan perusahaan yang dituduh telah menyebabkan kebakaran tahun 2013, dan manajer serta direkturnya telah dipidanakan. Apabila terbukti bersalah, mereka dapat dipenjara, dan perusahaan tersebut dapat kehilangan izin mereka.[1][2].

Kualitas udara[sunting | sunting sumber]

Kualitas udara di Kota Pekanbaru pada Minggu tanggal 9 Maret 2014 semakin memburuk akibat diselimuti kabut asap sisa kebakaran hutan dan lahan. Menurut data yang disajikan papan Indeks Standar Polusi Udara yang berada di Kota Pekanbaru pada hari Minggu berada pada angka 310 Psi atau berbahaya. Menurut salah seorang warga udara yang dihirup saat ini bukan lagi asap, tetapi debu. Kabut asap memang tampak semakin pekat. Tidak cuma aroma asap yang tercium. Asap juga sudah membawa debu sisa kebakaran lahan.[3]

Tim Satuan Tugas Penanggulangan Bencana Asap Riau dalam rilisnya menyebutkan, alat ISPU milik PT Chevron Pasific di Rumbai, Pekanbaru, merekam Indeks standar polutan mencapai angka 359,3 yang berarti berbahaya bagi kesehatan manusia.[4]

Dampak[sunting | sunting sumber]

Kesehatan[sunting | sunting sumber]

Hingga hari senin tanggal 10 Maret 2014 menurut catatan Dinas Kesehatan Provinsi Riau mencatat terjadinya peningkatan jumlah penderita infeksi saluran pernafasan atas atau ISPA, yakni mencapai 38.744 jiwa. Jumlah ini mengalami peningkatan sebanyak 729 jiwa.

Sementara penderita terbanyak masih didominasi Kota Pekanbaru dengan 9.268 jiwa. Menyusul Rokan Hilir sebanyak 7.632 jiwa, Bengkalis sebanyak 4.527 jiwa, Dumai sebanyak 3.188 jiwa, Siak sebanyak 2.878 jiwa, Pelalawan sebanyak 2.717 jiwa, Rokan Hulu sebanyak 2.548 jiwa, Kampar sebanyak 1.969 jiwa dan Indragiri Hulu sebanyak 1.512 jiwa.[5]

Sejak tanggal 1 Maret hingga tanggal 10 Maret, tercatat sudah sebanyak 1.300 warga yang terserang infeksi saluran pernafasan atas di Kota Padang. Selain disebabkan fluktuaktif cuaca, kondisi itu disebabkan oleh kabut asap yang melanda Sumatera Barat sejak beberapa waktu terakhir.[6]

Penerbangan[sunting | sunting sumber]

Perbandingan kondisi Pelabuhan Muaro sebelum dan selama kabut asap. Kabut asap sudah mengganggu aktivitas pelayaran dan nelayan di Padang.

Pada tanggal 11 Maret 2014 sekitar 42 penerbangan di Bandar Udara Internasional Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru dibatalkan karena jarak pandang di landasan pacu yang cukup rendah akibat diselimuti oleh kabut asap. Beberapa maskapai penerbangan yang membatalkan penerbangan antara lain adalah Lion Air yang mengoperasikan dua penerbangan saja; Garuda Indonesia hanya mengoperasikan enam penerbangan dari jadwal harian sekitar 12 penerbangan. Maskapai penerbangan yang beroperasi hanya Citilink, AirAsia, dan Tigerair Mandala.[7][8][9] Enam belas maskapai penerbangan dan sembilan diantaranya merupakan maskapai penerbangan reguler yang beroperasi di Bandar Udara Sultan Syarif Kasim II antara lain Garuda Indonesia, Lion Air, Batik Air, Citilink, Tigerair Mandala, Firefly, AirAsia, Silk Air, dan Sky Aviation menghentikan seluruh penerbangannya mulai tanggal 13 Maret 2014 hingga tanggal 15 Maret 2014 dan dapat saja diperpanjang apabila kondisi kabut asap semakin parah atau tidak berubah.[10][11][12][13]

Pendidikan[sunting | sunting sumber]

Karena semakin berbahaya tingkat polusi udara karena kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan di Riau, pemerintah kota Pekanbaru untuk meliburkan seluruh pelajar di Kota Pekanbaru pada tanggal 27 Februari 2014 hingga tanggal 1 Maret 2014.[14] Kemudian karena bertambah parahnya kondisi udara di Pekanbaru, pemerintah kota Pekanbaru kembali meliburkan para pelajar dari tanggal 10 Maret 2014 hingga tanggal 12 Maret 2014.[15][16][17] Pemerintah Kota Pekanbaru kembali memperpanjang masa libur bagi para pelajar hingga hari sabtu tanggal 15 Maret 2014 karena kondisi kabut asap yang bertambah parah. Walaupun begitu beberapa sekolah tidak mengikuti instruksi dari pemerintah khususnya bagi para pelajar kelas enam dan kelas dua belas dengan alasan para siswa tersebut sedang mengikuti ujian akhir dan try out.[18]

Beberapa universitas seperti Universitas Riau, Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau, dan Universitas Islam Riau juga meliburkan mahasiswanya mulai tanggal 11 Maret 2014.[19]

Lainnya[sunting | sunting sumber]

Tebalnya asap kiriman dari Provinsi Riau yang menyelimuti wilayah Sumatera Barat termasuk Kota Padang, membuat para pemain tim sepak bola Semen Padang FC terpaksa memakai masker saat latihan. Menurut pelatih fisik Semen Padang FC, Irwansyah pemakaian masker ini lantaran kabut asap ini bisa berisiko terhadap pemain, terutama pernapasan mereka.[20]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]