Perang Iran-Irak

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Perang Irak–Iran
Bagian dari Perang dingin dan Konflik proksi Iran–Arab Saudi

Seorang Prajurit Iran dengan masker gas di medan pertempuran, Maret 1985
Tanggal22 September 1980 – 20 Agustus 1988
(7 tahun, 10 bulan, 4 minggu, 1 hari)
LokasiTeluk persia, Perbatasan Iran-Irak, Iran Barat
Hasil

Jalan buntu; kedua belah pihak mengklaim kemenangan

Perubahan
wilayah
Status quo dalam pengawasan PBB berdasar resolusi 619 DK PBB
Pihak terlibat

 Iran
Hizbullah
Persatuan Patriot Kurdistan


Pendukung :

 Suriah
 Korea Utara
 China
 Pakistan
 Yaman Selatan
 Ethiopia
 Swedia

 Irak
Mujahidin Rakyat Iran
Sukarelawan Arab


Pendukung :

 Amerika Serikat
 Uni Soviet
 Britania Raya
 Prancis
 Arab Saudi
 Jerman Barat
 Kuwait
 Yugoslavia
Tokoh dan pemimpin
Iran Ruhollah Khomeini
Iran Abolhassan Banisadr
Iran Mohammad Ali Rajai
Iran Ali Khamenei
Iran Hashemi Rafsanjani
Iran Qasem Soleimani
Iran Mustafa Chamran 
Iran Valiollah Fallahi 
Iran Ali Shahbazi
Iran Mohsen Rezaee
Iran Ali Sayad Shirazi
Irak Saddam Hussein
Irak Tariq Aziz
Irak Ali Hassan al-Majid
Irak Izzat Ibrahim al-Douri
Irak Iyad Futayyih
Irak Uday Hussein
Irak Maher Abd al-Rashid
Irak Ra'ad al-Hamdani
Irak Salah Aboud Mahmoud
Kekuatan
640.000 prajurit
350.000 Pasdaran, Milisi Basij, Hizbullah, dan Milisi Kurdistan
1.985 tank
4.000 kendaraan Lapis baja
2.900 artileri
421 pesawat
700 helikopter[2]
1.300.000 prajurit
5.000 tank
8.500 kendaraan Lapis Baja
3.400 artileri
900 pesawat,
412 helikopter[3]
Korban
200,000–500,000 prajurit dan Milisi Tewas 105,000–375,000 prajurit dan milisi Tewas
100,000+ Warga Sipil Tewas
Perang Iran-Irak - 22 September 1980Teheran

Perang Iran-Irak juga dikenali sebagai Pertahanan Suci dan Perang Revolusi Iran di Iran, dan Qadisiyyah Saddam (قادسيّة صدّام, Qādisiyyat Saddām) di Irak, adalah perang di antara Irak dan Iran yang bermula pada bulan September 1980 dan berakhir pada bulan Agustus 1988. Umumnya, perang ini dikenali sebagai Perang Teluk Persia sehingga Konflik Iraq-Kuwait meletus pada awal 1990-an.

Peperangan ini bermula ketika pasukan Irak memasuki perbatasan Iran pada 22 September 1980 akibat masalah perbatasan yang berlarut-larut antara kedua negara dan juga kekhawatiran Saddam Hussein atas perlawanan Syiah yang dibawa oleh Imam Khomeini dalam Revolusi Iran . Walaupun Irak tidak mengeluarkan pernyataan perang, tentaranya gagal dalam misi mereka di Iran dan akhirnya serangan mereka dapat dipukul mundur Iran. Walaupun PBB meminta adanya gencatan senjata, pertempuran tetap berlanjut sampai tanggal 20 Agustus 1988; Pertukaran tawanan terakhir antara kedua negara ini terjadi pada tahun 2003. Perang ini telah mengubah wilayah dan situasi politik global.

Perang ini juga memiliki kesamaan seperti Perang Dunia I. Taktik yang digunakan seperti penggunaan parit, pos-pos pertahanan senapan mesin, serangan dengan bayonet, penggunaan kawat berduri, gelombang serangan manusia serta penggunaan senjata kimia (seperti gas mustard) secara besar-besaran oleh tentara Irak untuk membunuh pasukan Iran dan juga penduduk sipilnya, seperti yang dialami juga oleh suku Kurdi di utara Irak. Dalam perang ini diperkirakan lebih dari satu juta tentara serta warga sipil Irak dan Iran tewas, dan lebih banyak korban yang terluka dari kedua belah pihak selama pertempuran berlangsung.

Latar Belakang[sunting | sunting sumber]

Asal Usul Sejarah[sunting | sunting sumber]

Walaupun perang Iran-Irak yang dimulai dari tahun 1980-1988 merupakan perang yang terjadi di wilayah Teluk Persia, akar dari masalah ini sebenarnya dimulai lebih dari berabad-abad silam. Berlarut-larutnya permusuhan yang terjadi antara kerajaan Mesopotamia (terletak di lembah sungai Tigris-Eufrat, yang kini menjadi sebuah negara Irak modern) dengan kerajaan Persia atau negara Iran modern.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Cordesman, Anthony H. (2006). Iraqi Security Forces: A Strategy for SuccessPerlu mendaftar (gratis). Greenwood Publishing Group. hlm. xviii. ISBN 978-0275989088. Hundreds of thousands of Arab Shi'ites were driven out of [Iraq], and many formed an armed opposition with Iranian support. While most of the remaining Arab Shi'ites remained loyal, their secular and religious leaders were kept under constant surveillance and sometimes imprisoned and killed. 
  2. ^ http://lcweb2.loc.gov/frd/cs/cshome.html
  3. ^ http://www.globalsecurity.org/military/world/war/iran-iraq.htm