Pendidikan di Finlandia

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Pendidikan di Finlandia dikenal sebagai sistem pendidikan terbaik di seluruh dunia. Sejak hasil ujian internasional Program Penilaian Pelajar Internasional (PISA) keluar pada tahun 2000, Finlandia mendapat perhatian khusus dari seluruh dunia. Remaja Finlandia berhasil menempati peringkat pertama bersama dengan Korea Selatan dan Jepang. Pada hasil tersebut, Finlandia menempati peringkat pertama di Literasi Membaca, keempat di Matematika, dan ketiga di Ilmu Alam.[1] Pendidikan berkualitas tersebut bergantung banyak pada kualitas jajaran pendidiknya yang diberikan kebebasan penuh dalam meramu kurikulum dan menentukan metode dan materi belajar-mengajar. Keberhasilan tersebut telah menarik sekitar 100 delegasi dari 40-45 negara di seluruh dunia untuk mengunjungi Kementerian Pendidikan Finlandia pada masa 2005-2011 dan mempelajari kunci sukses sistem pendidikan disana.[2] Finlandia juga telah melakukan ekspor sistem pendidikannya ke negara-negara lain.[3]

Sistem pendidikan di Finlandia tidak memberlakukan pemeringkatan institusi pendidikan dan merupakan sistem inklusif dimana semua siswa dianggap setara dalam haknya untuk mendapatkan pendidikan. Karenanya, tidak ada pembagian kelas menurut kompetensi akademis maupun bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Tahun pelajaran sekolah dimulai pada bulan Agustus dan berakhir di bulan Juni dengan total 190 hari sekolah. Murid bersekolah lima hari dalam seminggu dengan jumlah pelajaran berkisar antara 19-30 per minggunya, tergantung dari tingkat pembelajaran serta jumlah kelas pilihan yang diambil.[4]

Pendanaan pendidikan di Finlandia sangat didukung pemerintah dimana dana swasta dan perorangan sangat rendah; hanya 4,1% dari total pengeluaran operasional pendidikan secara nasional pada tahun 2011. Angka ini jauh lebih rendah daripada rata-rata negara-negara OECD yang berada pada tingkat 32%. Budget pemerintah Finlandia untuk pos pendidikan per siswa adalah EUR 16.714 pada tahun 2011, lebih tinggi 23% daripada budget rata-rata negara-negara OECD.[5] Mayoritas pemerintah daerah juga memiliki otoritas untuk menentukan sekolah bagi setiap siswa yang berada dalam wilayahnya, biasanya sekolah terdekat rumah masing-masing siswa.

Sistem Pendidikan[sunting | sunting sumber]

Pemerintah Finlandia memastikan semua warga negara mendapat hak mendapatkan pendidikan yang sama. Mayoritas sekolah di Finlandia adalah sekolah negeri. Sekolah swasta tidak banyak berbeda secara kualitas dan proses belajar-mengajarnya dibandingkan dengan sekolah negeri. Kementerian Pendidikan Finlandia bertanggung jawab dalam meramu kerangka kebijakan sistem dan implementasi kependidikan di Finlandia, sedangkan implementasinya sendiri merupakan tanggung jawab dari Agensi Kependidikan Nasional Finlandia. Kedua institusi tersebut bekerja sama dalam meramu tujuan pembelajaran, serta isi dan metode pembelajaran untuk tingkat prasekolah hingga menengah atas dan pendidikan andragogi. Administrasi setiap sekolah merupakan tanggung jawab pemerintah daerah yang menentukan alokasi dana, kurikulum lokal, dan perekrutan staf pendidikan. Pemerintah daerah diperbolehkan untuk mendelegasikan tanggung jawab tersebut ke masing-masing sekolah.[4]

Akses Merata ke Pendidikan[sunting | sunting sumber]

Pendidikan formal di Finlandia sepenuhnya dipegang oleh pemerintah dan disediakan secara gratis untuk semua warga negara Finlandia segala usia dan tingkat pendidikan. Fasilitas gratis ini meliputi sarana dan prasarana belajar, makan harian di sekolah, serta transportasi bagi murid yang tinggal jauh dari lokasi sekolah. Pengecualian bagi murid-murid Pendidikan Menengah Atas yang perlu membeli buku cetaknya sendiri-sendiri dan bagi peserta Pendidikan Orang Dewasa (adult education) yang mungkin perlu membayar makanannya sendiri. Selain itu, siswa Menengah Atas maupun mahasiswa dapat mengajukan bantuan dana kuliah melalui sistem beasiswa maupun pinjaman dana pendidikan.[4] Menurut laporan OECD tahun 2013, sebanyak 84% penduduk Finlandia usia 25-64 tahun setidaknya lulus pendidikan menengah atas. Angka ini jauh lebih tinggi daripada rata-rata OECD (75%).[5] Finlandia juga memiliki dua sistem pendidikan andragogi (pendidikan untuk orang dewasa): pendidikan bersertifikat yang bertujuan khusus untuk membantu para tuna karya mendapatkan pekerjaan serta secara umum meningkatkan kualitas sumber daya manusia di lingkup kerja dan industri; serta pendidikan non-formal yang bertujuan untuk meningkatkan keterampilan dan kualitas hidup.

Dukungan Penuh bagi Pelajar[sunting | sunting sumber]

Finlandia berfokus pada optimalisasi kemampuan individu setiap pelajar. Mereka memastikan ini melalui kerangka Pembinaan dan Konseling yang bertujuan untuk mendukung, membantu, dan membina murid agar dapat mencapai kemampuan terbaiknya secara akademis maupun keterampilan hidup, seperti kemampuan berpikir panjang, kritis, serta membuat keputusan. Setiap murid dibina untuk mencari cara belajar terbaiknya masing-masing. Setiap pengajar dan pendidik bertanggung jawab untuk memperlakukan setiap anak secara perseorangan (tidak melakukan stereotipe atau penggolongan).[4] Murid yang berada di bawah rata-rata secara akademis maupun yang berkebutuhan khusus berhak untuk mendapatkan bantuan tambahan secara akademis maupun non-akademis agar mereka dapat mencapai tahap “asyik belajar” dan standar akademis masing-masing.

Otonomi Tinggi[sunting | sunting sumber]

Setiap institusi pendidikan mendapat keleluasaan dalam menjalankan proses belajar-mengajarnya, selama memenuhi kerangka regulasi kependidikan yang ditentukan oleh Kementerian Pendidikan yang memiliki definisi umum tentang kualitas dan efektivitas pendidikan. Guru mendapatkan kebebasan penuh dalam menentukan metode pengajaran serta pemilihan buku dan materi yang digunakan.[3] Universitas bahkan mendapatkan kebebasan yang lebih luas lagi; mereka diperbolehkan untuk menentukan sendiri kerangka dan isi dari setiap program studi dan risetnya masing-masing.[4]

Evaluasi Siswa dan Institusi Pendidikan[sunting | sunting sumber]

Evaluasi utama siswa adalah evaluasi berkelanjutan oleh guru terkait selama tahun ajaran berlangsung. Setiap siswa mendapatkan laporan hasil belajar setidaknya sekali dalam satu tahun akademis. Tidak ada ujian bernilai atau ujian nasional bagi siswa pendidikan dasar. Ujian nasional baru diadakan bagi siswa menengah atas pada akhir tingkat pendidikan (lihat Pendidikan Menengah Atas).

Inspeksi sekolah ditiadakan pada awal tahun 1990-an, dan diganti dengan konsep pembagian informasi, pemberian dukungan, serta pendanaan yang dirangkum dalam legislasi kependidikan, kurikulum nasional, dan standar kualifikasi pengajar.[4] Dengan demikian, kualitas program pendidikan di Finlandia bergantung banyak pada kecakapan tim pengajar dan staf di setiap institusi pendidikan. Setiap institusi pendidikan bertanggung jawab untuk melakukan evaluasi sendiri-sendiri diluar evaluasi nasional yang dilakukan melalui ujian nasional berkala di bidang studi yang berbeda-beda setiap saatnya tergantung keputusan dari hasil evaluasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Finlandia. Mata pelajaran yang diuji bisa jadi di bidang akademik (bahasa, sastra, matematika) atau non-akademik (kesenian, prakarya, atau pelajaran ekstrakurikuler). Hasil evaluasi nasional diberikan kembali ke masing-masing sekolah untuk menjadi bahan peningkatan mutu ke depannya. Tidak ada evaluasi nasional untuk universitas, karenanya setiap universitas diwajibkan melakukan evaluasinya masing-masing secara mandiri dan tidak terdapat peringkat nasional universitas.[4] Evaluasi guru dilakukan melalui diskusi mengenai evaluasi pribadi guru dengan jajaran pimpinan di institusi pendidikan terkait.[3]

Pendidikan Kebutuhan Khusus[sunting | sunting sumber]

Sistem pendidikan di Finlandia bersifat inklusif, yakni, tidak ada pembedaan sistem pendidikan antara pembelajar reguler dan pembelajar berkebutuhan khusus. Murid berkebutuhan khusus tetap bersekolah di sekolah umum bersama dengan siswa reguler dan berhak mendapatkan bantuan dan dukungan tambahan yang bertujuan untuk membuka peluang bagi siswa berkebutuhan khusus agar terbiasa dan mampu melanjutkan ke tingkat pendidikan menengah atas. Di kelas menengah atas, siswa berkebutuhan khusus tetap mendapatkan dukungan, misalnya: sekolah vokasi akan menyediakan rencana pembelajaran kustom per individu berkebutuhan khusus.

Staf Kependidikan Finlandia[4][sunting | sunting sumber]

Guru merupakan salah satu profesi populer dan elit di Finlandia. Pendidikan tinggi keguruan di Finlandia sangatlah selektif. Di bawah ini adalah tingkat penerimaan di masing-masing jurusan keguruan di Finlandia:

  • Jurusan keguruan umum: 10% dari pendaftar
  • Jurusan keguruan mata pelajaran spesifik: 10-50% dari pendaftar
  • Jurusan keguruan vokasi: 30% dari pendaftar

Guru dan asisten pendidikan prasekolah biasanya merupakan lulusan sarjana dengan rata-rata gaji sebesar AS$ 29.125 per tahun (2011).[5] Guru pendidikan dasar hingga menengah atas diharuskan memiliki gelar magister, sedangkan guru pendidikan vokasi wajib memiliki gelar pendidikan yang lebih tinggi di bidang studi pengajarannya. Tingginya syarat pengajar di Finlandia dikarenakan kesuksesan implementasi sistem pendidikan Finlandia sangat bergantung pada setiap pengajarnya dimana pengajar mendapat otonomi tinggi dalam melaksanakan proses belajar-mengajarnya. Guru yang mengajar di enam tahun pertama pendidikan dasar biasanya adalah lulusan jurusan keguruan umum, sedangkan guru mata pelajaran di tiga tahun terakhir pendidikan dasar serta guru menengah atas adalah lulusan magister di bidang pedagogi dan area keahlian mereka. Dosen universitas ilmu terapan harus memiliki gelar magister atau doktor diluar sertifikasi ilmu pedagogi.

Kepala sekolah biasanya lulusan pendidikan tinggi dan memiliki sertifikasi pengajar serta sertifikasi administrasi kependidikan (atau sejenisnya). Mereka juga diwajibkan memiliki pengalaman relevan. Rektor universitas umum harus bergelar doktor atau profesor dan biasanya dipilih oleh dewan dosen di setiap universitas. Rektor universitas ilmu terapan wajib bergelar doktor atau diploma magister dan memiliki pengalaman di area administrasi. Konselor di institusi pendidikan diharuskan lulusan magister dengan program konseling dan pembinaan. Guru untuk siswa berkebutuhan khusus diharuskan memiliki gelar magister di bidang pegagogi khusus dan/atau memiliki kualifikasi untuk pengajaran siswa berkebutuhan khusus.

Tingkat Pendidikan[sunting | sunting sumber]

Bagan tingkat pendidikan di Finlandia.

Pendidikan Prasekolah[sunting | sunting sumber]

Pendidikan prasekolah di Finlandia terdiri dari dua jenis: Pendidikan Usia Dini (usia 0-5) yang bersifat pilihan dan Pendidikan Pradasar (usia 6 tahun) yang bersifat wajib. Semua fasilitas –buku sekolah, makanan harian, dan transportasi bagi murid yang tinggal jauh dari lokasi sekolah– ditanggung oleh pemerintah.

Pendidikan Usia Dini merupakan pendidikan menyeluruh yang terdiri dari pengasuhan, pendidikan, dan pengajaran kepada balita dengan tujuan mendidik mereka untuk memiliki keterampilan hidup dan dasar akademis (berhitung dan membaca) serta memastikan perkembangan sesuai dengan standar usia masing-masing. Pendidikan ini dapat berlangsung di sebuah taman kanak-kanak atau di grup penitipan anak (daycare) swasta yang seringnya menggunakan rumah-rumah pribadi.[4]

Pendidikan Pradasar berlaku wajib untuk semua anak berusia enam tahun. Siswa belajar keterampilan dasar dan pengetahuan umum berbagai bidang yang disesuaikan dengan usia dan kemampuan mereka. Proses belajar-mengajar mengutamakan metode “belajar melalui bermain” (play learning).[4]

Pendidikan Dasar[sunting | sunting sumber]

Pendidikan Dasar di Finlandia merupakan fase wajib belajar sembilan tahun bagi setiap anak berusia 7-16 tahun. Setiap siswa masuk ke sekolah dekat rumah yang ditunjuk oleh pemerintah daerahnya, walaupun di beberapa kota besar orang tua dapat memilih sekolah untuk anaknya dalam batasan tertentu.

Tidak ada penggolongan kelas maupun penjurusan selama tahap ini. Enam tahun pertama setiap guru kelas mengajar hampir semua mata pelajaran. Baru di tiga tahun terakhir terdapat guru-guru khusus untuk hampir setiap mata pelajaran. Tidak ada Ujian Nasional untuk tingkat pendidikan dasar. Evaluasi belajar siswa dilakukan secara berkelanjutan oleh guru terkait, dan laporan hasil belajar diberikan setidaknya sekali dalam satu tahun akademis. Hasil evaluasi inilah yang digunakan untuk menentukan arah pembelajaran siswa selanjutnya di tingkat menengah atas. Evaluasi ini juga dimaksudkan untuk menjadi bahan masing-masing siswa untuk memahami area-area pengembangan dirinya ke depannya dan menumbuhkan minat pembelajaran mandiri. Setelah menyelesaikan Pendidikan Dasar 9 tahun, siswa mendapat sertifikat kelulusan.[4]

Pendidikan Menengah Atas[sunting | sunting sumber]

Pendidikan Menengah Atas di Finlandia terdiri dari dua jenis: Pendidikan Umum dan Pendidikan Vokasi. Fasilitas umum (sekolah dan makan) disediakan gratis oleh pemerintah, namun murid mungkin harus membeli buku sekolahnya sendiri-sendiri. Proses penerimaan siswa di pendidikan menengah atas bergantung banyak pada hasil evaluasi siswa selama di tingkat pendidikan dasar serta nilai yang tercantum di sertifikat kelulusan pendidikan dasar. Lulusan pendidikan dasar yang ingin melanjutkan ke pendidikan vokasi biasanya juga melihat pengalaman kerja dan faktor pendukung lainnya seperti hasil ujian masuk dan tes bakat. Lebih dari 90% lulusan pendidikan dasar di Finlandia memilih langsung melanjutkan ke pendidikan menengah atas. Lulusan semua pendidikan menengah atas –baik pendidikan umum maupun vokasi– mendapatkan kesempatan yang sama untuk melanjutkan ke pendidikan tinggi (universitas).[4]

Pendidikan Umum[sunting | sunting sumber]

Agensi Kependidikan Nasional Finlandia menentukan sasaran dan target pembelajaran serta modul pembelajaran masing-masing mata pelajaran. Dengan panduan dari kerangka kurikulum nasional, masing-masing institusi pendidikan berhak meramu kurikulumnya masing-masing. Silabus pendidikan umum dirancang untuk pembelajaran selama tiga tahun, tetapi fleksibilitas sistem pembelajaran memungkinkan silabus ini untuk diselesaikan dalam waktu 2-4 tahun.

Pembelajaran bersifat modular tanpa tingkat kelas sehingga memungkinkan siswa untuk mencampur mata pelajaran dari pendidikan umum dan mata pelajaran dari pendidikan vokasi. Siswa memilih sendiri jadwal pembelajarannya secara bebas dan mandiri. Setelah menyelesaikan seluruh silabus, siswa mengikuti ujian matrikulasi nasional dan mendapatkan sertifikat kelulusan. Mata pelajaran yang diuji di ujian matrikulasi nasional adalah empat mata pelajaran wajib yang terdiri dari bahasa ibu dan pilihan dari tiga mata pelajaran ini: bahasa nasional kedua, bahasa asing, matematika, dan salah satu mata pelajaran umum (humaniora atau ilmu alam). Siswa juga diperbolehkan mengambil ujian tambahan diluar ujian wajib.

Pendidikan Vokasi (Kejuruan)[sunting | sunting sumber]

Pendidikan dan pelatihan vokasi terdiri dari 8 bidang pendidikan yang memberikan lebih dari 50 sertifikasi vokasi. Pendidikan vokasi terdiri dari tiga tahun pembelajaran yang mencakup penempatan kerja selama minimal 1,5 tahun. Kerangka kualifikasi pendidikan vokasi di Finlandia berdasarkan pada kerangka yang telah ada sejak awal tahun 1990-an yang bergantung banyak pada kerjasama dari pihak industri. Rencana pembelajaran bersifat unik dimana setiap siswa memiliki rencana pembelajarannya masing-masing yang terdiri dari modul wajib dan modul pilihan. Evaluasi utama dari para siswa pendidikan vokasi adalah keterampilan praktek vokasi mereka.[4]

Pendidikan Tinggi[sunting | sunting sumber]

Finlandia memiliki dua jenis universitas: universitas umum dan universitas ilmu terapan (applied sciences). Universitas umum mengedepankan riset dan instruksi ilmiah, sedangkan universitas ilmu terapan memprioritaskan penerapan ilmu secara praktis. Jumlah kursi yang tersedia di pendidikan tinggi Finlandia tidak mampu memenuhi jumlah calon mahasiswa yang ingin masuk sehingga standar penerimaan mahasiswa di pendidikan tinggi Finlandia sangat kompetitif. Pada tahun 2011, hanya 68% dari pendaftar pendidikan tinggi yang diterima masuk.[5] Biasanya calon mahasiswa universitas dinilai berdasarkan nilai ujian matrikulasi nasionalnya dan hasil ujian masuk di institusi pendidikan tinggi terkait, sedangkan calon mahasiswa universitas ilmu terapan biasanya meminta standar nilai lebih tinggi dan juga melihat pengalaman kerja calon mahasiswa.[4]

Universitas di Finlandia merupakan organisasi mandiri yang diatur oleh hukum. Setiap universitas bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk menentukan target operasional dan kualitatif kebutuhan sumber daya setiap tiga tahun. Hasil perjanjian kerjasama ini juga menjelaskan bagaimana setiap target akan dimonitor dan dievaluasi. Universitas mendapatkan pendanaan dari pemerintah, tetapi juga diharapkan untuk mengumpulkan dananya sendiri.[4]

Tingkat Kependidikan Penduduk[5][sunting | sunting sumber]

84% penduduk Finlandia usia 25-64 tahun lulus dari pendidikan menengah atas. Angka ini lebih tinggi dari rata-rata tingkat kelulusan menengah atas di negara-negara OECD (75%). Sedangkan sebanyak 39% penduduk Finlandia memiliki gelar sarjana, lebih tinggi daripada rata-rata OECD yang berada di tingkat 32%. 46% wanita Finlandia memiliki gelar sarjana, sedangkan hanya 33% pria Finlandia yang memiliki gelar serupa. Menurut penelitian tahun 2011 yang dilakukan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Finlandia bersama Agensi Kependidikan Nasional Finlandia, 96% penduduk usia muda pada tahun tersebut diperkirakan lulus pendidikan menengah atas, namun hanya 47% yang diperkirakan akan memiliki gelar sarjana pada masa hidupnya.

Perubahan Sistem Pendidikan[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 2015, Finlandia mengumumkan rencana perubahan sistem pendidikan mereka dimana tidak akan ada lagi satuan mata pelajaran, namun hanya ada pelajaran tematik yang mengajarkan beberapa mata pelajaran dalam satu tema yang saling berkaitan. Guru akan bekerja sama dengan murid-muridnya untuk menentukan pelajaran tematik yang akan mereka pelajari sehingga diharapkan murid akan lebih berpartisipasi dalam proses belajar-mengajar karena mereka memilih tema-tema yang menarik bagi diri mereka sendiri.[6] Pada Agustus 2016, perubahan ini berlaku wajib di semua sekolah namun diberlakukan secara bertahap. Saat ini setiap sekolah hanya perlu menyertakan satu proyek tematik dalam satu tahun ajaran.[7]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Who's No. 1? Finland, Japan and Korea, Says OECD Education Study - Site Selection Online Insider". siteselection.com. Diakses tanggal 2017-09-30. 
  2. ^ Anderson, Jenny (2011-12-12). "From Finland, an Intriguing School-Reform Model". The New York Times (dalam bahasa Inggris). ISSN 0362-4331. Diakses tanggal 2017-09-30. 
  3. ^ a b c Hart, John (2017-08-09). "The big lesson from the world's best school system? Trust your teachers | John Hart". The Guardian (dalam bahasa Inggris). ISSN 0261-3077. Diakses tanggal 2017-09-30. 
  4. ^ a b c d e f g h i j k l m n o http://www.oph.fi/download/146428_Finnish_Education_in_a_Nutshell.pdf
  5. ^ a b c d e https://www.oecd.org/edu/Finland_EAG2013%20Country%20Note.pdf
  6. ^ Ehrenfreund, Max (2015-03-24). "Finland's new plan to change school means combining subjects". Washington Post (dalam bahasa Inggris). ISSN 0190-8286. Diakses tanggal 2017-09-30. 
  7. ^ Spiller, Penny (2017-05-29). "Could subjects soon be history in Finland?". BBC News (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2017-09-30.