Pembicaraan:Bahasa Uighur

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Di sini disebut bahwa ada komunitas Uighur di Indonesia. Apakah benar? Saya kelihatannya belum pernah melihat orang Uighur di Indo.? Meursault2004 01:22, 7 Januari 2006 (UTC)

Kelihatannya ini diterjemahkan langsung dari artikel dalam bahasa Inggris yang juga mencantumkan Indonesia sebagai salah satu tempat yang memiliki petutur bahasa Uighur. Selain itu disebutkan dalam artikel ini tentang Khanate - mestinya ini diterjemahkan, meskipun saya tidak tahu bagaimana. Sultanate=kesultanan, Khanate=ke-khan-an? --Stephensuleeman 02:15, 7 Januari 2006 (UTC)

Tadi ada diskusi di Wikipedia Belanda mengenai hal ini ... Semestinya memang ditulis ke-khan-an meski kurang lazim. Hal ini menurut analogi ke-raja-an, ke-sultan-an, dan ke-kaisar-an (lihat Kekaisaran Romawi). Kecuali beberapa konstruksi yg diambil dari bahasa Jawa: kabupaten (dari bupati), kasunanan (dari Sunan, Susuhunan) dan kadipaten (dari adipati). Meursault2004 02:21, 7 Januari 2006 (UTC)

Pembicaraan:Bahasa Uighur di Indonesia?[sunting sumber]

Saya kira ide atau usulan bahawa terdapat satu komunitas Uighur di Indonesia, walaupun pada satu masa yang lampau, mungkin di ketengahkan kerna di katakan Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah adalah seorang dari Uzbekistan.

Saya percaya yang lebih akurat ialah meskipun kakek-kakek beliau mempunyai gelar Khan, namun pada asalnya mereka adalah pendakwah Islam asal Hadhramaut, Yemen, yang telah berhijrah ke India seperti Gujerat dan Ahmadebad pada kurun ke 12 atau ke 13 Masehi dan selanjutnya ke South-East Asia dan rantau ini. Silsilah keturunan mereka telah tersebar di masjid-masjid di Indonesia, bahkan para pengkaji telah akur dengan kebenarannya.

Pengambilan nama Khan atau Shah adalah bersempena para penduduk pribumi di India, dan hanya merupakan assimilasi dari segi nama. Bahkan hingga ke saat ini seperti di ketahui umum, ramai pribumi India mempunyai nama-nama akhiran Khan--dan mereka ini tidak semestinya sayyid dari keturunan Abdul Malik Al-Muhajir bn Alawi Ammil Faqih bin Muhammad Sohib Mirbath.

Dari segi bahasa, kita mengetahui Bahasa Jawa yang digunakan sekarang yang di kenali sebagai Jawa Baru adalah hasil pengambilan kekata dari bahasa Arab yang telah sekarang di adaptasikan mengikut loghat Jawa berbanding Jawa Kuna yang mengandungi kekata Sanskerta yang jauh lagi banyak.

Kekata tersebut bukan hanya yang terlalu ketara seperti akal--'akal, pikir--fikir, jaman--zaman, lahir--zhohir dan sebagainya seperti nama-nama hari, tetapi juga merangkumi perkataan-perkataan yang tidak ketara kemungkinan asalnya (derivative) kecuali diteliti lebih lanjut.

Seperti kepiye--kaifa, kesuwon--syukran, ampun--afwan, bahkan mungkin juga dayo--dhayyuf. Kebanyakan perkata-perkataan tersebut menyentuh bidang tata-kromo (kromo--karamah).

Terkecuali perkataan-perkataan umpama ini sama digunakan oleh masyarakat Uighur dan Uzbek.