Lompat ke isi

Pegunungan Rwenzori

Pegunungan Rwenzori
Titik tertinggi
PuncakMount Stanley
Ketinggian5.109 m (16.762 ft)
Dimensi
Panjang120 km (75 mi)
Letak Geografis
Pegunungan Rwenzori di Uganda
Pegunungan Rwenzori
Uganda, Republik Demokratik Kongo
Range coordinates00°23′09″N 29°52′18″E / 0.38583°N 29.87167°E / 0.38583; 29.87167

Pegunungan Rwenzori, sebelumnya disebut Ruwenzori (ejaan diganti pada tahun 1980 untuk menyesuaikan supaya lebih dekat dengan ejaan lokal yaitu "Rwenjura"), dan kadang-kadang juga disebut Pegunungan Bulan, atau Bukit Bulan adalah jalur pegunungan di daerah Ekuator timur Afrika, terletak di perbatasan Uganda dan Republik Demokratik Kongo. Pegunungan Rwenzori menghasilkan gletser (glasiasi) permanen yang mengaliri Sungai Nil, sebagaimana ditulis oleh sarjana Yunani Ptolemeus.

Pegunungan Rwenzori mencapai titik tertinggi pada ketinggian 5.109 m (16.761 kaki). Puncak tertinggi Rwenzori ditutupi salju abadi, bersama dengan Gunung Kilimanjaro dan Gunung Kenya merupakan salah satu di antara sedikit daerah di ekuatorial Afrika yang tertutup salju .[butuh rujukan] Taman Nasional Pegunungan Rwenzori dan Taman Nasional Virunga terletak di jalur pegunungan ini.

Puncak Margherita di Gunung Stanley merupakan titik tertinggi pegunungan ini

Pegunungan ini terbentuk sekitar tiga juta tahun lalu pada zaman Pliosen, sebagai hasil dari pengangkatan Batuan kristal termasuk: gneis, amphibolit granit, dan quartzit.[1] Mereka berada di sisi-sisi Retakan Albertine, cabang barat Retakan Afrika Timur.

Pengangkatan ini membagi danau prasejarah Obweruka dan membentuk tiga dari danau-danau terbesar Afrika: Danau Albert, Danau Edward,[1] dan Danau George.[2]

Pegunungan Rwenzori merupakan pegunungan non-vulkanik dan non-orogenik tertinggi di dunia.[3] Area pegunungan ini sekitar 120 km (75 mil) panjangnya dan selebar 65 km (40 mil). Pegunungan ini terdiri dari 6 gunung besar yang dipisahkan jurang-jurang dalam: Gunung Stanley (5.109 m), Gunung Speke (4.890 m), Gunung Baker (4.843 m), Gunung Emin (4.798 m), Gunung Gessi (4.715 m) dan Gunung Luigi di Savoia (4.627 m).[4] Gunung Stanley adalah yang terbesar dan memiliki beberapa puncak anak, dengan Puncak Margherita menjadi titik tertinggi. Batuan metamorf telah membentuk struktur utama gunung-gunung ini, yang diyakini telah miring dan tertekan ke atas oleh pergerakan lempeng. Pegunungan ini berada di daerah yang sangat lembap dan selalu diselimuti awan.

Sejarah manusia

[sunting | sunting sumber]
Rumah dan penduduk Distrik Kasese, Uganda

Sekitar tahun 150 SM ahli geografi Yunani Aleksandria, Ptolemy menyebut pegunungan besar berselimut salju di jantung Afrika dengan nama Selenes oros, jika dilatinkan menjadi "Lunae Montes", dalam bahasa Inggris "Mountains of the Moon" atau pegunungan bulan. Sekarang penamaanya telah diterima secara luas menjadi "Rwenzori Mountains", Pegunungan Rwenzori.

Panorama di area Pegunungan Rwenzori, 1934

Penjelajahan pertama orang Eropa modern di Rwenzori adalah ekspedisi Henry Morton Stanley pada tahun 1889 (awan mungkin menjadi penyebab utama penjelajah dari dua dekade sebelumnya tidak melihat pegunungan ini). Pada tanggal 7 Juni, ekspedisi kedua dimulai dan dipimpin seorang komandan militer, William Grant Stairs, naik ke ketinggian 3.254 meter (10.676 kaki), merupakan orang luar Afrika pertama yang pernah mendaki mencapai ketinggian ini. Pada tahun 1900 John Edmund Sharrock Moore mencapai batas salju pada ketinggian 14.900 kaki dan membuktikan keberadaan gletser permanen. Pendakian pertama ke puncak dilakukan oleh Duke dari Abruzziin pada tahun 1906. Ekspedisi cepatnya adalah pendakian pertama dari semua puncak yang bersalju, pemetaan geografi kompleks, dan mmberi gunung ini nama Italia. Timnya terdiri dari pemandu pendakian, ahli biologi, surveyor, geolog, fotografer, dan sekitar seratus lima puluh kuli. Fotografer Vittorio Sella telah mengambil sejumlah foto yang menunjukkan sebuah dunia yang belum pernah terihat sebelumnya. Karya fotografi Sella ini diabadikan di Museo Nazionale della Montagna, di Turin, dan di Istituto di Fotografia Alpina Vittorio Sella, Biella, Italia. Universitas Makerere, Uganda, juga memiliki foto karyanya.[5]

Rwenzori adalah tempat tinggal masyarakat Konjo dan Amba. Pada awal 1900-an, dua suku tersebut digabungkan ke Kerajaan Toro oleh kekuasaan kolonial. Konjo dan Amba memulai agitasi untuk memisahan diri dari kerajaan Toro pada tahun 1950-an, menjadi suatu gerakan yang kemudian disebut Rwenzururu, gerakan separatis bersenjata pada pertengahan 1960-an. Pemberontakan berakhir melalui penyelesaian yang dinegosiasikan pada tahun 1982, meskipun Rwenzururu Raya baru diakui oleh pemerintah pada tahun 2008.

Lereng Rawa Bigo pada ketinggian 3400 m di pegunungan Rwenzori dengan tumbuhan lobelia raksasa di latar belakang

Pegunungan Rwenzori dikenal karena vegetasi mereka yang bervariasi, mulai dari hutan hujan tropis, padang rumput alpine, hingga salju. Rentang vegetasi ini mendukung kehidupan spesies dan varietasnya sendiri yang antara lain berupa groundsel raksasa dan lobelia raksasa yang bahkan memiliki heather (semacam bunga) pada ketinggian 6 meter (20 kaki) dan tertutup lumut yang hidup di salah satu puncaknya. Sebagian besar wilayah tersebut sekarang merupakan Situs Warisan Dunia, dan dikelilingi oleh Taman Nasional Pegunungan Rwenzori di Uganda barat daya dan Taman Nasional Virunga di bagian timur DRC.[4]

Tidak ada kekurangan air di Rwenzori; Namun, beberapa anggota keluarga afroalpine menyerupai spesies yang biasanya tumbuh subur di iklim gurun. Alasannya terletak pada ekonomi air yang sama. Air tidak selalu tersedia bagi tanaman afroalpine saat mereka membutuhkannya. Selain itu, embun malam memengaruhi transportasi getah di tanaman dan asupan air oleh akarnya. Seiring berlalunya waktu, suhu udara dan tingkat radiasi meningkat dengan cepat, mendesak bagian tanaman yang terpapar saat mereka mencoba memenuhi permintaan transpirasi daun dan menjaga keseimbangan air yang tepat. Untuk mengatasi efek pembekuan, tanaman afroalpine telah mengembangkan sistem insulasi yang membuat mereka memiliki penampilan yang begitu mencolok. Adaptasi ini menjadi lebih menonjol seiring dengan meningkatnya ketinggian.[5]

Ada lima zona vegetasi yang saling tumpang tindih di Pegunungan Rwenzori: zona hutan cemara (sampai 2.800 meter (9.200 kaki)); Zona bambu (2.800 sampai 3.300 meter (9.200 sampai 10.800 kaki)); Zona heather (3.000 sampai 3.800 meter (9.800 sampai 12.500 kaki)); Zona alpine (3.500 sampai 4.500 meter (11.500 sampai 14.800 kaki)); Dan, zona nival (4.400 sampai 5.000 meter (14.400 sampai 16.400 kaki)). Pada ketinggian yang lebih tinggi, beberapa tanaman mencapai ukuran yang sangat besar, seperti lobelia dan groundsels. Vegetasi di Pegunungan Rwenzori merupakan vegetasi unik yang hanya ditemukan di pegunungan tinggi ekuatorial Afrika.[6]

Flora vs ketinggian

[sunting | sunting sumber]
Flora vs ketinggian
Meter
Ordo
150020002500300032003400360038004000420044004600480050005100
Lamiales Mimulopsis elliotii
Mimulopsis arborescens
Rosales Prunus africanaHagenia abyssinica
Alchemilla subnivalis
Alchemilla stuhlmanii
Alchemilla triphylla
Alchemilla johnstonii
Alchemilla argyrophylla
Fabales Albizia gummifera
Cornales Alangium chinense
Malpighiales Casearia battiscombei
Croton macrostachyus
Neoboutonia macrocalyx
Symphonia globulifera
Hypericum sp
Hypericum revolutum
Hypericum bequaertii
Asparagales Scadoxus cyrtanthiflorus
Disa stairsii
Asterales Dendrosenecio erici-rosenii
Dendrosenecio adnivalis
Helichrysum sp.
Lobelia bequaertii
Lobelia wollastonii
Helichchrysum guilelmii
Helichchrysum stuhlmanii
Senecio transmarinus
Senecio mattirolii
Apiales Peucedanum kerstenii
Myrtales Syzygium guineense
Sapindales Allophylus abyssinicus
Gentianales Tabernaemontana sp.Galium ruwenzoriense
Ericales Pouteria adolfi-friedericiiErica arborea
Erica trimera
Erica silvatica
Erica johnstonii
Brassicales Subularia monticola
Primulales Rapanea rhododendroides
Ranunculales Ranunculus oreophytus
Arabis alpina
Santalales Strombosia scheffleri
Poales Yushania alpinaCarex runssoroensis
Festuca abyssinica
Poa ruwenzoriensis
Lecanorales Usnea
Ordo
Meter
150020002500300032003400360038004000420044004600480050005100

Sumber:[6][7][8]

Resesi glasial

[sunting | sunting sumber]
Comparative Images of the Glaciers of the Rwenzori Mountains from 1906 to 2022
Gambar perbandingan Gunung Stanley tahun 1906 (kiri atas, arsip) dan 2022 (kiri bawah) Gambar perbandingan Gunung Stanley Barat tahun 2012 (kanan atas) dan 2022 (kanan bawah) - ketinggian 4910 m dpl dibuat oleh Klaus Thymann pada Proyek Ekspedisi Tekanan
Ahli burung James P. Chapin dalam ekspedisi Ruwenzori di bawah bendera The Explorers Club, 1925

Kekhawatiran yang terus berlanjut adalah dampak perubahan iklim pada gletser Ruwenzori. Pada tahun 1906, 43 gletser yang telah diberikan nama tersebar di enam gunung dengan luas total 7,5 kilometer persegi (2,9 sq mi), atau sekitar setengah dari total luas gletser di Afrika. Pada tahun 2005, kurang dari setengahnya masih ada, dan hanya di tiga gunung dengan luas sekitar 1,5 kilometer persegi (0,58 sq mi). Studi ilmiah terkini, seperti yang dilakukan oleh Richard Taylor dari Universitas Kolese London, telah menghubungkan penyusutan ini dengan perubahan iklim global dan telah menyelidiki dampak perubahan ini pada vegetasi dan keanekaragaman hayati gunung.[9][10][11] Pada tahun 2012, 2020 dan 2022, Klaus Thymann memimpin ekspedisi dengan lembaga amal lingkungan Project Pressure untuk membuat foto-foto perbandingan guna mendokumentasikan secara visual resesi gletser, dan temuan tersebut dipublikasikan di media global termasuk Seven Worlds, One PlanetBBC One Planet,[12] The Guardian,[13] dan Yale Environment 360.[14] Perubahan tersebut dapat dilihat pada gambar perbandingan. Saat suhu meningkat dan gletser mencair, tumbuhan perlahan-lahan merambat naik ke atas gunung.

Gambar Perbandingan tahun 2012. Gunung Stanley (kanan) dan Speke (kiri)
  1. 1 2 "Climate Change and the Aquatic Ecosystems of the Rwenzori Mountains". Makerere University and University College London. 2007-09-15. Diakses tanggal 2014-02-02.
  2. Wayland, E. J. (July–Dec 1934). "Rifts, Rivers, Rains and Early Man in Uganda". Journal of the Royal Anthropological Institute. 64. Royal Anthropological Institute of Great Britain and Ireland: 333–352. doi:10.2307/2843813. JSTOR 2843813. ;
  3. "The Mountains of the Moon". 20 Februari 2021.
  4. 1 2 "Rwenzori Mountains National Park". Rwenzori Abruzzi. 2006-05-27. Diarsipkan dari asli tanggal 2008-03-05. Diakses tanggal 2008-05-06.
  5. 1 2 Flowers of the Moon, Afroalpine vegetation of the Rwenzori Mountains Diarsipkan 2015-09-24 di Wayback Machine., Schutyser S., 2007, 5 Continents Editions, ISBN 978-88-7439-423-4.
  6. 1 2 Linder, H. Peter; Gehrke, Berit (2 March 2006). "Common plants of the Rwenzori, particularly the upper zones" (PDF). Institute for Systematic Botany, University of Zurich. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 30 May 2008. Diakses tanggal 6 June 2017.
  7. "RWENZORI MOUNTAINS NATIONAL PARK, UGANDA". Protected Areas and World Heritage. United Nations Environment Programme. 1994. Diarsipkan dari asli tanggal 2008-03-25. Diakses tanggal 2008-05-08. ;
  8. "Forest Resources of Tropical Africa". Tropical Forest Resources Assessment Project. Food and Agriculture Organization of the United Nations. 1984. UN 32/6.1301–78–04. Diakses tanggal 12-05-2008.
  9. Taylor, R. G.; Mileham, L.; Tindimugaya, C.; Majugu, A.; Muwanga, A.; Nakileza, B. (2006). "Recent glacial recession in the Rwenzori Mountains of East Africa due to rising air temperature" (PDF). Geophysical Research Letters. 33 (10): L10402. Bibcode:2006GeoRL..3310402T. doi:10.1029/2006GL025962. S2CID 1081063.
  10. Tom Knudson, In the Mountains of the Moon, A Trek to Africa’s Last Glaciers, Yale Environment 360 Report, 4 February 2010
  11. [Rwenzori Glaciers (East Africa)], Tropical Glaciology Group, Innsbruck University
  12. "One Planet - In Search of Africa's Ice - BBC Sounds". www.bbc.co.uk (dalam bahasa Inggris (Britania)). Diakses tanggal 2023-01-27.
  13. "The race to map Africa's forgotten glaciers – in pictures". The Guardian (dalam bahasa Inggris (Britania)). 2012-06-02. ISSN 0261-3077. Diakses tanggal 2022-05-02.
  14. "For Uganda's Vanishing Glaciers, Time Is Running Out". Yale E360 (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2024-03-05.

Referensi

[sunting | sunting sumber]

Pranala luar

[sunting | sunting sumber]