Patean, Kendal

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Patean
Kecamatan
Negara Indonesia
ProvinsiJawa Tengah
KabupatenKendal
Pemerintahan
 • Camat-
Luas- km²
Kepadatan- jiwa/km²
Desa/kelurahan-

Patean (bahasa Jawa: ꦥꦠꦺꦪꦤ꧀, translit. Patéan) adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Kendal, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Kecamatan Patean merupakan salah satu dari 20 kecamatan yang terletak di wilayah Kabupaten Kendal yang secara geografis, Kecamatan Patean terletak pada 7.001’ - 7.009’ Lintang Selatan dan 110.000’ - 110.010’ Bujur Timur. Secara Administrasi, wilayah Kecamatan Patean dibatasi oleh Kecamatan Pagerruyung di sebelah utara, Kecamatan Bejen (Kabupaten Temanggung) di sebelah selatan, Kecamatan Sukorejo di sebelah barat, dan Kecamatan Singorojo di sebelah timur. Lokasi Kecamatan Patean terletak relatif jauh dengan Ibu kota Kabupaten. Jarak ibu kota Kecamatan Patean ke ibu kota kabupaten Kendal adalah sekitar 44 km, sedangkan jarak ke ibu kota Propinsi Jawa Tengah sekitar 73 km. Sementara itu, jarak dari ibu kota Kecamatan Patean ke Kecamatan Sukorejo (Kecamatan tetangga terdekat) adalah sekitar 6 km.

Geografi dan Iklim[sunting | sunting sumber]

Geografi[sunting | sunting sumber]

Luas keseluruhan wilayah Kecamatan Patean sekitar 92,94 Km2. Dari total luas ini, sebagian besar digunakan sebagai tanah tegalan 34,43 persen, hutan 19,99 persen, perkebunan 17,89 persen dan tanah persawahan 15,29 persen. Sedangkan sisanya, dimanfaatkan sebagai tanah pekarangan dan keperluan lainnya, seperti untuk jalan, pemakaman, pertokoan, dsb. Wilayah Kecamatan Patean terbagi menjadi 14 desa, yaitu Desa Pakisan, Plososari, Wirosari, Pagersari, Selo, Curugsewu, Gedong, Sukomangli, Kalibareng, Kalilumpang, Kalices, Sidokumpul, dan Sidodadi. Desa dengan wilayah terluas adalah Desa Sidodadi dengan luas 23,03 Km2 (24,78 persen). Sedangkan desa dengan wilayah paling kecil adalah Desa Sukomangli dengan luas 1,96 Km2 (2,11 persen).

Iklim[sunting | sunting sumber]

Menurut Stasiun UPTD Pengairan Kecamatan Sukorejo (meliputi eks kawedanan sukorejo), rata-rata curah hujan di Wilayah Kecamatan Patean pada tahun 2015 berkisar 155 mm/tahun. Rata-rata ini lebih rendah apabila dibandingkan dengan tahun 2014 yang sebesar 159 mm/tahun. Sementara itu, rata-rata banyaknya hari hujan di wilayah Kecamatan Patean pada tahun 2015 adalah sekitar 8 hari. Banyaknya hari hujan tertinggi terjadi pada bulan Desember yaitu 22 hari dan curah hujan tertinggi terjadi pada bulan April yaitu sebesar 391 mm,. Sementara itu, selama tahun 2015 musim kemarau terjadi pada bulan Juli s/d Oktober[1].

Pemerintahan[sunting | sunting sumber]

Kecamatan Patean sebagai bagian dari wilayah Kabupaten Kendal, secara administratif terdiri dari 14 desa dengan pusat pemerintahan berada di Desa Curugsewu. Sampai saat ini belum ada perubahan jumlah desa di Kecamatan Patean. Wilayah Kecamatan Patean dipimpin oleh seorang Camat yang bertanggung jawab kepada Bupati. Sementara itu, wilayah desa dipimpin oleh seorang Kepala Desa yang bertanggung jawab kepada Bupati melalui Camat. Secara administratif, Camat diangkat dan diberhentikan oleh Bupati, sedangkan Kepala Desa dipilih langsung oleh masyarakat di desa yang bersangkutan. Wilayah Kecamatan Patean terbentuk dari beberapa desa, sedangkan setiap desa terdiri dari beberapa dusun/dukuh. Dusun sendiri terbentuk dari beberapa Rukun Warga (RW), Sedangkan RW terdiri dari beberapa Rukun Tetangga (RT). Wilayah Kecamatan Patean terdiri dari 14 desa, 88 dusun/dukuh, 86 RW, dan 336 RT. Dari 14 desa tersebut, desa dengan jumlah RT terbanyak adalah Desa Sidokumpul (48 RT) dan desa dengan jumlah RT paling sedikit adalah Desa Sukomangli dan Desa Kalibareng (masing- masing 8 RT). Sementara itu, desa dengan jumlah RW paling banyak adalah Desa Sidokumpul dengan jumlah 13 RW, dan desa dengan jumlah RW paling sedikit adalah desa Sukomangli 1 RW.

Dengan melihat komposisi RT, maka terlihat bahwa jumlah RT di Desa Sidodadi dan Sidokumpul sangat banyak apabila dibandingkan dengan jumlah RT pada desa- desa lain. Hal ini tentu saja akan berdampak pada tidak optimalnya pelayanan yang diberikan kepada masyarakat. Untuk itu, wacana pemekaran desa sudah seharusnya menjadi pemikiran agar pelayanan kepada masyarakat bisa lebih optimal lagi. Seiring berkembangnya kehidupan Desa, maka pelayanan aparatur desa terhadap berbagai kebutuhan masyarakat harus semakin ditingkatkan. Apalagi, berbagai program pembangunan (baik dari Pemerintah Pusat, Provinsi, maupun Kabupaten) dewasa ini sudah difokuskan pada pembangunan berbasis desa. Secara umum, keberadaan aparatur desa di wilayah Kecamatan Patean sudah relatif baik. Hal ini ditandai dengan telah tercukupinya perangkat desa yang membantu tugas-tugas Kepala Desa, meskipun jumlahnya tidak sama untuk setiap desa.

Pada tahun 2015 ini, dari 14 desa yang ada di Kecamatan Patean hanya 11 desa yang mempunyai kepala desa definitif, sementara untuk 3 desa yang lainnya kepala desa diampu oleh pejabat sementara/pelaksana jabatan yaitu Desa Kalibareng, Sukomangli dan Plososari. Kekosongan kepala desa tersebut dikarenakan masa jabatan yang sudah habis dan belum adanya pilkades lagi. Selain kepala desa ada juga beberapa perangkat yang sudah purna tugas sehingga jumlah perangkat desa di Kecamatan Patean mengalami penurunan[1].

Desa/kelurahan[sunting | sunting sumber]

  1. Curugsewu
  2. Gedong
  3. Kalibareng
  4. Kalices
  5. Kalilumpang
  6. Mlatiharjo
  7. Pagersari
  8. Pakisan
  9. Plososari
  10. Selo
  11. Sidodadi
  12. Sidokumpul
  13. Sukomangli
  14. Wirosari

Penduduk[sunting | sunting sumber]

Jumlah Penduduk[sunting | sunting sumber]

Berdasarkan hasil registrasi dari Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Kendal, Jumlah penduduk Kecamatan Patean tahun 2015 tercatat sebanyak 50.904 jiwa. Dilihat dari komposisinya, jumlah penduduk laki-laki ternyata lebih banyak dibandingkan dengan jumlah penduduk perempuan, yaitu 25.952 jiwa penduduk laki-laki (50,98 persen) dan 24.952 jiwa penduduk perempuan (49,02 persen). Secara umum, desa yang memiliki jumlah penduduk yang paling banyak terdapat di Desa Sidokumpul sebanyak 7.641 jiwa (15,01 persen) dengan komposisi jumlah penduduk laki-laki dan perempuan masing-masing 3.886 jiwa dan 3.755 jiwa dan penduduk yang paling sedikit terdapat di Desa Sukomangli sebanyak 1.089 jiwa (2,14 persen) dengan jumlah laki-laki dan perempuan masing- masing 538 jiwa dan 551 jiwa.

Jumlah rumah tangga di Kecamatan Patean pada tahun 2015 ada sebanyak 13.979 rumah tangga. Sejalan dengan banyaknya jumlah penduduk, rumah tangga yang paling banyak juga terdapat di desa Sidokumpul dengan jumlah 2.112 rumah tangga. Sedangkan jumlah rumah tangga yang paling sedikit terdapat di Desa Sukomangli dengan 287 rumah tangga. Dengan demikian, rata-rata jumlah penduduk per rumah tangga di Kecamatan Patean ada sebanyak 3,64 orang. Hal ini berarti bahwa dalam 1 rumah tangga di Kecamatan Patean, rata-rata berjumlah 3-4 orang. Tidak meratanya jumlah penduduk juga terlihat dari tingkat kepadatan penduduk di masing-masing desa yang ada. Dengan luas daratan sekitar 92,94 km2, pada tahun 2015 rata-rata tingkat kepadatan penduduk Kecamatan Patean. adalah sebesar 548 jiwa per km2. Artinya, dalam area selebar 100x100 meter persegi, ditempati oleh penduduk sebanyak 548 orang. Desa yang paling padat penduduknya adalah Desa Mlatiharjo, yaitu sebesar 1.274 jiwa/km2. Sedangkan tingkat kepadatan penduduk terendah terdapat di Desa Sidodadi yaitu sebesar 281 jiwa/km2[1].

Agama[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 2015, di Kecamatan Patean tercatat ada 344 tempat peribadatan, 81 diantaranya adalah masjid, 249 mushola/langgar, 8 gereja/kapel, 2 pura dan 4 vihara. Untuk masjid dan mushola tersebar di seluruh desa di Kecamatan Patean. Sedangkan geraja/kapel terdapat di Desa Curugsewu, Gedong, Sukomangli, Sidokumpul dan Sidodadi. Untuk pura/vihara hanya ada di Desa Mlatiharjo, Plososari dan Sidokumpul. Penduduk Kecamatan Patean menganut agama yang beragam yang terlihat dari fasilitas peribadatan yang ada. Mayoritas penduduk Kecamatan Patean beragama Islam sebanyak 49.927 jiwa atau sebesar 98,08 persen, kemudian diurutan kedua Kristen Katholik sebanyak 560 jiwaatau sebesar 1,10 persen. Selain itu ada juga Kristen Protestan, Budha dan Hindhu masing-masing sebanyak 240 jiwa, 94 jiwa dan 83 jiwa. Toleransi antar umat beragama di Kecamatan Patean sangat tinggi ini dibuktikan dengan adanya penduduk minoritas yang memeluk agama selain Islam dapat menjalankan ibadah dan membangun tempat ibadah di wilayah yang bersangkutan dengan aman, tenang dan damai. Kerukunan antar umat beragama di Kecamatan Patean selama ini sangat baik, dimana terbukti dengan tidak adanya kerusuhan yang melibatkan agama didalamnya[1].

Pendidikan[sunting | sunting sumber]

Peningkatan kualitas SDM bertitik tolak pada upaya pembangunan bidang pendidikan. Melalui pendidikan diharapkan akan terbentuk SDM yang berkualitas bagi pembangunan. Oleh karena itu, maka diperlukan prasarana pendidikan yang baik dan representatif guna mendukung wajib belajar pendidikan dasar 12 tahun sebagaimana diharapkan oleh Pemerintah. Untuk mendukung kegiatan belajar mengajar, diperlukan sarana dan prasarana pendidikan yang memadai. Jumlah sekolah dikatakan memadai apabila dapat menampung seluruh penduduk usia sekolah yang akan melanjutkan pendidikan. Demikian juga dengan tenaga pendidik atau guru. Jumlah guru dianggap memadai apabila mencapai tingkat perbandingan tertentu terhadap murid sedemikian sehingga proses belajar mengajar di sekolah bisa berjalan efektif. Oleh karena itu, untuk melihat tingkat kecukupan sekolah digunakan indikator rasio murid-guru dan rasio murid-sekolah. Pada tahun 2015 jumlah sekolah di Kecamatan Patean ada sebanyak 79 sekolah, yang terdiri dari TK/KB sebanyak 32 sekolah, SD/MI sebanyak 37 sekolah, SMP/MTs sebanyak 6 sekolah dan SMA/SMK sebanyak 4 sekolah. Jumlah ini tidak mengalami perubahan dibandingkan dengan tahun sebelumnya[1].

Kesehatan[sunting | sunting sumber]

Jumlah fasilitas kesehatan yang ada di Kecamatan Patean pada tahun 2015 ada sebanyak 5 unit, terdiri dari; 1 unit Puskesmas, 3 unit Puskesmas pembantu, dan 1 unit apotek. Jumlah ini masih sama dari tahun sebelum-sebelumnya. Fasilitas kesehatan lain yang belum tersedia di Kecamatan Patean adalah keberadaan poliklinik dan dokter spesialis. Selain fasilitas kesehatan tersebut diatas, ada beberapa tenaga kesehatan yang tersedia di Kecamatan Patean yaitu praktik dokter sebanyak 2 orang yang membuka praktik di Desa Mlatiharjo dan Desa Pagersari, perawat ada 2 orang yang bertugas di Desa Plososari dan Desa Sidodadi. Keberadaan bidan juga sudah ada di setiap desa di Kecamatan Patean yang berjumlah 20 orang. Sebagian besar masyarakat di Kecamatan Patean selain dengan bidan juga masih mempercayakan proses kelahirannya pada dukun bayi, data menunjukkan bahwa ada sekitar 43 orang dukun bayi yang tersebar di seluruh desa di Kecamatan Patean. Mulai tahun 2014 ini puskesmas di Kecamatan Patean mengalami perkembangan dengan adanya puskesmas rawat inap[1].

Ekonomi[sunting | sunting sumber]

Pertanian[sunting | sunting sumber]

Secara umum, sektor pertanian masih menjadi sektor yang paling mendominasi perekonomian di Kecamatan Patean. Hal ini terlihat dari masih banyaknya masyarakat yang mengusahakan pertanian sebagai mata pencaharian pokok mereka.Secara umum, luas total lahan di Kecamatan Patean pada tahun 2015 tercatat 9.294 Hektar. Dari keseluruhan luas ini, sekitar 1.421 hektar (15,29 persen) digunakan sebagai lahan persawahan, 4.863 hektar (52,32 persen) digunakan sebagai lahan bukan sawah seperti tegalan, perkebunan rakyat, hutan, dan lahan bukan sawah lainnya, sementara sekitar 3.010 hektar (32,39 persen) digunakan sebagai lahan bukan pertanian yang meliputi perumahan, hutan negara, dan lahan bukan pertanian lainnya. Dari sekitar 1.421 hektar lahan persawahan yang ada, sebagian besar ditanami tanaman padi dan palawija. Selama beberapa tahun terakhir, lahan persawahan di beberapa desa di Kecamatan Patean juga dialihfungsikan dengan ditanami tanaman buah jambu biji merah. Sementara itu, pada musim-musim tertentu, tanaman ubi kayu dan ubi jalar juga menjadi tanaman unggulan petani di wilayah ini.

Tanaman padi dan palawija merupakan salah satu tanaman yang populer di masyarakat Kecamatan Patean. Pada tahun 2015 tanaman jagung merupakan penyumbang produksi terbesar di kalangan padi palawija yaitu sebesar 43.263,83 ton dengan luasan panen sebesar 6.283 Ha. Diurutan kedua yaitu tanaman padi dengan produksi sebesar 11.408,77 ton yang merupakan total dari padi sawah maupun padi gogo dengan luasan panen sebesar 1.883 Ha. Selain padi dan jagung ada beberapa palawija yang juga ditanam oleh sebagian masyarakat di Kecamatan Patean yaitu antara lain kacang tanah, kedelai, ubi kayu dan ubi jalar. Pada tahun 2015, kacang tanah dapat menghasilkan produksi sebesar 251,80 ton dengan luasan panen sebesar 169 Ha, sementara untuk kedelai hanya ada satu desa yang mencoba melakukan penanaman yaitu Desa Sidodadi yang baru mampu menghasilkan produksi sebesar 2,58 ton dengan luasan panen sebesar 2 Ha. Produksi ubi kayu pada tahun 2015 juga lumayan banyak yaitu sekitar 3.413,38 ton dengan luasan panen 134 Ha, sementara untuk ubi jalar lebih sedikit produksinya dibandingkan dengan ubi kayu yaitu sebesar 239,04 ton dengan luasan panen 8 Ha.

Produksi tanaman pertanian yang tidak kalah potensial lainnya adalah tanaman perkebunan seperti kelapa, Kopi Robusta, Kopi Arabika, Aren, Cengkeh, Kakao, Kapuk dan Kemukus. Pada tahun 2015 produksi tanaman perkebunan terbesar di Kecamatan Patean adalah kelapa dalam yaitu sebesar 552,69 Ton kemudian disusul oleh produksi kopi robusta sebesar 291,15 ton. Selain kedua komoditas tersebut, komoditas kakao dan kapuk juga memiliki produksi yang lumayan besar yaitu sebesar 153,22 ton dan 120,68 ton. Dapaun untuk tanaman cengkeh pada tahun 2015 mampu menghasilkan produksi sekitar 66,15 ton. Untuk aren, kelapa deres, kemukus, kopi arabika dan lada juga mampu menyumbangkan produksi tanaman perkebunan yang ada di Kecamatan Patean[1].

Peternakan[sunting | sunting sumber]

Sub sektor peternakan juga banyak diminati dan sebagai mata pencaharian sebagian masyarakat di Kecamatan Patean. Untuk ternak besar, yang mendominasi yaitu sapi potong dan kerbau. Populasi terbesar ada di desa Plososari yaitu dengan jumlah sapi potong sebanyak 1.441 ekor. Di beberapa desa juga masih ada populasi kerbau yaitu desa Selo, Kalilumpang, Sidokumpul dan Sidodadi, dimana populasi terbesar ada di desa Sidokumpul yaitu sebanyak 19 ekor. Dari tahun ke tahun populasi kerbau semakin menurun karena berganti ke sapi sebagai peliharaan. Selain ternak besar, ternak kecilpun masih banyak diminati untuk dipelihara oleh warga di Kecamatan Patean yaitu kambing dan domba. Populasi kambing terbesar ada di desa Sidokumpul sebanyak 303 ekor dan diurutan kedua dengan populasi kambing sebanyak 268 ekor ada di desa Sidodadi. Sementara, untuk domba populasi terbanyak ada di desa Pakisan sebanyak 115 ekor dan di urutan kedua dengan populasi domba sebanyak 119 ekor berada di desa Plososari.

Selain ternak besar dan ternak kecil, Kecamatan Patean juga potensi akan peternakan unggas. Pada tahun 2015 ternak unggas yang mendominasi adalah ayam ras petelur dengan jumlah populasi sebesar 832.000 ekor, kemudian ayam kampung dengan populasi sebesar 50.315 ekor. Selain kedua populasi unggas tersebut masih ada beberapa unggas yang dipelihara oleh sebagian penduduk di Kecamatan Patean yaitu ayam pedaging, bebek/itik, burung puyuh dan angsa[1].

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d e f g h https://kendalkab.bps.go.id/website/pdf_publikasi/Statistik-Daerah-Kecamatan-Patean-2016.pdf