Sungai Nil

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Nil)
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Sungai Nil di Mesir.

Sungai Nil (bahasa Arab: النيل, translit. an-nīl‎ atau bahasa Mesir/Koptik iteru Egyptian hieroglyphs-Iteru.svg), di Afrika, adalah satu dari dua sungai terpanjang di Bumi. Sungai Nil mengalir sepanjang 6.650 km atau 4.132 mil dan membelah tak kurang dari sembilan negara yaitu: Ethiopia, Republik Demokratik Kongo, Kenya, Uganda, Tanzania, Rwanda, Burundi, Sudan, Sudan Selatan dan tentu saja Mesir. Karena sungai Nil mempunyai sama artinya dalam sejarah bangsa Mesir (terutama Mesir kuno) maka sungai Nil identik dengan Mesir.

Pengukuran langsung yang dilakukan pada 2006 menunjukkan bahwa panjang aliran sungai sekitar 6.719 km meskipun pengukuran teoritis memberikan hasil yang sedikit berbeda.[1] Alirannya yang kencang membuat tidak ada sampah yang mengapung dan sungai terlihat bersih.[2]

Sungai Nil mempunyai peranan sangat penting dalam peradaban, kehidupan dan sejarah bangsa Mesir sejak ribuan tahun yang lalu. Salah satu sumbangan dari sungai Nil adalah kemampuannya dalam menghasilkan tanah subur sebagai hasil sedimentasi di sepanjang daerah aliran sungainya. Tanah yang subur ini memungkinkan penduduk Mesir mengembangkan pertanian dan peradaban sejak ribuan tahun yang lalu.

Geografi[sunting | sunting sumber]

Sungai Nil terbentuk sebagai hasil dari pergerakan kerak benua. Kerak tersebut adalah Lembah Rift yang bermula dari timur Afrika dan berhujung di utara di daerah patahan Palestina dan Levant. Pergerakan kerak ini juga menghasilkan Laut Merah.[3] Lembah-lembah awal aliran proto-Nil yang bermuara di Laut Tethys berusia jutaan tahun. Namun, alirannya baru meluas ke luar Mesir setelah dataran tinggi Etiopia menjauhi Laut Merah sekitar 800.000 tahun yang lalu. Selanjutnya, tanah tempat aliran sungai Nil modern baru terbentuk sekitar 12.500 tahun yang lalu.[4][5]

Etimologi[sunting | sunting sumber]

Nama sungai Nil berasal dari bahasa Yunani dan Latin Νείλος Nilus. Asal kata Nilus tersebut masih diperdebatkan.[6] Terdapat pula kemungkinan etimologi lain seperti dari kata bahasa Semit Nahal yang berarti "sungai".[7]

Sumber[sunting | sunting sumber]

Peta Sungai Nil

Mata air Nil bersumber di wilayah danau di Rwanda dan Burundi modern. Sumber-sumber ini mengalir ke D. Victoria, dan dari sini sebuah sungai mengalir ke D. Albert (D. Mobutu Sese Seko); lebih ke utara aliran ini dikenal sebagai Sungai Nil Putih. Di Khartoum, S. Nil Putih bersatu dengan Sungai Nil Biru yang seperti air terjun mengalir ke bawah dari pegunungan di Etiopia bagian utara. Di sebelah utara Khartoum, sungai itu membentuk induk Sungai Nil, dan menerima air dari satu-satunya sungai besar lain, S. Atbara, yang bersatu dengan S. Nil kira-kira 300 km di sebelah timur laut Khartoum. Sungai Nil kemudian mengalir berkelok-kelok melalui dataran tinggi Sudan bagian utara yang tandus, melewati enam hamparan batu granit keras yang membentuk enam riam antara Khartoum dan Aswan yang merupakan perbatasan antara wilayah Nubia dan Mesir kuno. Akhirnya, setelah kehilangan banyak airnya karena penguapan oleh sinar matahari yang panas terik dan karena kebutuhan untuk irigasi Mesir, kira-kira 2.700 km di sebelah utara Khartoum, Sungai Nil bermuara di Laut Tengah.

Delta Nil[sunting | sunting sumber]

Lembah Nil agak sempit hampir di sepanjang aliran Sungai Nil. Di Nubia sungai itu sebagian besar mengalir melalui ngarai yang kedua sisinya berbatasan dengan gurun. Di sebelah utara Aswan, di daerah yang dahulu adalah Mesir Hulu, Lembah Nil melebar, tetapi tebing terjal di kedua sisinya tidak pernah berjarak lebih dari kira-kira 20 km. Namun, persis di wilayah sebelah utara Kairo modern, sungai itu terbagi menjadi dua cabang utama, yang sekarang disebut S. Rosetta dan S. Damietta, menurut nama kota-kota pelabuhan yang terletak di muara kedua cabang sungai ini di pesisir L. Tengah. Percabangan S. Nil ini membentuk Delta Nil yang berawa-rawa. Pada zaman dahulu, S. Nil mempunyai cabang-cabang lain; para sejarawan dan ahli geografi Yunani klasik menyebutkan adanya lima sampai tujuh cabang. Belakangan, cabang-cabang sungai ini dan beberapa saluran airnya tertutup endapan lumpur sehingga mengecil atau lenyap.

Flora dan fauna[sunting | sunting sumber]

Binatang-binatang yang mendiami sungai Nil di antaranya adalah babon, buaya, dan kuda nil. Babon adalah binatang yang cerdas dan orang Mesir Kuno menghormatinya. Mereka menggambarkan Thoth - dewa kebijaksanaan, dewa tulisan, dan pemersatu para dewa – dengan kepala babon. Pemujaan babon terlihat pada lukisan gua di gurun Sahara dan di Botswana yang menggambarkan babon tanpa kepala. Usia lukisan di Sahara berusia sekitar dua milenia sebelum daerah itu menjadi gersang 4.500 tahun yang lalu.[8]

Kuda nil sekarang hanya terdapat di daerah tertentu. Dahulu, mereka tersebar di sepanjang aliran sungai. Meskipun herbivora, mereka bisa ganas terhadap hewan dan manusia jika di bawah tekanan. Firaun pertama, Menes, terbunuh oleh kuda nil.[9] Berat buaya nil bisa mencapai satu ton.[10] Mereka bersimbiosis mutualisme dengan burung siksak yang membersihkan sisa-sisa makanan di mulut buaya.[11]

Papirus dan rumput gajah tumbuh di sepanjang aliran sungai. Papirus adalah bahan kertas untuk tulisan Mesir kuno.[12]

Banjir Tahunan[sunting | sunting sumber]

Manfaat Banjir Tahunan. Sifat unik sungai besar ini adalah setiap tahun ia meluap dan mengakibatkan banjir di sepanjang bantarannya yang dipadati desa-desa pertanian. Luapan ini terjadi akibat hujan musiman yang lebat (serta mencairnya salju dari gunung-gunung) di Etiopia sehingga S. Nil Biru berubah menjadi aliran deras menuju persambungannya dengan S. Nil Putih, sambil membawa endapan lumpur yang subur dari dataran-dataran tinggi Etiopia. Sungai Atbara juga turut menyebabkan meluapnya S. Nil. Sebelum ada Bendungan Tinggi Aswan, keadaan ini menyebabkan permukaan sungai di Mesir mulai naik sejak bulan Juni, mencapai puncaknya pada bulan September, dan setelah itu surut sedikit demi sedikit. Pada waktu surut, airnya meninggalkan endapan tanah yang sangat subur berbentuk lapisan lumpur yang tipis. Sebagai negeri yang hampir tidak pernah mengalami hujan, pertanian orang Mesir bergantung sepenuhnya pada banjir tahunan di dataran-dataran rendah. Jika luapan air rendah, pengaruhnya sama dengan musim kemarau yang mengakibatkan bala kelaparan; sedangkan luapan yang terlalu tinggi mengakibatkan kerusakan pada sarana irigasi (maupun rumah). Perhatian orang Mesir akan jumlah luapan air yang tepat terbukti dari ditemukannya Nilometer (alat pengukur ketinggian permukaan sungai) di situs-situs kuno. Tanpa banjir ini padang gurun yang tidak jauh dari sana akan meluas sampai di kedua sisi sungai. Namun, pasang surutnya S. Nil, dengan sedikit pengecualian, sedemikian teraturnya sehingga sepanjang sejarahnya, Mesir termasyhur karena panenan yang limpah dan kekayaan agrarisnya.

Agar sebagian dari air banjir itu tersimpan untuk irigasi di kemudian hari selama musim tumbuh, orang Mesir membangun tanggul-tanggul tanah guna menampung air berlumpur dalam waduk-waduk besar.

Sungai Nil juga merupakan jalan raya utama untuk seluruh negeri. Perahu-perahu yang menuju ke utara berlayar mengikuti arus sungai, sedangkan yang menuju ke selatan (melawan arus) didorong oleh angin yang biasanya bertiup ke daratan dari L. Tengah di sebelah utara. Kapal-kapal dagang dari Fenisia dan Kreta dapat berlayar melawan arus sampai ke Tebes dan lebih jauh lagi.

Rujukan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Twigger 2014, hlm. 10A 2006 expedition that had gone up the Nile in powered rubber boats equipped with hang-glider wings for flying over rapids had measured their route as they went. From this practical rather than theoritical measuring we get the official length of 4,175 miles – 6.719 kilometers.
  2. ^ Twigger 2014, hlm. 52(…) but the river always looks clean. You hardly ever see floating rubbish on it and the banks have less plastic flotsam than the sea. It looks like a clean river, and, because it is a fairly fast river – maybe 3 mph midstream in Cairo – it remains a clean river.
  3. ^ Twigger 2014, hlm. 26The Red Nile and the Red Sea are two children of Rift Valley, the tectonic twins.  The Rift Valley starts in east Africa and shatters its way north to that other fracture zone – Palestine and the Levant.
  4. ^ Twigger 2014, hlm. 22The Nile’s earliest valleys are millions of years old. Yet, in its current path, the Nile is shockingly new (in geological terms): only 12,500 years old.
  5. ^ Twigger 2014, hlm. 30A proto-Nile that run into the Tethys Sea – what is now the Mediterranean – existed several million years ago. But it was not until the Ethiopian highlands tilted away from the Red Sea that the Nile could extend backwards out of Egypt. This was around 800,000 years ago.
  6. ^ "Nile". 1911 Encyclopædia Britannica. Volume 19. 
  7. ^ Harper, Douglas. "Nile". Online Etymology Dictionary (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 31 Desember 2020. 
  8. ^ Twigger 2014, hlm. 38Baboons are brainy, they mourn their dead, and they are Nl=ile cratures oar exellence along with the hippo and the croc. The ancient Egyptians recognised the baboon in the figure of Thoth – god of wisdom, of writings, of bringing the gods together. He is depicted with a baboon’s head. I had seen in a rock cave deep in the Egyptian Sahara other evidence of baboon worship. There, painted perhaps two millenia before the desert dried out some 4,500 years ago, were babooon bodies without heads. It was like the mirror image of Thoth. And we know that the people who formed the nucleus of settlers who originated from what we know as ancient Egypt came from this same drying-out Sahara around 5,000 years ago. Even more mysteryously I’d discovered that the same headless baboon painting could be found in caves in Botswana.
  9. ^ Twigger 2014, hlm. 40They were once so widespread as to be worshipped by the ancient Egyptians, along with the baboon-headed Thoth, and feared – Menes, the first ruler of the First Dynasty, the first Pharaoh in effect, was snatched and killed by hippopotamus. (…) Though hippos are vegetarian, mainly eating bankside grass, under stress they can become carnivorous despite being incapable of digesting meat properly.
  10. ^ Twigger 2014, hlm. 48A Nile crocodile can weigh up to a ton (…)
  11. ^ Twigger 2014, hlm. 49It enters the mouth of the giant beast and devours the leeches there. (…) Modern ornithologists are rather sniffy about the crocodile bird, or siksak as it is known along the Nile, (…).
  12. ^ Twigger 2014, hlm. 18Papyrus is the Nile par exellence – it provided the first boat and the first paper. On the walls of tombs papyrus boats are depicted, similar to those still used in Nile. The virtues of papyrus are recorded also on ancient pieces of papyrus mummified by the desert air at Oxyrhynchus and Fayoum. (…) Elephant grass, with its stems like bamboo, looks much stiffer and less graceful than papyrus. It has a brown feathery crown and pointed upright leaves.

Daftar Pustaka[sunting | sunting sumber]

Twigger, Robert (2014). Red Nile : A Biography of the World's Greatest River (edisi ke-satu AS). New York: St. Martin's Press. ISBN 978-1-250-05233-9. OCLC 883962326. 

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]