Muhammad Sangidu

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Sangidu adalah Kepala Penghulu Kesultanan Yogyakarta ke-13 yang dilantik pada tahun 1914 (Darban 2000, hlm. 78).

Ketib Anom Kiai Muhammad Sangidu, Kiai Haji Muhammad Sangidu, atau K.R.P.H. Muhammad Kamaluddiningrat (lahir di Kampung Kauman Yogyakarta pada tahun + 1855 dan dimakamkan di Makam Hastorenggo, Kotagede ketika meninggal pada tahun + 1940) adalah Kepala Penghulu Kesultanan Yogyakarta ke-13 yang dilantik pada tahun 1914 untuk menggantikan penghulu sebelumnya, yaitu K.R.P.H. Muhammad Khalil Kamaluddiningrat. Dia dikenal sebagai pemegang stamboek (kartu anggota Muhammadiyah) pertama, karena merupakan anggota pertama organisasi Muhammadiyah. Cicit dari Raden Wirokromo tersebut merupakan kerabat dari Ahmad Dahlan, yang kemudian menjadi seorang Ketib Anom Kesultanan Yogyakarta. Selain memiliki ikatan keluarga dengan Dahlan, Sangidu juga memiliki kesamaan paham dengannya dan menjadi pendukung dari organisasi Muhammadiyah. Muhammadiyah bahkan mulai berkembang dengan pesat ketika Sangidu diangkat menjadi penghulu Kesultanan Yogyakarta.

Latar belakang keluarga[sunting | sunting sumber]

R.H.[i] Muhammad Sangidu adalah putra dari Kiai Ma’ruf Ketib Tengah Amin dan Nyai Sebro (R.Ngt.[ii] Ketib Amin). Dia merupakan anak pertama dari lima bersaudara, dengan adik-adiknya bernama R.H. Muhsin, R.Ngt. Muhsinah, R.H. Ali, dan R.H. Syarkowi. Adapun ayahnya adalah anak kedua dari sepuluh orang anak Kiai Maklum Sepuh atau Kiai Penghulu Muhammad Maklum Kamaluddiningrat (Kepala Penghulu Kesultanan Yogyakarta ke-9),[1][2] sedangkan ibunya merupakan anak keempat dari K.R.T.[iii] Ronodirdjo dari istri ketiganya yang bernama Gentang Pakem. Ronodirdjo adalah seorang pejabat Bupati Anom Patih Danuredjo atau wakil bupati di Kesultanan Yogyakarta, dan merupakan putra dari Raden Wirokromo atau Kiai Bayeman dari Madiun. Ronodirdjo juga merupakan pembantu sultan dalam bidang keagamaan. Selain Nyai Sebro, keturunan Ronodirdjo dari Gentang Pakem adalah R.P.Ng.[iv] Djojosantoso (Panji Prajurit Ketanggung), R.H. Ismail (Abdi Dalem Poliyer Kaji Selusin Kedaton), R.Ng.[v] Ronokusumo, R.Ngt. Tjokrowedono, R. Demang Wrekso Prawiro Tondo-Pranolo (Demang Tlotok Gunung Kidul), dan R.Ngb.[vi] Hardjodarsono (Asisten Rongkop Gunung Kidul).[3]

Pernikahan[sunting | sunting sumber]

Siti Umniyah merupakan salah satu putri Sangidu dari pernikahan keduanya (Darban 2000, hlm. 78).

Istri pertama Sangidu (namanya tidak diketahui) adalah putri dari Muhammad Khalil Kamaluddiningrat (Kepala Penghulu Kesultanan Yogyakarta ke-12).[4] Dari pernikahan pertamanya itulah dia memiliki tiga orang anak, yaitu Djalaluddin (suami dari Siti Dariyah – mertua Haiban Hadjid), Siti Salmah (istri dari Farid Ma’ruf), dan Siti Nafi’ah (istri dari Masduki – mertua Mukti Ali).[5][6] Sangidu dan mertuanya berbeda haluan karena dia menjadi pendukung gerakan dakwah yang di kemudian hari dikenal dengan nama “Muhammadiyah”.[7] Dia lantas melakukan pernikahan kedua dengan Siti Jauhariyah (putri Sholeh dan kakak ipar Ahmad Dahlan).[7][8][9] Dari pernikahannya itulah dia dikaruniai sembilan orang anak, yaitu Siti Umniyah, Dariyah, Muhammad Wardan, Darim, Muhammad Jannah, Muhammad Jundi, Jazuri, Burhanah, dan Wardhiyah.[10][6]

Peran awal pengembangan Muhammadiyah[sunting | sunting sumber]

Menurut Mitsuo Nakamura (pengkaji Muhammadiyah dari Dalian, Tiongkok), Sangidu bukanlah orang yang terlalu dikenal di kalangan Muhammadiyah, apalagi umat Islam di kawasan Hindia-Belanda pada awal abad ke-20, tetapi dia adalah pemegang stamboek pertama yang mengembangkan Muhammadiyah pada tangga permulaan.[11] Seperti halnya Ahmad Dahlan, penghulu Kesultanan Yogyakarta ke-13 tersebut bukanlah seorang sarjana atau penulis yang meninggalkan buku dan artikel, tetapi dia merupakan seorang organisatoris.[12] Selain itu, kendati membawa ide pembaruan, pendekatan yang dilakukannya cenderung kultural dalam mengembangkan gagasan Muhammadiyah.[13]

Pembaruan dalam bidang keagamaan[sunting | sunting sumber]

Sebelum resmi berdiri, penyebaran paham Muhammadiyah awalnya hanya berpusat di Langgar Kidul yang digerakkan oleh Ahmad Dahlan dan Ibrahim dengan penyebaran informasi kepada para ulama yang telah sepaham saja di wilayah sekitar Kampung Kauman.[14] Namun, ajaran tersebut lama-kelamaan mulai menyebar ke tempat lain yang ada di Kampung Kauman, seperti para santri yang belajar di pendopo rumah Sangidu (tempat yang kemudian terkenal sebagai Pendopo Tabligh).[15][16]

Perjuangan Sangidu dalam membela ajaran Ahmad Dahlan dimulai ketika dirinya mengikuti paham baru tersebut dan mengajarkannya kepada beberapa santri Kampung Kauman di Pendopo Tabligh. Meskipun pada saat itu Muhammadiyah belum terbentuk secara resmi, tetapi dia meminta kepada para santrinya untuk mengamalkan ajaran Islam secara nyata, terutama Surah Al-Ma’un.[a][17][18] Para santri juga diminta untuk terjun langsung di dalam amalan sosial. Mereka diajak untuk menyantuni para pengemis, memberinya makan, menyuruh mereka mandi untuk kemudian diberikan pakaian, dan akhirnya diajak bersembahyang.[19][20]

Seperti halnya Ahmad Dahlan, Sangidu lebih banyak memberikan contoh daripada memberikan ceramah kepada para santrinya. Saat itu, Yogyakarta adalah kota tujuan kaum urban asal kawasan pinggiran untuk mengadu nasib. Tindakan yang dilakukannya sebagai perwujudan dari amalan Surah Al-Ma’un adalah mengumpulkan para pekerja dan fakir miskin yang berasal dari kawasan pinggiran itu ke pendopo rumahnya untuk belajar ilmu keagamaan bersama dengan para santrinya.[21] Ide-ide dan pemberdayaan rakyat kecil dari Ahmad Dahlan dan Sangidu tersebut sampai sekarang masih dipahami dengan baik oleh para pegiat Muhammadiyah dan Aisyiyah.[22]

Sebelum Sangidu menjabat sebagai penghulu Kesultanan Yogyakarta, tantangan yang dihadapinya dalam rangka menyebarkan dakwah amar makruf nahi mungkar tidaklah mudah. Apabila Ahmad Dahlan dituduh sebagai “kiai kafir” dan gerakan pembaruan yang disebarkannya dikatakan “Kristen alus” oleh para ulama yang mempertahankan pola lama, dirinya dianggap sebagai perusak hubungan persaudaraan di antara masyarakat Kauman. Hal ini disebabkan karena Kiai Djalal dan Sangidu sebagai pimpinan Pendopo Tabligh membela gerakan yang dicetuskan oleh Ahmad Dahlan, sedangkan Muhsin sebagai pimpinan Langgar Dhuwur yang masih bersaudara dengan Kiai Djalal dan Sangidu tidak menyetujui gerakan pembaruan tersebut.[23]

Peningkatan perkembangan Muhammadiyah dimulai ketika Sangidu sebagai salah seorang pendukungnya diangkat menjadi penghulu[b] di Kesultanan Yogyakarta untuk menggantikan K.R.P.H.[vii] Muhammad Khalil Kamaluddiningrat yang wafat pada tahun 1914, dengan gelar K.R.P.H. Muhammad Kamaluddiningrat.[18] Pergantian penghulu tersebut membawa pengaruh cukup signifikan di dalam Kampung Kauman. Ulama-ulama dan masyarakat yang tidak setuju dengan paham keagamaan Muhammadiyah semakin menyusut. Seiring dengan terputusnya regenerasi kiai lokal-tradisional, paham Muhammadiyah menjadi paham yang dominan di Kauman.[24] Gerakan Muhammadiyah bahkan diizinkan masuk ke Kawedanan Reh Pengulon sebagai tempat aktivitasnya karena Sangidu membuka Kawedanan Reh Pengulon secara bebas kepada masyarakat untuk berdialog dan datang kepadanya.[25]

Usulan nama "Muhammadiyah"[sunting | sunting sumber]

Nama "Muhammadiyah" pada awalnya diusulkan oleh Sangidu di Pendopo Tabligh (Darban 2000, hlm. 80).

Setelah memahami ajaran kaum reformis, Ahmad Dahlan merasa memerlukan adanya sebuah organisasi yang dapat menunjang misinya dalam menyebarkan paham pembaruan. Dia pun akhirnya memutuskan untuk mendirikan sebuah organisasi rapi yang tidak sekedar mengurus pendidikan saja, tetapi juga menghimpun dan menjadi wadah gerakan kaum pembaru. Maksud tersebut disampaikannya kepada para murid, saudara, dan sahabat yang sepaham dengan gerakan reformasi Islam yang dibawanya di Kauman. Pada tahun 1911 di Pendopo Tabligh, Muhammad Sangidu mengusulkan nama untuk gerakan yang akan dirintis oleh Ahmad Dahlan itu, yaitu “Muhammadiyah”.[7][26] Nama ini lantas dikukuhkan oleh Ahmad Dahlan sebagai nama organisasinya setelah berulang kali dilakukan salat istikharah. Muhammadiyah dinyatakan berdiri pada tanggal 8 Dzulhijah 1330 H atau 18 November 1912.[27]

Nama Muhammadiyah diambil dari nama Nabi terakhir umat Islam Muhammad, ditambah dengan huruf Arab ya dan ta yang bermakna pembangsaan atau identifikasi. Nama tersebut juga bermaksud untuk menjelaskan bahwa para pendukung organisasi ini adalah umat Muhammad, yang asasnya adalah ajaran Muhammad, yaitu Islam. Ideologi pembaruan Muhammadiyah dipersiapkan dengan keyakinan dan rencana kerja yang berproses ke arah sistematik.[28] Muhammadiyah lantas dikenal sebagai organisasi dakwah dan organisasi sosial kaum terdidik yang mengusung kredo tajdid (pembaruan) di kemudian hari.[29]

Pada tanggal 20 Desember 1912, Muhammadiyah mengajukan rechtspersoon (permintaan sebagai badan hukum) kepada pemerintah Hindia-Belanda melalui bantuan para pengurus Budi Utomo.[7] Ahmad Dahlan tercantum sebagai pemohon pertama, bersama enam muridnya R.H. Syarkawi, H. Abdulgani, H.M. Sudja, H.M. Hisyam, H.M. Tamim, dan H.M. Fachrudin. Muhammadiyah lantas secara resmi berdiri dengan keluarnya Besluiten van den Gouverneur Generaal van Nederlandsch-Indie 22 den Augustus 1914 (No. 81), dengan syarat ruang lingkupnya dibatasi hanya untuk wilayah Yogyakarta saja.[30]

Pelantikan sebagai penghulu[sunting | sunting sumber]

Ketika menjabat sebagai penghulu, Sangidu mendapatkan tempat di Kawedanan Reh Pengulon atau Bangsal Pengulon sebagai kantor dan rumah jabatan (Rohman 2019, hlm. 207).

Sangidu merupakan Kepala Penghulu Kesultanan Yogyakarta ke-13[c] yang dilantik pada tahun 1914 untuk menggantikan penghulu sebelumnya, yaitu Muhammad Khalil Kamaluddiningrat.[7] Muhammad Sangidu menjabat sebagai seorang penghulu kesultanan sampai dengan tahun 1940.[d] Sebelum diangkat menjadi penghulu, gelar dari Muhammad Sangidu adalah Ketib Anom Kiai Muhammad Sangidu.[5] Dalam catatan sejarawan UGM (Universitas Gadjah Mada Yogyakarta), Ahmad Adaby Darban, kerabat dari Ahmad Dahlan tersebut dianugerahi nama kehormatan K.R.P.H. Muhammad Kamaluddiningrat ketika diangkat sebagai penghulu Masjid Agung Yogyakarta.[31]

Pergantian penghulu tersebut ternyata membawa pengaruh yang cukup signifikan di dalam Kampung Kauman.[e] Hal ini disebabkan karena Muhammad Sangidu merupakan sedulur gawan[f] dengan Ahmad Dahlan. Muhammad Sangidu merupakan menantu dari Sholeh sekaligus murid dari Ahmad Dahlan sendiri. Selain memiliki ikatan keluarga dengan Ahmad Dahlan, Muhammad Sangidu juga memiliki kesamaan paham dengan Ahmad Dahlan dan menjadi pendukung dari organisasi Muhammadiyah. Dukungan amal usaha dari Muhammad Sangidu telah mendorong Muhammadiyah berproses secara intensif pada masa awal pendiriannya di lingkungan masyarakat Kampung Kauman.[32]

Darban mencatat bahwa dengan dilantiknya Muhammad Sangidu menjadi penghulu keraton, Bangsal Pengulon menjadi tempat yang semakin terbuka bagi gerakan reformasi Islam Muhammadiyah.[33] Muhammadiyah mulai diizinkan masuk ke Bangsal Pengulon yang sebelumnya menjadi tempat tabu bagi masyarakat awam dan menjadikannya sebagai sentra penggemblengan kader-kader mubalig Muhammadiyah.[5][34] Sebagai pengkaji Aisyiyah, Hajar Nur Setyowati dan Mu'arif turut menambahkan bahwa Muhammad Sangidu telah mempermudah Ahmad Dahlan dalam mengenalkan pemahaman Islam modern dalam konteks masyarakat Islam tradisionalis di Yogyakarta pada awal abad ke-20.[35]

Muhammad Sangidu sebagai abdi dalem Kesultanan Yogyakarta tidak menunjukkan sikap antagonistik terhadap pihak keraton dalam kaitannya dengan kelahiran Muhammadiyah, meskipun sebelumnya pernah terjadi ketegangan antara ulama-ulama senior di Kampung Kauman dengan Ahmad Dahlan tentang masalah arah kiblat dan amalan-amalan agama Islam lainnya.[36][14][37] Muhammad Sangidu mendamaikan ideologi gerakan yang disokongnya melalui posisinya sebagai pejabat Kesultanan Yogyakarta. Kesultanan Yogyakarta dipandang sebagai pusat tradisi kejawen yang penuh mistik,[38][39] sedangkan di sisi lain organisasi Muhammadiyah lebih mengidentifikasikan diri sebagai gerakan puritan yang gencar memberantas takhayul (percaya terhadap sesuatu yang sebenarnya tidak ada), bidah (perbuatan yang dikerjakan tidak berdasarkan contoh yang sudah ditetapkan, termasuk menambah atau mengurangi ketetapan), dan khurafat (ajaran yang tidak masuk akal) di kemudian hari.[40]

Latar belakang Muhammad Sangidu secara politis-struktural sebagai bagian dari ulama keraton dan penghulu Masjid Agung Yogyakarta membentuk sikap yang kooperatif dengan kekuasaan kesultanan.[5] Menurut Siti Ruhaini Dzuhayatin (anggota Majelis Tarjih dan Pengembangan Pemikiran PP. Muhammadiyah 2000-2005), sikap inilah yang nantinya mewarnai corak Muhammadiyah sebagai organisasi yang responsif-adaptif terhadap pemerintah.[41] Dengan memanfaatkan kultur lokal sebagai medium berdakwah, Muhammad Sangidu mencoba membangun paradigma baru mengenai Muhammadiyah dalam hal tanzih (purifikasi), yaitu berupa sikap inklusif yang mencerminkan Muhammadiyah sebagai Islam moderat.[42]

Terkait dengan sikap Muhammad Sangidu yang kooperatif dengan kekuasaan kesultanan, sejarawan Harry J. Benda menegaskan jika strategi dakwah yang dilakukan oleh Muhammad Sangidu merupakan salah satu langkah dalam membangun budaya baru di tengah paradigma tradisionalisme masyarakat pada waktu itu.[13] Dalam hal ini, Muhammad Sangidu justru telah mengubah posisinya dari ulama yang hanya bisa “disentuh” oleh orang-orang tertentu, seperti para santri dan orang-orang yang dekat dengan golongan bangsawan, menjadi seseorang yang dekat dengan masyarakat di sekitarnya. Sikap kooperatif dan gagasannya yang moderat ini dalam pandangan sejarawan M.T. Arifin menyebabkan pemikiran-pemikiran Muhammad Sangidu dapat diterima oleh kalangan kesultanan. Sikap tersebut dilakukan berkenaan dengan masalah-masalah yang tidak bertentangan secara substantif dengan akidah yang diyakininya.[43]

Sebagai salah satu keturunan dari Muhammad Sangidu, Widiyastuti turut menilai bahwa posisi yang diberikan oleh pihak kesultanan kepada kakeknya tersebut dimaksudkan untuk memberikan suasana yang stabil.[44] Selain itu, posisi ini juga dimaksudkan agar ide-ide pemurnian Islam dapat berkembang di dalam keraton. Hal ini disinyalir oleh sejarawan M.C. Ricklefs ternyata efektif mendorong para kerabat keraton untuk mengikuti ajaran dari Muhammad Sangidu.[45]  

Sejalan dengan pandangan Arifin dan Widiyastuti, pengkaji Muhammadiyah Deliar Noer mengomentari posisi Muhammad Sangidu dalam kaitannya dengan pengembangan pembaruan Islam yang digagas oleh Ahmad Dahlan ini pada dasarnya tidak bisa steril dari peran Sri Sultan Hamengku Buwono VII sebagai penguasa tertinggi saat itu. Noer menambahkan bahwa pihak kesultanan tidak mempersulit gerakan Muhammadiyah yang turut disebarkan oleh Muhammad Sangidu. Paling tidak, Sri Sultan Hamengku Buwono VII “memberikan angin” kepada ide pembaruan Muhammadiyah agar berkembang di dalam kehidupan warganya, khususnya Kampung Kauman.[46]

Aktivitas di Muhammadiyah[sunting | sunting sumber]

Pembaruan dalam bidang kebudayaan[sunting | sunting sumber]

Percobaan pertama Muhammad Sangidu untuk mengubah adat masyarakat, yaitu menyangkut upacara pernikahan. Ketika menikahkan putrinya yang bernama Siti Umniyah, dia mengubah tata cara adat yang tidak sesuai dengan ajaran Islam – yang banyak membawa pemborosan – dengan walimah (suguhan yang sederhana), tetapi seluruh undangan serta para fakir miskin dapat menikmatinya. Sebagian dari biaya yang telah direncanakan untuk pesta pernikahan tersebut sisanya lantas dibagi menjadi tiga, yaitu untuk walimah, modal hidup pengantin baru, dan disumbangkan kepada Muhammadiyah.[47] Setelah penyederhanaan upacara pernikahan itu berhasil, Muhammadiyah memutuskan bahwa setiap anggotanya diperintahkan untuk mengatur rencana biaya keseluruhan apabila akan mengadakan acara hajat (pernikahan ataupun sunat). Biaya tersebut sebaiknya dibagi menjadi tiga seperti yang dilakukan oleh Muhammad Sangidu. Pelaksanaan keputusan ini dijalankan dengan cara setiap akan ada hajat, pengurus Muhammadiyah mendatangi pemilik hajat dan menerangkan kebijakan itu. Masyarakat Kampung Kauman sedikit demi sedikit dapat mengikuti perubahan tersebut. Proses perubahan ini berlangsung sedikit demi sedikit melalui jalur pendekatan kekeluargaan.[48]

Sumbangan pemikiran lain yang dilakukan oleh Muhammad Sangidu untuk mengubah adat kebiasaan masyarakat adalah mengusahakan ketepatan 1 Syawal berdasarkan kalender Hijriah. Hal ini dilakukan karena pada waktu itu masyarakat masih memakai perhitungan aboge (tahun Jawa). Para ahli hisab Muhammadiyah, termasuk Ahmad Dahlan dan Muhammad Sangidu, mengadakan penyelidikan dengan metode ru’yat bil’ aini. Mereka menetapkan bahwa 1 Syawal terjadi satu hari lebih dahulu dari Grebeg Syawal. Hasil perhitungan dengan metode hisab dan ru’yat bil’ aini tidaklah berbeda.[47] Muhammad Sangidu lantas mengantar Ahmad Dahlan menghadap Sri Sultan Hamengku Buwono VII untuk menyampaikan maksud mengadakan salat Idul Fitri sehari sebelum dilaksanakannya Grebeg Syawal dan membenarkan arah saf di Masjid Agung Yogyakarta. Maksud tersebut diterima oleh sultan, tetapi Grebeg Syawal tetap dilaksanakan memakai perhitungan aboge. Sultan mengatakan kepada Ahmad Dahlan bahwa “Berlebaranlah kamu menurut hisab atau ru’yat, sedangkan grebeg di Yogyakarta tetap bertradisi menurut hitungan aboge,” demikian jawab Sri Sultan Hamengku Buwono VII.[7][49]

Sebagai seorang khatib, jabatan Ahmad Dahlan berada di bawah hoofdpenghulu dalam struktur lembaga Kepenghuluan Keraton Yogyakarta. Dia tidak mungkin bisa masuk ke dalam keraton dan bertemu langsung dengan sultan tanpa melewati otoritas hoofdpenghulu. Dengan demikian, peristiwa ini terjadi pasca tahun 1914 ketika Sangidu telah menjabat sebagai penghulu Kesultanan Yogyakarta.[50]

Rintisan pendidikan[sunting | sunting sumber]

TK ABA Kauman merupakan TK pertama kali yang didirikan di Indonesia (Suratmin 1990, hlm. 79). Sekolah ini dirintis oleh Sangidu dan angkatan muda wanita Muhammadiyah SPW (Siswo Proyo Wanito) dengan nama awal Frobelschool (Seniwati & Lestari 2019, hlm. 225).

Pada tahun 1918, Muhammad Sangidu memelopori pendirian sekolah tingkat lanjut yang dinamakan dengan Al-Qismul Arqo. Sekolah ini mendalami agama Islam dan menjalankannya dengan sistem sekolah modern. Pada perkembangan selanjutnya, sekolah tersebut berganti nama menjadi Madrasah Muallimin Muhammadiyah dan Madrasah Mualimat Muhammadiyah sejak tahun 1932.[51]

Muhammad Sangidu juga menjalin kerjasama dengan cikal bakal organisasi angkatan muda wanita Muhammadiyah SPW (Siswo Proyo Wanito). Setahun setelah memelopori pendirian Al-Qismul Arqo, Muhammad Sangidu dan SPW merintis pendidikan bagi anak-anak usia dini di Kawedanan Reh Pengulon dengan nama Frobelschool.[52][53] Taman Kanak-Kanak yang diselenggarakan untuk anak-anak berusia minimal empat tahun ini merupakan sekolah pertama yang didirikan oleh bangsa Indonesia.[54] Selain itu, Frobelschool adalah embrio dari TK ABA (Taman Kanak-Kanak Aisyiyah Bustanul Athfal).[55]

Berkat bantuan dari Muhammad Sangidu, materi pelajaran di Frobelschool semakin berkembang.[56] Adapun materi pelajaran bagi anak-anak tersebut adalah bimbingan dasar-dasar agama Islam melalui nyanyian dan cerita. Selain itu, pelajaran di sekolah ini juga diselingi dengan permainan anak-anak di dalam maupun luar ruangan. Dalam perkembangan selanjutnya, amal usaha rintisan Muhammad Sangidu dan para wanita muslim Kampung Kauman tersebut diteruskan sebagai pedoman gerak langkah organisasi Aisyiyah.[57]

Pada tahun 1924, Siti Djuhainah (sekretaris SPW) dan Siti Zaibijah (bendahara SPW) merintis kelanjutan pendidikan anak-anak ini menjadi sekolah TK dengan nama TK ABA Kauman. Adapun Bustanul Athfal sendiri berarti “kebun anak-anak”.[58] TK yang didirikan oleh Muhammad Sangidu dan para anggota SPW ini lantas diserahkan kepada Aisyiyah sejak tahun 1926, sedangkan nama SPW diganti dengan NA (Nasyiyatul Aisyiyah) pada tahun 1931.[34][59]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Keterangan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ R.H. merupakan akronim dari Raden Hariya.
  2. ^ R.Ngt. merupakan akronim dari Raden Nganten (wanita).
  3. ^ K.R.T. merupakan akronim dari Kanjeng Raden Tumenggung.
  4. ^ R.P.Ng. merupakan akronim dari Raden Pangeran Ngabehi.
  5. ^ R.Ng. merupakan akronim dari Raden Nganten (laki-laki).
  6. ^ R.Ngb. merupakan akronim dari Raden Ngabehi.
  7. ^ K.R.P.H. merupakan akronim dari Kanjeng Raden Penghulu Haji.

Catatan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Surah Al-Ma’un inilah yang dijadikan dasar bagi Ahmad Dahlan untuk menggali sumber daya masyarakat guna membangun basis teologi pengembangan amal sosial Muhammadiyah di kemudian hari. Prinsip keikhlasan yang terkandung di dalam surat tersebut juga menjadi salah satu pelengkap untuk menyukseskan amal usaha Muhammadiyah (Sudja 1989, hlm. 15-16).
  2. ^ Kata penghulu (Sunda: pangulu, Jawa: pengulu, Madura: pangoloh, Melayu: penghulu) berasal dari kata hulu yang berarti orang yang mengepalai. Namun, lama-kelamaan penghulu berarti seseorang yang ahli dalam agama Islam (Pijper 1984, hlm. 67). Pada waktu itu, penghulu merupakan jabatan tertinggi dalam bidang keagamaan (Darban 2004, hlm. 30-31). Apabila dibandingkan dengan penghulu yang ada di daerah-daerah, penghulu istana dipandang sebagai penghulu ageng dalam struktur kepenghuluan. Selain berfungsi sebagai penasehat dewan daerah, tugas dan wewenang penghulu meliputi berbagai macam urusan keagamaan secara umum, yaitu pernikahan, perolehan nafkah, gugatan cerai, rujuk, wasiat/warisan, hibah, dan sebagainya (Albiladiyah 2006, hlm. 13-14). Adapun tugas penghulu yang berkenaan dengan Kesultanan Yogyakarta meliputi upacara keagamaan keraton, pernikahan keluarga sultan, penasehat sultan, serta mengurusi tempat ibadah atau makam (Ismail 1997, hlm. 65-82). Penghulu membawahi ketib, modin, barjama'ah, dan merbot. Pejabat dalam organisasi Masjid Agung Yogyakarta ini terdiri dari orang-orang yang ahli dalam agama Islam (Hamzah, dkk 2007, hlm. 5).
  3. ^ Adapun susunan kiai penghulu di Kesultanan Yogyakarta sebelum Sangidu, yaitu K.R.P. Fakih Ibrahim Diponingrat, K.R.P. Syihabuddin, K.R.P. Abdullah, K.R.P. Syafi’i, K.R.P. Rahmatuddin, K.R.P. Bunyamin, K.R.P. Kamaluddiningrat, K.R.P.H. Ibrahim Kamaluddiningrat, K.R.P.H. Muhammad Maklum Kamaluddiningrat, K.R.P. Kamaluddiningrat, K.R.P. Muhammad Fadhil, dan K.R.P.H. Muhammad Khalil Kamaluddiningrat (Darban 2000, hlm. 112).
  4. ^ Perlu diketahui bahwa posisi Sangidu sebagai penghulu Kesultanan Yogyakarta digantikan oleh Muhammad Nuh karena dia wafat pada tahun 1940. Ketika diangkat sebagai penghulu Masjid Agung Yogyakarta pada tanggal 1 Agustus 1941, Nuh mendapatkan gelar K.R.P. Muhammad Nuh Kamaluddiningrat. Beberapa tahun kemudian, Nuh diberhentikan dengan terhormat dari jabatannya oleh pihak Kesultanan Yogyakarta. Sri Sultan Hamengku Buwono IX lantas mengangkat Muhammad Wardan sebagai penghulu selanjutnya pada tanggal 28 Januari 1956. Dikarenakan penghulu yang digantikan masih hidup, hal ini turut berpengaruh terhadap pemberian nama gelar kepada Muhammad Wardan. Anak ketiga dari Sangidu tersebut tidak memakai gelar Kamaluddiningrat, melainkan memakai gelar Diponingrat sebagai penghulu Kesultanan Yogyakarta ke-15. Dia menjadi penghulu kesultanan selama 35 tahun (1956-1991). Sebelum menjadi seorang penghulu, Wardan telah membantu ayahnya sejak tahun 1936 sampai dengan wafat dalam melaksanakan tugas-tugas kepenghuluan (Rohman 2019, hlm. 207-208). Inilah yang membuat Wardan seperti napak tilas dan mewarisi tugas yang pernah dijalankan oleh ayahnya sebagai penghulu Masjid Agung Yogyakarta (Butar-Butar 2017, hlm. 55-63).
  5. ^ Kampung Kauman Yogyakarta berlokasi di wilayah ndalem keraton dan secara administratif merupakan bagian dari Kelurahan Ngupasan, Kecamatan Gondomanan (Depari 2012, hlm. 15).
  6. ^ Sedulur gawan adalah saudara dari hasil pernikahan antara janda dan duda yang masing-masing membawa anak. Anak bawaan tersebut lantas menjadi saudara (Darban 2000, hlm. 117).

Rujukan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Hidayat, dkk (2013), hlm. 31
  2. ^ Rohman (2019), hlm. 205
  3. ^ Hidayat, dkk (2013), hlm. 30-32
  4. ^ Setyowati & Mu'arif (2014), hlm. 152-155
  5. ^ a b c d Mu’arif (15 Juli 2019). "Kamaluddiningrat: Penghulu Reformis dari Kauman". Suara Muhammadiyah. Diakses tanggal 11 Agustus 2019. 
  6. ^ a b Rohman (2019), hlm. 206
  7. ^ a b c d e f Mu’arif (25 April 2019). "Mengenal Sosok K.H. Muhammad Kamaluddiningrat (Anggota Muhammadiyah Pertama)". Sang Pencerah. Diakses tanggal 11 Agustus 2019. 
  8. ^ Hidayat, dkk (2013), hlm. 27
  9. ^ Anshoriy (2010), hlm. 99
  10. ^ Setyowati & Mu'arif (2014), hlm. 152-154
  11. ^ Nakamura (1983), hlm. 58
  12. ^ Nakamura (1983), hlm. 55
  13. ^ a b Benda (1985), hlm. 32
  14. ^ a b Noer (1988), hlm. 85
  15. ^ Saputra, Andika (4 Juni 2014). "Situs-Situs Peninggalan K.H. Ahmad Dahlan di Kampung Kauman". Sang Pencerah. Diakses tanggal 29 November 2019. 
  16. ^ Lembaga Pustaka dan Informasi PP. Muhammadiyah (2010), hlm. 32
  17. ^ Anshoriy (2010), hlm. 67-69
  18. ^ a b Lembaga Pustaka dan Informasi PP. Muhammadiyah (2010), hlm. 39
  19. ^ Widyastuti (2010), hlm. 4
  20. ^ Noer (1988), hlm. 90
  21. ^ Widyastuti (2010), hlm. 4-5
  22. ^ Dzuhayatin (2015), hlm. 54
  23. ^ Darban (2000), hlm. 70-73
  24. ^ Ricklefs (2006), hlm. 77
  25. ^ Darban (2000), hlm. 12
  26. ^ Lembaga Pustaka dan Informasi PP. Muhammadiyah (2010), hlm. 33
  27. ^ Nakamura (1983), hlm. 56
  28. ^ Arifin (1990), hlm. 41
  29. ^ Ricklefs (2006), hlm. 78
  30. ^ Mulkhan (1990), hlm. 71-72
  31. ^ Darban (2000), hlm. 78
  32. ^ Anshoriy (2010), hlm. 38
  33. ^ Darban (2000), hlm. 41
  34. ^ a b Pimpinan Pusat Aisyiyah (tanpa tanggal). "Siti Umniyah". Pimpinan Pusat Aisyiyah. Diakses tanggal 11 Agustus 2019. 
  35. ^ Setyowati & Mu'arif (2014), hlm. 151-152
  36. ^ Sudja (1989), hlm. 10-13
  37. ^ Anshoriy (2010), hlm. 99-101
  38. ^ Ramdhon (2011), hlm. 83
  39. ^ Benda (1985), hlm. 31
  40. ^ Anshoriy (2010), hlm. 7
  41. ^ Dzuhayatin (2015), hlm. 75
  42. ^ Soeratno, dkk (2009), hlm. 56-60
  43. ^ Arifin (1990), hlm. 38-39
  44. ^ Widyastuti (2010), hlm. 18
  45. ^ Ricklefs (2006), hlm. 52
  46. ^ Noer (1988), hlm. 86-87
  47. ^ a b Lembaga Pustaka dan Informasi PP. Muhammadiyah (2010), hlm. 44
  48. ^ Darban (2000), hlm. 80
  49. ^ Darban (2000), hlm. 81-82
  50. ^ Darban (2000), hlm. 83
  51. ^ Darban (2000), hlm. 44
  52. ^ Baha'uddin, dkk (2010), hlm. 147
  53. ^ Seniwati & Lestari (2019), hlm. 225-226
  54. ^ Suratmin (1990), hlm. 79
  55. ^ Setyowati & Mu'arif (2014), hlm. 152
  56. ^ Seniwati & Lestari (2019), hlm. 226
  57. ^ Suratmin (1990), hlm. 78
  58. ^ Seniwati & Lestari (2019), hlm. 225
  59. ^ Suratmin (1990), hlm. 85

Daftar pustaka[sunting | sunting sumber]

Buku

  • Anshoriy, Muhammad Nasruddin (2010). Matahari Pembaruan: Rekam Jejak K.H. Ahmad Dahlan. Yogyakarta: Jogja Bangkit Publisher. 
  • Arifin, MT (1990). Muhammadiyah Potret yang Berubah. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah. 
  • Baha'uddin, dkk (2010). Aisyiyah dan Sejarah Pergerakan Perempuan Indonesia: Sebuah Tinjauan Awal. Yogyakarta: Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada. 
  • Benda, Harry J. (1985). Bulan Sabit dan Matahari Terbit: Islam Indonesia Pada Masa Pendudukan Jepang. Jakarta: Pustaka Jaya. 
  • Butar-Butar, Arwin Juli Rakhmadi (2017). Mengenal Karya-Karya Ilmu Falak Nusantara: Transmisi, Anotasi, Biografi. Yogyakarta: LKIS. 
  • Darban, Ahmad Adaby (2000). Sejarah Kauman: Menguak Identitas Kampung Muhammadiyah. Yogyakarta: Tarawang. 
  • Dzuhayatin, Siti Ruhaini (2015). Rezim Gender Muhammadiyah: Kontestasi Gender, Identitas, dan Eksistensi. Yogyakarta: Suka Press UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. 
  • Hamzah, Slamet, dkk (2007). Masjid Bersejarah Daerah Istimewa Yogyakarta. Yogyakarta: Kantor Wilayah Departemen Agama Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. 
  • Hidayat, Irin, dkk (2013). Belajar dari Abah: Mengenang Seorang Bapak, Guru, Dai, dan Sejarawan Muslim Ahmad Adaby Darban. Yogyakarta: Pro-U Media. 
  • Ismail, Ibnu Qoyim (1997). Kiai Penghulu Jawa; Peranannya di Masa Kolonial. Jakarta: Gema Insani Press. 
  • Lembaga Pustaka dan Informasi PP. Muhammadiyah (2010). 1 Abad Muhammadiyah: Gagasan Pembaruan Sosial-Keagamaan. Jakarta: Penerbit Kompas. 
  • Mulkhan, Abdul Munir (1990). Warisan Intelektual K.H. Ahmad Dahlan dan Amal Muhammadiyah. Yogyakarta: Percetakan Persatuan. 
  • Nakamura, Mitsuo (1983). Bulan Sabit Muncul dari Balik Pohon Beringin: Studi Tentang Pergerakan Muhammadiyah di Kotagede Yogyakarta. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. 
  • Noer, Deliar (1988). Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942. Jakarta: LP3ES. 
  • Pijper, Guillaume Frédéric (1984). Beberapa Studi Tentang Sejarah Islam di Indonesia 1900-1950. Jakarta: Universitas Indonesia Press. 
  • Ramdhon, Akhmad (2011). Pudarnya Kauman: Studi Perubahan Sosial Masyarakat Islam-Tradisional. Yogyakarta: Elmatera. 
  • Ricklefs, Merle Calvin (2006). Mystic Synthesis in Java: A History of Islamization from the Fourteenth to the Early Nineteenth Centuries (Signature Books Series). Cambridge: Norwalk East Bridge Books. 
  • Setyowati, Hajar Nur; Mu'arif (2014). Srikandi-Srikandi Aisyiyah. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah. 
  • Soeratno, Siti Chamamah, dkk (2009). Muhammadiyah Sebagai Gerakan Seni dan Budaya: Suatu Warisan Intelektual yang Terlupakan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 
  • Sudja (1989). Muhammadiyah dan Pendirinya. Yogyakarta: PP. Muhammadiyah Majelis Pustaka. 
  • Suratmin (1990). Nyai Ahmad Dahlan Pahlawan Nasional: Amal dan Perjuangannya. Yogyakarta: PP. Aisyiyah Seksi Khusus Penerbitan dan Publikasi. 
  • Widyastuti (2010). Sisi Lain Seorang Ahmad Dahlan. Yogyakarta: Yayasan K.H. Ahmad Dahlan. 

Jurnal ilmiah

Lihat pula[sunting | sunting sumber]