Metronidazol

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Metronidazol
Nama sistematis (IUPAC)
2-(2-Metil-5-nitro-1H-imidazol-1-yl)etanol
Data klinis
Nama dagang Flagyl, Filmet, Metro, dan lain-lain
AHFS/Drugs.com monograph
MedlinePlus a689011
Data lisensi US Daily Med:pranala
Kat. kehamilan B2(AU) B(US)
Status hukum Harus dengan resep dokter (S4) (AU) -only (CA) POM (UK) -only (US)
Rute melalui mulut (oral), topikal, rektal, IV, vagina
Data farmakokinetik
Bioavailabilitas 80% (melalui mulut), 60–80% (rektal), 20–25% (vaginal)[1][2][3]
Ikatan protein 20%[1][2]
Metabolisme Hati[1][2]
Waktu paruh 8 jam[1][2]
Ekskresi Urin (77%), feses (14%)[1][2]
Pengenal
Nomor CAS 443-48-1 YaY
Kode ATC A01AB17 D06BX01, G01AF01, J01XD01, P01AB01, QP51AA01
PubChem CID 4173
DrugBank DB00916
ChemSpider 4029 YaY
UNII 140QMO216E YaY
KEGG D00409 YaY
ChEBI CHEBI:6909 YaY
ChEMBL CHEMBL137 YaY
NIAID ChemDB AIDSNO:007953
Data kimia
Rumus C6H9N3O3 
Data fisik
Titik lebur 159–163 °C (318–325 °F)

Metronidazol, atau yang juga biasa dipasarkan dengan nama Flagyl dan Metrogel, adalah obat antibiotik yang digunakan untuk mengobati penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri di bagian vagina, perut, hati, kulit, sendi, saluran pernapasan, dan lain-lain. Obat ini bekerja dengan cara menghentikan pertumbuhan berbagai bakteri dan parasit, dan biasa dikemas dalam bentuk tablet, kapsul, sirup, ovula, suppositoria, dan infus.[4] Obat ini biasa digunakan untuk mengobati penyakit-penyakit seperti penyakit radang pelvisendokarditis, vaginosis bakterialis, dan lain-lain, baik sendirian maupun bersama dengan obat lainnya.[5] Selain itu, obat ini juga dapat menjadi pilihan untuk mengobati stadium pertama infeksi Clostridioides difficile ringan hingga sedang, jika vankomisin dan fidaxomisin tidak tersedia.[5][6]

Metronidazol pertama kali digunakan di Prancis pada tahun 1960.[7] Obat ini termasuk dalam daftar Obat Esensial Organisasi Kesehatan Dunia, menjadikan obat ini sebagai salah satu obat paling aman dan efektif untuk sistem kesehatan.[8]

Penggunaan[sunting | sunting sumber]

Satu tabung metronidazol

Obat ini bekerja dengan cara menghentikan pertumbuhan bakteri dan protozoa atau parasit yang dapat menyebabkan masalah kesehatan pada manusia. Sehingga biasanya digunakan untuk mengobati penyakit yang berhubungan dengan infeksi bakteri atau parasit dan tidak dapat digunakan untuk mengobati penyakit yang disebabkan oleh virus seperti influenza atau cacar.[4] Lebih spesifiknya, obat ini digunakan untuk mengobati penyakit-penyakit seperti infeksi tulang dan sendi, endokarditis, sepsis, vaginosis bakterialis,[9] trichomonas vaginalis,[10] giardiasis,[11], dan infeksi-infeksi lainnya.[5]

Penggunaan metronidazol dapat berupa obat oral (tablet, kapsul, sirup), topikal (salep, krim), rektal (dimasukkan melalui vagina), dan infus.[4][5]

Efek samping[sunting | sunting sumber]

Efek samping dari penggunaan metronidazol yang cukup umum adalah mengalami sakit punggung, gangguan pengelihatan, depresi, rasa pusing, mual, kejang, halusinasi, dan masih banyak lagi.[5] Sementara efek samping yang tidak terlalu umum dan hanya dialami beberapa penderita seperti terdapat darah di urin, kehilangan suara, ruam di kulit, iritasi di bagian vagina, dan lain-lain.[5] Selain itu, terdapat juga efek samping yang masuk dalam kategori langka dan sangat jarang terjadi, namun pernah terjadi, seperti urin yang berwarna gelap, sembelit, gusi berdarah, nyeri dada, dan lain-lain.[5]

Metronidazol untuk ibu hamil[sunting | sunting sumber]

Di beberapa tempat, metronidazol digunakan untuk mencegah terjadinya kelahiran prematur untuk kasus yang berhubungan dengan vaginosis bakterialis. Tetapi, metronidazol terbukti tidak efektif dalam mencegah kelahiran prematur dan justru memperbesar kemungkinan terjadinya kelahiran prematur kepada penderita.[12] Selain itu, studi pada binatang membuktikan bahwa pada trimester pertama, efek samping dari penggunaan obat ini dapat dirasakan oleh janin, sehingga obat hanya boleh digunakan jika manfaat yang didapat lebih besar daripada efek samping yang diterima. Untuk trimester kedua dan ketiga, tidak terlihat adanya efek samping pada janin, namun belum terdapat studi terkontrol pada wanita hamil. Ibu yang baru melahirkan dan menggunakan metronidazol juga dapat membuat ASI yang dihasilkannya menyerap obat tersebut.[4]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d e "Flagyl, Flagyl ER (metronidazole) dosing, indications, interactions, adverse effects, and more". Medscape Reference (dalam bahasa Inggris). WebMD. Diarsipkan dari versi asli tanggal 7 April 2014. Diakses tanggal 19 March 2020. 
  2. ^ a b c d e Brayfield, A, ed. (14 Januari 2014). "Metronidazole". Martindale: The Complete Drug Reference (dalam bahasa Inggris). Pharmaceutical Press. Diakses tanggal 19 Maret 2020. [pranala nonaktif]
  3. ^ Brayfield, Alison, ed. (2017). Martindale: The Complete Drug Reference (edisi ke-39th). London: Pharmaceutical Press. ISBN 978-0-85711-309-2. 
  4. ^ a b c d "Metronidazole" (dalam bahasa Indonesia). Alodokter. Diakses tanggal 19 Maret 2020. 
  5. ^ a b c d e f g "Metronidazole". The American Society of Health-System Pharmacists. Diarsipkan dari versi asli tanggal 6 September 2015. Diakses tanggal 19 March 2020. 
  6. ^ McDonald LC, Gerding DN, Johnson S, Bakken JS, Carroll KC, Coffin SE, et al. (Maret 2018). "Clinical Practice Guidelines for Clostridium difficile Infection in Adults and Children: 2017 Update by the Infectious Diseases Society of America (IDSA) and Society for Healthcare Epidemiology of America (SHEA)". Clinical Infectious Diseases (dalam bahasa Inggris). 66 (7): e1–e48. doi:10.1093/cid/cix1085. PMC 6018983alt=Dapat diakses gratis. PMID 29462280. 
  7. ^ Corey EJ (2013). Drug discovery practices, processes, and perspectives (dalam bahasa Inggris). Hoboken, N.J.: John Wiley & Sons. hlm. 27. ISBN 9781118354469. Diarsipkan dari versi asli tanggal 8 September 2017. 
  8. ^ World Health Organization (2019). World Health Organization model list of essential medicines: 21st list 2019 (dalam bahasa Inggris). Geneva: World Health Organization. hdl:10665/325771alt=Dapat diakses gratis. WHO/MVP/EMP/IAU/2019.06. License: CC BY-NC-SA 3.0 IGO. 
  9. ^ Joesoef MR, Schmid GP, Hillier SL (Januari 1999). "Bacterial vaginosis: review of treatment options and potential clinical indications for therapy". Clinical Infectious Diseases. 28 Suppl 1: S57–65. doi:10.1086/514725. PMID 10028110. 
  10. ^ duBouchet L, Spence MR, Rein MF, Danzig MR, McCormack WM (Maret 1997). "Multicenter comparison of clotrimazole vaginal tablets, oral metronidazole, and vaginal suppositories containing sulfanilamide, aminacrine hydrochloride, and allantoin in the treatment of symptomatic trichomoniasis". Sexually Transmitted Diseases. 24 (3): 156–60. doi:10.1097/00007435-199703000-00006. PMID 9132982. 
  11. ^ Leitsch D (September 2015). "Giardia lamblia". Current Tropical Medicine Reports. 2 (3): 128–135. doi:10.1007/s40475-015-0051-1. PMC 4523694alt=Dapat diakses gratis. PMID 26258002. 
  12. ^ Shennan A, Crawshaw S, Briley A, Hawken J, Seed P, Jones G, et al. (Januari 2006). "A randomised controlled trial of metronidazole for the prevention of preterm birth in women positive for cervicovaginal fetal fibronectin: the PREMET Study". BJOG (dalam bahasa Inggris). 113 (1): 65–74. doi:10.1111/j.1471-0528.2005.00788.x. PMID 16398774. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]