Komando Armada II

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Komando armada Indonesia kawasan timur)
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Komando Armada II
Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut
Lambang Satuan Koarmada II.png
Lambang Koarmada II
Dibentuk5 Desember 1959
NegaraIndonesia
CabangTNI Angkatan Laut
Tipe unitKomando Armada
Bagian dariTentara Nasional Indonesia
MotoGhora Vira Madya Jala
Situs webkoarmada2.tnial.mil.id
Tokoh
PanglimaLaksamana Muda TNI Heru Kusmanto
Kepala StafLaksamana Pertama TNI Iwan Isnurwanto, M.A.P. M.Tr.(Han).
Patung Jalesveva Jayamahe yang berarti "Di laut kita jaya" yang berada di Markas Komando Armada II, Surabaya

Komando Armada II atau disingkat (Koarmada II) adalah salah satu Komando Utama TNI Angkatan Laut yang lahir pada 30 Maret 1985. Komando ini bermarkas besar di Surabaya, Jawa Timur dan membawahi wilayah laut indonesia bagian tengah.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Sejarah Angkatan Laut dimulai dari dibentuknya Badan Keamanan Rakyat (BKR) pada sidang PPKI tanggal 22 Agustus 1945. BKR kemudian berkembang menjadi beberapa divisi, dimana BKR Laut, salah satu divisi awalnya, meliputi wilayah bahari / laut. Dibentuknya Badan Keamanan Rakyat Laut (BKR Laut) pada tanggal 10 September 1945 oleh administrasi kabinet awal Soekarno menjadi tonggak penting bagi kehadiran Angkatan Laut di Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945. Terbentuknya BKR Laut ini dipelopori tokoh-tokoh bahariawan veteran yang pernah bertugas di jajaran Koninklijke Marine selama masa penjajahan Belanda dan veteran Kaigun selama masa pendudukan Jepang. Faktor lain yang mendorong terbentuknya badan ini adalah adanya potensi yang memungkinkan untuk menjalankan fungsi Angkatan Laut seperti kapal-kapal dan pangkalan, meskipun pada saat itu Angkatan Bersenjata Indonesia belum terbentuk. Terbentuknya organisasi militer Indonesia yang dikenal sebagai Tentara Keamanan Rakyat (TKR) turut memacu keberadaan TKR Laut yang selanjutnya lebih dikenal sebagai Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI), dengan segala kekuatan dan kemampuan yang dimilikinya.[1]

Sejumlah Pangkalan Angkatan Laut terbentuk, kapal – kapal peninggalan Jawatan Pelayaran Jepang diperdayakan, dan personel pengawaknya pun direkrut untuk memenuhi tuntutan tugas sebagai penjaga laut Republik yang baru terbentuk itu. Sementara itu, sejarah Armada Republik Indonesia (Armada RI) tidak terlepas dari sejarah kemerdekaan Republik Indonesia yang diikuti dengan kelahiran TNI AL yang diawali dengan pembentuka tersebut di atas. Sejak masa TKR Laut ini struktur organisasi mulai disusun sesuai kebutuhan matra laut, yakni dengan membentuk beberapa satuan seperti Pangkalan, Corps Armada, Corps Mariniers, Polisi Tentara Laut, dan Kesehatan. Pada tanggal 25 Januari 1946 TKR Laut berubah menjadi Tentara Republik Indonesia Laut (TRI Laut). Demikian pada pada tanggal 19 Juli 1946 TRI Laut kemudian diubah menjadi Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) yang disyahkan bertepatan dengan pelaksanaan Konferensi ALRI di Lawang, Malang.

Kemudian setelah kualitas unsur armada semakin canggih dan modern serta dan kuantitasnya semakin besar, akhirnya terbentuklah sebuah Komando Armada. Berdasarkan SK KSAL No. A. 4/2/10 tanggal 14 September 1959 ditetapkan berdirinya organisasi Komando Armada ALRI, yang diresmikan pembentukannya pada tanggal 5 Desember 1959 oleh KSAL Komodor Laut R.E. Martadinata. Pada tanggal ini selanjutnya tiap tahun diperingati sebagai “Hari Armada”. Sejalan dengan semakin komplexnya permasalahan yang terjadi di laut, pemimpin memandang perlu untuk membagi dua Armada. Selanjutnya berdasarkan Surat Keputusan Panglima ABRI Nomor: Kep.171/II/1985 tanggal 30 Maret 1985, Armada RI resmi di bagi menjadi dua kawasan wilayah kerja, yaitu Armada RI Kawasan Timur dan Armada RI Kawasan Barat. Pembagian wilayah kerja tersebut, juga secara bertahap melaksanakan Dispersi kekuatan Alut Sista yang semula seluruhnya berada di Armada Timur, sebagian di Dispersi ke Armada Barat, guna menyikapi perkembangan zaman dan tuntutan tugas semua wilayah kerja.

Daftar Panglima[sunting | sunting sumber]

Saat bernama Armada ALRI:



Saat bernama Armada RI Kawasan Timur:



Saat bernama Komando Armada II:


Pangkalan[sunting | sunting sumber]

Koarmada II membawahi lima Pangkalan Utama Angkatan Laut (Lantamal) yang meliputi:

Satuan Operasi[sunting | sunting sumber]

Satuan Pelaksana[sunting | sunting sumber]

Armada[sunting | sunting sumber]

Beberapa kapal yang tergabung ke dalam armada tengah adalah:

  1. KRI Raden Eddy Marthadinata - 331
  2. KRI I Gusti Ngurah Rai - 332
  3. KRI Ahmad Yani - 351
  4. KRI Yos Sudarso - 353
  5. KRI Oswald Siahaan - 354
  6. KRI Abdul Halim Perdanakusumah - 355
  7. KRI Karel Sasuit Tubun - 356
  8. KRI Fatahillah - 361
  9. KRI Malahayati - 362
  10. KRI Nala - 363
  11. KRI Diponegoro - 365
  12. KRI Sultan Hasanuddin - 366
  13. KRI Sultan Iskandar Muda - 367
  14. KRI Frans Kaisiepo - 368
  15. KRI Untung Suropati - 372
  16. KRI Sultan Nuku - 373
  17. KRI Lambung Mangkurat - 374
  18. KRI Hasan Basri - 382
  19. KRI Cakra - 401
  20. KRI Nanggala - 402 (kapal selam)
  21. KRI Nagapasa - 403 (kapal selam)
  22. KRI Ardadedali - 404 (kapal selam)
  23. KRI Teluk Mandar - 514
  24. KRI Teluk Sampit - 515
  25. KRI Teluk Banten - 516
  26. KRI Teluk Ende - 517
  27. KRI Teluk Cenderawasih - 533
  28. KRI Teluk Berau - 534 (Tenggelam sebagai sasaran tembak AJ/XXXI[2][3])
  29. KRI Teluk Jakarta - 541
  30. KRI Teluk Sangkulirang - 542
  31. KRI Multatuli MA-561
  32. KRI Makassar - 590
  33. KRI Surabaya - 591
  34. KRI Mandau - 621
  35. KRI Badik - 623
  36. KRI Keris - 624
  37. KRI Sampari - 628
  38. KRI Tombak - 629
  39. KRI Hiu (634)
  40. KRI Terapang - 648
  41. KRI Singa - 651
  42. KRI Ajak-653
  43. KRI Pulau Rengat - 711
  44. KRI Pulau Rupat - 712
  45. KRI Pulau Raas - 722
  46. KRI Pulau Rimau - 724 (Satuan Kapal Ranjau)
  47. KRI Pandrong - 801
  48. KRI Sura - 802
  49. KRI Layang - 805
  50. KRI Kakap - 811
  51. KRI Kerapu - 812
  52. KRI Tongkol - 813
  53. KRI Badau-841
  54. KRI Salawaku-842
  55. KRI Gulamah-869
  56. KRI Arun - 903
  57. KRI Tarakan - 905
  58. KRI Sungai Gerong - 906
  59. KRI Soputan - 923
  60. KRI Karang Pilang - 981
  61. KRI Karang Tekok - 982
  62. KRI dr. Suharso - 990
  63. KRI Dewaruci
  64. KRI Bima Suci
  65. KRI Arung Samudera
  66. Kal Bawean

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]