Lompat ke isi

Keresidenan Priangan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jembatan kereta api di Priangan, tanggal tidak diketahui

Keresidenan Priangan[a] (bahasa Belanda: Residentie Preanger-Regentschappen), terkadang disebut sebagai Keresidenan Preanger dan berganti nama menjadi Keresidenan Priangan setelah tahun 1931, adalah wilayah administratif (keresidenan) Hindia Belanda yang terletak di Parahyangan, Jawa Barat, yang berdiri dari tahun 1817 hingga 1925.[1] Ibu kotanya berada di Cianjur hingga tahun 1856 dan kemudian dipindahkan ke Bandung. Keresidenan ini mencakup kota Bandung dan kabupaten ([regentschap] Galat: {{Lang}}: text has italic markup (bantuan)) Bandoeng, Soemedang, Tasikmalaja, Tjiamis, dan Garoet.

Prasejarah

[sunting | sunting sumber]

Pada abad ke-16 dan ke-17, wilayah Parahyangan adalah bagian dari Kerajaan Sumedang Larang, lalu menjadi bagian dari Kesultanan Mataram di tahun 1620.[2] Pada akhir abad ke-17 VOC bersekutu dengan Mataram, tetapi menuntut hak daerah dan dagang.[2] Pada saat ini, pengaruh dan kontrol VOC di Jawa Barat semakin meningkat.[2] Mataram akhirnya menyerahkan semua kuasa atas daerah Cirebon dan seluruh wilayah di selatannya, termasuk wilayah Priangan, pada tahun 1705.[2] Bagian timur dari daerah yang akan menjadi bagian dari keresidenan Priangan diperintah dari Cirebon di keresidenan bernama Cheribonsche Preanger Regentschappen, sementara bagian barat tetap di bawah kuasa bupati-bupati setempat. Keadaan ini terus berlanjut hingga pada tahun 1808, saat gubernur Hindia Belanda Timur Herman Willem Daendels melakukan reorganisasi wilayah Priangan menjadi sebuah daerah (Keresidenan Batavia dan Priangan) dan menghubungkannya dengan Batavia melalui jalan raya pos.[3]

Keresidenan

[sunting | sunting sumber]

Pada 1818, setelah Jeda kekuasaan Prancis dan Britania di Hindia Belanda pendek, wilayah keresidenan kembali didirikan oleh Belanda sebagai Keresidenan Kabupaten Priangan.[3] Keresidenan yang didirikan pada 1818 terdiri atas tiga pembagian wilayah utama:

Dikarenakan letusan besar Gunung Gede di tahun 1853, ibu kota keresidenan secara perlahan mulai dipindahkan dari Cianjur ke Bandung pada tahun 1856, tetapi kursi residen tidak dipindahkan ke Bandung secara resmi hingga tahun 1864.[4][5] Pada 1866, Limbangan dimekarkan menjadi daerahnya sendiri yang dipimpin oleh seorang asisten residen.

Pada awal abad ke-20, keresidenan ini memiliki banyak kebun teh di daerah pegunungannya, serta menjadi pusat produksi tepung tapioka di Hindia Belanda.[6] Keresidenan ini juga menjadi salah satu tempat penting awal industrialisasi Hindia Belanda.[7]Pada kala ini, Bandung menjadi tempat universitas utama di Hindia Belanda dan juga sebagai tempat kebanyakan tempat percetakan penting, termasuk surat kabar populer bernama De Preangerbode.[8]

Pada 1915, Kabupaten Garut dipindahkan dari Keresidenan Cianjur ke Priangan.Pada 1925, keempat keresidenan di Jawa Barat dimekarkan menjadi sembilan keresidenan baru.[3] Mantan Keresidenan Kabupaten Priangan dibagi menjadi tiga keresidenan yang lebih kecil, yaitu West-Priangan, Midden-Priangan dan Oost-Priangan.[3]Namun, pada tahun 1931 ketiga keresidenan tersebut diorganisasi kembali, dengan wilayah yang dahulunya merupakan bagian Keresidenan Priangan dibagi menjadi Keresidenan Buitenzorg dan wilayah yang dinamai Keresidenan Priangan kembali.[3]Batas wilayah tersebut dipertahankan oleh Jepang selama Perang Dunia Kedua, dan untuk beberapa saat oleh Republik Indonesia pula.[3]

Daftar Residen

[sunting | sunting sumber]

Lihat pula

[sunting | sunting sumber]
  1. Stibbe, D. G., ed. (1919). Encyclopaedie van Nederlandsch-Indië . Derde Deel N-Soema (dalam bahasa Belanda) (Edisi 2). s'Gravenhage: Nijhoff. hlm. 503–6.
  2. 1 2 3 4 Cribb, R. B. (2000). Historical atlas of Indonesia. Honolulu: University of Hawai'i Press. hlm. 88–95. ISBN 0-8248-2111-4.
  3. 1 2 3 4 5 6 Cribb, R. B. (2000). Historical atlas of Indonesia. Honolulu: University of Hawai'i Press. hlm. 123–6. ISBN 0-8248-2111-4.
  4. Patria, Teguh Amor (2014). Telusur Bandung. Jakarta: PT Elex Media Komputindo. hlm. 10. ISBN 978-602-02-3198-3. Diarsipkan dari asli tanggal 2023-08-10. Diakses tanggal 2022-04-17.
  5. Caturwati, Endang (2000). R. Tjetje Somantri, 1892-1963: Tokoh Pembaharu Tari Sunda. Tarawang. hlm. 27.
  6. Commerce, United States Bureau of Foreign and Domestic; Fowler, John A. (1923). Netherlands East Indies and British Malaya: A Commercial and Industrial Handbook (dalam bahasa Inggris). U.S. Government Printing Office. hlm. 131–41.
  7. Commerce, United States Bureau of Foreign and Domestic; Fowler, John A. (1923). Netherlands East Indies and British Malaya: A Commercial and Industrial Handbook (dalam bahasa Inggris). U.S. Government Printing Office. hlm. 213.
  8. Commerce, United States Bureau of Foreign and Domestic (1932). Commercial Travelers' Guide to the Far East (dalam bahasa Inggris). U.S. Government Printing Office. hlm. 273–4.

Catatan kaki

[sunting | sunting sumber]
  1. Cacarakan: ꦏꦫꦺꦱꦶꦝꦺꦤꦤ꧀ꦥꦿꦶꦪꦔꦤ꧀
    Aksara Sunda Baku: ᮊᮛᮦᮞᮤᮓᮦᮔᮔ᮪ ᮕᮢᮤᮚᮍᮔ᮪