Lompat ke isi

Kedungwaru, Tulungagung

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Kedungwaru
Masjid Tawangsari
Masjid Tawangsari
Negara Indonesia
ProvinsiJawa Timur
KabupatenTulungagung
Pemerintahan
  CamatRachmad Adhityo Kuncoro, S.STP., M.M
Populasi
  Total96.370 jiwa
Kode pos
66221 - 66229
Kode Kemendagri35.04.03 Edit nilai pada Wikidata
Kode BPS3504130 Edit nilai pada Wikidata
Luas29,74 km²
Desa/kelurahan19
Peta
PetaKoordinat: 8°2′31″S 111°55′17″E / 8.04194°S 111.92139°E / -8.04194; 111.92139

Kedungwaru adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Tulungagung. Kedungwaru adalah penyangga utama dari ibu kota Tulungagung yang terletak di utara dan timur Kecamatan Tulungagung. Kedungwaru adalah kecamatan dengan penduduk terbanyak di Kabupaten Tulungagung yaitu sekitar 96 ribu jiwa di tahun 2024. Hal ini karena Kedungwaru merupakan kecamatan yang ramai dan padat penduduk, tetapi wilayahnya jauh lebih luas dari Kecamatan Tulungagung.[1] Banyak infrastruktur penting di pusat kota Tulungagung yang berada di Kedungwaru seperti kantor dinas, taman kota, rumah sakit, Stadion Rejoagung, hingga sekolah dan perguruan tinggi unggulan.[2][3]

Kedungwaru menjadi lokasi beberapa tempat bersejarah di Tulungagung. Salah satunya adalah Masjid Tawangsari peninggalan Kyai Abu Manshur dan Masjid Al-Mimbar di Desa Majan peninggalan Kyai Hasan Mimbar, keduanya merupakan penyebar Agama Islam penting di Tulungagung. Saat itu Tulungagung masih bernama Kadipaten Ngrowo dan memiliki banyak desa berstatus perdikan (bebas pajak) seperti Desa Majan, Winong, dan Tawangsari. Status perdikan ini adalah hak istimewa yang diberikan oleh Kesultanan Mataram atas jasa tokoh di desa tersebut.[4][5]

Lokasi Kedungwaru

Kedungwaru adalah kecamatan penyangga ibu kota Tulungagung yang terletak di utara dan timur Kecamatan Tulungagung. Kedungwaru terletak di dataran rendah dengan wilayah yang didominasi lahan persawahan dan kawasan perkotaan. Perbatasan utara dengan Kecamatan Ngantru dibatasi oleh Sungai Brantas, sedangkan perbatasan barat dibatasi oleh Sungai Ngrowo.[6] Namun, juga terdapat beberapa desa yang berada di barat Sungai Ngrowo seperti Desa Tawangsari dan Mangunsari. Wilayah tersebut terhubung langsung dengan timur sungai dengan berbagai jembatan seperti Jembatan Plengkung dan Dam Majan.[7]

Jalan utama di Kedungwaru adalah Jalan Pahlawan yang terhubung ke Jalan Jayeng Kusuma yang melintasi Kedungwaru dari selatan ke utara. Jalan tersebut berstatus jalan nasional dan menjadi penghubung Tulungagung dengan Kediri. Tidak hanya itu, jalan nasional lain juga melewati ujung selatan Kedungwaru yaitu Desa Plosokandang. Jalan tersebut melintas dari barat ke timur dan menjadi penghubung Tulungagung-Ngunut-Blitar.[6]

Batas wilayah Kecamatan Kedungwaru adalah sebagai berikut:[6]

UtaraKecamatan Ngantru dan Sungai Brantas
TimurKecamatan Sumbergempol
SelatanKecamatan Tulungagung dan Kecamatan Boyolangu
BaratKecamatan Karangrejo
Komplek makam Kyai Abu Mansyur di Masjid Tawangsari

Wilayah Tulungagung pada zaman Kesultanan Mataram bernama Kadipaten Ngrowo yang berpusat di Kalangbret. Ngrowo terdiri dari beberapa desa, tetapi di antara desa-desa tersebut terdapat desa yang memiliki kedudukan spesial dari desa lainnya. Desa tersebut dinamakan desa perdikan yang memiliki status bebas pajak karena kekhususan tertentu. Di Kedungwaru terdapat beberapa desa perdikan seperti Majan, Tawangsari, dan Winong. Desa-desa tersebut menjadi pusat penyebaran Islam di Ngrowo dengan berdirinya masjid seperti Masjid Tawangsari dan Masjid Al-Mimbar di Majan.[4]

Sekitar tahun 1700-an, Masjid Tawangsari didirikan oleh pemimpin Desa Tawangsari yaitu Kyai Abu Manshur yang merupakan putra Amangkurat IV. Abu Manshur setelah menempuh pendidikan di Pesantren Tegalsari Ponorogo, kemudian mendirikan desa sekaligus pesantren di sebuah lahan di tepian Sungai Ngrowo yang dinamakan Tawangsari. Sedangkan lahan lainnya diberikan kepada kerabat Abu Manshur yaitu Kyai Ilyas yang mendirikan Desa Winong. Tawangsari dan Winong sama-sama berstatus perdikan karena jasa Kyai Abu Manshur dalam membantu Pakubuwono II melawan pemberontakan dalam peristiwa Geger Pecinan.[4]

Desa perdikan lainnya yaitu Majan yang dipimpin oleh KH Hasan Mimbar. Beliau mendapat tugas dari Bupati Ngabehi Mangundirono (bupati pertama Ngrowo) atas perintah Pakubuwono II untuk bertindak sebagai Penghulu Nikah di Desa Majan. Tradisi ini bertahan hingga zaman modern dan dikenal dengan nama "Nikah Majan". Sejak tahun 1979, nikah majan tidak lagi diakui negara karena kyai bukan pejabat berwenang untuk menikahkan. Sekarang status desa perdikan dicabut sehingga semua desa memiliki hak yang sama.[4][8]

Daftar desa dan dusun

[sunting | sunting sumber]

Kecamatan Kedungwaru terdiri dari 19 desa yang dibagi menjadi beberapa dusun atau dukuh, yakni sebagai berikut:[6]

No. Nama Desa Nama Dusun / Dukuh Ref
1 Bangoan Krajan, Karangarum, Ngipik [6]
2 Boro Boro, Baron, Plandangan, Tebokan [6]
3 Bulusari Karangsari, Mulyosari [6]
4 Gendingan Alfatah, Gendingsari, Khasan Anom, Pucangsongo [9]
5 Kedungwaru Kedungindah, Kedungtaman, Warujaya [6]
6 Ketanon Ketanon, Gempolan, Kedungsingkal [6]
7 Loderesan Gempolsari, Kedungdoro [6]
8 Majan Krajan, Cikalan, Rowosapen [6]
9 Mangunsari Mangunsari, Grobogan [6]
10 Ngujang Dwi Wibowo, Trimulyo [6]
11 Plandaan Anengjoyo, Baliyoso [6]
12 Plosokandang Kudusan, Manggisan, Srigading [6]
13 Rejoagung Rejoagung, Kebonagung, Sukorejo [6]
14 Ringinpitu Ringinagung, Ringinputih, Ringinsari [6]
15 Simo Simo I, Simo II [6]
16 Tapan Tapan, Donorejo, Melikan, Serut [6]
17 Tawangsari Tawangsari [6]
18 Tunggulsari Mekarsari, Sekarsari, Sumbersari [6]
19 Winong Winong [6]

Tempat terkenal

[sunting | sunting sumber]
Masjid Al-Mimbar Majan
Jembatan Plengkung arah Mangunsari
  • Stadion Rejoagung - stadion utama Kabupaten Tulungagung[2]
  • Masjid Tawangsari - masjid peninggalan KH. Abu Mansyur di Desa Tawangsari
  • Masjid Al-Mimbar - masjid peninggalan KH. Khasan Mimbar di Desa Majan
  • Pasar Bangoan
  • Taman Hutan Kota Tulungagung
  • Taman Makam Pahlawan (TMP) Rejoagung
  • Jawa Pos Radar Tulungagung
  • Jembatan Ngujang 1 - jembatan penghubung dengan Kecamatan Ngantru, terkenal karena banyaknya monyet liar yang berasal dari Makam Ngujang[10]
  • Jembatan Plengkung penghubung Mangunsari-Plandaan di Sungai Ngrowo[7]

Institusi kesehatan[3]

[sunting | sunting sumber]
  • RSUD dr.Iskak Tulungagung
  • RS Putra Waspada
  • RSIA Trisna Medika
  • Puskesmas Kedungwaru di Rejoagung
  • Puskesmas Simo

Institusi pendidikan[11]

[sunting | sunting sumber]

Institusi pemerintahan

[sunting | sunting sumber]
  • Kejaksaan Negeri Tulungagung
  • Pengadilan Negeri Tulungagung
  • Kementerian Agama Kabupaten Tulungagung
  • SAMSAT Tulungagung
  • Dinas Kesehatan
  • Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan
  • Dinas Penanaman Modal PTSP
  • Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi
  • PT BPR Bank Tulungagung
  • Satlantas Polres Tulungagung
  • Lapas Tulungagung

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. "Visualisasi Data Kependudukan - Kementerian Dalam Negeri 2024" (visual). www.dukcapil.kemendagri.go.id. Diakses tanggal 21 Maret 2025.
  2. 1 2 Destyan H. Sujarwoko (2025-04-11). "Perbaikan Stadion Rejoagung Tulungagung terkendala status kewenangan". ANTARA.
  3. 1 2 Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. "RS Online". Ditjen Yankes KEMENKES RI. Diakses tanggal 2024-05-18.
  4. 1 2 3 4 Muhamad Fikri Haikal, Hendra Afiyanto (2023). "Desa Perdikan Majan, Winong, Tawangsari: Studi Pemerintahan dan Kebudayaan Tahun 1900-1979". PATTINGALLOANG : Jurnal Pemikiran Pendidikan dan Penelitian Kesejarahan. 10 (1). Universitas Negeri Makassar.
  5. Intan Puspitasari (2023-04-06). "Masjid Tawangsari, Menyimpan Sejarah Besar Kota Tulungagung". RADAR TULUNGAGUNG.
  6. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 Kecamatan Kedungwaru Dalam Angka 2024. BPS Kabupaten Tulungagung. 2024-09-26.
  7. 1 2 Nurul Hidayah (2023-08-14). "Sejarah Unik Jembatan Plengkung, Gimana Nggak Kokoh Banget? Ternyata Begini". RADAR TULUNGAGUNG.
  8. Anang Basso (2020-11-13). "Buku Nikah Siri Beredar di Tulungagung, Apakah dari Majan? Ini Kata Sesepuh Setono Dalem". JATIM TIMES.
  9. "SALINAN KEPUTUSAN KEPALA DESA GENDINGAN NOMOR 18 TAHUN 2021" (PDF). Pemerintah Desa Gendingan. 2021.
  10. Adhar Muttaqin (2021-10-29). "Kawanan Monyet Liar Ini Hidup di Tengah Kuburan Ngujang Tulungagung". DETIK.
  11. "Pangkalan Data Pendidikan Tinggi". pddikti.kemdiktisaintek.go.id. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi. Diakses tanggal 2025-07-01.
  12. Meilisa Dwi Ervinda (2023-03-02). "Rekomendasi SMA Terbaik di Tulungagung Berdasarkan Skor UTBK". DETIK.