Kecelakaan kereta api Bintaro 1987

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Kecelakaan kereta api Bintaro 1987
Proses evakuasi Tragedi Bintaro.png
Proses evakuasi sesaat setelah kejadian
Detail
Tanggal 19 Oktober 1987; 32 tahun lalu (1987-10-19)
Waktu 06.45 WIB (permulaan)
Lokasi Bintaro, Jakarta
Negara  Indonesia
Jalur rel Merak–Tanahabang segmen Rangkasbitung–Tanahabang
Operator Perusahaan Jawatan Kereta Api Inspeksi Jakarta
Tipe kecelakaan Tabrakan berhadapan
Penyebab Kelalaian PPKA Stasiun Sudimara dalam memberikan tanda aman bagi KA 225
Statistik
Kereta api 2 (KA 225 vs. KA 220)
Petugas KA 225:
  • Slamet Suradio, masinis
  • Soleh, asisten masinis
  • Adung Syafei, kondektur

KA 220:

  • Amung Sunarya, masinis
  • Mujiono, asisten masinis

Stasiun Sudimara:

  • Djamhari, PPKA

Stasiun Kebayoran:

  • Umrihadi, PPKA
Tewas 139 dengan rincian
  • 113 teridentifikasi
  • 26 tak diketahui identitasnya
Terluka 254 dengan rincian
  • 170 dirawat di rumah sakit
  • 84 luka ringan
Kerusakan Rusak pada:
  • lokomotif BB303 16 dan BB306 16
  • satu kereta penumpang berbagasi kelas 3 (KB3)
  • tiga kereta penumpang kelas 3 (K3)

Kecelakaan kereta api Bintaro 1987 atau yang dikenal dengan nama "Tragedi Bintaro I" adalah peristiwa kecelakaan tragis yang melibatkan dua buah kereta api di daerah Pondok Betung, Bintaro, Jakarta Selatan, pada tanggal 19 Oktober 1987 yang merupakan musibah terburuk dalam sejarah perkeretaapian di Indonesia. Peristiwa ini juga menyita perhatian publik dunia.[1][2]

Dalam kecelakaan ini, rangkaian kereta api Patas Merak jurusan Tanah Abang–Merak yang berangkat dari Stasiun Kebayoran (KA 220) bertabrakan dengan kereta api Lokal Rangkas jurusan Rangkasbitung–Jakarta Kota (KA 225) yang berangkat dari Stasiun Sudimara. Peristiwa ini tercatat sebagai salah satu kecelakaan paling buruk dalam sejarah transportasi di Indonesia dengan mencatatkan 139 tewas dan 254 orang lainnya luka berat. Proses evakuasi penumpang kereta api menjadi tantangan mengingat kerasnya tabrakan head-to-head.[3][4][5]

Penyelidikan setelah kejadian menunjukkan adanya kelalaian petugas Stasiun Sudimara yang memberikan sinyal aman bagi kereta api dari arah Rangkasbitung, padahal tidak ada pernyataan aman dari Stasiun Kebayoran. Hal ini dilakukan karena tidak ada jalur yang kosong di Stasiun Sudimara.

Lokasi kejadian[sunting | sunting sumber]

Berdasarkan keterangan resmi dari Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA), lokasi kecelakaan berada pada km 17+252 lintas Angke–Tanahabang–Rangkasbitung–Merak.[5] Lokasi tersebut berada pada tikungan S yang diapit Jalan Tol Jakarta–Serpong di barat dan Jalan Tol T.B. Simatupang di timurnya. Lokasi ini juga terletak sekitar 1,5 km di sebelah barat daya TPU Tanah Kusir.

Kronologi[sunting | sunting sumber]

Versi PJKA[sunting | sunting sumber]

Berikut ini adalah kronologi kejadian kecelakaan kereta api Bintaro menurut keterangan resmi dari PJKA.[5]

Peristiwa bermula atas kesalahan kepala Stasiun Serpong memberangkatkan KA 225 (Rangkasbitung–Jakarta Kota) ke Stasiun Sudimara, tanpa mengecek kepenuhan jalur KA di Stasiun Sudimara. Berdasarkan gapeka yang berlaku saat itu, KA 225 dijadwalkan tiba di Stasiun Sudimara pada pukul 06.40 untuk bersilang dengan KA 220 pada pukul 06.49. Pada kenyataannya, KA 225 terlambat hanya 5 menit. Pada saat itu emplasemen Stasiun Sudimara yang memiliki tiga jalur telah ditafsirkan "penuh" dan "tidak dapat menerima persilangan KA" karena:

  • jalur 1 dalam kondisi buruk dan hanya dipakai untuk langsiran unit tunggal;
  • jalur 2 berisi KA barang 1035;
  • jalur 3 berisi KA 225 yang berhenti.[5]

Karena Stasiun Sudimara sudah tidak dapat menerima persilangan antarkereta api, maka KA 225 harus meninggalkan Stasiun Sudimara untuk berhenti lagi di stasiun berikutnya, Kebayoran. Sesuai dengan peraturan dinas, petugas Pengatur Perjalanan Kereta Api (PPKA) Sudimara wajib:

  • meminta izin kepada PPKA Kebayoran melalui telepon; dan
  • mengirimkan Surat Pemindahan Tempat Persilangan (PTP) yang harus diserahkan langsung ke masinis dan kondektur KA 225.[5]

Pada pagi itu, terjadi pergantian PPKA dari shift malam ke shift pagi. Namun sayangnya, Surat PTP itu diserahkan tanpa memberikan izin terlebih dahulu kepada PPKA Kebayoran sebelum shift terjadi. Bahkan PTP itu dikirimkan tidak sesuai prosedur karena diserahkan melalui seorang petugas pelayanan kereta api (PLKA) baru kemudian dibacakan masinis dan kondektur KA 225. Saat serah terima shift tersebut, PPKA shift malam memberi tahu PPKA shift pagi (Umrihadi) bahwa KA 251, 225, dan 1035 belum tiba di Stasiun Kebayoran. KA 251 sedang melaju ke arah Kebayoran untuk bersilang dengan KA 220.[5]

Begitu KA 251 berhenti di Kebayoran, Umrihadi meminta izin memberangkatkan KA 220 ke PPKA Sudimara, Djamhari. Namun, Djamhari menjawab bahwa dirinya sedang sibuk. Seharusnya sesuai prosedur yang ada, Djamhari harus menyatakan menolak memberikan izin keberangkatan bagi KA 220 dan mengabarkan bahwa ada kereta api yang harus berangkat dari Sudimara ke Kebayoran sesuai jadwal. Pada saat itu, KA 225 mulai dipadati penumpang. Ada yang bergelantungan di pintu, di jendela, di toilet, dan bahkan di lokomotif.[5]

Begitu komunikasi antar-PPKA ditutup, Umrihadi justru memberangkatkan KA 220 dengan asumsi bahwa persilangan KA 225 tetap dilakukan di Sudimara walaupun terlambat. Agar meyakinkan, Umrihadi menelepon ke Djamhari bahwa KA 220 sudah berangkat dari Stasiun Kebayoran. Padahal PTP sudah telanjur diberikan kepada masinis dan kondektur KA 225. Dengan kebingungan tersebut, Djamhari mengakali masalah ini dengan melangsir KA 225 dari jalur 3 ke jalur 1 Stasiun Sudimara. Akhirnya Djamhari memerintahkan seorang juru langsir untuk melangsir dengan menulis pada laporan harian masinis perihal langsiran tersebut.[5]

Juru langsir yang disuruh Djamhari itu pun dengan tangkas mengambil bendera merah dan slompret. Saat akan dilangsir, masinis tidak dapat melihat semboyan yang diberikan, karena pandangan terhalang penumpang. Sebelum juru langsir itu mencapai kereta paling belakang kira-kira 7 m, tiba-tiba kereta mulai bergerak, dan juru langsir gagal mencapai kereta paling belakang karena kereta mulai berjalan kencang. Kondektur pun mencoba masuk ke dalam kereta tersebut tetapi malah tidak memerintahkan untuk menghentikan kereta.[5]

Juru langsir melapor ke Djamhari bahwa KA 225 sudah berangkat tanpa izin. Dengan cepat ia pun menggerakkan tuas sinyal masuk pihak Kebayoran tetapi tidak berhasil menghentikan kereta api. Djamhari pun berlari di tengah rel sembari mengibar-ngibarkan bendera merah ke arah KA 225 tetapi gagal menghentikan kereta. Djamhari pun akhirnya kembali ke Stasiun Sudimara dalam keadaan pingsan.[5]

Tiba-tiba, masinis 225 terkejut melihat KA 220 telah berada di depan mata. Meski sudah menarik tuas rem bahaya, tabrakan tak terhindarkan.[6] Tabrakan ini terjadi pada tikungan S, km 17+252. Total kerugian material yang diketahui berdasarkan laporan akhir PJKA tersebut adalah Rp1,9 miliar. Korban tewas 139 orang[4] dengan 72 tewas di tempat[2] dan sisanya meninggal sekarat. Dari 139 korban tewas, 113 di antaranya sudah teridentifikasi. Total 254 luka-luka dengan rincian 170 orang dirawat di rumah sakit dan 84 orang luka ringan.[5]

Versi masinis 225[sunting | sunting sumber]

"Yang seharusnya saya di Sudimara bersilangan dengan KA 220 dibatalkan oleh PPKA yang sedang dinas. Jadi kalau ada orang mengatakan 'berangkat sendiri', itu bohong. Apa untungnya saya memberangkatkan kereta sendiri?"

"Jadi hakim percayanya saya tidak loncat itu karena ada bercak darah. Makanya (isu) di internet itu yang buat siapa? Saya bingung itu, sedangkan hakim sendiri mengatakan (saya) nggak loncat. Ada katanya saya loncat, itu bohong sekali, itu orang fitnah, jelas fitnah!"

Slamet Suradio, Wawancara dengan Kisah Tanah Jawa di YouTube

Berbeda dengan tudingan di pengadilan dan laporan akhir PJKA bahwa masinis 225, Slamet Suradio, memberangkatkan sendiri kereta apinya tanpa izin, Suradio mengatakan dengan tegas bahwa dirinya "sama sekali hanya mengikuti instruksi dari PPKA Sudimara menggunakan PTP tersebut." Bahkan Suradio berkali-kali menegaskan bahwa tudingan tersebut adalah sebuah "kebohongan besar". Ia juga menegaskan bahwa tak ada hal apa pun yang dikhawatirkan karena ia merasa tak melihat semboyan apa pun yang diterimanya.[6]

Saat terjadi tabrakan, Suradio juga meluruskan apa yang diberitakan di media, termasuk dalam koran Pembaruan yang pertama kali membahas mengenai Tragedi Bintaro 1987 yang menulis "masinis lompat" pada koran tersebut. Ia menanggapi: "Kaki saya ngesot-ngesot tidak bisa jalan, akhirnya saya merambat melalui jendela." Dengan begitu, dapat disimpulkan bahwa saat terjadi tabrakan, Suradio tergencet oleh badan lokomotif dalam keadaan bersimbah darah dan dijemput oleh seorang wanita dengan mobilnya ke rumah sakit. Dalam keadaan PTP masih memiliki bekas bercak darah, Suradio berhasil membuktikan kepada hakim bahwa dirinya tergencet dan tidak melompat, dan menuding bahwa orang yang menuliskan berita tersebut adalah "orang fitnah."[6]

Akhir kejadian[sunting | sunting sumber]

Dua buah lokomotif, BB303 16 (KA 220) dan BB306 16 (KA 225) mengalami kerusakan parah. Kerusakan yang cukup hebat terjadi; BB303 16 ditelan kereta penumpang berbagasi KB3-65601.[7] K3-65626 (KA 225) juga mengalami kerusakan parah. Dua kereta di belakang kereta pertama, K3-66505 (KA 220), dan K3-65654 (KA 225) mengalami rusak ringan.[5]

Sanksi[sunting | sunting sumber]

Suradio akhirnya divonis hukuman 5 tahun penjara dan harus kehilangan pekerjaannya sebagai masinis.[8] Ia ditahan di Lapas Cipinang dan bebas pada tahun 1993. Sejak saat itu, Suradio sempat hanya apel di kantornya karena sudah dibebastugaskan. Pada tahun 1994 ia dipecat dari jabatannya sebagai masinis; kemudian Nomor Induk Pegawai Perkeretaapiannya, 120035237, dicabut pada 1996 oleh Departemen Perhubungan Indonesia. Ia pun tidak mendapat uang pensiun.[9]

Nasib yang serupa juga menimpa Adung Syafei, kondektur KA 225. Syafei harus mendekam di penjara selama 2,5 tahun.[5] Sedangkan PPKA Djamhari dan Umrihadi dihukum 10 bulan penjara.[8]

Pada budaya populer[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Kecelakaan KA Paling Tragis, Lebih Seratus Orang Tewas". Harian Kompas. 20 Oktober 1987. 
  2. ^ a b "Tabrakan KA Mengerikan, 72 Orang Tewas Seketika". Suara Pembaruan. 20 Oktober 1987. 
  3. ^ Haryanti, R. "Senin Kelam 19 Oktober 1987, Terjadinya Tragedi Bintaro..." KOMPAS.com. Diakses tanggal 2020-07-08. 
  4. ^ a b "Lebih dari Seratus Orang Mati, Dosa Siapa?". Tempo. 2013-12-16. Diakses tanggal 2020-06-04. 
  5. ^ a b c d e f g h i j k l m PJKA (1987/1988). Laporan PJKA tentang Musibah Bintaro 19 Oktober 1987 (Laporan). 
  6. ^ a b c "Rentetan Nasib Malang Masinis Kereta dalam Tragedi Bintaro, Dipenjara Gara-gara 'Fitnah', Tak Dapat Pensiun, Hingga Ditinggal Istri yang 'Direbut' Masinis Lain - Semua Halaman - Intisari". intisari.grid.id. Diakses tanggal 2020-06-04. 
  7. ^ Media, Kompas Cyber. "Senin Kelam 19 Oktober 1987, Terjadinya Tragedi Bintaro... Halaman all". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2020-06-04. 
  8. ^ a b "Kasus Bintaro, Masinis Slamet Dihukum Lima Tahun". Kompas. 22 Agustus 1988. 
  9. ^ Blog Widodo Groho (7 Juni 2013). "Bertemu Mbah Slamet Suradio (Masinis KA 225 Dalam Tragedi Bintaro Tahun 1987)" (dalam bahasa Indonesia). Diakses tanggal 9 Februari 2015. 
  10. ^ "Mengenang Tragedi Bintaro, Ini Lirik Lagu 1910 Iwan Fals - Teras.ID". www.teras.id. Diakses tanggal 2020-06-04. 
  11. ^ Sudrajat. "Bencana Galunggung, Tampomas dan Bintaro dalam Lagu Ebiet G Ade". detikhot. Diakses tanggal 2020-06-04. 
  12. ^ Herfianto (2020-05-12). "Dirilis Ulang, Ebiet G Ade Ajak Dua Putranya Populerkan Kembali Lagu Masih Ada Waktu". liputan6.com. Diakses tanggal 2020-06-04. 
  13. ^ Times, I. D. N. "29 Tahun Berlalu, ini 10 Foto Terkini Ferry Octora 'Tragedi Bintaro'". LINE TODAY. Diakses tanggal 2020-06-04. 

Daftar pustaka[sunting | sunting sumber]

  • Tim Redaksi Koran Tempo (2019). Tragedi Kereta Api Bintaro. Jakarta: Tempo Publishing. 

Koordinat: 6°15′31″S 106°45′43″E / 6.258623°S 106.761809°E / -6.258623; 106.761809