Slamet Suradio

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Slamet Suradio
Berkas:Slamet Suradio.jpg
Slamet Suradio.
Lahir18 Agustus 1939 (umur 80)
 Hindia Belanda
Kebangsaan Indonesia
PekerjaanMasinis
Dikenal atasTerdakwa kasus Tragedi Bintaro

Slamet Suradio (lahir di Purworejo, Jawa Tengah, 18 Agustus 1939; umur 80 tahun[1]) adalah mantan masinis kereta api di Indonesia. Ia merupakan terdakwa atas kasus Tragedi Bintaro tanggal 19 Oktober 1987. yang mengakibatkan 156 korban tewas dan sekitar 300 orang luka parah.[2] Peristiwa naas ini sontak menjadi perhatian publik dunia pada waktu itu karena kecelakaan kereta api tersebut merupakan kecelakaan paling mengerikan dalam sejarah perkeretaapian Indonesia.

Karier[sunting | sunting sumber]

Awal karier[sunting | sunting sumber]

Slamet Suradio mulai mengabdi di Perkeretaapian Indonesia mulai tahun 1964 dan mengawali kariernya menjadi masinis pada tahun 1971.[3] Pria lulusan SMP[1] ini memulai kariernya di Perusahaan Negara Kereta Api (kini PT Kereta Api Indonesia) sejak ia berumur 25 tahun. Ia diterima bekerja sebagai pegawai perkeretaapian di Daerah Operasi I Jakarta. Mulanya, Slamet bertugas melakukan perawatan terhadap kereta sebelum diberangkatkan. Pada tahun 1966, ia mengikuti ujian menjadi asisten masinis dan lulus; lima tahun berikutnya menjadi masinis berpangkat pengatur muda.[4]

Tragedi Bintaro[sunting | sunting sumber]

Pada tanggal 19 Oktober 1987, pada pukul 06.45 pagi itu, terjadi tabrakan berhadapan antara KA 225 dan 220 di Pondok Betung, Bintaro, Pesanggrahan, Jakarta Selatan. KA 225 ditarik lokomotif BB303 16 dengan Slamet sebagai masinis, Soleh sebagai asisten masinis, dan Adung Syafei sebagai kondektur. Sementara itu, KA 220 ditarik lokomotif BB306 16 dan dimasinisi oleh Amung Sunarya, dengan asistennya, Mujiono.[5]

Tanpa berkomunikasi dengan Stasiun Sudimara, petugas PPKA Stasiun Serpong memberangkatkan KA 225, padahal tidak ada tanda-tanda aman di Stasiun Kebayoran. Di Sudimara jalurnya memang padat kereta api. Penuhnya jalur membuat Kepala Stasiun Sudimara memberi aba-aba rangsir kepada KA 225, menuju jalur 1. Para penumpang saling berdesakan naik KA 225, pandangan masinis terhalang oleh para penumpang yang naik di lokomotif. Kemudian, masinis bertanya kepada penumpang di lokomotif, "Berangkat?" Maka penumpang itu pun menjawab, "Berangkat!"[6]

Masinis berangkat tanpa izin PPKA; padahal PPKA Sudimara, Djamhari, sudah menggerak-gerakkan sinyal semboyan 7; tetapi gagal, kemudian mengejar kereta itu seraya mengibarkan bendera merah. Juru rangsir kaget dan mengejar kereta itu, dan berhasil masuk kereta paling belakang. Djamhari kemudian merasa sedih dan kembali ke Sudimara, lalu membunyikan semboyan genta kepada penjaga perlintasan di Pondok Betung; tetapi kereta tetap melaju. Ternyata penjaga perlintasan sebidang tersebut tidak hafal semboyan genta! Sontak di depan ada KA 220, masinis 225 terkejut. Akhirnya, terjadilah tabrakan di tikungan S, km 18,75.

Seratus lima puluh enam penumpang, terutama yang "nangkring" di lokomotif dan yang duduk di kereta nomor 1 masing-masing rangkaian, tewas seketika setelah kejadian tersebut, sedangkan sekitar 300 orang mengalami luka-luka. Sebagian di antara korban tewas itu ada yang "tergiling" habis oleh kipas radiator lokomotif.[7]

Sanksi dan pemecatan[sunting | sunting sumber]

Slamet akhirnya divonis hukuman 5 tahun penjara dan harus kehilangan pekerjaannya sebagai masinis. Ia ditahan di Lapas Cipinang dan bebas pada tahun 1993. Sejak saat itu, Slamet sempat hanya apel di kantornya karena sudah dibebastugaskan. Pada tahun 1994 ia dipecat dari jabatannya sebagai masinis; kemudian Nomor Induk Pegawai Perkeretaapiannya, 120035237, dicabut pada 1996 oleh Departemen Perhubungan Indonesia. Ia pun tidak mendapat uang pensiun.[3][8]

Kehidupan kini[sunting | sunting sumber]

Setelah dipecat dari Perumka, Slamet Suradio akhirnya memilih kembali ke kampung halamannya, di Kabupaten Purworejo. Kini, sosok Slamet Suradio menjadi pedagang rokok[9] di Kutoarjo.[3]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b Suara Merdeka (6 Oktober 2010). "Tak Bisa Mati Jika Uang Pensiun Tak Diberikan" (dalam bahasa Indonesia). Diakses tanggal 9 Februari 2015. 
  2. ^ JPNN (Jawa Pos News Network) (5 Oktober 2010). "Masinis KA dalam Tragedi Bintaro, Hidupnya Kini" (dalam bahasa Indonesia). Diakses tanggal 9 Februari 2015. 
  3. ^ a b c JPNN (Jawa Pos News Network) (6 Oktober 2010). "Masinis KA dalam Tragedi Bintaro, Hidupnya Kini (2-Habis)" (dalam bahasa Indonesia). Diakses tanggal 9 Februari 2015. 
  4. ^ Tempo.co (11 Desember 2013). "Masinis Tragedi Bintaro I, Kok di Situ Lagi, Ya..." (dalam bahasa Indonesia). Diakses tanggal 9 Februari 2015. 
  5. ^ SindoNews (11 Desember 2013). "Tragedi Bintaro (1)" (dalam bahasa Indonesia). Diakses tanggal 9 Februari 2015. 
  6. ^ SindoNews (11 Desember 2013). "Tragedi Bintaro (2)" (dalam bahasa Indonesia). Diakses tanggal 9 Februari 2015. 
  7. ^ SindoNews (11 Desember 2013). "Tragedi Bintaro (3)" (dalam bahasa Indonesia). Diakses tanggal 9 Februari 2015. 
  8. ^ Blog Widodo Groho (7 Juni 2013). "Bertemu Mbah Slamet Suradio (Masinis KA 225 Dalam Tragedi Bintaro Tahun 1987)" (dalam bahasa Indonesia). Diakses tanggal 9 Februari 2015. 
  9. ^ Okezone (10 Desember 2013). "Ini Ungkapan Bela Sungkawa Masinis KA Tragedi Bintaro 1987" (dalam bahasa Indonesia). Diakses tanggal 9 Februari 2015. 

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]