Guru Patimpus

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Guru Patimpus Sembiring Pelawi
Lahir1540
Ajijahe, Tigapanah, Karo
Meninggal01 Juli 1590
GelarPendiri Kota Medan, Bapak bangsa Indonesia
AnakKolok
Kecik

Guru Patimpus Sembiring Pelawi (lahir di Ajijahe, Tigapanah, Karo, 1540 – meninggal 1 Juli 1590), Guru Patimpus berasal dari dataran tinggi Karo. Guru Patimpus Sembiring Pelawi adalah pendiri Kota Medan, Sumatra Utara, Indonesia, yang diambil dari Kata Medan yang artinya "Sembuh" dalam bahasa Karo.

Sebelum Guru Patimpus Sembiring Pelawi memeluk Agama Islam, dia adalah seorang yang mempunyai kepercayaan Pemena. Guru Patimpus Sembiring Pelawi menikah dengan seorang putri Raja Pulo Brayan dan mempunyai dua anak lelaki, masing-masing bernama Kolok dan Kecik.

Setelah menikah, Guru Patimpus Sembiring Pelawi dan istrinya membuka kawasan hutan antara Sungai Deli dan Sungai Babura yang kemudian menjadi Kampung Medan. Tanggal kejadian ini biasanya disebut sebagai 1 Juli 1590, yang kini dirayakan sebagai Hari Jadi Kota Medan, Hari Lahir Kota Medan dan Hari Ulang Tahun Kota Medan.

Medan[sunting | sunting sumber]

Kota Medan berdiri pada Tahun 1590 yang diresmikan oleh Guru Patimpus, kota ini berawal dari sebuah kampung yang bernama kampung Medan Putri. Selanjutnya, kampung ini yang akan menjadi cikal bakal kota. Guru Patimpus adalah seorang putra Karo bermarga Sembiring Pelawi dan beristrikan seorang putri Datuk Pulo Brayan. Nama Medan sendiri berasal dari kata Madaan berarti menjadi sehat atau lebih baik. [1]

Sapuluh Dua Kuta Hamparan Perak[sunting | sunting sumber]

Selain membuka kota Medan ia juga mendirikan sebuah kedatukan yang dikenal dengan Kedatukan Sapuluh Dua Kuta Hamparan Perak. Hamparan Perak merupakan nama sebuah kecamatan, sekaligus nama sebuah desa yang berada di Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara. Datangnya Guru Patimpus ke dataran rendah membuktikan bahwa sejak dulu sudah ada hubungan antara orang dataran rendah dan dataran tinggi, terutama dalam hal perdagangan. Kedatangan Guru Patimpus ke dataran rendah membawa pengaruh yang cukup besar, yaitu pada masyarakat Melayu dan juga masyarakat Karo. Perpindahan yang dilakukan masyarakat Karo dari dataran tinggi menuju ke dataran rendah menurut J.H Neuma karena adanya desakan dari orang-orang India Tamil yang datang dari arah Singkil dan Barus yang masuk kedalam Tanah Karo, yang karena itu juga marga Sembiring diusir dari Aceh. Kemungkinan lain yaitu karena tanah dataran rendah lebih subur dari pada di dataran tinggi.[1]

Referensi[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b Tanjung, Mhd. Rusdi; Nawawi, Hafiz Fahry (2020). "Animasi 2D Reinterpretasi Sejarah Guru Patimpus Pendiri Kota Medan". Jurnal FSD. 1 (1): 103 – 116.