Hamparan Perak, Deli Serdang

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Hamparan Perak
Negara Indonesia
ProvinsiSumatra Utara
KabupatenDeli Serdang
Pemerintahan
 • Camat-
Populasi
 • Total- jiwa
Kode Kemendagri12.07.24 Edit the value on Wikidata
Desa/kelurahan14/6

Hamparan Perak adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Deli Serdang, Sumatra Utara, Indonesia.

Mayoritas penduduk adalah Melayu Deli (70%), Jawa (10%), Tionghoa (10%) dan Karo dan Batak (5%) serta berbagai suku lainnya.

Peringatan 17 agustus pada tahun 70-an di Hamparan Perak
Komoditas Tembakau Deli yang merupakan Komoditas yang banyak ditanam di Kecamatan Hamparan Perak Pada Masa Hindia Belanda

Hamparan Perak berada di Pesisir Timur Pulau Sumatra. Di masa kini, Hamparan Perak termasuk salah satu desa dalam kecamatan Hamparan Perak yang berafiliasi ke Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatra Utara, Negara Republik Indonesia. Berjarak 20 km dari Medan, Hamparan Perak adalah ibu kota terakhir dari Sepuluh Dua Kuta, sebuah kampung rintisan Guru Patimpus yang pertama kali beribu kota di Medan. Bagaimana ceritanya, akan kita telisik melalui catatan ini.

Kerajaan Haru.

Hamparan Perak adalah salah satu daerah yang tidak dapat disebut maju apalagi masyhur pada era modern ini.

Seorang pakar sejarah bernama Winstedt beranggapan Kerajaan Haru memang pernah wujud dan berada di daerah yang sekarang disebut Tanah Deli. Sementara Groeneveldt menegaskan lokasi kerajaan Aru berada kira-kira di muara sungai Barumun (Padang Lawas) dan ahli sejarah lainnya, Gilles menyatakan di dekat Belawan. Sumber-sumber lain memperkirakan lokasi kerajaan Haru berada di muara Sungai Wampu (Teluk Aru, Langkat, yang akan dimekarkan menjadi Kabupaten Teluk Aru pada 2011) dan ada pula yang bersikeras di Sungai Panai.

Mari kita singkirkan kontroversi tersebut. Yang jelas kita patut menduga wilayah Hamparan Perak masa kini, dahulunya berada dalam pengaruh kekuasaan Kerajaan tersebut. Hal ini bukan tanpa alasan. Ditemukannya beberapa peninggalan arkeologi di daerah Kota Rantang, Kecamatan Hamparan Perak, dan Kota China, Paya Pasir (Labuhan Deli) beberapa waktu yang lalu dapat dijadikan acuan. Beberapa hasil temuan seperti keramik, potongan kayu bekas kapal, batu bata dan nisan disinyalir berasal dari abad ke 12 hingga 16. Koordinator kegiatan penggalian situs di Kota Rantang, Nani H Wibisono dalam salah satu media Jakarta terbitan 24 April 2008 mengatakan, aneka keramik yang ditemukan paling banyak berasal dari Dinasti Yuan abad ke-13-14. Selain itu ada keramik dari Dinasti Ming abad ke-15, keramik Vietnam abad ke-14-16, keramik Thailand abad ke-14-16, keramik Burma abad ke-14-16, dan keramik Khmer abad ke-12- 14. Adapun batu nisan yang ditemukan di lokasi bergaya Islam bertuliskan syahadat tanpa ada angka tahun. Semua ini menunjukkan adanya kawasan perniagaan internasional di daerah tersebut yang mengindikasikan adanya sebuah kerajaan yang kemungkinan besar adalah Kerajaan Haru.

Dalam Ying Yai Sheng Lan (1416) karya Ma Huan disebutkan bahwa di Kerajaan Aru terdapat sebuah muara sungai yang dikenal dengan “fresh water estuary” yang diasumsikan A.H. Gilles sebagai sungai Deli.

Dalam Hsingcha Shenglan (1426) disebutkan lokasi Kerajaan Aru berseberangan dengan Pulau Sembilan (Malaysia), dan dapat ditempuh dengan perahu selama 3 hari 3 malam dari Melaka dengan kondisi angin yang baik. Sementara menurut Sejarah Dinasti Ming (1368-1643) Buku 325 disebutkan bahwa lokasi Kerajaan Aru dekat dengan Kerajaan Melaka, dan dengan kondisi angin yang baik dapat dicapai selama 3 hari. Semua sumber China itu mengarahkan bahwa lokasi Kerajaan Aru itu berada di daerah Sumatra Utara, karena sebelah barat Aru disebutkan adalah Samudera Pasai.

Mengingat sistem transportasi zaman dahulu masih bertumpu pada jalur sungai, dapat kita asumsikan bahwa bandar-bandar perdagangan yang sering berfungsi sebagai pusat sebuah kekuasaan politik (kerajaan) pastilah berada di sekitar muara sungai. Dalam konteks ini, kita melihat di sepanjang pantai Sumatra Timur, ada beberapa sungai besar yang bermuara ke Selat Melaka. Misalnya Sungai Barumun, Sungai Wampu, Sungai Deli, dan Sungai Bedera. Dua sungai yang disebut terakhir ini bermuara ke Belawan dan sekitarnya (Hamparan Perak). Jika demikian tampaknya pendapat Gilles lebih masuk akal, apalagi jika dihubungkan dengan beberapa temuan arkeologis di Kota Rantang dan Labuhan Deli. Jika demikian adanya, maka Hamparan Perak sudah berada dalam kekuasaan kerajaan Haru meskipun masih berupa hutan belukar.

Nama Haru muncul pertama kali dalam kronik Tiongkok masa Dinasti Yuan, yang menyebutkan Kubilai Khan menuntut tunduknya penguasa Haru kepada Tiongkok pada 1282. Raja Haru menanggapinya dengan mengirimkan upeti pada tahun 1295.

Islam masuk ke kerajaan Haru kira-kira di abad 13. Para ahli sejarah berpendapat penduduk Haru lebih dulu memeluk Islam daripada Pasai. Disinyalir penduduk asli Haru berasal dari suku Karo, hal ini terlihat dari nama-nama pembesar Haru dalam Sulalatus Salatin yang mengandung nama dan marga Karo.

Buku Sejarah Dinasti Ming menyebutkan bahwa pada abad ke 15 “Su-lu-tang Husin” alias Sultan Husin, penguasa Haru, mengirimkan upeti ke Tiongkok tahun 1411. Setahun kemudian Haru dikunjungi oleh armada Laksamana Cheng Ho. Pada 1431 Laksamana Cheng Ho yang muslim ini kembali mengirimkan hadiah pada raja Haru, tetapi saat itu Haru tidak lagi membayar upeti pada Tiongkok. Pada masa ini Haru telah berkembang menjadi saingan Kesultanan Malaka.

Pada 1511 Portugal menguasai Malaka. Haru menjalin hubungan baik dengan Portugal dan memanfaatkan Portugal dalam menyerang Pasai pada 1526. Ribuan penduduk Pasai tewas dalam invasi tersebut.

Eks. Kesultanan Malaka memindahkan kerajaannya ke Bintan, dan Haru membina hubungan yang harmonis dengan Bintan. Hal ini ditandai dengan dinikahkannya putri Sultan Mahmud Syah dari Bintan dengan Sultan Husin, penguasa Haru.

Pada 1526 Haru muncul menjadi yang terkuat di Selat Malaka menyusul pengusiran Sultan Mahmud Syah dari Bintan oleh Portugal. Namun ambisi Haru untuk memperkokoh hegemoninya terganjal oleh Aceh yang sedang di puncak kejayaannya. Catatan Portugal menyebutkan ada dua serangan dari pasukan Aceh pada tahun 1539 dimana raja Haru terbunuh. Istri Raja Haru meminta bantuan Portugal dan Johor (penerus kesultanan Malaka dan Bintan). Pada 1540 Armada Johor menghancurkan armada Aceh di Haru.

Aceh kembali menaklukkan Haru pada 1564. Sekali lagi berkat bantuan Johor, Haru berhasil mendapatkan kemerdekaannya (seperti tercatat dalam Hikayat Aceh dan sumber-sumber Eropa). Namun pada abad akhir ke-16, Haru hanya menjadi pion dalam perebutan pengaruh antara Aceh dan Johor. Kemerdekaan Haru benar-benar berakhir pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda dari Aceh yang naik takhta pada 1607. Dalam suratnya bertanggal tahun 1613 Sultan Iskandar Muda menyatakan kemenangannya atas Haru. Pada masa inilah nama Haru/Aru bertransformasi menjadi Deli.

Asal Usul nama Hamparan Perak dan hubungannya dengan Deli.

Kita tidak mendapatkan data memadai tentang Hamparan Perak dari sumber-sumber Tiongkok ataupun Eropa. Dalam hal ini, satu-satunya dokumen yang dapat kita andalkan adalah Naskah Tua Riwayat Hamparan Perak. Buku yang menceritakan silsilah datuk-datuk Hamparan Perak ini terbuat dari kulit alim (kulit kayu) dan ditulis dalam bahasa dan aksara Karo. Menurut sumber Sepuluh Dua Kuta, teks naskah ini disalin ke dalam bahasa Melayu (tulisan arab melayu) pada tahun 1274 H (kira-kira tahun 1857 M). Kemudian disalin lagi dan diteruskan riwayatnya ke dalam bahasa Melayu beraksara Latin pada 29 Desember 1916. Naskah aslinya musnah akibat revolusi sosial pada 04 Maret 1946, tetapi Panitia Hari Jadi Kota Medan memiliki salinannya dalam bahasa Melayu. Patut dibanggakan, naskah tua ini menjadi salah satu alat bukti pendukung dalam menemukan Hari Jadi Kota Medan yang disepakati Tim Panitia Hari Jadi Kota Medan jatuh pada tanggal 01 Juli 1590 menggeser hari jadi Gementee Medan pada 01 April 1909.

Menurut teks tua tersebut, Datuk-datuk Hamparan Perak merupakan keturunan langsung dari Sisinga Manga Raja yang bertahta di Bakkara. Ceritanya dapat diuraikan sbb:

Si Singamangaraja (diperkirakan sbg Ayah dari SM Raja I) adalah raja yang berkuasa di Bakkara. Beliau menikahi Pawang Najeli yang merupakan putri Jalipa, seorang tokoh besar. Dari perkawinannya tersebut SM Raja memperoleh dua orang anak. Yang Pertama bernama Tuan Menjolong dan anak kedua diberi nama Tuan Si Raja Hita.

Sebagai anak pertama, Tuan Menjolong otomatis dinobatkan sebagai penerus takhta, sementara Si Raja Hita, -karena tidak punya pengharapan lagi menjadi raja di Bakkara- memutuskan mengembara bersama neneknya Jalipa.

Di Tanah Karo, tepatnya di Gunung Sibayak, Si Raja Hita kehilangan neneknya secara misterius. Dengan masygul dia kembali ke Bakkara, menikah dan membuat perkampungan di Pakan. Di sini ke 3 anaknya lahir. Masing-masing diberi nama Patimpus, Pakan dan Balige.

Patimpus mewarisi konsep ayahnya Si Raja Hita untuk mendirikan kampung di daerah lain. Adiknya Pakan menjadi raja di Pekan, dan Balige menjadi raja pula di Balige, tetapi Patimpus lebih memilih memikul tanggung jawab yang dibebankan ayahnya, Si Raja Hita untuk mengembara. Terlebih-lebih lagi untuk menemukan dan membesarkan nama kakek buyutnya Jalipa yang ternyata ada di Kaban.

Ditiap tempat yang ditemukannya Patimpus menikah dan mempunyai anak. Di setiap tempat pula dia membuat perkampungan dan merajakan anak-anaknya di kampung-kampung seperti Benara, Kuluhu, Solahan, Paropo, Batu, Liang Tanah, Tongging, Aji Jahe, Batu Karang, Purbaji dan Durian Kerajaan. Patimpus juga secara gemilang berjasa mendamaikan Kaban dan Teran yang ditimpa huru hara. Dia juga membesarkan nama Jalipa di Kaban, dan kemudian menjadi pemimpin tertinggi di dataran Karo.

Setelah merajakan salah seorang anaknya di Durian Kerajaan, Patimpus kembali ke Aji Jahe. Dari situ dia mendengar kesaktian seorang ulama besar dari Tanah Jawa bernama Datuk Kota Bangun. Karena penasaran, Patimpus meninggalkan Aji Jahe untuk bertemu dengan sang Datuk. Inilah salah satu adegan paling masyhur dalam naskah Hamparan Perak.

Butuh waktu satu tahun bagi Patimpus untuk bertemu Datuk Kota Bangun. Selama perjalanannya menuju Kota Bangun, Patimpus banyak mendirikan kampung-kampung untuk kaumnya.

Setelah menetap selama 3 bulan di Sei Sikambing, Guru Patimpus pergi ke Kota Bangun dan berhasil menemui sang Datuk. Adegan paling menyita perhatian tampak ketika dia menantang sang datuk dalam uji kelayakan dan kepatutan sebagai seorang sakti. Datuk menyambut baik tantangan Patimpus dengan keyakinan sebagai taruhannya. Jika kalah Patimpus harus masuk Islam, tapi jika menang, sang Datuk yang masuk Batak.

Singkat kata, Patimpus kalah dalam adu kesaktian tersebut dan harus memenuhi janjinya untuk masuk Islam. Namun Patimpus meminta tempo 3 bulan karena harus kembali ke gunung untuk memberitahu kaumnya sekaligus untuk mengadakan acara adat perpisahan. Disinilah kesaktian Datuk Kota Bangun lagi-lagi menggetarkan hati Patimpus. Waktu perjalanan ke gunung dipangkas menjadi sekejap mata, dan Patimpus hanya diberi tempo 15 hari untuk mengadakan acara adat di gunung sana. Setelah kembali dari gunung, Patimpus kemudian menjadi murid Datuk Kota Bangun selama 3 tahun.

Setelah masuk Islam, nama Guru Patimpus menjadi sangat familiar di lingkungannya. Dia pun sering bolak-balik antara Kota Bangun-Sei Sikambing dan kadang-kadang ke gunung. Pada suatu kesempatan, Patimpus melewati istana Pulau Brayan dan melihat putri Pulau Brayan keturunan Panglima Hali bermarga Tarigan sedang bermain bersama dayang-dayangnya. Dayang-dayangnya secara spontan menunjuk kepada Guru Patimpus sembari bergurau bahwa itulah calon suami Tuan Putri, seorang Batak yang masuk Islam. Tuan Putri tidak terima dan malah meludah ke tanah sambil menyatakan ketidaksudiannya. Mendengar cemooh itu, Patimpus sakit hati. Dia pulang ke Sei Sikambing dan mengguna-gunai sang Putri sehingga menjadi gila. Pada akhirnya Patimpus jualah yang berperan sebagai tabib yang berhasil menyembuhkan sang putri. Sebagai imbalannya, sang Raja menikahkan putrinya dengan Guru Patimpus. Dari hasil pernikahan ini Patimpus memperoleh dua orang anak. Yang tua bernama Kolok dan yang kecil dinamai kecik. Kedua anak ini kemudian dikirim Patimpus ke Aceh untuk belajar Al Qur’an.

Kedua putra Patimpus sangat cepat menguasai Al Qur’an sehingga masyhurlah nama keduanya hingga sampai kepada Sultan Aceh. Ketika menghadap Sultan Aceh, kedua anak Patimpus menyatakan bahwa mereka berasal dari Deli dan ayahnya adalah penguasa di Sepuluh Dua Kuta. Sebuah pernyataan yang menunjukkan bahwa Patimpus berkuasa secara politik di Sepuluh Dua Kuta.

Sultan Aceh memberikan nama baru kepada anak-anak Patimpus keturunan Panglima Hali (Raja Pulau Brayan) tersebut. Yang tua diberi nama Hafdza Tua dan yang muda diberi nama Hafdza Muda, karena keduanya hapal Al Qur’an. Sultan Aceh kemudian meminta keduanya kembali ke Tanah Deli karena Guru Patimpus dikabarkan dalam keadaan uzur.

Patimpus menyambut kedatangan anaknya dengan penuh sukacita. Beliau mengumpulkan seluruh kaumnya dari pesisir hingga ke gunung untuk merayakan keberhasilan anaknya dalam menuntut ilmu di Aceh. Namun tak berapa lama kemudian Patimpus pun meninggal dunia dan dimakamkan di Pulau Bening (belakangan para ahli dari Unimed menyatakan telah menemukan makam Guru Patimpus di Hamparan Perak).

Hafdza Tua tidak berminat menjadi penerus takhta karena dia mengaku lebih tertarik menjadi ulama, sehingga tampuk kekuasaan tersebut diserahkan kepada Hafdza Muda. Hafdza Tua memilih menghabiskan usianya dengan berkebun di Sei Sikambing. Kisahnya pun tamat dalam silsilah karena tidak mempunyai anak. Dinasti XII Kuta diteruskan oleh Hafdza Muda yang memerintah di Medan.

Setelah Hafdza Muda meninggal dunia, kekuasaan beralih ke tangan anaknya yang bernama Muhammad Syah. Dia mempunyai 3 anak masing-masing bernama Masanah, Ahmad dan Mahmud.

Muhammad Syah membuat kampung di Kuala Berkalla dan Terjun. Anak pertama dan kedua mempunyai perangai yang buruk sehingga Muhammad Syah mengandalkan anak paling kecil sebagai penerusnya. Karena khawatir dengan ancaman kedua anaknya yang jahat itu, Muhammad Syah merajakan anaknya yang paling kecil (Mahmud) di Terjun. Secara otomatis pindahlah ibu kota Sepuluh Dua Kota ke Terjun. Sementara Musannah tinggal di Pulau Bening dan Ahmad di Medan.

Datuk Mahmud mempunyai 3 orang anak pula. Yang pertama diberi nama Ali, yang kedua Zainal dan yang ketiga tidak disebutkan namanya, tetapi mati dalam keadaan perawan.

Setelah kematian Datuk Mahmud, anaknya yang pertama yang diberi gelar Datuk Ali mengalihkan pusat pemerintahan ke Bulu Cina. Dia mempunyai 2 anak. Yang tua bernama Banu Hasyim sedangkan yang kecil seorang perempuan yang diberi nama Bujang Sembah yang kelak menikah dengan Sultan Amaluddin.

Banu Hasyim membuat perkampungan di Pangkalan Buluh. Dan sepeninggal Datuk Ali, Banu Hasyim mengambil alih takhta dan memindahkan XII Kota ke Pangkalan Buluh.

Generasi ke 5 dari Patimpus ini mempunyai 3 orang anak. Masing-masing bernama Sultan Ahmad, Seri Kemala dan Seri Banun.

Banu Hasyim mati muda sementara Sultan Ahmad masih kecil. Karenanya kerajaan dijabat sementara oleh Datuk Bandar Sapai hingga Sultan Ahmad dewasa. Dalam masa itu pula, ibu Sultan Ahmad menikah dengan Datuk Tengah dari Klumpang. Beliau menetap di sana dan berkubur di sana juga.

Setelah cukup umurnya Sultan Ahmad diangkat oleh Sultan Amaluddin Mangendar (Sultan Deli) untuk memimpin XII Kota dengan gelar Panglima Setia Raja Wazir XII Kota. Nyatalah bahwa XII Kuta sudah menjadi salah satu urung dalam Kesultanan Deli.

Karena Pangkalan Buluh tenggelam Datuk memindahkan istananya ke Sei Lama. Namun tak berapa lama tempat itu pun tenggelam pula. Pindahlah Datuk Setia Raja membuat kampung di tempat lain. Konon pada saat membuka perkampungan tsb, Datuk Setia Raja menemukan selembar perak yang terhampar di situ. Itulah sebabnya kenapa tempat ini disebut sebagai Hamparan Perak.

Dari cerita di atas dapat kita simpulkan bahwa Datuk Setia Raja adalah pendiri kampung Hamparan Perak. Beliau meninggal dalam usia 119 tahun. Beliaulah datuk pertama yang menetap di Hamparan Perak. Kemudian secara beruntun diteruskan oleh Datuk Adil, Datuk Gombak, Datuk Hafiz Haberham, Datuk Syariful Asas Haberham dan sekarang Datuk Adil Freddy Haberham. Secara berurut Silsilah Datuk-datuk / Wazir Urung XII Kota dapat dilihat sbb:

  1. Si Singamangaraja
  2. Tuan Si Raja Hita
  3. Guru Patimpus
  4. Datuk Hafiz Muda
  5. Datuk Muhammad Syah Darat
  6. Datuk Mahmud
  7. Datuk Ali
  8. Banu Hasyim
  9. Sultan Sri Ahmad gelar Datuk Setia Raja
  10. Datuk Adil
  11. Datuk Gombak
  12. Datuk Hafiz Haberham
  13. Datuk Syariful Asas Haberham
  14. Datuk Adil Freddy Haberham

Sampai saat ini Sepuluh Dua Kuta masih eksis dan dijabat oleh Datuk Adil Freddy Haberham, meski kekuasaannya hanya dalam lingkup adat resam melayu saja yang bersama tiga datuk lainnya berhak mengangkat Sultan Deli. Sementara sebelas kuta yang lain tidak dapat kita ketahui perkembangannya kecuali sedikit. Bagi yang berminat silakan menelusuri kuta-kuta peninggalan Patimpus di bawah ini:

  1. Benara
  2. Kuluhu
  3. Batu
  4. Salahan
  5. Paropa
  6. Liang Tanah
  7. Tongging
  8. Aji Jahe (Kaban Jahe)
  9. Batu Karang
  10. Perbaji
  11. Durian Kerajaan

Munculnya Kerajaan Deli

Seperti yang telah kita bahas di atas, Kerajaan Karo Islam yang dipimpin Datuk-datuk Hamparan Perak akhirnya menaklukkan diri ke dalam sebuah kesultanan baru, yang dikemudian hari dinamakan Kesultanan Deli. Hal ini terjadi semata-mata karena ikatan perkawinan.

Ceritanya begini, seorang bangsawan dari Delhi, India yang bernama Amir Muhammad Badaruddin Khan menikahi Putri Chandra Dewi, putri Sultan Samudra Pasai. Dari pernikahan ini lahirlah Muhammad Dalik, yang kemudian karena kepahlawanannya berhasil menjadi laksamana dalam Kesultanan Aceh.

Muhammad Dalik, yang kemudian juga dikenal sebagai Gocah Pahlawan dan bergelar Laksamana Khuja Bintan (ada pula yang menyebutnya Laksamana Kuda Bintan atau Cut Bintan), dipercaya Sultan Aceh untuk menjadi wakil di bekas wilayah Kerajaan Haru yang berpusat di daerah sungai Lalang-Percut. Untuk memperkuat posisinya di daerah tersebut, Gocah Pahlawan menikahi adik Raja Urung Sunggal (Datuk Itam Surbakti) yang bernama Puteri Nang Baluan Beru Surbakti, sekitar tahun 1632.

Datuk Sunggal merupakan salah satu dari empat kepala suku turunan Karo Islam. Sebagaimana kita ketahui, di pesisir timur ada empat kesukuan besar hasil dari migrasi penduduk Karo sbb:

  1. Suka Piring, merga Bukit Sinuaji, Samura, Sikemit, Sembiring.
  2. Sepuluh Dua Kuta, merga Purba, Ketaren, Guru Singa, Sinubulan, Ginting, Sembiring.
  3. Senembah, merga Barus (mayoritas) dan beberapa merga lain dalam jumlah kecil.
  4. Serbanyaman, merga Sinulingga, Surbakti, Gaja.

Seluruh kaum ini menghilangkan marganya setelah masuk Islam dan bersatu dalam 4 suku sesuai daerah tempat tinggalnya, yakni:

  1. Suku Suka Piring.
  2. Suku Hamparan Perak.
  3. Suku Senembah.
  4. Suku Sunggal.

Dengan adanya pernikahan tersebut, ke empat datuk tersebut sepakat mengangkat Laksamana tersebut menjadi raja. Dengan peristiwa itu, Kerajaan Deli pun berdiri, meski masih di bawah pengaruh Kesultanan Aceh.

Dalam proses penobatan Raja Deli tersebut, Raja Urung Sunggal bertugas selaku Ulon Janji, yaitu mengucapkan taat setia dari Orang-Orang Besar dan rakyat kepada raja. Kemudian, terbentuk pula Lembaga Datuk Berempat yang terdiri dari 4 kepala suku tadi.

Sebagai bukti sejarah, nama Deli tercantum dalam “Daghregister” VOC di Malaka sejak April 1641, yang dituliskan sebagai Dilley, Dilly, Delli, atau Delhi. Berdasarkan cerita di atas, tidak berlebihan jika disebutkan nama Deli berasal dari Delhi, karena pendirinya memang berasal dari sana.

Setelah Gocah Pahlawan meninggal dunia, pada tahun 1653, putranya Tuanku Panglima Perunggit mengambil alih kekuasaan dan pada tahun 1669 mengumumkan memisahkan kerajaannya dari Aceh. Istananya berada di Labuhan, kira-kira 20 km dari Medan.

Pada tahun 1720, putra mahkota Tuanku Umar diusir, sehingga menyebabkan pecahnya Deli dan dibentuknya Kesultanan Serdang. Setelah itu, Kesultanan Deli direbut Kesultanan Siak Sri Indrapura dan Aceh.

Pada tahun 1858, Tanah Deli menjadi milik Belanda setelah Sultan Siak, Sharif Ismail, menyerahkan tanah kekuasaannya tersebut kepada mereka. Namun pada tahun 1861, Kesultanan Deli secara resmi diakui merdeka dari Siak maupun Aceh.

Kesultanan Deli menjalankan politik luar negeri yang bebas dan aktif terutama dengan Belanda untuk mengurangi pengaruh kerajaan Aceh dan Siak. Masa kejayaan politik luar negeri Kerajaan Deli berada di tangan Sultan Mahmud Perkasa Alam.

Pada tanggal 6 Juli 1863, seorang pemuda Belanda, Jacobus Nienhuys dan beberapa wakil perusahaan dagang JF van Leeuwen en Mainz & Co tiba di Deli. Nienhuys tiba bersama Van der Valk dan Elliot. Ketiganya dipercaya oleh perusahaan yang sama. Tapi begitu melihat kondisi Deli yang masih hutan belantara, Van der Valk dan Elliot memilih pulang ke Jawa. Di Jawa, mereka biasa menyewa lahan rakyat yang sudah digarap dan siap tanam.

Nienhuys bertahan di Deli dan berkenalan dengan Sultan Mahmud Perkasa Alam. Akhirnya Nienhuys diberikan hak pakai lahan selama 20 tahun tanpa perjanjian sewa. Lokasinya berada di Tanjung Sepassai seluas 4.000 bahu. Satu bahu sama dengan 8.000 meter bujur sangkar. Dari sinilah sejarah perkebunan Deli dimulai. Tidak butuh waktu yang lama, Tanah Deli menjadi primadona. Pengusaha, penanam modal maupun buruh kasar dari seluruh dunia berbondong-bondong datang ke Deli.

Karena kemajuan yang demikian hebat, istana Sultan pun dipindahkan dari Kampung Bahari (Labuhan) ke Medan, menyusul selesainya pembangunan Istana Maimoon pada 18 Mei 1891. Kewibawaan Sultan sama sekali tidak jatuh. Tanah yang digarap pengusaha Belanda dan yang kemudian dijadikan sebagai gementee Medan, merupakan tanah hibah dari Sultan Deli, berdasarkan akta Hibah tertanggal 30 Nopember 1918. Tanah yang dimaksud terdiri dari 4 kampung, yakni Kampung Kesawan, Kampung Sungai Rengas, Kampung Petisah Hulu dan Kampung Petisah Hilir. Sultan tidak merasa rugi dengan keputusannya tersebut.

Sejak saat itu Belanda mengembangkan Kotapraja Medan sebagai pusat politik maupun ekonominya. Medan pun menjadi salah satu kota terkemuka di Asia pada masa itu. Pada saat yang sama Hamparan Perak masih berwajah yang sama ketika dipimpin oleh Raja-raja Wazir XII Kuta. Tidak ada geliat kemajuan yang berarti.

Bergabung dengan Republik Indonesia.

Berita Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945 telat datang di Medan. Lagi pula, di wilayah yang dimaksud Soekarno sebagai wilayah yang belum merdeka, Kesultanan Deli, Kesultanan Langkat, Kesultanan Serdang dan beberapa kesultanan lain di daerah Simalungun masih eksis dan bisa berdiri kembali sebagai sebuah kerajaan yang merdeka sebagaimana sejarah yang telah lewat. Lagi pula para sultan pun merasa tidak perlu bergabung dengan negara baru yang digagas oleh Soekarno tersebut. Namun euphoria rakyat atas proklamasi tersebut tidak terbendung lagi. Di Tanah Deli hingga Simalungun, rakyat (yang sudah didominasi oleh pendatang dari Tanah Jawa) mengobarkan genderang perang. Mereka mendirikan laskar-laskar rakyat kemudian menyerang dan merampok istana-istana yang ada. Kerusuhan yang bisa disebut genosida tersebut kini dialamatkan terhadap komunis. Revolusi melibatkan mobilisasi rakyat yang berujung pada pembunuhan anggota keluarga kesultanan Melayu yang dikenal pro-Belanda namun juga golongan menegah pro-Republik dan pimpinan lokal administrasi Republik.

Puncaknya, pada 04 Maret 1946 yang disebut sebagai Revolusi Sosial tersebut, beberapa Kesultanan yang ada di Langkat, Deli hingga Simalungun dihabisi oleh laskar-laskar rakyat tersebut. Alasan penyerangan tak lain dan tak bukan adalah tuduhan bahwa pihak kerajaan merupakan kaki tangan feodal menyusul berkembangnya ide Van Mook dalam mendirikan Negara yang dianggap Soekarno sebagai Negara boneka, yakni Negara Sumatra Timur. Akibat kejadian tersebut banyak tokoh-tokoh terpelajar dari pihak kesultanan yang tewas, seperti pujangga Amir Hamzah di Kesultanan Langkat dan Datuk Hafiz Haberham di Kesultanan Deli. Sementara untuk kesultanan yang buru-buru menyatakan bergabung dengan NKRI seperti kesultanan Serdang, misalnya. Nasibnya lebih baik dari kesultanan-kesultanan yang dibinasakan oleh laskar-laskar tersebut.

Pada akhirnya kesultanan Deli menyatakan bergabung dengan negara baru yang berbentuk republik ini dengan kerelaan melepaskan kekuasaan politiknya yang demikian besar dan mewah. Kesultanan Deli benar-benar mengikhlaskan dirinya bergabung tanpa syarat apa pun. Hal ini tentu berbeda jauh dengan Kesultanan Jogja yang melakukan ijab kabul dengan Soekarno agar Kesultanan Jogja diberi status Daerah Istimewa. Hal ini diterima Soekarno dengan alasan, Sultan HB IX turut memberikan andil dalam kemerdekaan RI (berbeda dengan sultan-sultan lain di pesisir timur). Dengan adanya status keistimewaan tsb, Sultan Jokja masih mempunyai hegemoni politik terhadap rakyatnya, sampai dengan hari ini.

Akan halnya dengan Hamparan Perak, pasca penyerangan 04 Maret 1946 yang turut memusnahkan dokumen asli Riwayat Hamparan Perak dan beberapa pusaka raja yang disikat para laskar tersebut, daerah ini pun nyaris hilang dalam peta peradaban.

Referensi[sunting | sunting sumber]