Didik Nini Thowok
| Didik Nini Thowok | |
|---|---|
| Lahir | Kwee Tjoen An 13 November 1954 Temanggung, Jawa Tengah, Indonesia |
| Nama lain |
|
| Almamater | Akademi Seni Tari Indonesia Yogyakarta |
| Pekerjaan | Penari, koreografer, komedian, penyanyi, pemeran |
| Tahun aktif | 1971–sekarang |
| Situs web | www |
| Didik Nini Thowok | |||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Hanzi: | 郭俊安 | ||||||||||
| |||||||||||
Didik Hadiprayitno (lahir 13 November 1954), terlahir dengan nama Kwee Tjoen An, lebih dikenal dengan nama panggung Didik Nini Thowok, adalah seorang penari Indonesia yang selalu menirukan perempuan dalam pertunjukan tari tradisional Jawa dan Bali. Karena ia telah belajar tari di beberapa negara, termasuk Indonesia, India, Jepang, dan Spanyol, ia sering menggabungkan gaya dari berbagai budaya dalam tariannya.[1] Ia adalah keturunan campuran Tionghoa-Jawa.
Kehidupan awal
[sunting | sunting sumber]Didik Nini Thowok terlahir dengan nama Kwee Tjoen Lian. Karena sakit-sakitan orang tuanya mengubah namanya menjadi Kwee Tjoen An. Ayah Didik, Kwee Yoe Tiang, merupakan seorang peranakan Tionghoa yang "terdampar" di Temanggung sedangkan ibunya, Suminah, adalah wanita Jawa asli, asal Desa Tayem, Cilacap. Didik adalah sulung dari lima bersaudara (keempat adiknya perempuan). Setelah Gerakan 30 September, keturunan Tionghoa diwajibkan mengganti nama Tionghoa mereka menjadi nama pribumi sehingga nama Kwee Tjoen An pun menjadi Didik Hadiprayitno.
Kehidupan masa kecil Didik penuh keprihatinan. Ayahnya bisnis jual beli kulit kambing dan sapi. Ibunya membuka kios di Pasar Kayu. Hidup bersama mereka adalah kakek dan nenek Didik. Maka keluarga Didik harus hidup pas-pasan. Sebagai anak dan cucu pertama, Didik selalu dimanja oleh seluruh anggota keluarga. Selain itu, Didik tidak nakal seperti kebanyakan anak laki-laki seumurannya. Ia cenderung seperti anak perempuan dan menyukai permainan mereka, seperti pasar-pasaran (berjualan), masak-masakan, dan ibu-ibuan. Saat kecil pun Didik diajari oleh neneknya ketrampilan perempuan seperti menjahit, menisik, menyulam, dan merenda.[2]
Pendidikan
[sunting | sunting sumber]Setelah lulus SMA, impian Didik untuk melanjutkan kuliah di Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) Yogyakarta terbentur pada biaya. Didik pun bekerja, tak jauh dari kesukaannya, menari. Didik menjadi pegawai honorer di Kabin Kebudayaan Kabupaten Temanggung dengan tugas mengajar tari di beberapa sekolah (SD dan SMP), serta memberi les privat menari untuk anak-anak di sekitar Temanggung.[3]
Dua tahun setelah lulus SMA, Didik bertekad untuk kuliah di ASTI. Berbekal uang tabungannya, Didik berangkat ke Yogyakarta dan mendaftar di ASTI. Berkat Tari Manipuri, tarian wanita yang diperagakannya dengan begitu cantik, Didik berhasil memikat tim juri ASTI. Pada tahun 1974, Didik masuk ke ASTI Yogyakarta (kini ISI Yogyakarta). Di kampus inilah ia mulai mengeksplorasi tari lintas gaya dan peran gender.[4][5]
Pribadinya yang hangat, kocak dan santun tak menyulitkan Didik untuk mendapat teman. Bersama teman-teman barunya, Didik menampilkan fragmen tari berjudul Ande-ande Lumut. Didik berperan sebagai Mbok Randha Dadapan, janda centil dari Desa Dadapan. Penampilan Didik sangat memukau mahasiswa ASTI yang lain.[3]
Menjadi anak kost sangat sulit bagi Didik, karena tak mungkin mengharapkan kiriman dari rumah. Ketrampilan 'perempuan' yang dulu diajarkan neneknya terasa sangat berguna. Didik menerima pesanan membuat hiasan bordir, juga menjual hasil kerajinannya, seperti syal dan taplak meja.[3]
Beberapa bulan setelah mulai kuliah, Didik menerima tawaran dari kakak angkatannya, Bekti Budi Hastuti (Tutik) untuk membantu dalam fragmen tari Nini Thowok bersama Sunaryo. Nini Thowok atau Nini Thowong adalah semacam permainan jailangkung yang biasa dimainkan masyarakat Jawa tradisional. Pementasan ini sangat sukses. Kesuksesannya membawa trio tersebut pentas diberbagai acara. Merekapun mengemas pertunjukan mereka dengan konsep yang lebih matang. Saat Sunaryo mengundurkan diri, posisinya digantikan Bambang Leksono Setyo Aji, teman sekos Didik. Mereka lantas menyebut kelompok mereka sebagai Bengkel Nini Thowok. Dan di belakang nama mereka melekat nama tambahan Nini Thowok (berarti: "nenek yang menyeramkan"). Setelah itu, karier Didik Nini Thowok sebagai penari terus berlanjut, bahkan Didik sering muncul di televisi.[3]
Karier Tari
[sunting | sunting sumber]Eksplorasi Lintas Gaya dan Budaya
[sunting | sunting sumber]
Didik mempelajari berbagai tradisi tari Nusantara dengan berguru ke mana-mana. Didik berguru langsung pada maestro tari Bali, I Gusti Gde Raka, di Gianyar. Ia juga mempelajari tari klasik Sunda dari Endo Suanda; Tari Topeng Cirebon gaya Palimanan yang dipelajarinya dari tokoh besar Topeng Cirebon, Ibu Suji.[6]
Ia kemudian memperluas wawasannya ke seni tari mancanegara. Saat pergi ke Jepang, Didik mempelajari tari klasik Noh (Hagoromo), di Spanyol, ia pun belajar tari Flamenco.[7]
Didik berguru pada A. M. Sudiharjo, yang pandai menari Jawa Klasik juga sering menciptakan tari kreasi baru. Didik ikut kursus menari di Kantor Pembinaan Kebudayaan Kabupaten Temanggung. Salah satu gurunya adalah Prapto Prasojo, yang juga mengajar di padepokan tari milik Bagong Kussudiarjo di Yogyakarta.[8][9]
Koreografi tari ciptaan Didik yang pertama dibuat pada pertengahan 1971. Tarian itu diberi judul “Tari Persembahan”, yang merupakan gabungan gerak tari Bali dan Jawa. Didik tampil kali pertama sebagai penari wanita; berkebaya dan bersanggul saat acara kelulusan SMA tahun 1972. Saat itu, didik juga mempersembahakan tari ciptaannya sendiri dengan sangat luwes.[10][11]
Gaya koreografinya dikenal sebagai perpaduan humor, teatrikal, teknik tari klasik, serta eksperimen visual yang memikat. Banyak karyanya mengandung unsur komedi cerdas yang membuat seni tradisi terasa hidup bagi penonton modern.[12][8]
Dwimuka (Two-Face Dance)
[sunting | sunting sumber]Salah satu karya paling ikonik Didik adalah tari Dwimuka, di mana ia menggunakan topeng pada bagian depan dan belakang kepala, menciptakan ilusi visual dan kejutan teatrikal. Tarian ini menuntut teknik tubuh tinggi dan ketepatan ritmis.[4][13]
Cross-Gender dan Identitas Seni
[sunting | sunting sumber]Didik adalah salah satu tokoh terpenting dalam pengembangan tari cross-gender di Indonesia. Ia menjelaskan pendekatannya bukan sebagai imitasi perempuan semata, tetapi eksplorasi peran dan karakter dalam konteks teater dan tari tradisi.[14]
Identitasnya sebagai keturunan Tionghoa-Jawa serta pengalaman diskriminasi pada masa muda turut membentuk komitmennya dalam mempertahankan ruang inklusif di panggung seni.[15]
Karier Internasional
[sunting | sunting sumber]Didik telah tampil di berbagai panggung internasional dan belajar dari berbagai maestro dunia. Ia bahkan pernah menjual mobilnya demi bisa belajar tari di luar negeri.[16]
Pengajaran dan Aktivisme Budaya
[sunting | sunting sumber]Selain sebagai penari, Didik juga dikenal sebagai pengajar, dosen, dan pendiri Padepokan Seni Didik Nini Thowok. Ia aktif mengajar tata rias, tari topeng, hingga seni tradisi lintas wilayah.[17]
Ia secara konsisten mengajak generasi muda untuk mencintai tradisi dan menjaga keberlanjutannya.[18]
Warisan
[sunting | sunting sumber]Dengan lebih dari lima dekade berkarya, Didik dianggap sebagai salah satu tokoh kunci seni pertunjukan Indonesia. Eksperimennya pada humor, cross-gender, topeng, dan perpaduan tradisi-modern membuatnya berpengaruh pada dunia tari kontemporer Indonesia.[7]
Filmografi
[sunting | sunting sumber]Film
[sunting | sunting sumber]- Gengsi Dong (1980)
- Jagad X Code (2009)
- Preman In Love (2009)
- Wonderful Life (2016)
- Perempuan Pembawa Sial (2025)
Serial televisi
[sunting | sunting sumber]- Warkop DKI (1996—1997)
Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ Mrázek, Jan (Juni 2005). "Masks and Selves in Contemporary Java: The Dances of Didik Nini Thowok". Journal of Southeast Asian Studies. 36 (2): 249–279. doi:10.1017/S0022463405000160. JSTOR 20072647. S2CID 145708704.
- ↑ "Didik Nini Thowok — The Dance Maestro". The Jakarta Post. 14 Januari 2019. Diakses tanggal 28 November 2025.
- 1 2 3 4 "Didik Nini Thowok (profil)". Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta. —. Diakses tanggal 28 November 2025.
- 1 2 "Didik Nini Thowok". Dinas Kebudayaan DIY. Diakses tanggal 28 November 2025.
- ↑ Janarto, Herry Gendut (2005). Didik Nini Thowok: Menari Sampai Lahir Kembali. Sava Media. ISBN 9793695307. Diakses tanggal 28 November 2025.
- ↑ Wardhani, Anita K (17 November 2014). "Menari Ala Didik Nini Thowok Tak Sekadar Gerakan, Tapi Ada Ritualnya". Tribunnews.com. Diakses tanggal 28 November 2025.
- 1 2 "Didik Nini Thowok: The Dance Maestro". The Jakarta Post. 14 Januari 2019. Diakses tanggal 28 November 2025.
- 1 2 "Seniman Tak Lekang Jaman, Didik Nini Thowok". Warta Jogjakota. 20 April 2021. Diakses tanggal 28 November 2025.
- ↑ Masnuna, M. (2018). "Buku visual biografi Didik Nini Thowok sebagai penari tradisional". SENADA (Seminar Nasional Manajemen, Desain Dan Aplikasi Bisnis Teknologi). 1 (—): 182–189. Diakses tanggal 28 November 2025.
- ↑ "Didik Nini Thowok, Dagelan dan Edukasi Crossgender dalam Tarian". Whiteboard Journal. 1 Agustus 2018. Diakses tanggal 28 November 2025.
- ↑ Merdikawati, DD (—). "Perancangan Padepokan Seni Didik Nini Thowok" (PDF). Neliti / media publikasi akademik. — (—): —. Diakses tanggal 28 November 2025.
- ↑ "Melihat Budaya dari Tarian Komedi Didik Nini Thowok". BeritaSatu. Diakses tanggal 28 November 2025.
- ↑ Fitri Handayani, F. (2016). Kreativitas Didik Nini Thowok dalam Karya Tari (PDF) (Undergraduate thesis (repository ISI Yogyakarta)). Diakses tanggal 28 November 2025.
- ↑ "Didik Nini Thowok Bicara Seni Lintas Gender". Tempo.co. 2023. Diakses tanggal 28 November 2025.
- ↑ "Didik Nini Thowok Ungkap Tantangan Terbesar Setengah Abad Berkesenian". Kompas.com. 9 Agustus 2024. Diakses tanggal 28 November 2025.
- ↑ "Didik Nini Thowok Pernah Jual Mobil Demi Belajar Menari di Luar Negeri". Detik. 2024. Diakses tanggal 28 November 2025.
- ↑ Merdikawati, D.D. "Perancangan Padepokan Seni Didik Nini Thowok" (PDF). Neliti. Diakses tanggal 28 November 2025.
- ↑ "Didik Nini Thowok: Kenali dan Cintai Tradisi". Kompas.id. 2 April 2023. Diakses tanggal 28 November 2025.
Pranala luar
[sunting | sunting sumber]- (Indonesia) Situs resmi
- (Indonesia) Serial Femina[pranala nonaktif permanen]
- (Indonesia) Profile Didik Nini Thowok
- (Indonesia) Didik Nini Thowok: Pengalaman Mistis Selama Menari[pranala nonaktif permanen]
- (Indonesia) Ethnomusicology Visiting Artist Event: Didik Nini Thowok
- (Indonesia) Tari adalah Nafasnya Diarsipkan 2015-05-09 di Wayback Machine.
- (Indonesia) Profil di KapanLagi.com
- (Indonesia) Didik Nini Thowok: Dancing is his life
- (Indonesia) Menari Ala Didik Nini Thowok Tak Sekadar Gerakan, Tapi Ada Ritualnya