Detasemen Polisi Militer 1/1 Kostrad

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Detasemen Polisi Militer 1/Kostrad
Polisi Militer Angkatan Darat.png
Negara Indonesia Indonesia
CabangPolisi Militer Angkatan Darat.png Polisi Militer Angkatan Darat
Tipe unitBadan Pelaksana Pom Kostrad
Bagian dariLambang TNI 2013.png Tentara Nasional Indonesia
MarkasCiluar, Bogor, Jawa Barat

Detasemen Polisi Militer 1/Kostrad atau (Denpom 1/Kostrad) merupakan satuan pelaksana Polisi Militer Kostrad yang bertanggung jawab menyelengggarakan kegiatan di bidang penyelenggaraan fungsi Polisi Militer. Yon pomad Para 2 mengalami perubahan dan terpecah menjadi 2 kompi yaitu 1 kompi di Ciluar, Bogor yang disebut Denpom 1/Kostrad dan 1 kompi di Singosari, Malang yang disebut Denpom Divif 2/Kostrad yg berkedudukan di Divisi Infanteri 2/Kostrad Malang. Pada tahun 2011 Berdasarkan Peraturan Kepala Staf Angkatan Darat Nomor: PERKASAD/100/XI/2011 tanggal 09 November 2011 Kipom Divif 1/Kostrad mengalami Validasi (UJI COBA) kembali di karenakan TNI AD melakukan pemekaran organisasi besar-besaran yang berdampak kepada Kipom Divif 1/Kostrad. Kemudian Kipom Divif 1/Kostrad mengalami validasi menjadi Denpom 1/Kostrad berdasarkan peraturan Kepala Staf Angkatan Darat Nomor: Perkasad/49/2016 tanggal 25 November 2016. dan bermarkas di Ciluar, Bogor, Jawa Barat.[1]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Sejarah Denpom Divif 1/kostrad berawal dari terbentuknya Batalyon Pomad Para yang tidak terlepas dari konflik yang kerap dialami oleh pemerintah RI pada waktu itu, maka pada tahun 1953 dibentuklah satuan khusus sebagai tenaga Inti yang dapat digerakkan dalam waktu cepat (Quick Reaction Force-nya CPM) yang disebut Batalyon Rajasa. Untuk membantu pembentukan pasukan tersebut maka satuan berkwalifikasi komando ditempatkan di Cimahi-jawa barat yang dilatih langsung oleh Moch. Ijon Djambi (Danjen Kopassus Pertama), yang telah melatih pasukan RPKAD terlebih dulu, dia adalah mantan pasukan khusus belanda (KNIL) yang telah menjadi WNI (Warga Negara Indonesia). Setelah terbentuknya Batalyon Rajasa tersebut maka setiap konflik yang pernah terjadi hampir di wilayah indonesia pada waktu itu Batalyon Rajasa inilah yang selalu diterjunkan karena kesatuan ini tidak saja berfungsi sebagai penjaga keamanan dan ketertiban akan tetapi lebih difokuskan sebagai unit-unit tempur/infanteri digaris depan. Dalam keadaan yang masih belum dapat dikatakan beristirahat setelah bertempur menumpas pemberontakan yang terjadi di beberapa wilayah di Indonesia, maka pada tanggal 19 Desember 1961 dikumandangkanlah Komando Pembebasan Irian Barat yang dikenal dengan Tri Komando Rakyat atau yang terkenal dengan TRIKORA, maka dibentuklah POM Caduad singkatan POM Cadangan umum Angkatan Darat, sebagai komandan pertamanya adalah Mayor CPM Norman Sasono. Demikian pula pada saat presiden Soekarno mengumandangkan "Ganyang Malaysia" atau yang dikenal dengan DWIKORA maka dibentuklah satuan POM Kopur (Komando Tempur) yang berada dibawah pimpinan Letkol CPM Kasan Pranadi (Wadan Guspom Kostrad yang pertama). Berdasarkan pengalaman yang telah dialami oleh Satuan tempur POM terdahulu maka dibentuklah Batalyon Pomad Para, yang berlokasi di kawasan Kostrad, Ciluar, Bogor. Perbedaan khusus antara POMAD PARA dengan Polisi Militer sekarang ini adalah POMAD PARA satuan infantri plus kemampuan Polisi Militer. Pomad Para adalah pasukan tempur setingkat pasukan Para Raider( Pasukan khusus yang Mampu diterjunkan dari pesawat terbang didaerah tempur) Polisi Militer sekarang adalah satuan bantuan administrasi (penegakan hukum disiplin dan tata tertib), bukan pasukan tempur. Seluruh personil Pomad Para pada waktu itu dilatih terjun dari pesawat terbang di Pusdik RPKAD (Pusdikpassus), Batujajar dan sebagian dari mereka juga berkualifikasi Komando (Kopasus/Baret merah) dan Paratroop Komando/Pandu Udara.

Selesai Operasi Trikora, pada saat pecah G30SPKI, Yon Pomad Para bersama RPKAD menyerang Gerombolan PKI di Lubang Buaya dan berhasil menemukan jasad para Pahlawan Revolusi. Atas jasanya, Yon Pomad Para dipercaya oleh presiden Soeharto untuk mengambil alih Pasukan Cakra Birawa (Pasukan Pengawal Soekarno) di Jakarta dan kemudian Yon Pomad Para berkembang menjadi Satgas Pomad. Dalam rangka mengambil alih tugas Cakra Birawa tersebut, dibentuklah Pasukan Satuan Tugas Polisi Militer Angkatan Darat (Satgas Pomad), dibawah pimpinan Kolonel CPM Norman Sasono. Komandan Batalyon Pertama adalah Letkol CPM Norman Sasono (almarhum, terakhir Pangdam Jaya dan pangkat terakhir Mayjen TNI). Kemudian Komandan Batalyon selanjutnya adalah Lekol CPM Soemaryono, Letkol CPM Soenardi, Letkol CPM Suparman IG, Letkol CPM Nurhana Tirtaamijaya dan terakhir Letkol CPM Mulya Tampubolon. Maka untuk itu Yon Pomad Para dipecah menjadi 2 Yon Pomad Para, Yon Pomad Para 1 yang bertugas pokok pengawalan di Istana Jakarta dan bermarkas di Tanah Abang, Jakarta Pusat (sekarang menjadi Mako Paspampres). dan Yon Pomad Para 2 yang bertugas pokok pengawalan di Istana Bogor dan Istana Cipanas. Status Yon Pomad Para 1 dan 2, pada saat sampai dengan Paswalpres, masih organik Dinas Provost AD (sekarang Puspomad), tapi dibawah Komando Operasi Polisi Militer ABRI. Untuk Yon Pomad Para 2 pada tahun 1980 dikembalikan menjadi organik Kostrad, yang berlokasi di Ciluar, Bogor dan Komandan Batalyon yang menjabat pada saat itu adalah Letkol CPM Nurhana Atmajaya sampai dengan tahun 1982 kemudian pejabat danyon berikutnya adalah Latkol CPM Mulya Tampubolon samapai dengan mengalami perubahan dari Yon Pomad Para 2 menjadi Kipom Divif 1/Kostrad pada tahun 1986 dan pejabat Komandan Kompi pada saat itu dijabat oleh Kapten CPM Maliki Mift.

Komandan[sunting | sunting sumber]

Adapun pejabat Komandan Kompi Divif 1/kostrad yang berkedudukan di Ciluar, Bogor dari tahun 1986 sampai dengan tahun 2012 adalah:

  1. Kapten CPM Maliki Mift (Dankipom ke-I tahun 1986 - 1990)
  2. Kapten CPM Harry Sukaryanto (Dankipom ke-II tahun 1990-1994)
  3. Kapten CPM Edy Subiyanto (Dankipom ke-III tahun 1994 - 1996)
  4. Kapten CPM Hadi Santoso (Dankipom ke-IV tahun 1996 - 1999)
  5. Kapten CPM Bayu Aji Widodo (Dankipom ke-V tahun 1999 - 2004)
  6. Kapten CPM Mochammad Rizal (Dankipom ke-VI tahun 2004 – 2010)
  7. Kapten CPM Hanri Wira Kusuma (Dankipom ke-VII tahun 2010 – 2012 validasi dari Kipom ke Denpom)
  8. Letkol CPM Ari Widiyanto (Dandenpom ke-I 2012 - 2013)
  9. Letkol CPM Moh. Sawi, S.H., S.I.P., M.H. (Dandenpom ke-II 2013 - 2014)
  10. Letkol CPM Tri Handaka, S.Pd. (Dandenpom ke-III 2014 - 2015)
  11. Letkol CPM Novem Janri Rajagukguk, S.H, M.Th (Dandenpom ke-IV 2015 - 2017)
  12. Letkol CPM Akhmad Khotib Hari Utomo (Dandenpom ke-V 2017 - 2019)[2]
  13. Letkol Cpm Dahri Haji Dahlan, S.Sos. (Dandenpom ke-VI 2019 - Sekarang)

Referensi[sunting | sunting sumber]