Biaya operasional

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Biaya operasional adalah biaya berkelanjutan untuk menghasilkan suatu produk maupun melaksanakan kegiatan bisnis atau sistem kerja.[1] Biaya operasional berkait dengan pengeluaran modal untuk kegiatan produksi atau pelaksanaan kegiatan tertentu. Biaya operasional ditetapkan dan dikeluarkan secara rutin dalam periode tertentu. Besarnya biaya operasional cenderung sama pada setiap periode. Biaya operasional hanya mempunyai sedikit peluang untuk mengalami perubahan nilai terhadap kegiatan bisnis atau produksi. Beberapa jenis pengeluaran dalam jenis biaya operasional adalah pembelian bahan baku, pembayaran gaji atau upah, serta biaya manajemen kegiatan organisasi perusahaan.[2] Biaya operasional umumnya termasuk biaya pengembangan atau penyediaan komponen yang tidak dapat dapat mengalami konsumsi untuk sebuah produk atau sistem.

Misalnya, pembelian mesin fotokopi masuk ke dalam belanja modal; sedangkan dan biaya kertas, tinta, listrik, dan perawatan tahunan termasuk dalam biaya operasional. [3] Untuk sistem yang lebih besar seperti bisnis, opex juga dapat mencakup biaya pekerja dan biaya fasilitas seperti sewa dan utilitas.[butuh rujukan] Karena sifatnya tersebut, biaya operasi tidak meliput pajak pendapatan, depresiasi, dan biaya bunga pinjaman.[butuh rujukan]

Faktor penentu[sunting | sunting sumber]

Penggunaan energi[sunting | sunting sumber]

Penggunaan energi secara hemat akan mengurangi biaya operasional. Konsepnya adalah pemakaian energi dalam jumlah yang sedikit untuk menghasilkan produk dalam jumlah yang besar. Beberapa jenis biaya operasional yang berkaitan dengan penggunaan energi adalah penyediaan energi listrik dan bahan bakar. Selain itu, mesin produksi juga diperhitungkan dalam biaya operasional. Mesin secara langsung menjadi pengguna energi yang diberikan biaya operasional.[4]

Analisa pemakaian[sunting | sunting sumber]

Laba[sunting | sunting sumber]

Biaya operasional menjadi salah satu faktor penentu laba yang diperoleh dalam kegiatan usaha. Dalam usaha dapat tetap berlanjut, biaya operasional harus lebih rendah dari pendapatan usaha. Biaya operasional masuk sebagai perhitungan utama bersama dengan jenis biaya lainnya. Biaya operasional yang melebihi pendapatan usaha akan menyebabkan kerugian. Dampak terbesar yang ditimbulkan ialah kebangkrutan. Penurunan biaya operasional dalam usaha dilakukan dengan bekerja secara efisien dan efektif. Setiap kegiatan usaha harus mampu meningkatkan pendapatan dan di saat yang bersamaan mengurangi biaya dalam batas-batas yang wajar. Selain itu, suatu usaha harus memperoleh pendapatan secara maksimal dan di saat bersamaan menggunakan jumlah biaya yang lebih rendah dari target pengeluaran awal yang telah ditentukan. Analisa biaya operasional pada suatu produk hanya berlaku ketika produk mengalami penurunan biaya tanpa disertai dengan penurunan kuantitas dan kualitas produk. Biaya operasional yang berkaitan dengan laba juga berlaku untuk sektor jasa.[5]

Manajemen operasi[sunting | sunting sumber]

Penetapan biaya operasional oleh perusahaan menentukan perencanaan dan pengendalian proses untuk menghasilkan dan mengadakan produk atau jasa. Perusahaan yang memilih menggunakan biaya operasional untuk peningkatan kuantitas akan menurunkan biaya operasi untuk perbaikan kualitas. Sebaliknya, perusahaan yang mengutamakan kualitas produk atau jasa akan mengurangi kuantitas produk dan menambahkan biaya operasional untuk peningkatan kualitas layanan. Biaya operasional kemudian disesuaikan dengan manajemen operasi dari perusahaan. Pertimbangan dalam memilih prioritas penggunaan biaya operasional didasarkan kepada srategi perusahaan dalam perluasan kapasitas, pemilihan teknologi, dan jumlah tenaga kerja. Selain itu, biaya operasional didasarkan pada rancangan pekerjaan, penyedia biaya dan integrasi antar pekerja dalam organisasi perusahaan.[6]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ David Maguire, The business benefits of GIS : an ROI approach, 1st ed. (Redlands Calif.: ESRI Press, 2008), http://roi.esri.com/. ISBN 978-1-58948-200-5
  2. ^ Giatman, M. (2011). Ekonomi Teknik (PDF). Jakarta Utara: PT Raja Grafindo Persada. hlm. 19. ISBN 979-769-045-8. 
  3. ^ Aswath Damodaran, Applied Corporate Finance: A User’s Manual (John Wiley and Sons, 1999), http://pages.stern.nyu.edu/~adamodar/New_Home_Page/AppldCF/derivn/ch5deriv.html. ISBN 978-0-471-33042-4
  4. ^ Djohan, Agustinus Johanes (2016). Manajemen dan Strategi Pembelian (PDF). Malang: Media Nusa Creative. hlm. 36. ISBN 978-602-6931-89-4. 
  5. ^ Ingga, Ibrahim (2016). Teori Akuntansi dan Implementasi (PDF). Yogyakarta: Indomedia Pustaka. hlm. 1. ISBN 978-602-6417-05-3. 
  6. ^ Akhmad (2018). Manajemen Operasi: Teori dan Aplikasi dalam Dunia Bisnis (PDF). Bogor: Azkiya Publishing. hlm. 32. ISBN 978-602-5447-42-6. 

Bacaan lanjutan[sunting | sunting sumber]

  • Harry I. Wolk, James L. Dodd, Michael G. Tearney. Accounting Theory: Conceptual Issues in a Political and Economic Environment (2004). ISBN 0-324-18623-1.
  • Angelico A. Groppelli, Ehsan Nikbakht. Finance (2000). ISBN 0-7641-1275-9.
  • Barry J. Epstein, Eva K. Jermakowicz. Interpretation and Application of International Financial Reporting Standards (2007). ISBN 978-0-471-79823-1.
  • Jan R. Williams, Susan F. Haka, Mark S. Bettner, Joseph V. Carcello. Financial & Managerial Accounting (2008). ISBN 978-0-07-299650-0.1
  • Goldratt, E. M., & Cox, J. (1986). The Goal: A Process of Ongoing Improvement (Rev. ed.). ISBN 978-0-88427-178-9.