Lompat ke isi

Beruang kutub

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Beruang kutub
Rentang waktu:
Pleistosen Akhirsaat ini (~120,000–0 SMK)[1]
Beruang kutub betina di dekat Kaktovik, Pulau Barter, Alaska, Amerika Serikat
CITES Apendiks II (CITES)[3]
Klasifikasi ilmiah Sunting klasifikasi ini
Domain: Eukaryota
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Mammalia
Ordo: Carnivora
Famili: Ursidae
Genus: Ursus
Spesies:
U. maritimus
Nama binomial
Ursus maritimus
Phipps, 1774[4]
Subspesies
Daerah jelajah beruang kutub
Sinonim

Ursus eogroenlandicus
Ursus groenlandicus
Ursus jenaensis
Ursus labradorensis
Ursus marinus
Ursus polaris
Ursus spitzbergensis
Ursus ungavensis
Thalarctos maritimus

Beruang kutub (Ursus maritimus) adalah beruang berukuran besar yang berasal dari kawasan Arktik dan wilayah sekitarnya. Spesies ini berkerabat dekat dengan beruang coklat, dan keduanya dapat saling kawin silang. Beruang kutub merupakan spesies beruang yang masih hidup terbesar sekaligus karnivora darat terbesar berdasarkan massa tubuh, dengan jantan dewasa memiliki berat 300–800 kg (660–1.760 pon). Spesies ini memiliki dimorfisme seksual, karena betina dewasa berukuran jauh lebih kecil. Beruang kutub memiliki bulu berwarna putih atau kekuningan, kulit hitam, dan lapisan lemak tebal. Tubuhnya lebih ramping daripada beruang coklat, dengan tengkorak yang lebih sempit, leher lebih panjang, serta punuk bahu yang lebih rendah. Giginya lebih tajam dan lebih terspesialisasi untuk mengoyak daging. Telapak kakinya besar dan memungkinkannya berjalan di atas es serta mengayuh di dalam air.

Beruang kutub hidup di darat sekaligus termasuk pagofilik (hidup di lingkungan es) dan dianggap sebagai mamalia laut karena ketergantungannya pada ekosistem laut. Beruang kutub lebih menyukai es laut tahunan tetapi tinggal di darat ketika es mencair pada musim panas. Beruang kutub sebagian besar bersifat karnivor dan terspesialisasi memangsa anjing laut, terutama anjing laut bercincin. Mangsa beruang kutub biasanya diperoleh dengan cara mengintai; beruang dapat membuntuti mangsanya di atas es atau di dalam air, tetapi juga dapat menunggu di lubang pernapasan atau tepi es hingga mangsa berenang melewatinya. Beruang kutub terutama memakan lemak anjing laut yang kaya energi. Mangsa lain mencakup walrus, paus beluga dan beberapa hewan darat. Beruang kutub umumnya soliter tetapi dapat ditemukan berkelompok ketika berada di darat. Pada musim kawin, beruang jantan menjaga beruang betina dan mempertahankannya dari pesaing. Induk melahirkan anak di dalam sarang kelahiran pada musim dingin. Anak-anak tetap bersama induknya hingga dua setengah tahun.

Beruang kutub dianggap sebagai spesies rentan oleh Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN) dengan perkiraan populasi total 22.000 hingga 31.000 individu. Ancaman terbesar bagi spesies ini adalah perubahan iklim, polusi, dan pembangunan energi. Perubahan iklim telah menyebabkan penyusutan es laut Arktik, sehingga beruang kutub memiliki akses lebih sedikit terhadap mangsa favoritnya serta meningkatkan risiko malnutrisi dan kelaparan. Berkurangnya es laut juga berarti beruang harus menghabiskan lebih banyak waktu di darat, sehingga meningkatkan konflik dengan manusia. Beruang kutub telah lama diburu, baik oleh penduduk asli maupun pendatang, untuk diambil bulu, daging, dan bagian-bagian lainnya. Mereka juga dipelihara di kebun binatang dan sirkus serta tampil menonjol dalam seni, folklor, agama, dan budaya modern.

Beruang kutub memperoleh nama umumnya dari Thomas Pennant dalam karyanya A Synopsis of Quadrupeds (1771). Di Eropa antara abad ke-13 hingga ke-18, hewan ini dikenal sebagai "beruang putih", serta "beruang es", "beruang laut", dan "beruang Greenland". Bangsa Nordik menyebutnya isbjørn 'beruang es' dan hvitebjørn 'beruang putih'. Dalam bahasa Inuit, hewan ini disebut nanook. Budaya Netsilik juga memiliki beragam nama bagi beruang berdasarkan faktor tertentu seperti jenis kelamin dan usia, termasuk jantan dewasa (anguraq), betina dewasa tanpa anak (tattaq), betina yang sedang bunting (arnaluk), anak yang baru lahir (hagliaqtug), remaja besar (namiaq), dan beruang yang sedang dorman (apitiliit).[5] Nama ilmiah Ursus maritimus berasal dari Latin yang berarti 'beruang laut'.[6][7]

Taksonomi

[sunting | sunting sumber]

Carl Linnaeus mengklasifikasikan beruang kutub sebagai salah satu jenis beruang coklat (Ursus arctos), dan menandainya sebagai Ursus maritimus albus-major, arcticus (‘beruang laut berwarna hampir putih, arktik’) dalam edisi 1758 dari karyanya Systema Naturae.[8] Constantine John Phipps kemudian mendeskripsikan secara resmi beruang kutub sebagai spesies yang berbeda, Ursus maritimus, pada 1774, setelah pelayarannya tahun 1773 menuju Kutub Utara.[4][9] Karena adaptasinya terhadap lingkungan laut, beberapa pakar taksonomi seperti Theodore Knottnerus-Meyer menempatkan beruang kutub dalam genus tersendiri, Thalarctos.[10][11] Namun, Ursus secara luas dianggap sebagai genus yang sah bagi spesies ini berdasarkan rekaman fosil serta fakta bahwa ia dapat kawin silang dengan beruang coklat.[11][12]

Beragam subspesies pernah diusulkan, termasuk Ursus maritimus maritimus dan U. m. marinus.[a][13] Namun, subspesies tersebut tidak didukung, dan beruang kutub dianggap sebagai monotipe.[14] Satu kemungkinan subspesies fosil, U. m. tyrannus, diajukan pada 1964 oleh Björn Kurtén, yang merekonstruksi subspesies tersebut dari satu fragmen tulang ulna yang kira-kira 20 persen lebih besar daripada ukuran yang diharapkan untuk beruang kutub.[12] Namun, peninjauan ulang pada abad ke-21 menunjukkan bahwa fragmen tersebut kemungkinan berasal dari beruang coklat berukuran raksasa.[15][16]

Beruang kutub merupakan salah satu dari delapan spesies beruang yang masih hidup dalam keluarga beruang, Ursidae, dan termasuk dalam enam spesies yang masih ada dalam subfamili Ursinae. Salah satu filogeni yang diusulkan berdasarkan pada sekuens lengkap DNA mitokondria dari Yu et al. (2007).[17] Beruang kutub dan beruang cokelat membentuk kelompok yang berkerabat dekat, sementara hubungan antarspesies lainnya tidak terselesaikan dengan baik.[18]

Ursidae

Panda raksasa (Ailuropoda melanoleuca)

Beruang berkacamata (Tremarctos ornatus)

Ursinae

Beruang kungkang (Melursus ursinus)

Beruang madu (Helarctos malayanus)

Beruang hitam Asia (Ursus thibetanus)

Beruang hitam Amerika (Ursus americanus)

Beruang kutub (Ursus maritimus)

Beruang cokelat (Ursus arctos)

Filogeni yang lebih mutakhir didasarkan pada kajian genetik oleh Kumar et al. (2017). Studi tersebut menyimpulkan bahwa beruang Ursinae berevolusi sekitar lima juta tahun lalu, dengan percampuran genetik yang ekstensif di antara berbagai spesiesnya.[19]

Ursidae

Panda raksasa (Ailuropoda melanoleuca)

Beruang berkacamata (Tremarctos ornatus)

Ursinae

Beruang kungkang (Melursus ursinus)

Beruang madu (Helarctos malayanus)

Beruang hitam Asia (Ursus thibetanus)

Beruang hitam Amerika (Ursus americanus)

Beruang kutub (Ursus maritimus)

Beruang cokelat (Ursus arctos)

Fosil beruang kutub jarang ditemukan.[12][15] Fosil tertua yang diketahui berupa tulang rahang berumur antara 130.000–110.000 tahun, ditemukan di Prince Charles Foreland, Norwegia, pada 2004.[20][1] Para ilmuwan pada abad ke-20 menduga bahwa beruang kutub berasal langsung dari populasi beruang coklat, kemungkinan di timur Siberia atau Alaska.[12][15] Studi DNA mitokondria pada 1990-an dan 2000-an mendukung status beruang kutub sebagai turunan beruang coklat, menunjukkan bahwa beberapa populasi beruang coklat memiliki kekerabatan lebih dekat dengan beruang kutub dibandingkan dengan beruang coklat lainnya, terutama beruang Kepulauan ABC di Alaska Tenggara.[20][21][22] Sebuah studi pada 2010 memperkirakan bahwa garis keturunan beruang kutub berpisah dari beruang coklat sekitar 150.000 tahun lalu.[20]

Hibrida beruang kutub/coklat hasil taksidermi yang dipamerkan di Natural History Museum at Tring di Hertfordshire, Inggris

Studi genetik yang lebih luas membantah pendapat bahwa beruang kutub merupakan turunan langsung beruang coklat dan menemukan bahwa keduanya adalah kelompok saudara yang terpisah. Kemiripan genetik antara beruang kutub dan beberapa beruang coklat ternyata merupakan hasil kawin silang.[23][24] Sebuah studi pada 2012 memperkirakan pemisahan antara beruang kutub dan beruang coklat terjadi sekitar 600.000 tahun lalu.[23] Studi pada 2022 memperkirakan divergensi lebih awal lagi, lebih dari satu juta tahun lalu.[24] Peristiwa glasiasi selama ratusan ribu tahun berperan dalam asal-usul beruang kutub serta interaksi dan hibridisasi selanjutnya dengan beruang coklat.[25]

Studi pada 2011 dan 2012 menyimpulkan bahwa terjadi aliran gen dari beruang coklat ke beruang kutub selama hibridisasi.[23][26] Secara khusus, studi tahun 2011 menyimpulkan bahwa populasi beruang kutub modern memperoleh garis keturunan maternal dari beruang coklat Irlandia yang kini telah punah.[26] Studi-studi selanjutnya menjelaskan bahwa aliran gen terjadi dari beruang kutub ke beruang coklat, bukan sebaliknya.[25][27][28] Hingga 9 persen genom beruang ABC berasal dari beruang kutub,[29] sementara beruang Irlandia memiliki hingga 21,5 persen asal-usul genetik dari beruang kutub.[27] Hibridisasi massal antara kedua spesies tampaknya berhenti sekitar 200.000 tahun lalu. Hibrida modern relatif jarang ditemukan di alam liar.[24]

Analisis variasi jumlah salinan gen pada beruang kutub dibandingkan dengan beruang coklat dan beruang hitam Amerika menunjukkan sejumlah adaptasi yang khas. Beruang kutub memiliki keragaman yang lebih rendah pada gen reseptor penciuman, akibat lebih sedikitnya ragam bau di habitat Arktik. Dengan pola makan karnivor tinggi lemak, spesies ini memiliki lebih sedikit salinan gen penghasil amilase, enzim pemecah pati, serta seleksi lebih kuat terhadap gen pemecah asam lemak dan sistem peredaran yang lebih efisien. Bulu beruang kutub yang lebih tebal merupakan hasil lebih banyaknya salinan gen pembentuk protein keratin.[30]

Karakteristik

[sunting | sunting sumber]

Beruang kutub adalah spesies beruang dan karnivora darat terbesar yang masih hidup, meskipun beberapa subspesies beruang cokelat seperti beruang kodiak dapat menyaingi ukurannya.[31][32] Pejantan umumnya memiliki panjang 200–250 cm (6,6–8,2 ft) dengan berat 300–800 kg (660–1.760 pon). Betina lebih kecil dengan ukuran 180–200 cm (5,9–6,6 ft) dan berat 150–300 kg (330–660 pon).[10] Dimorfisme seksual pada spesies ini sangat tinggi dibandingkan dengan sebagian besar mamalia lain.[33] Beruang kutub jantan juga memiliki kepala yang secara proporsional lebih besar daripada betina.[34] Berat beruang kutub berfluktuasi sepanjang tahun, karena mereka dapat menimbun lemak dan meningkatkan massa tubuhnya hingga 50 persen.[31] Seekor betina hamil yang telah menggemuk bisa mencapai berat hingga 500 kg (1.100 pon).[35] Beruang dewasa dapat berdiri setinggi 130–160 cm (4,3–5,2 ft) pada bagian bahu. Ekornya memiliki panjang 76–126 mm (3,0–5,0 in).[10] Beruang kutub terbesar yang pernah tercatat, dilaporkan memiliki berat 1.002 kg (2.209 pon), adalah seekor pejantan yang ditembak di Kotzebue Sound di barat laut Alaska pada tahun 1960.[36]

Dibandingkan dengan beruang cokelat, spesies ini memiliki perawakan yang lebih ramping, dengan tengkorak yang lebih sempit, datar, dan kecil, leher yang lebih panjang, serta punuk bahu yang lebih rendah.[31][37] Profil moncongnya melengkung, menyerupai "Hidung Romawi".[31] Mereka memiliki 34–42 gigi termasuk 12 gigi seri, 4 taring, 8–16 premolar, dan 10 molar. Gigi-gigi tersebut beradaptasi untuk diet yang lebih karnivora dibandingkan beruang cokelat, dengan taring yang lebih panjang, tajam, dan berjarak, serta gigi pipi (premolar dan molar) yang lebih kecil dan runcing.[33][38][37] Spesies ini memiliki celah besar atau diastema antara taring dan gigi pipi, yang memungkinkan mereka menggigit mangsa dengan lebih baik.[38][39] Karena biasanya memangsa hewan yang jauh lebih kecil darinya, beruang kutub tidak memiliki gigitan yang terlalu kuat.[39] Beruang kutub memiliki cakar yang besar, dengan cakar depan lebih lebar daripada cakar belakang. Kaki mereka lebih berbulu dibandingkan spesies beruang lainnya, memberikan kehangatan dan gesekan saat melangkah di atas salju dan es laut.[40] Kukunya kecil namun tajam dan bengkok, digunakan untuk menyambar mangsa dan memanjat ke atas es.[41][42]

Beruang kutub melompat di atas es apung di Svalbard

Mantel bulunya terdiri dari bulu bawah yang lebat sepanjang sekitar 5 cm (2,0 in) dan rambut pelindung sepanjang sekitar 15 cm (5,9 in).[10] Pejantan memiliki rambut panjang di kaki depan mereka, yang diperkirakan sebagai sinyal kebugaran mereka kepada betina.[43] Permukaan luar rambut memiliki tampilan bersisik, dan rambut pelindungnya berongga, yang memungkinkan hewan ini memerangkap panas dan mengapung di air.[44] Rambut pelindung yang transparan melakukan hamburan ke depan terhadap sinar ultraviolet di antara bulu bawah dan kulit, menyebabkan siklus penyerapan dan emisi ulang yang menjaga kehangatan mereka.[45] Bulunya tampak putih karena hamburan balik dari cahaya datang dan ketiadaan pigmen.[45][46] Beruang kutub mendapatkan warna kekuningan seiring dengan semakin seringnya terpapar sinar matahari. Warna ini akan kembali normal setelah mereka berganti bulu. Bulu mereka juga bisa berwarna keabu-abuan atau kecokelatan.[10] Bulu terang mereka memberikan kamuflase di lingkungan bersalju. Setelah keluar dari air, beruang dapat dengan mudah mengibaskan tubuhnya hingga kering karena rambutnya tahan kusut saat basah.[47] Sekresi minyak mencegah rambut membeku.[48] Kulitnya, termasuk hidung dan bibir, berwarna hitam dan menyerap panas.[10][45] Beruang kutub memiliki lapisan lemak setebal 5–10 cm (2,0–3,9 in) di bawah kulit,[10] yang memberikan kehangatan sekaligus energi.[49] Beruang kutub mempertahankan suhu inti tubuh sekitar 369 °C (696 °F).[50] Panas berlebih diatasi oleh lapisan jaringan otot lurik yang sangat tervaskularisasi dan pembuluh darah yang terkontrol dengan baik. Beruang juga mendinginkan diri dengan masuk ke dalam air.[45][51]

Mata beruang kutub terletak di dekat bagian atas kepala, yang memungkinkan mereka untuk tetap berada di luar air saat berenang di permukaan. Matanya relatif kecil, yang mungkin merupakan adaptasi terhadap tiupan salju dan kebutaan salju. Beruang kutub adalah dikromat, dan tidak memiliki sel kerucut untuk melihat panjang gelombang menengah, terutama hijau. Mereka memiliki banyak sel batang, yang memungkinkan mereka melihat di malam hari. Telinganya kecil, memungkinkan mereka menahan panas dengan lebih baik dan tidak terkena radang dingin.[52] Beruang kutub dapat mendengar paling baik pada frekuensi 11,2–22,5 kHz, rentang frekuensi yang lebih luas dari yang diperkirakan mengingat mangsa mereka sebagian besar mengeluarkan suara berfrekuensi rendah.[53] Konka hidung menciptakan area permukaan yang luas, sehingga lebih banyak udara hangat dapat bergerak melalui saluran hidung.[54] Sistem penciuman mereka juga besar dan beradaptasi untuk mencium mangsa dari jarak yang sangat jauh.[55] Hewan ini memiliki ginjal renikulata yang menyaring garam dalam makanan mereka.[56]

Persebaran dan habitat

[sunting | sunting sumber]
Peta 19 subpopulasi beruang kutub. Subpopulasi Kepulauan Ratu Elizabeth (QE) tidak diterima secara universal.[57]

Beruang kutub mendiami Arktika dan wilayah sekitarnya. Daerah jelajah mereka mencakup Greenland, Kanada, Alaska, Rusia, dan Kepulauan Svalbard milik Norwegia.[10][58][59] Beruang kutub pernah tercatat berada sedekat 25 km (16 mi) dari Kutub Utara.[60] Batas selatan daerah jelajah mereka meliputi Teluk James dan Newfoundland dan Labrador di Kanada serta Pulau St. Matthew dan Kepulauan Pribilof di Alaska.[10] Mereka bukan penghuni tetap Islandia namun tercatat pernah berkunjung ke sana jika bisa mencapainya melalui es laut.[61] Karena minimnya perambahan manusia terhadap habitat terpencil beruang ini, mereka masih dapat ditemukan di sebagian besar daerah jelajah aslinya, lebih banyak dibandingkan karnivora darat besar lainnya.[62]

Beruang kutub telah dibagi menjadi setidaknya 18 subpopulasi yang dilabeli sebagai populasi Greenland Timur (ES), Laut Barents (BS), Laut Kara (KS), Laut Laptev (LVS), Laut Chukchi (CS), Laut Beaufort bagian utara dan selatan (SBS dan NBS), Viscount Melville (VM), Selat M'Clintock (MC), Teluk Boothia (GB), Selat Lancaster (LS), Teluk Norwegia (NB), Cekungan Kane (KB), Teluk Baffin (BB), Selat Davis (DS), Cekungan Foxe (FB), serta Teluk Hudson bagian barat dan selatan (WHB dan SHB).[63][57] Beruang di dalam dan sekitar Kepulauan Ratu Elizabeth telah diusulkan sebagai subpopulasi tersendiri namun hal ini tidak diterima secara universal.[57] Sebuah studi tahun 2022 menyarankan agar beruang di Greenland tenggara dianggap sebagai subpopulasi yang berbeda berdasarkan isolasi geografis dan genetika mereka.[64] Populasi beruang kutub juga dapat dibagi menjadi empat gugus gen: Kanada Selatan, Kepulauan Kanada, Cekungan Barat (Kanada barat laut ke arah barat hingga Timur Jauh Rusia), dan Cekungan Timur (Greenland ke arah timur hingga Siberia).[63]

Beruang kutub sangat bergantung pada laut sehingga dianggap sebagai mamalia laut.[14][65] Hewan ini bersifat pagofilik dan terutama mendiami es laut tahunan yang menutupi landas kontinen dan di antara pulau-pulau di kepulauan. Daerah-daerah ini, yang dikenal sebagai "Cincin Kehidupan Arktik", memiliki produktivitas biologis yang tinggi.[62][66] Spesies ini cenderung sering berada di area pertemuan es laut dan air, seperti polynya dan celah es, untuk memburu anjing laut yang merupakan bagian terbesar dari dietnya.[67] Beruang kutub melakukan perjalanan sebagai respons terhadap perubahan tutupan es sepanjang tahun. Mereka terpaksa naik ke daratan pada musim panas ketika es laut menghilang.[68] Habitat darat yang digunakan oleh beruang kutub meliputi hutan, pegunungan, daerah berbatu, tepian danau, dan anak sungai.[69] Di laut Chukchi dan Beaufort, tempat es laut pecah dan hanyut ke utara selama musim panas, beruang kutub umumnya tetap berada di atas es, meskipun sebagian besar populasi (15–40%) telah diamati menghabiskan seluruh musim panas di daratan sejak tahun 1980-an.[70] Beberapa daerah memiliki es multitahun tebal yang tidak mencair sepenuhnya dan beruang dapat tinggal di sana sepanjang tahun,[71][72] meskipun jenis es ini memiliki lebih sedikit anjing laut dan produktivitas air yang lebih rendah.[72]

Perilaku dan ekologi

[sunting | sunting sumber]

Beruang kutub dapat menjelajahi area sekecil 3.500 km2 (1.400 sq mi) hingga seluas 38.000 km2 (15.000 sq mi) dalam setahun, sementara es yang hanyut memungkinkan mereka bergerak lebih jauh.[73] Bergantung pada kondisi es, seekor beruang dapat menempuh perjalanan rata-rata 12 km (7,5 mi) per hari.[74] Pergerakan ini disokong oleh asupan makanan mereka yang kaya energi.[49] Beruang kutub bergerak dengan cara berjalan dan menderap, serta tidak berlari kecil.[75] Saat berjalan, beruang memiringkan cakar depan mereka ke arah dalam.[41] Mereka dapat berlari dengan kecepatan yang diperkirakan mencapai 40 km/h (25 mph)[76] namun biasanya bergerak dengan kecepatan sekitar 55 km/h (34 mph).[77] Beruang kutub juga merupakan perenang yang andal dan dapat berenang dengan kecepatan hingga 6 km/h (3,7 mph).[78] Sebuah studi menemukan bahwa mereka dapat berenang selama rata-rata 3,4 hari sekaligus dan menempuh jarak rata-rata 1.542 km (958 mi).[79] Mereka dapat menyelam hingga selama tiga menit.[80] Saat berenang, cakar depan yang lebar berfungsi untuk mengayuh, sementara kaki belakang berperan dalam mengemudi dan menyelam.[10][41]

Induk beruang dan anaknya sedang tidur

Sebagian besar beruang kutub aktif sepanjang tahun. Hibernasi hanya terjadi pada betina yang sedang hamil.[81] Beruang yang tidak berhibernasi biasanya memiliki siklus 24 jam normal bahkan selama hari-hari gelap total atau terang terus-menerus, meskipun siklus yang kurang dari sehari lebih umum terjadi selama periode gelap total.[82] Spesies ini umumnya bersifat diurnal, yaitu paling aktif pada awal hari.[83] Rata-rata, beruang kutub tidur hampir delapan jam sehari.[84] Mereka tidur dalam berbagai posisi, termasuk meringkuk, duduk, berbaring miring, telentang dengan tungkai terentang, atau tengkurap dengan bagian pantat yang ditinggikan.[42][77] Di atas es laut, beruang kutub tidur sejenak di punggungan tekanan, tempat mereka menggali di sisi yang terlindung dan berbaring. Setelah badai salju, seekor beruang mungkin beristirahat di bawah tumpukan salju selama berjam-jam atau berhari-hari. Di daratan, beruang mungkin menggali tempat istirahat di kerikil atau pantai berpasir.[85] Mereka juga akan tidur di singkapan berbatu.[86] Di daerah pegunungan di pesisir, induk dan beruang sub-dewasa akan tidur di lereng tempat mereka dapat lebih mudah melihat kedatangan beruang lain.[84] Pejantan dewasa memiliki risiko lebih kecil terhadap ancaman beruang lain dan dapat tidur hampir di mana saja.[86]

Kehidupan sosial

[sunting | sunting sumber]
Beruang muda sedang bermain tarung

Beruang kutub biasanya hidup soliter, kecuali induk dengan anaknya dan pasangan kawin.[87] Di darat, mereka ditemukan saling berdekatan dan berkumpul di sekitar sumber makanan. Pejantan dewasa, khususnya, lebih toleran satu sama lain di lingkungan darat dan di luar musim kawin.[88][89] Mereka tercatat pernah membentuk "aliansi" yang stabil, bepergian, beristirahat, dan bermain bersama. Hierarki dominasi ada di antara beruang kutub dengan pejantan dewasa terbesar menempati peringkat teratas. Betina dewasa mengungguli beruang sub-dewasa dan remaja, serta pejantan muda mengungguli betina seusianya. Selain itu, anak beruang yang bersama induknya mengungguli mereka yang sendirian.[90] Betina dengan anak yang masih bergantung cenderung menjauhi pejantan,[89] tetapi terkadang berasosiasi dengan unit betina-anak lainnya, menciptakan "keluarga komposit".[90]

Beruang kutub umumnya pendiam tetapi dapat menghasilkan berbagai suara.[91] Dengusan lembut, sebuah panggilan berirama lembut, dibuat oleh induk beruang diduga untuk menjaga kontak dengan anak-anaknya.[92] Selama musim kawin, pejantan dewasa akan mendengus pada calon pasangannya.[93] Berbeda dengan hewan lain di mana dengusan dikeluarkan melalui lubang hidung, pada beruang kutub suara ini dikeluarkan melalui mulut yang sedikit terbuka.[92] Anak beruang akan menangis untuk meminta perhatian dan mengeluarkan suara senandung saat menyusu.[94] Katupan gigi, letupan rahang, embusan napas, dengusan kasar, erangan, geraman, dan auman terdengar dalam pertemuan yang lebih bermusuhan.[93] Beruang kutub berkomunikasi secara visual menggunakan mata, telinga, hidung, dan bibirnya.[90] Beruang juga berkomunikasi melalui komunikasi kimiawi dengan mengeluarkan aroma dari bantalan kaki ke jejak mereka, yang memungkinkan antarindividu untuk melacak keberadaan satu sama lain.[95]

Makanan dan perburuan

[sunting | sunting sumber]
Beruang yang sedang memakan anjing laut berjanggut

Beruang kutub adalah hiperkarnivora,[96] dan spesies beruang paling karnivora.[37] Ia adalah predator puncak di Arktika,[97] memangsa anjing laut es dan mengonsumsi lemak mereka yang kaya energi.[98] Spesies yang paling umum ditangkap adalah anjing laut cincin, tetapi mereka juga memangsa anjing laut berjanggut dan anjing laut harpa.[10] Anjing laut cincin adalah mangsa ideal karena jumlahnya melimpah dan cukup kecil untuk ditaklukkan bahkan oleh beruang kecil.[99] Anjing laut berjanggut dewasa berukuran lebih besar dan lebih mungkin membebaskan diri dari serangan beruang, sehingga beruang jantan dewasalah yang lebih sukses memburu mereka. Mangsa yang kurang umum adalah anjing laut bertudung, anjing laut bintik, anjing laut pita, dan anjing laut pelabuhan yang hidup di daerah yang lebih hangat.[100] Beruang kutub, sebagian besar jantan dewasa, kadang-kadang akan memburu walrus baik di darat maupun di es. Mereka terutama menargetkan walrus muda, karena walrus dewasa, dengan kulit tebal dan gading panjangnya, terlalu besar dan tangguh.[101]

Selain anjing laut, beruang juga memangsa spesies cetacea seperti paus beluga dan narwhal, serta rusa kutub, burung dan telurnya, ikan, dan invertebrata laut.[102] Mereka jarang memakan materi tumbuhan karena sistem pencernaan mereka terlalu terspesialisasi untuk materi hewani,[103] meskipun mereka tercatat pernah memakan buah beri, lumut, rumput, dan rumput laut.[104] Di wilayah persebaran selatan mereka, terutama di dekat Teluk Hudson dan Teluk James, beruang kutub bertahan sepanjang musim panas tanpa es laut sebagai tempat berburu dan harus lebih banyak bergantung pada makanan darat.[105] Cadangan lemak memungkinkan beruang kutub bertahan hidup selama berbulan-bulan tanpa makan.[106] Kanibalisme diketahui terjadi pada spesies ini.[107]

Beruang kutub memburu mangsanya dengan beberapa cara berbeda. Ketika seekor beruang melihat anjing laut yang sedang naik ke atas es di es laut, ia mengendap-endap perlahan dengan kepala dan leher diturunkan, kemungkinan agar hidung dan matanya yang gelap tidak terlalu terlihat. Saat semakin dekat, beruang semakin merunduk dan akhirnya menyerang dengan kecepatan tinggi, berusaha menangkap anjing laut itu sebelum ia bisa melarikan diri ke dalam lubang esnya. Beberapa beruang yang mengintai perlu bergerak melalui air; melintasi rongga air di es saat mendekati anjing laut atau berenang menuju anjing laut di atas gumpalan es. Beruang kutub dapat tetap berada di dalam air dengan hidung terbuka. Ketika sudah cukup dekat, hewan ini menerjang dari air untuk menyerang.[108]

Selama waktu yang terbatas di musim semi, beruang kutub akan mencari anak anjing laut cincin di sarang kelahiran mereka di bawah es. Begitu beruang menangkap aroma anak anjing laut yang bersembunyi dan menentukan lokasinya, ia mendekati sarang itu dengan tenang agar tidak menyiagakan mangsanya. Ia menggunakan kaki depannya untuk menghancurkan es dan kemudian menjulurkan kepalanya ke dalam untuk menangkap anak anjing laut itu sebelum bisa melarikan diri. Sarang anjing laut cincin bisa berada lebih dari 1 m (3 ft 3 in) di bawah permukaan es sehingga beruang yang lebih besar memiliki kemampuan lebih baik untuk membobolnya. Beberapa beruang mungkin hanya diam di dekat lubang pernapasan atau tempat lain di dekat air dan menunggu mangsa lewat.[109] Ini bisa berlangsung berjam-jam dan ketika anjing laut muncul ke permukaan, beruang akan mencoba menariknya keluar dengan kaki dan cakarnya.[110] Taktik ini adalah metode berburu utama dari musim dingin hingga awal musim semi.[10]

Beruang dengan bangkai paus

Beruang memburu kelompok walrus dengan memprovokasi mereka hingga panik dan berlarian, lalu mencari anak walrus yang tergencet atau terpisah dari induknya selama kekacauan tersebut.[101] Terdapat laporan tentang beruang yang mencoba membunuh atau melukai walrus dengan melemparkan batu dan bongkahan es ke arah mereka.[111] Beluga dan narwhal rentan terhadap serangan beruang ketika mereka terdampar di air dangkal atau terjebak di lubang pernapasan yang terisolasi di es.[112] Saat mengintai rusa kutub, beruang kutub akan bersembunyi di vegetasi sebelum menyergap.[76] Pada beberapa kesempatan, beruang mungkin mencoba menangkap mangsa di perairan terbuka, berenang di bawah anjing laut atau burung air. Namun, anjing laut khususnya lebih lincah daripada beruang di dalam air.[113] Beruang kutub mengandalkan kekuatan kasar saat mencoba membunuh mangsanya, dan akan menggunakan gigitan serta pukulan cakar.[96] Mereka memiliki kekuatan untuk menarik anjing laut berukuran sedang keluar dari air atau menyeret bangkai beluga cukup jauh.[114] Beruang kutub hanya sesekali menyimpan makanan untuk nanti, menguburnya di bawah salju, dan hanya dalam jangka pendek.[115]

Rubah arktik secara rutin mengikuti beruang kutub dan memakan sisa-sisa hasil buruan mereka. Beruang biasanya mentoleransi mereka tetapi akan menyerang rubah yang terlalu dekat saat mereka sedang makan. Beruang kutub sendiri juga memakan bangkai. Beruang sub-dewasa akan memakan sisa-sisa yang ditinggalkan oleh beruang lain. Betina dengan anak sering meninggalkan bangkai ketika melihat pejantan dewasa mendekat, meskipun kemungkinannya lebih kecil jika mereka sudah lama tidak makan.[116] Bangkai paus adalah sumber makanan yang berharga, terutama di darat dan setelah es laut mencair, serta menarik perhatian beberapa beruang.[88] Di satu area di timur laut Alaska, beruang kutub tercatat bersaing dengan beruang grizzly untuk memperebutkan bangkai paus. Meskipun ukurannya lebih kecil, grizzly lebih agresif dan beruang kutub cenderung mengalah kepada mereka dalam perkelahian.[117] Beruang kutub juga akan mencari makan di tempat pembuangan sampah selama periode bebas es.[118]

Reproduksi dan perkembangan

[sunting | sunting sumber]
Pejantan yang sedang merayu mendekati betina

Perkawinan beruang kutub berlangsung di atas es laut pada musim semi, sebagian besar antara bulan Maret dan Mei.[10][119][120][87] Pejantan mencari betina yang sedang estrus dan sering melakukan perjalanan dengan jalur berliku yang mengurangi kemungkinan mereka bertemu pejantan lain namun tetap memungkinkan mereka menemukan betina. Pergerakan betina tetap linier dan mereka menjelajah lebih luas.[121] Sistem perkawinan ini dapat disebut sebagai poligini pertahanan-betina, monogami seri, atau promiskuitas.[120][122]

Setelah menemukan betina, pejantan akan mencoba mengisolasi dan menjaganya. Pencumbuannya bisa agak agresif, dan pejantan akan mengejar betina jika ia mencoba melarikan diri. Bisa memakan waktu berhari-hari bagi pejantan untuk kawin dengan betina yang menginduksi ovulasi. Setelah kopulasi pertama, pasangan tersebut menjalin ikatan. Pasangan beruang kutub yang tidak terganggu biasanya bertahan sekitar dua minggu di mana mereka akan tidur bersama dan kawin berulang kali.[123] Persaingan untuk mendapatkan pasangan bisa sangat ketat dan hal ini menyebabkan seleksi seksual bagi pejantan yang lebih besar. Beruang kutub jantan sering memiliki bekas luka akibat perkelahian.[119][120] Pejantan dan betina yang sudah berikatan akan melarikan diri bersama ketika pejantan lain datang.[124] Seekor betina kawin dengan beberapa pejantan dalam satu musim dan satu kelahiran dapat memiliki lebih dari satu ayah.[122] 

Anak beruang kutub

Ketika musim kawin berakhir, betina akan menimbun lebih banyak cadangan lemak untuk menopang dirinya sendiri dan anak-anaknya. Antara bulan Agustus dan Oktober, betina membangun dan memasuki sarang bersalin untuk musim dingin. Tergantung pada daerahnya, sarang bersalin dapat ditemukan di es laut tepat di lepas pantai atau lebih jauh ke pedalaman dan mungkin digali di bawah salju, tanah, atau kombinasi keduanya.[125] Bagian dalam tempat perlindungan ini bisa selebar sekitar 15 m (49 ft) dengan tinggi langit-langit 12 m (39 ft), sementara pintu masuknya mungkin sepanjang 21 m (69 ft) dan selebar 12 m (39 ft). Suhu sarang bisa jauh lebih tinggi daripada di luar.[126] Betina berhibernasi dan melahirkan anak-anaknya di dalam sarang.[127] Beruang yang berhibernasi berpuasa dan mendaur ulang limbah tubuh secara internal. Beruang kutub mengalami implantasi tertunda dan embrio yang telah dibuahi tidak mulai berkembang sampai musim gugur, antara pertengahan September dan pertengahan Oktober.[128] Dengan implantasi tertunda, gestasi pada spesies ini berlangsung tujuh hingga sembilan bulan tetapi kehamilan sebenarnya hanya dua bulan.[129]

Induk beruang kutub biasanya melahirkan dua anak per kelahiran. Seperti spesies beruang lainnya, beruang kutub yang baru lahir berukuran sangat kecil dan bersifat altrisial.[130] Bayi yang baru lahir memiliki rambut seperti wol dan kulit merah muda, dengan berat sekitar 600 g (21 oz).[10][31] Mata mereka tetap tertutup selama sebulan.[131] Susu induk yang berlemak memicu pertumbuhan mereka, dan anak-anak beruang tetap hangat oleh panas tubuh induk dan sarangnya. Induk muncul dari sarang antara akhir Februari dan awal April, dan anak-anaknya sudah berkembang dengan baik serta mampu berjalan bersamanya.[132] Pada saat ini mereka memiliki berat 10–15 kg (22–33 pon).[10] Keluarga beruang kutub tinggal di dekat sarang selama kurang lebih dua minggu; selama waktu ini anak-anak beruang akan bergerak dan bermain-main sementara induknya sebagian besar beristirahat. Mereka akhirnya menuju ke es laut.[133]

Induk menyusui anaknya

Anak beruang di bawah satu tahun tinggal dekat dengan induknya. Ketika induk berburu, mereka diam dan mengamati sampai induk memanggil mereka kembali.[134] Mengamati dan meniru induk membantu anak-anak beruang mengasah keterampilan berburu mereka.[135] Setelah tahun pertama, mereka menjadi lebih mandiri dan menjelajah. Pada usia sekitar dua tahun, mereka mampu berburu sendiri.[136] Anak-anak menyusu pada induknya saat ia berbaring miring atau duduk.[133] Betina yang menyusui tidak dapat hamil dan melahirkan,[137] dan anak beruang disapih antara usia dua hingga dua setengah tahun.[10] Ia mungkin meninggalkan anaknya yang sudah disapih begitu saja atau mereka mungkin diusir oleh pejantan yang sedang merayu.[136] Beruang kutub mencapai kematangan seksual pada usia sekitar empat tahun untuk betina dan enam tahun untuk pejantan.[138] Betina mencapai ukuran dewasa pada usia 4 atau 5 tahun sementara pejantan tumbuh sepenuhnya pada usia dua kali lipatnya.[139]

Mortalitas

[sunting | sunting sumber]

Beruang kutub dapat hidup hingga 30 tahun.[10] Rentang hidup beruang yang panjang dan kemampuannya untuk menghasilkan keturunan secara konsisten mengimbangi tingkat kematian anak dalam suatu populasi. Beberapa anak mati di dalam sarang atau di dalam kandungan jika kondisi induk betina tidak prima. Meskipun demikian, induk betina memiliki peluang untuk melahirkan anak yang mampu bertahan hidup pada musim semi berikutnya jika ia mendapatkan asupan makanan yang lebih baik pada tahun mendatang. Anak-anak beruang pada akhirnya akan mati kelaparan jika induknya tidak dapat membunuh cukup mangsa.[140] Anak beruang juga menghadapi ancaman dari serigala[141] dan beruang jantan dewasa. Pejantan membunuh anak beruang agar induknya kembali mengalami estrus, tetapi juga membunuh beruang muda di luar musim kawin untuk dimangsa.[107] Seekor betina dan anak-anaknya dapat melarikan diri dari pejantan yang lebih lambat. Jika pejantan berhasil mendekati anak beruang, induknya mungkin mencoba melawannya, terkadang dengan mengorbankan nyawanya sendiri.[142]

Beruang subdewasa, yang sudah mandiri tetapi belum cukup dewasa, mengalami masa-masa yang sangat sulit karena mereka belum menjadi pemburu sesukses beruang dewasa. Bahkan ketika mereka berhasil, hasil buruan mereka kemungkinan akan dicuri oleh beruang yang lebih besar. Oleh karena itu, beruang sub-dewasa harus memakan bangkai dan seringkali kekurangan berat badan serta berisiko kelaparan. Saat dewasa, beruang kutub memiliki tingkat kelangsungan hidup yang tinggi, meskipun pejantan dewasa menderita cedera akibat perkelahian memperebutkan pasangan.[143] Beruang kutub sangat rentan terhadap Trichinella, cacing gilig parasit yang menjangkiti mereka melalui kanibalisme.[144]

Status konservasi

[sunting | sunting sumber]
Peta dari Survei Geologi AS menunjukkan perkiraan perubahan habitat beruang kutub dari tahun 2001 hingga 2010 dan 2041 hingga 2050.[145]

Pada tahun 2015, Daftar Merah IUCN mengategorikan beruang kutub sebagai spesies rentan karena "penurunan area hunian, tingkat kejadian, dan/atau kualitas habitat". Diperkirakan total populasinya antara 22.000 hingga 31.000, dan tren populasi saat ini tidak diketahui. Ancaman terhadap populasi beruang kutub meliputi perubahan iklim, polusi, dan pengembangan energi.[2]

Pada tahun 2021, Kelompok Spesialis Beruang Kutub IUCN/SSC melabeli empat subpopulasi (Laut Barents dan Chukchi, Cekungan Foxe, dan Teluk Boothia) sebagai "kemungkinan stabil", dua (Cekungan Kane dan Selat M'Clintock) sebagai "kemungkinan meningkat", dan tiga (Laut Beaufort Selatan, Teluk Hudson Selatan dan Barat) sebagai "kemungkinan menurun" selama periode tertentu antara tahun 1980-an dan 2010-an. Sepuluh subpopulasi sisanya tidak memiliki cukup data.[57] Sebuah studi tahun 2008 memperkirakan dua pertiga beruang kutub di dunia mungkin menghilang pada tahun 2050, berdasarkan pengurangan es laut, dan hanya satu populasi yang kemungkinan akan bertahan dalam 50 tahun.[146] Sebuah studi tahun 2016 memproyeksikan kemungkinan penurunan jumlah beruang kutub lebih dari 30 persen selama tiga generasi. Studi tersebut menyimpulkan bahwa penurunan lebih dari 50 persen kemungkinannya jauh lebih kecil.[147] Tinjauan tahun 2012 menunjukkan bahwa beruang kutub mungkin akan punah secara regional di wilayah selatan pada tahun 2050 jika tren ini berlanjut, menyisakan Kepulauan Kanada dan Greenland utara sebagai benteng pertahanan.[148] Sebuah studi tahun 2020 menyimpulkan bahwa jalur skenario terburuk akan menyebabkan sebagian besar subpopulasi menghilang pada tahun 2100, sementara jalur menengah masih akan menyebabkan kepunahan lokal beberapa subpopulasi dalam periode waktu yang sama.[149] Namun, sebuah studi tahun 2025 memperingatkan bahwa "pendekatan yang diterbitkan sebelumnya terlalu sensitif terhadap asumsi pemodelan dan pilihan aturan keputusan untuk mengevaluasi secara akurat dampak emisi GRK [gas rumah kaca] terhadap tingkat demografis beruang kutub".[150]

Bahaya utama dari perubahan iklim adalah malnutrisi atau kelaparan akibat hilangnya habitat. Beruang kutub memburu anjing laut di atas es laut, dan kenaikan suhu menyebabkan es mencair lebih awal, mendorong beruang ke pantai sebelum mereka membangun cadangan lemak yang cukup untuk bertahan hidup di masa kelangkaan makanan pada akhir musim panas dan awal musim gugur. Es laut yang lebih tipis cenderung lebih mudah pecah, yang menyulitkan beruang kutub untuk mengakses anjing laut. Gizi yang tidak mencukupi menyebabkan tingkat reproduksi yang lebih rendah pada betina dewasa dan tingkat kelangsungan hidup yang lebih rendah pada anak beruang serta beruang remaja. Kurangnya akses ke anjing laut juga menyebabkan beruang mencari makan di darat yang meningkatkan risiko konflik dengan manusia.[62][148] Studi tahun 2024 menyimpulkan bahwa konsumsi makanan darat yang lebih besar selama periode hangat yang lebih panjang tidak mungkin memberikan gizi yang cukup, sehingga meningkatkan risiko kelaparan selama periode bebas es. Beruang sub-dewasa menjadi kelompok yang paling rentan.[151]

Beruang kutub sedang berenang. Hilangnya es laut telah menyebabkan lebih banyak perairan terbuka dan tekanan lebih besar pada beruang untuk berenang jarak jauh.[62][148]

Pengurangan tutupan es laut juga memaksa beruang untuk berenang jarak yang lebih jauh, yang semakin menguras cadangan energi mereka dan terkadang menyebabkan tenggelam. Peningkatan mobilitas es dapat mengakibatkan lokasi sarang yang kurang stabil atau jarak tempuh yang lebih jauh bagi induk yang bepergian dari dan ke sarang di darat. Pencairan ibun abadi akan menyebabkan atap yang lebih rentan runtuh bagi beruang yang bersarang di bawah tanah. Sedikitnya salju dapat memengaruhi isolasi suhu, sementara curah hujan yang lebih tinggi dapat menyebabkan lebih banyak keruntuhan.[62][148] Kapasitas pengikatan kortikosteroid maksimum dari globulin pengikat kortikosteroid dalam serum beruang kutub berkorelasi dengan stres pada beruang kutub, dan hal ini meningkat seiring dengan pemanasan iklim.[152] Bakteri dan parasit penyebab penyakit akan berkembang lebih mudah di iklim yang lebih hangat.[148]

Pengembangan minyak dan gas juga memengaruhi habitat beruang kutub. Area Perencanaan Laut Chukchi di barat laut Alaska, yang memiliki banyak sewa pengeboran, ditemukan sebagai lokasi penting bagi beruang betina yang tidak sedang bersarang.[153] Tumpahan minyak juga merupakan risiko. Sebuah studi tahun 2018 menemukan bahwa sepuluh persen atau kurang dari habitat utama beruang di Laut Chukchi rentan terhadap potensi tumpahan, tetapi tumpahan dalam jangkauan penuh dapat berdampak pada hampir 40 persen populasi beruang kutub.[154] Beruang kutub mengakumulasi tingkat tinggi pencemar organik yang persisten seperti poliklorinabifenil (PCB) dan pestisida terklorinasi, karena posisi mereka di puncak piramida ekologi. Banyak dari bahan kimia ini telah dilarang secara internasional sebagai akibat dari pengakuan akan bahayanya terhadap lingkungan. Jejak bahan kimia tersebut perlahan berkurang pada beruang kutub tetapi tetap ada dan bahkan meningkat pada beberapa populasi.[155]

Beruang kutub mendapatkan perlindungan hukum di semua negara yang mereka huni. Spesies ini telah dilabeli sebagai terancam di bawah Undang-Undang Spesies Terancam Punah AS sejak 2008,[156] sementara Komite Status Satwa Liar Terancam Punah di Kanada mencantumkannya sebagai spesies dengan 'Kekhawatiran khusus' sejak 1991.[157] Pada tahun 1973, Persetujuan tentang Konservasi Beruang Kutub ditandatangani oleh kelima negara yang memiliki populasi beruang kutub, yaitu Kanada, Denmark (di mana Greenland adalah wilayah otonomnya), Rusia (saat itu Uni Soviet), Norwegia, dan AS. Perjanjian ini melarang sebagian besar perburuan beruang kutub, mengizinkan perburuan masyarakat adat menggunakan metode tradisional, dan mempromosikan pelestarian habitat beruang.[158] Konvensi Perdagangan Internasional Spesies Flora dan Fauna Liar Terancam Punah mencantumkan spesies ini dalam Apendiks II,[3] yang memungkinkan perdagangan yang diatur.[159]

Hubungan dengan manusia

[sunting | sunting sumber]

Beruang kutub telah hidup berdampingan dan berinteraksi dengan orang-orang kutub selama ribuan tahun.[160] "Beruang putih" disebutkan sebagai barang dagangan dalam buku Jepang Nihon Shoki pada abad ketujuh. Tidak jelas apakah ini beruang kutub atau beruang cokelat yang berwarna putih.[161] Selama Abad Pertengahan, orang Eropa menganggap beruang putih sebagai sesuatu yang unik dan lebih akrab dengan beruang berwarna cokelat dan hitam.[162] Catatan tertulis pertama yang diketahui tentang beruang kutub di lingkungan alaminya ditemukan dalam teks Norwegia anonim abad ke-13 Konungs skuggsjá, yang menyebutkan bahwa "beruang putih Greenland mengembara sebagian besar waktu di es laut, memburu anjing laut dan paus serta memakannya" dan mengatakan beruang itu "perenang yang sama terampilnya dengan anjing laut atau paus mana pun".[163] 

Nelson and the Bear, oleh Richard Westall (1809)

Selama abad-abad berikutnya, beberapa penjelajah Eropa menyebutkan beruang kutub dan menggambarkan kebiasaan mereka.[164][165] Catatan semacam itu menjadi lebih akurat setelah Pencerahan, dan spesimen baik yang hidup maupun mati dibawa kembali. Namun, beberapa laporan imajinatif terus berlanjut, termasuk gagasan bahwa beruang kutub menutupi hidung mereka saat berburu. Gambar beruang kutub yang relatif akurat ditemukan dalam karya Henry Ellis, A Voyage to Hudson's Bay (1748).[166] Beruang kutub secara resmi diklasifikasikan sebagai spesies oleh Constantine Phipps setelah pelayarannya tahun 1773 ke Arktika. Menemaninya adalah Horatio Nelson muda, yang dikatakan ingin mendapatkan mantel beruang kutub untuk ayahnya tetapi gagal dalam perburuannya.[9] Dalam edisi 1785 dari Histoire Naturelle, Comte de Buffon menyebutkan dan menggambarkan "beruang laut", yang jelas merupakan beruang kutub, dan "beruang darat", kemungkinan beruang cokelat dan hitam. Hal ini membantu mempromosikan gagasan tentang spesiasi. Buffon juga menyebutkan "beruang putih hutan", kemungkinan seekor beruang Kermode.[167]

Eksploitasi

[sunting | sunting sumber]
Pemburu dengan beruang kutub yang dibunuh menggunakan busur dan anak panah di Alaska (1924)

Beruang kutub telah diburu sejak 8.000 tahun yang lalu, sebagaimana ditunjukkan oleh sisa-sisa arkeologis di Pulau Zhokhov di Laut Siberia Timur. Penggambaran grafis tertua dari beruang kutub menunjukkan hewan itu sedang diburu oleh seorang pria dengan tiga ekor anjing. Seni cadas ini termasuk di antara beberapa petroglif yang ditemukan di Pegtymel di Siberia dan berasal dari abad kelima hingga kedelapan. Sebelum adanya akses ke senjata api, penduduk asli menggunakan tombak, busur, dan anak panah serta berburu dalam kelompok yang ditemani oleh anjing. Meskipun perburuan biasanya dilakukan dengan berjalan kaki, beberapa orang membunuh beruang yang sedang berenang dari perahu menggunakan harpun. Beruang kutub terkadang dibunuh di dalam sarangnya. Membunuh beruang kutub dianggap sebagai ritus peralihan bagi anak laki-laki dalam beberapa budaya. Penduduk asli menghormati hewan tersebut dan perburuan tunduk pada ritual yang ketat.[168] Beruang diambil bulu, daging, lemak, tendon, tulang, dan giginya.[169][170] Bulunya dipakai dan dijadikan alas tidur, sedangkan tulang dan giginya dibuat menjadi peralatan. Bagi orang Netsilik, individu yang akhirnya membunuh beruang itu memiliki hak atas bulunya sementara dagingnya dibagikan kepada semua orang dalam kelompok tersebut. Beberapa orang memelihara anak dari beruang yang terbunuh.[171]

Kulit beruang hasil buruan di Greenland

Orang Nordik di Greenland memperdagangkan bulu beruang kutub pada Abad Pertengahan.[172] Rusia memperdagangkan produk beruang kutub sejak tahun 1556, dengan Novaya Zemlya dan Franz Josef Land menjadi pusat komersial yang penting. Perburuan beruang skala besar di Svalbard terjadi setidaknya sejak abad ke-18, ketika tidak kurang dari 150 ekor beruang dibunuh setiap tahun oleh penjelajah Rusia. Pada abad berikutnya, lebih banyak orang Norwegia yang memburu beruang di pulau tersebut. Dari tahun 1870-an hingga 1970-an, total sekitar 22.000 hewan tersebut diburu. Lebih dari 150.000 beruang kutub secara total dibunuh atau ditangkap di Rusia dan Svalbard, dari abad ke-18 hingga abad ke-20. Di Arktika Kanada, beruang diburu oleh pemburu paus komersial terutama jika mereka tidak mendapatkan cukup paus. Hudson's Bay Company diperkirakan telah menjual 15.000 mantel beruang kutub antara akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20.[173] Pada pertengahan abad ke-20, negara-negara mulai mengatur perburuan beruang kutub, yang berpuncak pada perjanjian tahun 1973.[158]

Daging beruang kutub biasa dimakan sebagai ransum oleh penjelajah dan pelaut di Arktika, dengan penilaian yang sangat beragam. Beberapa orang menyebutnya terlalu kasar dan berbau menyengat untuk dimakan, tetapi ada juga yang memujinya sebagai "hidangan kerajaan".[174] Hatinya dikenal terlalu beracun untuk dimakan. Hal ini disebabkan oleh akumulasi vitamin A dari mangsa beruang.[175] Lemak beruang kutub juga digunakan dalam lampu ketika bahan bakar lain tidak tersedia.[174] Karpet kulit beruang kutub hampir ada di mana-mana di lantai gereja-gereja Norwegia pada abad ke-13 dan ke-14. Di zaman yang lebih modern, aktor Hollywood klasik berpose di atas karpet kulit beruang, terutama Marilyn Monroe. Gambar-gambar semacam itu sering kali memiliki konotasi seksual.[176]

Rambu jalan yang memperingatkan keberadaan beruang kutub. Teks bahasa Norwegia tersebut diterjemahkan menjadi "Berlaku untuk seluruh Svalbard".

Ketika es laut mencair, beruang kutub, terutama beruang sub-dewasa, berkonflik dengan manusia memperebutkan sumber daya di darat.[177] Mereka tertarik pada bau makanan buatan manusia, terutama di tempat pembuangan sampah, dan mungkin ditembak ketika mereka memasuki properti pribadi.[178] Di Churchill, Manitoba, otoritas setempat mengelola sebuah "penjara beruang kutub" tempat beruang yang mengganggu ditahan sampai es laut membeku kembali.[179] Perubahan iklim telah meningkatkan konflik antara kedua spesies tersebut.[177] Lebih dari 50 beruang kutub menyerbu sebuah kota di Novaya Zemlya pada Februari 2019, yang menyebabkan otoritas setempat mengumumkan keadaan darurat.[180]

Dari tahun 1870 hingga 2014, diperkirakan terjadi 73 serangan beruang kutub terhadap manusia, yang menyebabkan 20 kematian. Mayoritas serangan dilakukan oleh pejantan yang lapar, biasanya sub-dewasa, sedangkan serangan betina biasanya dalam rangka mempertahankan anak-anaknya. Dibandingkan dengan beruang cokelat dan beruang hitam Amerika, serangan oleh beruang kutub lebih sering terjadi di dekat dan di sekitar tempat tinggal manusia. Hal ini mungkin disebabkan oleh beruang yang semakin putus asa mencari makanan dan karenanya lebih cenderung mencari permukiman manusia. Seperti halnya dua spesies beruang lainnya, beruang kutub tidak mungkin menargetkan lebih dari dua orang sekaligus. Meskipun secara populer dianggap sebagai beruang paling berbahaya, beruang kutub tidak lebih agresif terhadap manusia dibandingkan spesies lainnya.[181]

Penangkaran

[sunting | sunting sumber]
Pengunjung mengamati beruang kutub di bawah terowongan kaca plexiglass di Kebun Binatang Detroit

Beruang kutub sudah lama menjadi spesies yang sangat dicari oleh kolektor hewan eksotis, karena relatif langka, hidup terpencil, dan memiliki reputasi sebagai binatang buas yang ganas.[182] Ini adalah satu dari sedikit mamalia laut yang dapat berkembang biak dengan baik di penangkaran.[183] Awalnya mereka hanya dipelihara oleh bangsawan dan kaum elit. Menara London mendapatkan seekor beruang kutub seawal tahun 1252 di bawah pemerintahan Raja Henry III. Pada tahun 1609, James VI dan I dari Skotlandia, Inggris, dan Irlandia diberi dua anak beruang kutub oleh pelaut Jonas Poole, yang mendapatkannya selama perjalanan ke Svalbard.[184] Pada akhir abad ke-17, Frederick I dari Prusia menempatkan beruang kutub di menagerie bersama hewan liar lainnya. Ia memerintahkan agar cakar dan taring mereka dicabut untuk memungkinkan mereka melakukan pertarungan tiruan dengan aman. Sekitar tahun 1726, Yekaterina I dari Rusia menghadiahkan dua beruang kutub kepada Augustus II yang Kuat dari Polandia, yang menginginkannya untuk koleksi hewannya.[185] Kemudian, beruang kutub dipamerkan kepada publik di kebun binatang dan sirkus.[186] Pada awal abad ke-19, spesies ini dipamerkan di Exeter Exchange di London, serta menagerie di Wina dan Paris. Kebun binatang pertama di Amerika Utara yang memamerkan beruang kutub adalah Kebun Binatang Philadelphia pada tahun 1859.[187]

Sistem pameran beruang kutub diperbarui oleh Carl Hagenbeck, yang mengganti kandang dan lubang dengan pengaturan yang meniru lingkungan alami hewan tersebut. Pada tahun 1907, ia mengungkapkan struktur panorama yang kompleks di Kebun Binatang Tierpark Hagenbeck di Hamburg yang terdiri dari pameran yang terbuat dari salju dan es buatan yang dipisahkan oleh parit. Hewan kutub yang berbeda ditampilkan di setiap anjungan, memberikan ilusi bahwa mereka hidup bersama. Mulai tahun 1975, Kebun Binatang Hellabrunn di Munich menampung beruang kutubnya dalam pameran yang terdiri dari penghalang kaca, rumah, anjungan beton yang meniru gumpalan es, dan kolam besar. Di dalam rumah tersebut terdapat sarang bersalin, dan ruangan bagi staf untuk menyiapkan dan menyimpan makanan. Pameran tersebut terhubung ke halaman luar untuk ruang tambahan. Pameran serupa yang naturalistik dan "imersif" dibuka pada awal abad ke-21, seperti "Arctic Ring of Life" di Kebun Binatang Detroit dan Habitat Beruang Kutub Cochrane di Ontario.[188][189] Banyak kebun binatang di Eropa dan Amerika Utara telah berhenti memelihara beruang kutub karena ukuran dan biaya pameran kompleks mereka.[190] Di Amerika Utara, populasi beruang kutub di kebun binatang mencapai puncaknya pada tahun 1975 dengan 229 hewan dan menurun pada abad ke-21.[191]

Beruang kutub yang sedang tampil pada Nationaal Songfestival 1973 di Belanda

Beruang kutub telah dilatih untuk tampil di sirkus. Beruang pada umumnya, yang berukuran besar, kuat, mudah dilatih, dan berbentuk seperti manusia, tersebar luas di sirkus, dan bulu putih beruang kutub membuat mereka sangat menarik. Sirkus membantu mengubah citra beruang kutub dari monster yang menakutkan menjadi sesuatu yang lebih jenaka. Beruang kutub pertunjukan digunakan pada tahun 1888 oleh Circus Krone di Jerman dan kemudian pada tahun 1904 oleh Menagerie Bostock dan Wombwell di Inggris. Direktur sirkus Wilhelm Hagenbeck melatih hingga 75 beruang kutub untuk meluncur ke dalam tangki besar melalui perosotan. Dia mulai tampil bersama mereka pada tahun 1908 dan mereka memiliki pertunjukan yang diterima dengan sangat baik di Hippodrome di London. Trik sirkus lain yang dilakukan oleh beruang kutub melibatkan tali tegang, bola, sepatu roda, dan sepeda motor. Salah satu pelatih beruang kutub paling terkenal di paruh kedua abad kedua puluh adalah Ursula Böttcher dari Jerman Timur, yang perawakannya kecil kontras dengan beruang-beruang besar itu. Mulai akhir abad ke-20, sebagian besar pertunjukan beruang kutub dipensiunkan dan penggunaan beruang ini untuk sirkus sekarang dilarang di AS.[192]

Beberapa beruang kutub di penangkaran memperoleh status selebritas pada akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21, terutama Knut dari Kebun Binatang Berlin, yang ditolak oleh induknya dan harus dibesarkan oleh penjaga kebun binatang. Beruang lain, Binky dari Kebun Binatang Alaska di Anchorage, terkenal karena menyerang dua pengunjung yang terlalu dekat.[193][194] Beruang kutub di penangkaran mungkin mondar-mandir, sebuah perilaku stereotip. Dalam sebuah penelitian, mereka tercatat menghabiskan 14 persen hari mereka untuk mondar-mandir.[195] Gus dari Kebun Binatang Central Park diresepkan Prozac oleh seorang terapis karena terus-menerus berenang di kolamnya.[196] Untuk mengurangi perilaku stereotip, penjaga kebun binatang menyediakan barang-barang pengayaan bagi beruang untuk memicu perilaku bermain mereka.[197] Dalam kondisi yang cukup hangat, ganggang yang terkonsentrasi di medula rambut pelindung bulu mereka dapat menyebabkan beruang kutub di kebun binatang tampak hijau.[198]

Dalam budaya

[sunting | sunting sumber]

Beruang kutub memiliki peran penting dalam budaya Inuit dan agama mereka. Dewa Torngarsuk terkadang dibayangkan sebagai beruang kutub raksasa. Ia berdiam di bawah dasar laut di dunia bawah orang mati dan memiliki kekuasaan atas makhluk laut. Para syaman Kalaallit memujanya melalui nyanyian dan tarian, dan diharapkan akan dibawa olehnya ke laut dan dimangsa jika ia menganggap mereka layak. Beruang kutub juga dikaitkan dengan dewi Nuliajuk yang bertanggung jawab atas penciptaan mereka, bersama dengan makhluk laut lainnya. Diyakini bahwa para syaman dapat mencapai Bulan atau dasar samudra dengan menunggangi roh penjaga yang berwujud beruang kutub. Beberapa cerita rakyat melibatkan manusia yang berubah menjadi atau menyamar sebagai beruang kutub dengan mengenakan kulit beruang, atau sebaliknya, dengan beruang kutub yang melepaskan kulit mereka. Dalam astronomi Inuit, gugus bintang Pleiades dipahami sebagai seekor beruang kutub yang terperangkap oleh anjing, sementara Sabuk Orion, Hyades, dan Aldebaran masing-masing melambangkan pemburu, anjing, dan beruang yang terluka.[199]

Cerita rakyat Nordik dan sastra Skandinavia juga menampilkan beruang kutub. Dalam Kisah Auðun dari Fjord Barat, yang ditulis sekitar tahun 1275, seorang pria miskin bernama Auðun menghabiskan semua uangnya untuk seekor beruang kutub di Greenland, tetapi akhirnya menjadi kaya setelah memberikan beruang itu kepada raja Denmark.[200] Dalam naskah abad ke-14 Hauksbók, seorang pria bernama Odd membunuh dan memakan beruang kutub yang telah membunuh ayah dan saudaranya. Dalam kisah The Grimsey Man and the Bear (Pria Grimsey dan Beruang), seekor induk beruang menyusui dan menyelamatkan seorang petani yang terjebak di gumpalan es dan dibalas dengan daging domba. Tulisan Islandia abad ke-18 menyebutkan legenda "raja beruang kutub" yang dikenal sebagai bjarndýrakóngur. Binatang ini digambarkan sebagai beruang kutub dengan "pipi kemerahan" dan tanduk seperti kuda unikorn, yang bersinar dalam gelap. Raja tersebut dapat mengerti pembicaraan manusia dan dianggap sangat cerdik.[201] Dua dongeng Norwegia, "East of the Sun and West of the Moon" (Di Timur Matahari dan di Barat Bulan) dan "White-Bear-King-Valemon" (Raja Beruang Putih Valemon), melibatkan beruang putih yang berubah menjadi manusia dan merayu wanita.[202]

Gambar beruang kutub telah ditampilkan di peta wilayah utara. Mungkin penggambaran beruang kutub paling awal di peta adalah Carta marina Swedia tahun 1539, yang memiliki beruang putih di Islandia atau "Islandia". Sebuah peta Amerika Utara tahun 1544 menyertakan dua beruang kutub di dekat Quebec. Lukisan terkenal yang menampilkan beruang kutub antara lain Fighting Polar Bears (1839) karya François-Auguste Biard dan Man Proposes, God Disposes (1864) karya Edwin Landseer. Beruang kutub juga telah difilmkan untuk sinema. Perburuan beruang kutub oleh orang Inuit direkam untuk film dokumenter tahun 1932 Igloo, sementara film tahun 1974 The White Dawn merekam simulasi penusukan beruang terlatih untuk sebuah adegan. Dalam film The Big Show (1961), dua karakter dibunuh oleh seekor beruang kutub sirkus. Adegan tersebut direkam menggunakan pelatih hewan, bukan aktor. Dalam sastra modern, beruang kutub telah menjadi karakter baik dalam fiksi anak-anak, seperti Little Polar Bear and the Whales karya Hans Beer dan The Orphan and the Polar Bear karya Sakiasi Qaunaq, maupun novel fantasi, seperti seri His Dark Materials karya Philip Pullman. Di radio, Mel Blanc mengisi suara untuk Carmichael, beruang kutub peliharaan Jack Benny di The Jack Benny Program.[203] Beruang kutub ditampilkan pada bendera dan lambang, seperti lambang Greenland, dan di banyak iklan, terutama untuk Coca-Cola sejak 1922.[204]

Sebagai megafauna karismatik, beruang kutub telah digunakan untuk meningkatkan kesadaran akan bahaya perubahan iklim. Aurora si beruang kutub adalah boneka tali raksasa yang dibuat oleh Greenpeace untuk protes iklim.[205] World Wide Fund for Nature telah menjual boneka beruang kutub sebagai bagian dari kampanye "Arctic Home" (Rumah Arktik).[206] Foto-foto beruang kutub telah ditampilkan di majalah National Geographic dan Time, termasuk foto mereka yang berdiri di atas gumpalan es, sementara film dokumenter dan advokasi perubahan iklim An Inconvenient Truth (2006) menyertakan animasi beruang yang sedang berenang.[205] Produsen mobil Nissan menggunakan beruang kutub di salah satu iklannya, yang memeluk seorang pria karena menggunakan mobil listrik.[207] Untuk membuat pernyataan tentang pemanasan global, pada tahun 2009 patung es beruang kutub dengan kerangka perunggu di Kopenhagen sengaja dibiarkan mencair di bawah sinar matahari.[208]

Lihat pula

[sunting | sunting sumber]
  1. Phipps (1774) dan Pallas (1776) masing-masing.[13]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. 1 2 Ingólfsson, Ólafur; Wiig, Øystein (2009). "Late Pleistocene fossil find in Svalbard: the oldest remains of a polar bear (Ursus maritimus Phipps, 1744) ever discovered". Polar Research. 28 (3): 455–462. doi:10.3402/polar.v28i3.6131.
  2. 1 2 Wiig, Ø.; Amstrup, S.; Atwood, T.; Laidre, K.; Lunn, N.; Obbard, M.; Regehr, E.; Thiemann, G. (2015). "Ursus maritimus". 2015 e.T22823A14871490. doi:10.2305/IUCN.UK.2015-4.RLTS.T22823A14871490.en. ;
  3. 1 2 "Appendices". cites.org. Diakses tanggal 2022-01-14.
  4. 1 2 Phipps, John (1774). A voyage towards the North Pole undertaken by His Majesty's command, 1773. London: W. Bowyer and J. Nicols, for J. Nourse. hlm. 185. Diarsipkan dari asli tanggal 7 July 2017. Diakses tanggal 13 January 2018.
  5. Engelhard 2017, hlm. 13, 31, 68–69, 122, 253.
  6. Engelhard 2017, hlm. 48.
  7. Derocher 2012, hlm. 1.
  8. Fee 2019, hlm. 48.
  9. 1 2 Fee 2019, hlm. 41.
  10. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 DeMaster, Douglas P.; Stirling, Ian (8 May 1981). "Ursus maritimus". Mammalian Species (145): 1–7. doi:10.2307/3503828. JSTOR 3503828. OCLC 46381503.
  11. 1 2 Ellis 2009, hlm. 67.
  12. 1 2 3 4 Kurtén, B. (1964). "The evolution of the polar bear, Ursus maritimus Phipps". Acta Zoologica Fennica. 108: 1–30.
  13. 1 2 Wilson, Don E. (1976). "Cranial variation in polar bears". Bears: Their Biology and Management. 3: 447–453. doi:10.2307/3872793. ISSN 1936-0614. JSTOR 3872793.
  14. 1 2 Committee on Taxonomy (October 2014). "List of Marine Mammal Species & Subspecies". The Society for Marine Mammalogy. Diarsipkan dari asli tanggal 6 January 2015.
  15. 1 2 3 Harington, C. R. (2008). "The evolution of Arctic marine mammals". Ecological Applications. 18 (sp2): S23 – S40. Bibcode:2008EcoAp..18S..23H. doi:10.1890/06-0624.1. PMID 18494361.
  16. Derocher 2012, hlm. 37.
  17. Yu, Li; Li, Yi-Wei; Ryder, Oliver A.; Zhang, Ya-Ping (2007). "Analisis terhadap sekuens genom mitokondria lengkap meningkatkan resolusi filogenetik beruang (Ursidae), suatu famili mamalia yang mengalami spesiasi cepat". BMC Evolutionary Biology. 7 (198): 198. Bibcode:2007BMCEE...7..198Y. doi:10.1186/1471-2148-7-198. PMC 2151078. PMID 17956639.
  18. Servheen, C.; Herrero, S.; Peyton, B. (1999). Beruang: Survei Status dan Rencana Aksi Konservasi (PDF). IUCN. hlm. 26–30. ISBN 978-2-8317-0462-3. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 2022-10-09.
  19. Kumar, V.; Lammers, F.; Bidon, T.; Pfenninger, M.; Kolter, L.; nilsson, M. A.; Janke, A. (2017). "Sejarah evolusi beruang dicirikan oleh aliran gen antargatun". Scientific Reports. 7 46487. Bibcode:2017NatSR...746487K. doi:10.1038/srep46487. PMC 5395953. PMID 28422140.
  20. 1 2 3 Lindqvist, C.; Schuster, S. C.; Sun, Y.; Talbot, S. L.; Qi, J.; Ratan, A.; Tomsho, L. P.; Kasson, L.; Zeyl, E.; Aars, J.; Miller, W.; Ingolfsson, O.; Bachmann, L.; Wiig, O. (2010). "Complete mitochondrial genome of a Pleistocene jawbone unveils the origin of polar bear". Proceedings of the National Academy of Sciences. 107 (11): 5053–5057. Bibcode:2010PNAS..107.5053L. doi:10.1073/pnas.0914266107. PMC 2841953. PMID 20194737.
  21. Talbot, S. L.; Shields, G. F. (1996). "Phylogeography of brown bears (Ursus arctos) of Alaska and paraphyly within the Ursidae". Molecular Phylogenetics and Evolution. 5 (3): 477–494. Bibcode:1996MolPE...5..477T. doi:10.1006/mpev.1996.0044. PMID 8744762.
  22. Shields, G. F.; Adams, D.; Garner, G.; Labelle, M.; Pietsch, J.; Ramsay, M.; Schwartz, C.; Titus, K.; Williamson, S. (2000). "Phylogeography of mitochondrial DNA variation in brown bears and polar bears". Molecular Phylogenetics and Evolution. 15 (2): 19–26. Bibcode:2000MolPE..15..319S. doi:10.1006/mpev.1999.0730. PMID 10837161.
  23. 1 2 3 Hailer, F.; Kutschera, V. E.; Hallstrom, B. M.; Klassert, D.; Fain, S. R.; Leonard, J. A.; Arnason, U.; Janke, A. (2012). "Nuclear genomic sequences reveal that polar bears are an old and distinct bear lineage". Science. 336 (6079): 344–347. Bibcode:2012Sci...336..344H. doi:10.1126/science.1216424. hdl:10261/58578. PMID 22517859. S2CID 12671275.
  24. 1 2 3 Lan, T.; Leppälä, K.; Tomlin, C.; Talbot, S. L.; Sage, G. K.; Farley, S. D.; Shideler, R. T.; Bachmann, L.; Wiig, Ø; Albert, V. A.; Salojärvi, J.; Mailund, T.; Drautz-Moses, D. I.; Schuster, S. C.; Herrera-Estrella, L.; Lindqvist, C. (2022). "Insights into bear evolution from a Pleistocene polar bear genome". Proceedings of the National Academy of Sciences. 119 (14) e2200016119. Bibcode:2022PNAS..11900016L. doi:10.1073/pnas.2200016119. PMC 9214488. PMID 35666863.
  25. 1 2 Hassanin, Alexandre (2015). "The role of Pleistocene glaciations in shaping the evolution of polar and brown bears. Evidence from a critical review of mitochondrial and nuclear genome analyses" (PDF). Comptes Rendus Biologies. 338 (7): 494–501. doi:10.1016/j.crvi.2015.04.008. PMID 26026577.
  26. 1 2 Edwards, C. J.; Suchard, M. A.; Lemey, P.; Welch, J. J.; Barnes, I.; Fulton, T. L.; Barnett, R.; O'Connell, T.; Coxon, P.; Monaghan, N.; Valdiosera, C. E.; Lorenzen, E. D.; Willerslev, E.; Baryshnikov, G. F.; Rambaut, A.; Thomas, M. G.; Bradley, D. G.; Shapiro, B. (2011). "Ancient hybridization and an Irish origin for the modern polar bear matriline". Current Biology. 21 (15): 1251–1258. Bibcode:2011CBio...21.1251E. doi:10.1016/j.cub.2011.05.058. PMC 4677796. PMID 21737280.
  27. 1 2 Cahill, J. A.; Heintzman, P. D.; Harris, K.; Teasdale, M. D.; Kapp, M. D.; Soares, A. E. R.; Stirling, I.; Bradley, D.; Edward, C. J.; Graim, K.; Kisleika, A. A.; Malev, A. V.; Monaghan, N.; Green, R. E.; Shapiro, B. (2018). "Genomic evidence of widespread admixture from polar bears into brown bears during the last ice age". Molecular Biology and Evolution. 35 (5): 1120–1129. doi:10.1093/molbev/msy018. hdl:10037/19512. PMID 29471451.
  28. Wang, M-S; Murray, G. G. R.; Mann, D.; Groves, P.; Vershinina, A. O.; Supple, M. A.; Kapp, J. D.; Corbett-Detig, R.; Crump, S. E.; Stirling, I.; Laidre, K. L.; Kunz, M.; Dalén, L.; Green, R. E.; Shapiro, B. (2022). "A polar bear paleogenome reveals extensive ancient gene flow from polar bears into brown bears". Nature Ecology & Evolution. 6 (7): 936–944. Bibcode:2022NatEE...6..936W. doi:10.1038/s41559-022-01753-8. PMID 35711062. S2CID 249747066.
  29. Cahill, J. A.; Stirling, I.; Kistler, L.; Salamzade, R.; Ersmark, E.; Fulton, T. L.; Stiller, M.; Green, R. E.; Shapiro, B. (2015). "Genomic evidence of geographically widespread effect of gene flow from polar bears into brown bears". Molecular Phylogenetics and Evolution. 24 (6): 1205–1217. Bibcode:2015MolEc..24.1205C. doi:10.1111/mec.13038. PMC 4409089. PMID 25490862.
  30. Rink, D. C.; Specian, N. K.; Zhao, S.; Gibbons, J. G. (2019). "Polar bear evolution is marked by rapid changes in gene copy number in response to dietary shift". Proceedings of the National Academy of Sciences. 116 (27): 13446–13451. Bibcode:2019PNAS..11613446R. doi:10.1073/pnas.1901093116. PMC 6613075. PMID 31209046.
  31. 1 2 3 4 5 Derocher 2012, hlm. 10.
  32. Ellis 2009, hlm. 74.
  33. 1 2 Ellis 2009, hlm. 75.
  34. Ellis 2009, hlm. 80.
  35. Stirling 2011, hlm. 38.
  36. Wood, G. L. (1983). The Guinness Book of Animal Records. Guinness Superlatives. hlm. 28. ISBN 978-0-85112-235-9.
  37. 1 2 3 Slater, G. J.; Figueirido, B.; Louis, L.; Yang, P.; Van Valkenburgh, B. (2010). "Biomechanical consequences of rapid evolution in the polar bear lineage". PLOS ONE. 5 (11) e13870. Bibcode:2010PLoSO...513870S. doi:10.1371/journal.pone.0013870. PMC 2974639. PMID 21079768.
  38. 1 2 Derocher 2012, hlm. 17.
  39. 1 2 Figueirido, B.; Palmqvist, P.; Pérez-Claros, J. A. (2009). "Ecomorphological correlates of craniodental variation in bears and paleobiological implications for extinct taxa: an approach based on geometric morphometrics". Journal of Zoology. 277 (1): 70–80. doi:10.1111/j.1469-7998.2008.00511.x.
  40. Derocher 2012, hlm. 22.
  41. 1 2 3 Derocher 2012, hlm. 21.
  42. 1 2 Ellis 2009, hlm. 79.
  43. Derocher, Andrew E.; Andersen, Magnus; Wiig, Øystein (2005). "Sexual dimorphism of polar bears". Journal of Mammalogy. 86 (5): 895–901. doi:10.1644/1545-1542(2005)86[895:SDOPB]2.0.CO;2. JSTOR 4094434.
  44. Derocher 2012, hlm. 7–8.
  45. 1 2 3 4 Khattab, M. Q.; Tributsch, H. (2015). "Fibre-optical light scattering technology in polar bear hair: A re-evaluation and new results". Journal of Advanced Biotechnology and Bioengineering. 3 (2): 38–51. doi:10.12970/2311-1755.2015.03.02.2.
  46. Derocher 2012, hlm. 7.
  47. Ellis 2009, hlm. 65, 72.
  48. Carolan, J; Jakubec, M; Xaiver, N. F.; Motala, A. P.; Bifulco, E; Aars, J; Anderson, M; Schmidt, A. L.; Cabré, M. B.; Singh, V; Colavita, P. E.; Selfors, E. W.; Sacchi, M; O'Reilly, S; Halskau, Ø; Tiwari, M. K.; Hobbs, R. G.; Holst, B (2025). "Anti-icing properties of polar bear fur". Science Advances. 11 (5) eads7321. Bibcode:2025SciA...11S7321C. doi:10.1126/sciadv.ads7321. PMC 11777201. PMID 39879302.
  49. 1 2 Derocher 2012, hlm. 12.
  50. Best, R. C. (1982). "Thermoregulation in resting and active polar bears". Journal of Comparative Physiology A. 146: 63–73. doi:10.1007/BF00688718. S2CID 36351845.
  51. Tributsch, H.; Goslowsky, H.; Küppers, U.; Wetzel, H. (1990). "Light collection and solar sensing through the polar bear pelt". Solar Energy Materials. 21 (2–3): 219–236. doi:10.1016/0165-1633(90)90056-7.
  52. Derocher 2012, hlm. 14, 16, 18–19.
  53. Nachtigall, P. E.; Supin, A. Y.; Amundin, M.; Röken, B.; Møller, T.; Mooney, T. A.; Taylor, K. A.; Yuen, M. (2007). "Polar bear Ursus maritimus hearing measured with auditory evoked potentials". Journal of Experimental Biology. 210 (7): 1116–1122. Bibcode:2007JExpB.210.1116N. doi:10.1242/jeb.02734. PMID 17371910. S2CID 18046149.
  54. Derocher 2012, hlm. 14.
  55. Green, P. A.; Van Valkenburgh, B.; Pang, B.; Bird, B.; Rowe, T.; Curtis, A. (2012). "Respiratory and olfactory turbinal size in canid and arctoid carnivorans". Journal of Anatomy. 221 (6): 609–621. doi:10.1111/j.1469-7580.2012.01570.x. PMC 3512284. PMID 23035637.
  56. Derocher 2012, hlm. 26.
  57. 1 2 3 4 Status Report on the World's Polar Bear Subpopulations: July 2021 Status Report (PDF) (Report). IUCN/SSC Polar Bear Specialist Group. July 2021. Diakses tanggal 2023-07-12.
  58. Ellis 2009, hlm. 73, 140.
  59. Derocher 2012, hlm. 3.
  60. van Meurs, R.; Splettstoesser, J. F. (1993). "Letter to the editor: farthest north polar bear". Arctic. 56 (3): 309. doi:10.14430/arctic626.
  61. Ellis 2009, hlm. 122–124.
  62. 1 2 3 4 5 Derocher, Andrew E.; Lunn, Nicholas J.; Stirling, Ian (2004). "Polar bears in a warming climate". Integrative and Comparative Biology. 44 (2): 163–176. doi:10.1093/icb/44.2.163. PMID 21680496.
  63. 1 2 Peacock, E.; Sonsthagen, S. A.; Obbard, M. E.; Boltunov, A.; Regehr, E. V.; Ovsyanikov, N.; Aars, J.; Atkinson, S. N.; Sage, G. K.; Hope, A. G.; Zeyl, E.; Bachmann, L.; Ehrich, D.; Scribner, K. T.; Amstrup, S. C.; Belikov, S.; Born, E. W.; Derocher, A. E.; Stirling, I.; Taylor, M. K.; Wiig, Ø; Paetkau, D.; Talbot, S. L. (2015). "Implications of the circumpolar genetic structure of polar bears for their conservation in a rapidly warming Arctic". PLOS ONE. 10 (1) e112021. Bibcode:2015PLoSO..10k2021P. doi:10.1371/journal.pone.0112021. PMC 4285400. PMID 25562525.
  64. Laidre, K. L.; Supple, M. A.; Born, E. W.; Regehr, E. V.; Wiig, Ø; Ugarte, F.; Aars, J.; Dietz, R.; Sonne, C.; Hegelund, P.; Isaksen, C.; Akse, G. B.; Cohen, B.; Stern, H. L.; Moon, T.; Vollmers, C.; Corbett-Detig, R.; Paetkau, D.; Shapiro, B. (2022). "Glacial ice supports a distinct and undocumented polar bear subpopulation persisting in late 21st-century sea-ice conditions". Science. 376 (6599): 1333–1338. Bibcode:2022Sci...376.1333L. doi:10.1126/science.abk2793. PMID 35709290. S2CID 249746650.
  65. Stirling 2011, hlm. XIII.
  66. Stirling 2011, hlm. 9–10.
  67. Stirling, Ian (1997). "The importance of polynyas, ice edges, and leads to marine mammals and birds". Journal of Marine Systems. 10 (1–4): 9–21. Bibcode:1997JMS....10....9S. doi:10.1016/S0924-7963(96)00054-1.
  68. Stirling 2011, hlm. 9.
  69. Derocher 2012, hlm. 67–68.
  70. Rode, Karyn D.; Douglas, D. C.; Atwood, T. C.; Durner, G. M.; Wilson, R. R.; Pagano, A. M. (December 2022). "Observed and forecasted changes in land use by polar bears in the Beaufort and Chukchi Seas, 1985–2040". Global Ecology and Conservation. 40 e02319. Bibcode:2022GEcoC..4002319R. doi:10.1016/j.gecco.2022.e02319.
  71. Vongraven, D.; Aars, J.; Amstrup, S.; Atkinson, S. N.; Belikov, S.; Born, E. W.; DeBruyn, T. D.; Derocher, A. E.; Durner, G.; Gill, M.; Lunn, N.; Obbard, M. E.; Omelak, J.; Ovsyanikov, N.; Peacock, E.; Richardson, E.; Sahanatien, V.; Stirling, I.; Wiig, Ø (2012). "A circumpolar monitoring framework for polar bears". Ursus: Monograph Series Number 5. 23 (2): 1–66. Bibcode:2012Ursus..23....1V. doi:10.2192/URSUS-D-11-00026.1. S2CID 67812839.
  72. 1 2 Stirling 2011, hlm. 4.
  73. Auger-Méthé, M.; Lewis, M. A.; Derocher, A. E. (2016). "Home ranges in moving habitats: polar bears and sea ice". Ecography. 32 (1): 26–35. Bibcode:2016Ecogr..39...26A. doi:10.1111/ecog.01260.
  74. Ferguson, S. H.; Taylor, M. K.; Born, E. W.; Rosing-Asvid, A.; Messier, F. (2001). "Activity and movement patterns of polar bears inhabiting consolidated versus active pack ice". Arctic. 54 (1): 49–54. doi:10.14430/arctic763.
  75. Gasc, J-P; Abourachid, A (1997). "Kinematic analysis of the locomotion of the polar bear (Ursus maritimus, Phipps, 1774) in natural and experimental conditions". Netherlands Journal of Zoology. 48 (2): 145–167. doi:10.1163/156854298X00156.
  76. 1 2 Brook, R. K.; Richardson, E. S. (2002). "Observations of polar bear predatory behaviour toward caribou". Arctic. 55 (2): 193–196. doi:10.14430/arctic703.
  77. 1 2 Stirling 2011, hlm. 140.
  78. Ellis 2009, hlm. 88.
  79. Pagano, A. M.; Durner, G M.; Amstrup, S. C.; Simac, K. S.; York, G. S. (2012). "Long-distance swimming by polar bears (Ursus maritimus) of the southern Beaufort Sea during years of extensive open water". Canadian Journal of Zoology. 90 (5): 663–676. Bibcode:2012CaJZ...90..663P. doi:10.1139/Z2012-033.
  80. Stirling, Ian; van Meurs, Rinie (2015). "Longest recorded underwater dive by a polar bear". Polar Biology. 38 (8): 1301–1304. Bibcode:2015PoBio..38.1301S. doi:10.1007/s00300-015-1684-1. S2CID 6385494.
  81. Derocher 2012, hlm. 28.
  82. Ware, J. V.; Rode, K. D.; Robbins, C. T.; Leise, T.; Weil, C. R.; Jansen, H. T. (2020). "The clock keeps ticking: circadian rhythms of free-ranging polar bears". Journal of Biological Rhythms. 35 (2): 180–194. Bibcode:2020JBioR..35..180W. doi:10.1177/0748730419900877. PMID 31975640. S2CID 210882454.
  83. Stirling, I. (1974). "Midsummer observations on the behavior of wild polar bears (Ursus maritimus)". Canadian Journal of Zoology. 52 (9): 1191–1198. Bibcode:1974CaJZ...52.1191S. doi:10.1139/z74-157.
  84. 1 2 Stirling 2011, hlm. 141.
  85. Stirling 2011, hlm. 140–141.
  86. 1 2 Derocher 2012, hlm. 68.
  87. 1 2 Stirling 2011, hlm. 105.
  88. 1 2 Derocher, A. E.; Stirling, I. (1990). "Observations of aggregating behaviour in adult male polar bears (Ursus maritimus)". Canadian Journal of Zoology. 68 (7): 1390–1394. Bibcode:1990CaJZ...68.1390D. doi:10.1139/z90-207.
  89. 1 2 Ferguson, S. H.; Taylor, M. K.; Messier, F. (1997). "Space use by polar bears in and around Auyuittuq National Park, Northwest Territories, during the ice-free period". Canadian Journal of Zoology. 75 (10): 1585–1594. Bibcode:1997CaJZ...75.1585F. doi:10.1139/z97-785.
  90. 1 2 3 Ovsyanikov, N. G. (2005). "Behavior of polar bears in coastal congregations" (PDF). Zoologicheskiĭ Zhurnal. 84 (1): 94–103.
  91. Derocher 2012, hlm. 30.
  92. 1 2 Wemmer, C.; Von Ebers, M.; Scow, K. (1976). "An analysis of the chuffing vocalization in the polar bear (Ursus maritimus)". Journal of Zoology. 180 (3): 425–439. doi:10.1111/j.1469-7998.1976.tb04686.x.
  93. 1 2 Derocher 2012, hlm. 31.
  94. Derocher, A. E.; Van Parijs, S. M.; Wiig, Ø (2010). "Nursing vocalization of a polar bear cub". Ursus. 21 (2): 189–191. doi:10.2192/09SC025.1. S2CID 55599722.
  95. Owen, M. A.; Swaisgood, R. R.; Slocomb, C.; Amstrup, S. C.; Durner, G. M.; Simac, K.; Pessier, A. P. (2014). "An experimental investigation of chemical communication in the polar bear". Journal of Zoology. 295 (1): 36–43. doi:10.1111/jzo.12181.
  96. 1 2 Sacco, T.; Van Valkenburgh, B. (2004). "Ecomorphological indicators of feeding behaviour in the bears (Carnivora: Ursidae)". Journal of Zoology. 263 (1): 41–54. doi:10.1017/S0952836904004856.
  97. Stirling 2011, hlm. 155.
  98. Derocher 2012, hlm. 69.
  99. Stirling 2011, hlm. 155–156.
  100. Derocher 2012, hlm. 73, 76–77.
  101. 1 2 Stirling 2011, hlm. 161.
  102. Derocher 2012, hlm. 80–88.
  103. Ramsay, M. A.; Hobson, K. A. (May 1991). "Polar bears make little use of terrestrial food webs: evidence from stable-carbon isotope analysis". Oecologia. 86 (4): 598–600. Bibcode:1991Oecol..86..598R. doi:10.1007/BF00318328. PMID 28313343. S2CID 32221744.
  104. Derocher 2012, hlm. 88–89.
  105. Russell, Richard H. (1975). "The food habits of polar bears of James Bay and Southwest Hudson Bay in summer and autumn". Arctic. 28 (2): 117–129. doi:10.14430/arctic2823.
  106. Ellis 2009, hlm. 89.
  107. 1 2 Taylor, M.; Larsen, T.; Schweinsburg, R. E. (1985). "Observations of intraspecific aggression and cannibalism in polar bears (Ursus maritimus)". Arctic. 38 (4): 303–309. doi:10.14430/arctic2149.
  108. Stirling 2011, hlm. 170–171.
  109. Derocher 2012, hlm. 127–129, 131.
  110. Ellis 2009, hlm. 91.
  111. Stirling, I.; Laidre, K. L.; Born, E. W. (2021). "Do wild polar bears (Ursus maritimus) use tools when hunting walruses (Odobenus rosmarus)?". Arctic. 74 (2): 175–187. doi:10.14430/arctic72532. S2CID 236227117.
  112. Derocher 2012, hlm. 80–83.
  113. Derocher 2012, hlm. 84–85, 132.
  114. Ellis 2009, hlm. 112.
  115. Stirling, I.; Laidre, K. L.; Derocher, A. E.; Van Meurs, R. (2020). "The ecological and behavioral significance of short-term food caching in polar bears (Ursus maritimus)". Arctic Science. 6 (1): 41–52. doi:10.1139/as-2019-0008. S2CID 209575444.
  116. Stirling 2011, hlm. 191–193.
  117. Miller, S.; Wilder, J.; Wilson, R. R. (2015). "Polar bear–grizzly bear interactions during the autumn open-water period in Alaska". Journal of Mammalogy. 96 (6): 1317–1325. doi:10.1093/jmammal/gyv140.
  118. Lunn, N. J.; Stirling, I. (1985). "The significance of supplemental food to polar bears during the ice-free period of Hudson Bay". Canadian Journal of Zoology. 63 (10): 2291–2297. Bibcode:1985CaJZ...63.2291L. doi:10.1139/z85-340.
  119. 1 2 Ramsay, M. A.; Stirling, I. (1986). "On the mating system of polar bears". Canadian Journal of Zoology. 64 (10): 2142–2151. Bibcode:1986CaJZ...64.2142R. doi:10.1139/z86-329.
  120. 1 2 3 Derocher, A. E.; Anderson, M.; Wiig, Ø; Aars, J. (2010). "Sexual dimorphism and the mating ecology of polar bears (Ursus maritimus) at Svalbard (Ursus maritimus) at Svalbard". Behavioral Ecology and Sociobiology. 64 (6): 939–946. doi:10.1007/s00265-010-0909-0. S2CID 36614970.
  121. Laidre, K. L.; Born, E. W.; Gurarie, E.; Wiig, Ø; Dietz, R.; Stern, H. (2013). "Females roam while males patrol: divergence in breeding season movements of pack-ice polar bears (Ursus maritimus)". Proceedings of the Royal Society B: Biological Sciences. 280 (1752) 20122371. doi:10.1098/rspb.2012.2371. PMC 3574305. PMID 23222446.
  122. 1 2 Zeyl, E.; Aars, J.; Ehrich, D.; Bachmann, L.; Wiig, Ø (2009). "The mating system of polar bears: a genetic approach". Canadian Journal of Zoology. 87 (12): 1195–1209. Bibcode:2009CaJZ...87.1195Z. doi:10.1139/Z09-107.
  123. Derocher 2012, hlm. 141, 145–147.
  124. Derocher 2012, hlm. 145–147.
  125. Stirling 2011, hlm. 112, 115, 120.
  126. Ellis 2009, hlm. 85.
  127. Derocher 2012, hlm. 28, 155.
  128. Stirling 2011, hlm. 124.
  129. Derocher 2012, hlm. 171.
  130. Stirling 2011, hlm. 124–125, 131.
  131. Ellis 2009, hlm. 84.
  132. Stirling 2011, hlm. 126–127.
  133. 1 2 Stirling 2011, hlm. 128.
  134. Derocher 2012, hlm. 173, 184.
  135. Stirling 2011, hlm. 186.
  136. 1 2 Derocher 2012, hlm. 184.
  137. Derocher 2012, hlm. 181.
  138. Stirling 2011, hlm. 128–129.
  139. Derocher 2012, hlm. 185.
  140. Stirling 2011, hlm. 204–207.
  141. Richardson, E. S.; Andriashek, D. (2006). "Wolf (Canis lupus) predation of a polar bear (Ursus maritimus) cub on the sea ice off northwestern Banks Island, Northwest Territories, Canada". Arctic. 59 (3): 322–324. doi:10.14430/arctic318.
  142. Stirling 2011, hlm. 212.
  143. Stirling 2011, hlm. 207–208.
  144. Larsen, Thor; Kjos-Hanssen, Bjørn (1983). "Trichinella sp. in polar bears from Svalbard, in relation to hide length and age". Polar Research. 1 (1): 89–96. Bibcode:1983PolRe...1...89L. doi:10.1111/j.1751-8369.1983.tb00734.x (tidak aktif 21 August 2025). S2CID 208525641. Pemeliharaan CS1: DOI nonaktif per Agustus 2025 (link)
  145. Durner, George M.; Douglas, David C; Nielson, Ryan M; Amstrup, Steven C; McDonald, Trent L (2007). Predicting the Future Distribution of Polar Bear Habitat in the Polar Basin from Resource Selection Functions Applied to 21st Century General Circulation Model Projections of Sea Ice (PDF) (Report). USGS. Diakses tanggal 20 September 2023.
  146. Amstrup, S. C.; Marcot, B. G.; Douglas, D. C. (2008). "A Bayesian network modeling approach to forecasting the 21st century worldwide status of polar bears". Geophysical Monograph Series. 180: 213–268. Bibcode:2008GMS...180..213A. doi:10.1029/180GM14. ISBN 978-1-118-66647-0.
  147. Regehr, E. V.; Laidre, K. L.; Akçakaya, H. R.; Amstrup, S. C.; Atwood, T. C.; Lunn, N. J.; Obbard, M.; Stern, H.; Thiemann, G. W.; Wiig, Ø (2016). "Conservation status of polar bears (Ursus maritimus) in relation to projected sea-ice declines". Biology Letters. 12 (12) 20160556. Bibcode:2016BiLet..12....1R. doi:10.1098/rsbl.2016.0556. PMC 5206583. PMID 27928000.
  148. 1 2 3 4 5 Stirling, I.; Derocher, A. E. (2012). "Effects of climate warming on polar bears: a review of the evidence". Global Change Biology. 18 (9): 2694–2706. Bibcode:2012GCBio..18.2694S. doi:10.1111/j.1365-2486.2012.02753.x. PMID 24501049. S2CID 205294317.
  149. Molnár, P. K.; Bitz, C. M.; Holland, M. M.; Kay, J. E.; Penk, S. R.; Amstrup, S. C. (2020). "Fasting season length sets temporal limits for global polar bear persistence". Nature Climate Change. 10 (8): 732–738. Bibcode:2020NatCC..10..732M. doi:10.1038/s41558-020-0818-9.
  150. Wilson, R. R.; Anderson, E. (2025). "Model sensitivity limits attribution of greenhouse gas emissions to polar bear demographic rates". Scientific Reports. 15 (1) 4975. Bibcode:2025NatSR..15.4975W. doi:10.1038/s41598-025-89218-3. PMC 11811060. PMID 39929952.
  151. Pagano, A. M.; Rode, K. D.; Lunn, N. J.; McGeachy, D; Atkinson, S. N.; Farley, S. D.; Erlenbach, J. A.; Robbins, C. T. (2024). "Polar bear energetic and behavioral strategies on land with implications for surviving the ice-free period". Nature Communications. 15 (1): 947. Bibcode:2024NatCo..15..947P. doi:10.1038/s41467-023-44682-1. PMC 10864307. PMID 38351211.
  152. Boonstra, R.; Bodner, K.; Bosson, C.; Delehanty, B.; Richardson, E. S.; Lunn, N. J.; Derocher, A. E.; Molnár, P. K. (2020). "The stress of Arctic warming on polar bears". Global Change Biology. 26 (8): 4197–4214. Bibcode:2020GCBio..26.4197B. doi:10.1111/gcb.15142. PMID 32364624. S2CID 218492928.
  153. Wilson, R. R.; Horne, J. S.; Rode, K. D.; Regher, E. V.; Durner, G. M. (2014). "Identifying polar bear resource selection patterns to inform offshore development in a dynamic and changing Arctic". Ecosphere. 5 (10): 1–24. Bibcode:2014Ecosp...5..136W. doi:10.1890/ES14-00193.1.
  154. Wilson, R. R.; Perham, C.; French-McCay, D. P.; Balouskus, R. (2018). "Potential impacts of offshore oil spills on polar bears in the Chukchi Sea". Environmental Pollution. 235: 652–659. Bibcode:2018EPoll.235..652W. doi:10.1016/j.envpol.2017.12.057. PMID 29339335.
  155. Routti, H.; Atwood, T.; Bechshoft, T.; Boltunov, A.; Ciesielski, T. M.; Desforges, J-P; Dietz, R.; Gabrielsen, G. W.; Jenssen, B. M.; Letcher, R. J.; McKinney, M. A.; Morris, A. D.; Rigét, F. F.; Sonne, C.; Styrishave, B.; Tartu, S. (2019). "State of knowledge on current exposure, fate and potential health effects of contaminants in polar bears from the circumpolar Arctic". Science of the Total Environment. 664: 1063–1083. Bibcode:2019ScTEn.664.1063R. doi:10.1016/j.scitotenv.2019.02.030. PMID 30901781. S2CID 85457329.
  156. "Polar Bear Interaction Guidelines". U.S. Fish & Wildlife Service. Diakses tanggal 2023-07-12.
  157. "COSEWIC Assessment and Status Report on the Polar Bear (Ursus maritimus) in Canada 2018". Government of Canada. 25 November 2019. Diakses tanggal 2023-07-12.
  158. 1 2 Prestrud, P.; Stirling, I. (1994). "The International Polar Bear Agreement and the current status of polar bear conservation". Aquatic Mammals. 20 (3): 113–124.
  159. "How CITES works". CITES.org. Diakses tanggal 2023-07-29.
  160. Fee 2019, hlm. 25–26.
  161. Engelhard 2017, hlm. 30.
  162. Ellis 2009, hlm. 13.
  163. Engelhard 2017, hlm. 53.
  164. Engelhard 2017, hlm. 53-66.
  165. Ellis 2009, hlm. 14–23.
  166. Engelhard 2017, hlm. 49, 51–52.
  167. Engelhard 2017, hlm. 50.
  168. Engelhard 2017, hlm. 122–124, 130, 133.
  169. Fee 2019, hlm. 28.
  170. Engelhard 2017, hlm. 128.
  171. Engelhard 2017, hlm. 127–128, 132.
  172. Engelhard 2017, hlm. 34–35.
  173. Stirling 2011, hlm. 246–249.
  174. 1 2 Engelhard 2017, hlm. 141.
  175. Derocher 2012, hlm. 27.
  176. Fee 2019, hlm. 32, 131–133.
  177. 1 2 Heemskerk, S.; Johnson, A. C.; Hedman, D.; Trim, V.; Lunn, N. J.; McGeachy, D.; Derocher, A. E. (2020). "Temporal dynamics of human-polar bear conflicts in Churchill, Manitoba". Global Ecology and Conservation. 24 e01320. Bibcode:2020GEcoC..2401320H. doi:10.1016/j.gecco.2020.e01320. S2CID 225123070.
  178. Clark, D. A.; van Beest, F. M.; Brook, R. K. (2012). "Polar Bear-human conflicts: state of knowledge and research needs". Canadian Wildlife Biology and Management. 1 (1): 21–29.
  179. Raypole, Crystal (13 May 2023). "Inside Canada's polar bear 'jail' where bears go without food and are kept behind bars — but it's not what you might think". Business Insider. Diakses tanggal 3 September 2023.
  180. Stanley-Becker, Isaac (11 February 2019). "A 'mass invasion' of polar bears is terrorizing an island town. Climate change is to blame". The Washington Post. washingtonpost. Diakses tanggal 14 February 2019.
  181. Wilder, J. M.; Vongraven, D.; Atwood, T.; Hansen, B.; Jessen, A.; Kochnev, A.; York, G.; Vallender, R.; Hedman, D.; Gibbons, M. (2017). "Polar bear attacks on humans: implications of a changing climate". Wildlife Society Bulletin. 41 (3): 537−547. Bibcode:2017WSBu...41..537W. doi:10.1002/wsb.783.
  182. Engelhard 2017, hlm. 96.
  183. Robeck, T. R.; O'Brien, J. K.; Obell, D. K. (2009). "Captive Breeding". Dalam Perrin, William F.; Wursig, Bernd; Thewissen, J. G. M. 'Hans' (ed.). Encyclopedia of Marine Mammals. Academic Press. hlm. 178. ISBN 978-0-08-091993-5.
  184. Fee 2019, hlm. 32, 103, 105.
  185. Engelhard 2017, hlm. 95.
  186. Fee 2019, hlm. 103, 108.
  187. Engelhard 2017, hlm. xii, 96–97.
  188. Engelhard 2017, hlm. 7, 101, 105–106.
  189. Fee 2019, hlm. 118.
  190. Fee 2019, hlm. 120–121.
  191. Curry, E; Safay, S; Meyerson, R; Roth, T. L. (2015). "Reproductive trends of captive polar bears in North American zoos: a historical analysis". Journal of Zoo and Aquarium Research. 3 (3): 99–106. doi:10.19227/jzar.v3i3.133.
  192. Engelhard 2017, hlm. 109–111, 116–119.
  193. Engelhard 2017, hlm. 21–24, 105.
  194. Fee 2019, hlm. 123–124, 145.
  195. Shepherdson, D.; Lewis, K. D.; Carlstead, K.; Bauman, J.; Perrin, N. (2013). "Individual and environmental factors associated with stereotypic behavior and fecal glucocorticoid metabolite levels in zoo housed polar bears". Applied Animal Behaviour Science. 147 (3–4): 268–277. doi:10.1016/j.applanim.2013.01.001.
  196. Engelhard 2017, hlm. 24.
  197. Canino, W.; Powell, D. (2010). "Formal behavioral evaluation of enrichment programs on a zookeeper's schedule: a case study with a polar bear (Ursus maritimus) at the Bronx Zoo". Zoo Biology. 29 (4): 503–508. doi:10.1002/zoo.20247. PMID 19373879.
  198. Lewin, R. A.; Farnsworth, P. A.; Yamanaka, G. (1981). "The algae of green polar bears". Phycologia. 20 (3): 303–314. Bibcode:1981Phyco..20..303L. doi:10.2216/i0031-8884-20-3-303.1.
  199. Engelhard 2017, hlm. 152–153, 156–162.
  200. Fee 2019, hlm. 32.
  201. Engelhard 2017, hlm. 165–166, 181–182.
  202. Fee 2019, hlm. 98.
  203. Engelhard 2017, hlm. xi–xii, 36, 82–83, 100, 116, 184, 215.
  204. Fee 2019, hlm. 32, 133–135.
  205. 1 2 Born, D. (2019). "Bearing witness? Polar bears as icons for climate change communication in National Geographic". Environmental Communication. 13 (5): 649–663. Bibcode:2019Ecomm..13..649B. doi:10.1080/17524032.2018.1435557. S2CID 150289699.
  206. Dunaway, F (2009). "Seeing global warming: contemporary art and the fate of the planet". Environmental History. 14 (1): 9–31. doi:10.1093/envhis/14.1.9.
  207. Martinez, D. E. (2014). "Polar bears, Inuit names, and climate citizenship". Dalam Crow, Deserai A.; Boykoff, Maxwell T (ed.). Culture, Politics and Climate Change In 2009. Taylor & Francis. hlm. 46. ISBN 978-1-135-10334-7.
  208. Engelhard 2017, hlm. xiii.

Bibliografi

[sunting | sunting sumber]

Pranala luar

[sunting | sunting sumber]