Banyuwangi, Bandongan, Magelang

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Banyuwangi
Negara Indonesia
ProvinsiJawa Tengah
KabupatenMagelang
KecamatanBandongan
Kodepos
56151
Kode Kemendagri33.08.14.2008 Edit the value on Wikidata
Luas4,038 km²
Jumlah penduduk6.663 jiwa (Tahun 2016)
Kepadatan... jiwa/km²

Banyuwangi adalah desa di kecamatan Bandongan, Magelang, Jawa Tengah, Indonesia.

Batas wilayah[sunting | sunting sumber]

Batas-batas wilayahnya adalah sebagai berikut:

Utara Desa Trasan
Timur Sungai Progo, Kota Magelang
Selatan Desa Salamkanci dan Desa Kedungsari
Barat Desa Bandongan dan Desa Sukodadi

Dusun[sunting | sunting sumber]

  1. Candi Gunung
  2. Candi Jurang
  3. Cepit Wetan
  4. Cepit Kulon
  5. Dekoro
  6. Gemulung
  7. Jagalan
  8. Kayu Ares
  9. Kembang Lampir
  10. Mendak
  11. Ngiwon
  12. Plembangan
  13. Sambung
  14. Sangubanyu
  15. Wonorejo

Pemerintahan[sunting | sunting sumber]

Kepala desa pertama Banyuwangi dijabat oleh Bapak KH. Masduki (alm). Tampuk pemerintahan berikutnya dijabat Bapak KH M. Tadjuddin (2 periode), Bapak Suwondo (1 periode) & sekarang oleh Bapak HM. Djahuri.

Struktur pemerintahan:

  • Kepala Desa: ASNAWI
  • Sekretaris desa ; Abdul Cholik
    • Kaur umum & perencanaan: Zainal Rahmawati SE
    • Kaur keuangan: Asropi
  • Kasi pemerintahan: Muh Zaenuri
  • Kasi kesra: M. Wachid Zen
  • Kasi pelayanan: Sholikun
  • Kepala dusun:
    • Cepit & Jagalan: Muhammad Nur
    • Dekoro & Mendak Selatan: Muhson Budi Raharjo
    • Wonorejo: Asmui
    • Kembang Lampir, Candi, Karang Sambung & Plembangan: Zainal Abidin
    • Ngiwon & Sangubanyu Selatan: Anwar Imam Mubarok
    • Gemulung: Hadi Susanto
    • Mendak Utara & Kayu ares: Masruroh
    • Sangubanyu Utara: Sumpena

Pendidikan[sunting | sunting sumber]

Di Banyuwangi terdapat 2 institusi pendidikan informal berupa Pondok pesantren Sabilul Muhsinin putra & putri di dusun Sangubanyu yang diasuh oleh Bapak Kyai Mudzakir & bapak Kyai Isa, sementara di dusun Gemulung terdapat pondok pesantren Al Idris yang diasuh oleh bapak Kyai Abu Dzarin masing-masing mengampu ratusan santri.

Potensi[sunting | sunting sumber]

Pertanian[sunting | sunting sumber]

Tanaman pertanian utama di Banyuwangi berupa padi sawah, mana berasnya terkenal sebagai Beras Bandongan. Selain itu juga penghasil singkong, pisang, cabe, kacang panjang, terung. dll. Hutan rakyat yang ada menghasilkan kayu albasia, mahoni, nangka, bambu-bambuan, kelapa dan lain-lain selain sebagai wahana konservasi lingkungan (sumber mata air & pencegahan erosi). Beberapa sungai yang ada adalah Kali Progo, Sibangkong, Kalinongko, Tanjung biru, Tape, Silumut, Jambreng, Cino, Kathek, Kanci.

Industri[sunting | sunting sumber]

Sejak zaman dahulu, Banyuwangi terkenal sebagai sentra produksi kerupuk rambak sapi yang terdapat di dusun Dekoro, juga sentra kerajinan sangkar burung di dusun Kembang Lampir. Sedangkan sentra peternak domba & kambing berada di dusun Ngiwon. Sentra pengolah Kelembak/ klembak yang merupakan tanaman endemik kabupaten Magelang & menjadi bahan baku rokok klembak kemenyan berada di dusun Wonorejo.

Di Sangubanyu yang jumlah penduduknya paling banyak bisa ditemui sentra tukang kayu & kuliner seperti abon ayam, manthong/photil singkong fermentasi, kue jajan pasar juga produsen tempe tradisional bungkus daun pisang & andong. Di dusun ini juga terdapat penangkaran burung & tanaman hias puring, aglaonema, anthurium, bonsai, anggrek dan lain-lain juga bibit tanaman buah. Ada juga perajin biji-biji alam yang unik dari pohon jenitri & palem-paleman. Selain itu ada workshop pembuatan Aquarium, usaha pembibitan pohon Gaharu Grynops Verstegi dan Malacencis @RejekiAgroforesh dan pemeliharaan kambing.

Pariwisata[sunting | sunting sumber]

Suasana pedesaan di Banyuwangi yang asri dan pemandangan alamnya dengan latar belakang gunung Merapi, Merbabu, Ngandong, Sumbing dan bukit Tidar merupakan potensi pariwisata yang luar biasa. Selain itu terdapat pedhotan (danau tapal kuda / oxbow lake) di kali Progo, ada Air terjun Ngarengan dan Air terjun Kedung Jembar.

Kemudian ada Top selvie Kembang Lampir berada di dusun Kembang Lampir yang berada di antara jalan raya dusun Wonolelo desa Bandongan dan dusun Salam desa Salam Kanci. Di sebelah kiri & kanan jalan masuk dusun terdapat barisan pohon resede / gliricideae / gamal dengan pokok batang berukuran besar & kekar berumur tua yang tajuknya telah menyatu sehingga membentuk terowongan hidup sepanjang ratusan meter. Pada bulan tertentu dedaunnya tumbuh subur & lebat sehingga mengesankan keteduhan dalam balutan sepoi-sepoi angin persawahan di sekelilingnya. Terkadang bunga-bunganya yang putih keunguan bermekaran serempak mengantarkan keceriaan & pada bulan lainnya daunnya berguguran menonjolkan kekekarannya

Di sebelah selatan dusun Kembang Lampir terdapat kali Kanci yang bisa digunakan sebagai wahana tubbing. Di kali ini juga terdapat batu besar bergambar tokoh pewayangan yang indah. Beberapa warga menuturkan bahwa di dusun ini pada zaman dahulu kala hiduplah seseorang disebut sebagai nyai lampir yang ramah dan murah senyum. Wanita cantik ini adalah seorang penari yang tersohor dan mempunyai 5 orang anak yang kesemuanya perempuan berwajah cantik. Maka dari itulah dinamakan dusun Kembang Lampir.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Di banyak lokasi terpisah di desa ini ditemukan situs-situs batu yang diduga merupakan peninggalan Ratu Sima dari Kerajaan Kalingga yang sekarang sudah mulai dikumpulkan di sebuah tempat khusus demi menjaga keamanan dan kelestariannya, bahkan juga terdapat patung sapi yang sudah dibawa ke dinas purbakala Kabupaten Magelang sejak tahun 80-an.

Desa Banyuwangi juga mempunyai beberapa potensi wisata sejarah seperti di kebun Suwuni dusun Kayu Ares terdapat petilasan Sentot Ali Basah Prawirodirjo yang merupakan panglima dari Pangeran Diponegoro. Konon lokasi ini dahulu menjadi tempat persembunyian pengikut Pangeran Diponegoro karena dari tempat ini mereka dengan leluasa bisa mengawasi gerak-gerik pasukan kolonial Belanda yang bermarkas di kantor eks Karesidenan Kedoe Soerakarta di desa Magelang tanpa terlihat musuh apabila mereka memanjat pohon, Di tempat ini juga terdapat beberapa makam yang diduga sebagai pengikut Sang Pangeran.

Wisata sejarah lainnya ada di dusun Gemulung yaitu makam Nyai Gemuling. Nyai Gemuling yang oleh warga sekitar dipercaya sebagai leluhur warga dusun digambarkan sebagai sesosok wanita yang cantik jelita dengan gerakan yang lemah gemulai.