Bagus Rangin

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari

Selain KH.Abdul Halim (Tokoh pendiri organisasi masyarakat PUI, dan juga seorang Pahlawan Nasional), ada satu tokoh yang kharismatik dari Majalengka, utamanya daerah utara Majalengka yaitu Bagus Rangin. Ayah dari Bagus Rangin adalah Buyut Sentayem alias Buyut Tayem. Mempunyai 3 saudara lelaki, kakaknya bernama Buyut Bangin, sedangkan adiknya adalah buyut Salimar dan Bagus Serit. Siapa Bagus Rangin ini, dan mengapa ia disebut kharismatik ?

Bagus Rangin bukanlah seorang Raja, ia hanya seorang rakyat biasa namun memiliki semangat ksatria untuk melawan kekejaman dan kediktatoran penguasa, baik itu pemerintah kolonial Hindia Belanda maupun penguasa lokal di Cirebon. Dalam setiap kesempatan Ia berdiri dan mengurai khotbah pembangkitan. Sebuah khotbah yang panjang, yang menggugah kesadaran makna hidup dan kehidupan rakyat setempat yang didera nestapa. Juga khotbah politis yang menyoroti praktek-praktek tak benar penguasa lokal Cirebon. “Pangeran (Allah) telah menjadikan dunia, sebagai tempat kehidupan umat. Tapi oleh Sultan malah dijual kepada Cina dan Kompeni, yang tak pernah merasa kenyang” katanya bergelora. Bagus Rangin belum berhenti. Masih banyak pesan suci yang dipompakan untuk membuka mata hati, yang sebelumnya seakan sudah mati harapan. Dia pun berhasil. Warga tersadar akan kelemahannya selama ini.

Pada waktu itu, beberapa pengusaha dari etnis Cina memang ikut menyengsarakan masyarakat. Salah satu caranya, bersama Belanda, mereka menyewa tanah-tanah dari Sultan Cirebon. Padahal tanah-tanah itu, seperti kawasan utara Majalengka, juga termasuk wilayah Lohbener, Dermayu, Loyang, dan sekitarnya merupakan sumber kehidupan rakyat.

Walhasil, ketiadaan sumber kehidupan telah memunculkan kelaparan. Sampai-sampai rakyat terpaksa harus makan dedaunan dan rumput. Akibat lebih lanjut, banyak diantara masyarakat berguling-guling di tanah sembari memegangi perut. Semua merintih kesakitan. Di luar itu, sulitnya kehidupan telah membuat sebagian orang menjual diri (hal ini terus berkelanjutan mungkin hingga sekarang juga, seperti dilukiskan dalam tembang pantura “remang-remang”) .

Dengan kenyataan itu, masuk akal jika rakyat begitu benci dengan Babah –juga Belanda–setelah mendengarkan khotbah pencerahan dari Bagus Rangin. Simaklah kata-kata seperti Babah mah bakal dicacag / Disiksik diipis-ipis / Dicacag diwalang-walang / Getihna arek diuyup / Diburakeun ka bangawan / Sugan lauk baranahan / Tulangna diawur-awur / Leuweung jati sugan subur / Polona arek dicokrok / Diburakeun ka galengan / Rawinian sugan montok. Di sini, antara lain, terungkap tekad bahwa tubuh Babah yang tertangkap bakal diiris-iris, dihancurkan, dan sebagainya.

Kenyataan sejarah tetap tak layak diubah. Kalaupun sejarah ini kembali dituliskan seperti dalam catatan ini, tentu tak ada maksud sama sekali untuk membangkitkan perasaan yang sama, seperti di hati rakyat wilayah Kasultanan Cirebon di masa Bagus Rangin hidup. Selain zaman sudah berubah–(kini lebih terbuka)– rasa kekhawatiran bakal munculnya kebencian berlebihan kepada etnis Cina diyakini tak akan terjadi. Cara berpikir orang sekarang sudah jauh lebih dewasa. Pada masa sekarang kekhawatiran seperti itu tak perlu ada.

Setelah rakyat Karaseidenan Cirebon terbangun kesadarannya, mereka bergerak bersama Bagus Rangin. Semua ikhlas berjuang karena sudah disusupi semangat: Mending gugur/Manan ngabdi ka kumpeni/Mending tumpur/Manan hirup dijajah babah.

Pertempuran yang terjadi antara pasukan Bagus Rangin dan pasukan kolonial Hindia Belanda pertama kalinya berlangsung pada 25 Februari 1806, hal ini sesuai dengan resolusi Pemerintah Kolonial di Hindia Belanda yang menyebutkan ada kerusuhan sosial di daerah Cirebon pada tanggal tersebut. Daerah-daerah lain yang membantu Bagus Rangin adalah berasal dari daerah Jatitujuh, Rajagaluh, Bangawan Wetan, Sumber, Bantarjati, Cikao, Kandanghaur, Kuningan, Linggarjati, Luragung, Maja, Sumedang, Karawang, dan Subang.

Gubernur Jenderal Hindia Belanda A.J. Wiese menugaskan kepada Nicolas Engelhaard untuk meminta bantuan agar para bupati mengirimkan pasukannya untuk melawan Bagus Rangin. Namun tidak semua Bupati menaati perintah Gubernur Jenderal Hindia Belanda tersebut. Akibat membangkang pada perintah kolonial Hindia Belanda, maka Sultan Kanoman Cirebon Pangeran Suriawijaya dibuang oleh Belanda ke Ambon, dan dipecat dari jabatan Sultan pada tanggal 2 Maret 1810 oleh Gubernur Jenderal Daendells.

Perang yang terjadi di Bantarjati dari tanggal 16 sampai 29 Februari 1812 adalah perang yang terakhir dan berakhir dengan kekalahan di pihak Bagus Rangin. Akhirnya pada tanggal 27 Juni 1812 Bagus Rangin dapat tertangkap oleh pasukan Belanda di daerah Panongan, Jatitujuh. Pada tanggal 12 Juli 1812 Bagus Rangin dijatuhi hukuman mati dengan cara dipenggal kepalanya di daerah Karangsambung, tepian sungai Cimanuk.

Bagus Rangin pada akhirnya gugur, namun semangat pembelaan terhadap rakyat yang ditindas patut dihargai dan diteruskan perjuangannya. Akhirnya 133 tahun setelah gugurnya itu, cita-cita terbesar Bagus Rangin dapat terwujud. Apalagi kalau bukan kemerdekaan. Kemerdekaan yang dicita-citakan oleh masyarakat adalah bukan tujuan dan bukan pula sekedar penggantian penguasa untuk kemudian ganti berkuasa dan menindas. Tetapi kemerdekaan adalah salah satu cara untuk mewujudkan masyarakat yang adil dan sejahtera.

Intisari :

Bagus Rangin adalah tokoh dari Bantarjati, Majalengka, yang menentang dan memimpin pemberontakan melawan Belanda pada Perang Cirebon tahun 1805-1812.

Pada 1805 pertempuran pecah di daerah Pangumbahan, juga terjadi pertempuran di daerah Karesidenan Cirebon dan pantai utara Jawa. Pasukan Bagus Rangin yang berkekuatan ± 10.000 orang kalah dan terpaksa mengakui keunggulan Belanda. Tanggal 12 Juli 1812 Bagus Rangin menerima hukuman penggal kepala di Cimanuk dekat Karangsembung, Cirebon.

Nama Bagus Rangin saat ini diabadikan menjadi sebuah nama jalan di Bandung dan Cirebon.

Puisi[sunting | sunting sumber]

Ajip Rosidi mengarang sebuah puisi berjudul "Bagus Rangin" dan puisi ini pernah digelar dalam bentuk drama oleh mahasiswa UPI (dahulu IKIP Bandung).