Lompat ke isi

Badak jawa

Checked
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Badak Jawa)

Badak jawa
Rentang waktu: Pliosen Akhir–Kini
R. s. sondaicus di Kebun Binatang London dari Maret 1874 hingga Januari 1885
CITES Apendiks I (CITES)[1]
Klasifikasi ilmiah Sunting klasifikasi ini
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Mammalia
Ordo: Perissodactyla
Famili: Rhinocerotidae
Genus: Rhinoceros
Spesies:
R. sondaicus[2]
Nama binomial
Rhinoceros sondaicus[2]
Subspesies
Peta persebaran badak jawa

Badak jawa (Rhinoceros sondaicus), badak sunda, atau badak bercula satu kecil adalah anggota famili Rhinocerotidae dan genus Rhinoceros yang terancam kritis. Spesies ini merupakan satu dari lima spesies badak yang masih hidup di Asia Selatan dan Afrika. Hewan ini memiliki kulit yang tampak seperti lempeng baju zirah dengan lipatan-lipatan pelindung dan merupakan salah satu spesies badak terkecil dengan panjang tubuh 31–32 m (102–105 ft) dan tinggi 14–17 m (46–56 ft). Spesimen terberat memiliki bobot sekitar 2.300 kg (5.100 pon). Culanya biasanya lebih pendek dari 25 cm (9,8 in).

Hingga pertengahan abad ke-19 sampai awal abad ke-20, daerah jelajah badak jawa mencakup wilayah di luar pulau Jawa dan Sumatra, merentang hingga daratan Asia Tenggara dan Indocina, ke arah barat laut di India Timur, Bhutan, dan bagian selatan Tiongkok. Saat ini, badak jawa adalah spesies badak yang paling langka, dan salah satu spesies hewan terlangka yang masih hidup, dengan hanya satu populasi liar yang diketahui dan tidak ada individu yang berhasil dipelihara di penangkaran. Hewan ini termasuk mamalia besar terlangka di dunia dengan populasi sekitar 74 ekor yang mendiami Taman Nasional Ujung Kulon, di ujung paling barat Jawa, Indonesia.

Penurunan populasi badak jawa utamanya disebabkan oleh perburuan liar untuk mengambil cula badak jantan, yang sangat berharga dalam pengobatan tradisional Tionghoa, dengan harga mencapai US$30.000 per kg di pasar gelap.[4]:31 Seiring meningkatnya kehadiran kolonial Belanda dan bangsa Eropa lainnya di wilayah jelajahnya, yang memuncak pada tahun 1700–1800-an, perburuan trofi juga menjadi ancaman yang serius. Hilangnya habitat dan pertumbuhan populasi manusia yang masif, terutama pasca-perang, juga berkontribusi terhadap penurunan populasi dan menghambat pemulihan spesies ini.[5] Wilayah jelajah yang tersisa berada dalam satu kawasan lindung nasional, dan Ujung Kulon juga merupakan Situs Warisan Dunia UNESCO. Meskipun demikian, batas taman nasional yang berada di pedesaan dan medan yang sulit dijangkau menyebabkan penegakan hukum tidak dapat hadir secara merata di semua tempat setiap saat; di beberapa area, kurangnya keamanan ini masih menempatkan spesies ini dalam risiko perburuan liar, paparan penyakit, dan pada akhirnya, hilangnya keragaman genetik, yang mengarah pada "leher botol" genetik (yaitu, depresi perkawinan sekerabat).[6]

Badak jawa dapat hidup sekitar 30–45 tahun di alam liar. Secara historis, hewan ini menghuni hutan hujan dataran rendah yang lebat, padang rumput basah, dan dataran banjir yang luas di tepian hutan. Hewan ini sebagian besar bersifat soliter, kecuali saat masa kawin dan membesarkan anak, meskipun kelompok-kelompok kecil terkadang berkumpul di dekat kubangan lumpur dan tempat mengasin (salt licks). Selain manusia, yang biasanya mereka hindari, badak dewasa tidak memiliki pemangsa alami di wilayah jelajahnya. Individu muda yang sangat kecil dapat dimangsa jika ditinggalkan tanpa pengawasan, biasanya oleh macan tutul, harimau sumatra, atau, meskipun jarang, buaya. Para ilmuwan dan konservasionis jarang meneliti hewan ini secara langsung karena kelangkaannya yang ekstrem dan adanya bahaya mengganggu spesies yang sangat terancam punah tersebut. Para peneliti beralih mengandalkan kamera jebakan dan sampel kotoran untuk mengukur kesehatan dan perilaku mereka. Akibatnya, badak jawa adalah spesies badak yang paling sedikit dipelajari dari semua spesies badak. Dua badak jawa betina dewasa, masing-masing dengan anaknya, terekam menggunakan kamera jejak yang dipicu gerakan. Video tersebut dirilis pada 28 Februari 2011 oleh WWF dan Otoritas Taman Nasional Indonesia, membuktikan bahwa mereka masih berkembang biak di alam liar.[7]

Etimologi

[sunting | sunting sumber]

Nama genus Rhinoceros merupakan gabungan dari kata Yunani Kuno ῥίς (ris) yang berarti 'hidung' dan κέρας (keras) yang berarti 'tanduk hewan'.[8][9] sondaicus berasal dari sunda, wilayah biogeografis yang mencakup pulau Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan pulau-pulau kecil di sekitarnya. Badak jawa juga dikenal sebagai badak bercula satu kecil (berbeda dengan badak bercula satu besar, nama lain untuk badak india).[10]

Taksonomi

[sunting | sunting sumber]

Rhinoceros sondaicus adalah nama ilmiah yang digunakan oleh Anselme Gaëtan Desmarest pada tahun 1822 untuk seekor badak dari Jawa yang dikirim oleh Pierre-Médard Diard dan Alfred Duvaucel ke Museum Nasional Sejarah Alam.[3][11] Pada abad ke-19, beberapa spesimen zoologi badak tanpa cula dideskripsikan:

  • Rhinoceros inermis yang diusulkan oleh René Lesson pada tahun 1838 adalah seekor badak betina tanpa cula yang ditembak di Sundarbans.[12]
  • Rhinoceros nasalis dan Rhinoceros floweri yang diusulkan oleh John Edward Gray pada tahun 1867 masing-masing adalah dua tengkorak badak dari Kalimantan dan satu dari Sumatra.[13]
  • Rhinoceros annamiticus yang diusulkan oleh Pierre Marie Heude pada tahun 1892 adalah spesimen dari Vietnam.[14]

Hingga tahun 2005, tiga subspesies badak jawa dianggap sebagai taksa yang valid:[2]

Badak india yang ada pada gambar ini adalah spesies yang berkerabat paling dekat dengan badak jawa; keduanya merupakan anggota genus tipe Rhinoceros.

Leluhur badak diperkirakan pertama kali memisahkan diri dari hewan berkuku ganjil lain pada masa Eosen Awal. Perbandingan DNA mitokondria menunjukkan bahwa leluhur badak modern berpisah dari leluhur Equidae sekitar 50 juta tahun yang lalu.[15] Famili yang masih ada saat ini, Rhinocerotidae, pertama kali muncul pada masa Eosen Akhir di Eurasia, dan leluhur spesies badak yang masih hidup menyebar dari Asia bermula pada masa Miosen.[16]

Leluhur bersama terakhir dari badak yang masih hidup dari subfamili Rhinocerotinae diperkirakan hidup sekitar 16 juta tahun yang lalu, dengan leluhur genus Rhinoceros memisahkan diri dari leluhur badak hidup lainnya sekitar 15 juta tahun yang lalu. Secara keseluruhan, genus Rhinoceros ditemukan memiliki kekerabatan yang sedikit lebih dekat dengan badak sumatra (serta badak berbulu wol yang telah punah dan genus Eurasia yang telah punah Stephanorhinus) dibandingkan dengan badak Afrika yang masih hidup, meskipun tampaknya pernah terjadi aliran gen antara leluhur badak Afrika yang masih hidup dan genus Rhinoceros, serta antara leluhur genus Rhinoceros dengan leluhur badak berbulu wol dan Stephanorhinus.[17]

Sebuah kladogram yang menunjukkan hubungan kekerabatan spesies badak masa kini dan Pleistosen Akhir (tanpa Stephanorhinus hemitoechus) berdasarkan genom inti keseluruhan[17]

Elasmotheriinae

Elasmotherium sibiricum

Rhinocerotinae

Badak putih (Ceratotherium simum)

Badak hitam (Diceros bicornis)

Badak berbulu wol (Coelodonta antiquitatis)

Badak merck (Stephanorhinus kirchbergensis)

Badak sumatra (Dicerorhinus sumatrensis)

Badak jawa (Rhinoceros sondaicus)

Badak india (Rhinoceros unicornis)

Fosil badak jawa tertua yang diketahui secara pasti berasal dari endapan Pliosen Akhir di Myanmar, Jawa, dan Pakistan.[18][19][20] Estimasi molekuler menunjukkan bahwa badak india dan badak jawa saling memisahkan diri lebih awal, sekitar 4,3 juta tahun yang lalu.[17] Sebuah fosil astragalus dari endapan Miosen Akhir di Myanmar yang mirip dengan milik badak jawa telah diidentifikasi sebagai Rhinoceros cf. R. sondaicus.[21]

Deskripsi

[sunting | sunting sumber]
Badak jawa dalam penangkaran, sekitar tahun 1900
Tengkorak badak jawa

Badak jawa berukuran lebih kecil daripada badak india, dan memiliki ukuran yang hampir sama dengan badak hitam. Mereka adalah hewan terbesar di Jawa dan hewan terbesar kedua di Indonesia setelah gajah asia. Panjang badak jawa termasuk kepalanya adalah 2 hingga 4 m (6,6 hingga 13,1 ft), dan mereka dapat mencapai tinggi 14–17 m (46–56 ft). Beragam laporan menyebutkan bobot individu dewasa berkisar antara 900 dan 2,300 kg (1.984,16 dan 5,07 pon), meskipun penelitian untuk mengumpulkan pengukuran akurat hewan ini belum pernah dilakukan dan bukan merupakan prioritas karena status konservasinya yang sangat genting.[22] Tidak ada perbedaan ukuran yang substansial terlihat antar jenis kelamin, namun betina mungkin berukuran sedikit lebih besar. Badak di Vietnam tampak jauh lebih kecil daripada badak di Jawa, berdasarkan studi bukti fotografi dan pengukuran jejak kaki mereka.[23]

Seperti badak india, badak jawa memiliki cula satu (spesies badak lain yang masih hidup memiliki dua cula). Culanya adalah yang terkecil dari semua badak yang masih hidup, biasanya kurang dari 20 cm (7,9 in) dengan panjang rekor tercatat hanya 27 cm (11 in). Hanya badak jantan yang memiliki cula. Badak betina adalah satu-satunya badak yang masih hidup yang tetap tidak bercula hingga dewasa, meskipun mereka mungkin mengembangkan benjolan kecil setinggi satu atau dua inci. Badak jawa tampaknya tidak sering menggunakan culanya untuk bertarung, melainkan menggunakannya untuk menyingkirkan lumpur di kubangan, menarik tanaman untuk dimakan, dan membuka jalan melalui vegetasi yang lebat. Mirip dengan spesies badak pemakan semak (browsing) lainnya (hitam dan sumatra), badak jawa memiliki bibir atas yang panjang dan runcing yang membantu dalam merenggut makanan. Gigi seri bawah mereka panjang dan tajam; ketika badak jawa bertarung, mereka menggunakan gigi ini. Di belakang gigi seri, terdapat dua baris enam geraham bermahkota rendah yang digunakan untuk mengunyah tanaman kasar. Seperti semua badak, badak jawa memiliki indra penciuman dan pendengaran yang tajam, tetapi memiliki penglihatan yang sangat buruk. Mereka diperkirakan hidup selama 30 hingga 45 tahun.[23]

Kulitnya yang tidak berbulu, berwarna abu-abu atau abu-abu kecokelatan dengan pola bercak, membentuk lipatan di bahu, punggung, dan pinggul. Kulit tersebut memiliki pola mozaik alami, yang memberikan badak penampilan seperti mengenakan baju zirah. Lipatan leher badak jawa lebih kecil daripada badak india, tetapi tetap membentuk bentuk pelana di atas bahu. Akan tetapi, mengingat risiko mengganggu spesies yang sangat terancam punah ini, badak jawa utamanya dipelajari melalui pengambilan sampel kotoran dan kamera jebakan. Mereka jarang ditemui, diamati, atau diukur secara langsung.[24]

Persebaran dan habitat

[sunting | sunting sumber]
Taman Nasional Ujung Kulon di Jawa adalah rumah bagi semua badak jawa yang tersisa.

Bahkan perkiraan paling optimis menunjukkan kurang dari 100 ekor badak jawa yang tersisa di alam liar. Mereka dianggap sebagai salah satu spesies paling terancam punah di dunia.[25] Badak jawa diketahui bertahan hidup hanya di satu tempat, Taman Nasional Ujung Kulon di ujung barat Jawa.[26][27]

Badak jawa pernah tersebar luas dari Assam dan Benggala, di mana wilayah jelajahnya tumpang tindih dengan badak sumatra dan india,[28] ke arah timur hingga Myanmar, Thailand, Kamboja, Laos, Vietnam, dan ke arah selatan hingga Semenanjung Malaya serta pulau Sumatra, Jawa, dan Kalimantan.[29][30]

Sisa-sisa badak jawa juga ditemukan di situs Neolitikum Hemudu di Zhejiang, Tiongkok, dan kitab kuno Classic of Mountains and Seas tampaknya mendeskripsikan badak yang hidup di lembah Sungai Yangtze.[31]

Badak jawa utamanya menghuni hutan hujan dataran rendah yang lebat, padang rumput, dan hamparan alang-alang dengan sungai yang melimpah, dataran banjir yang luas, atau daerah basah dengan banyak kubangan lumpur. Meskipun secara historis lebih menyukai daerah dataran rendah, subspesies di Vietnam terdesak ke dataran yang jauh lebih tinggi (hingga 2.000 m atau 6.561 kaki), mungkin karena perambahan manusia dan perburuan liar.[32]

Wilayah jelajah badak jawa telah menyusut setidaknya selama 3.000 tahun. Dimulai sekitar 1000 SM, batas utara wilayah jelajah badak meluas hingga ke Tiongkok, tetapi mulai bergerak ke selatan kira-kira 05 km (3,1 mi) per tahun, seiring meningkatnya permukiman manusia di wilayah tersebut.[33] Spesies ini kemungkinan punah secara lokal di India pada dekade pertama abad ke-20.[28] Badak jawa diburu hingga punah di Semenanjung Malaya pada tahun 1932.[34] Individu terakhir di Sumatra mati selama Perang Dunia II. Mereka punah dari Chittagong Hill Tracts dan Sunderbans pada pertengahan abad ke-20. Pada akhir Perang Vietnam, badak vietnam diyakini punah di seluruh daratan Asia. Pemburu lokal dan penebang kayu di Kamboja mengklaim telah melihat badak jawa di Pegunungan Cardamom, tetapi survei di daerah itu gagal menemukan bukti keberadaan mereka.[35] Pada akhir 1980-an, populasi kecil ditemukan di daerah Cat Tien, Vietnam. Namun, individu terakhir yang diketahui dari populasi itu ditembak pada tahun 2010.[36] Sebuah populasi mungkin pernah ada di pulau Kalimantan juga, meskipun spesimen ini bisa jadi merupakan badak sumatra, yang populasi kecilnya masih hidup di sana.[29] Populasi di Taman Nasional Cat Tien Vietnam dinyatakan punah secara lokal pada tahun 2011.[37]

Spesimen museum dari R. s. sondaicus muda

Badak jawa adalah hewan soliter, kecuali pasangan yang sedang kawin dan induk yang bersama anaknya. Terkadang mereka berkumpul dalam kelompok kecil di tempat mengasin dan kubangan lumpur. Berkubang di lumpur adalah perilaku umum bagi semua badak; aktivitas ini memungkinkan mereka menjaga suhu tubuh tetap sejuk dan membantu mencegah penyakit serta infestasi parasit. Badak jawa umumnya tidak menggali kubangan lumpurnya sendiri, tetapi lebih suka menggunakan kubangan hewan lain atau lubang yang terbentuk secara alami, yang akan diperbesar menggunakan culanya. Tempat mengasin juga sangat penting karena nutrisi esensial yang diperoleh badak dari garam tersebut. Daerah jelajah pejantan lebih luas, yaitu 12–20 km2 (4,6–7,7 sq mi), dibandingkan dengan betina yang berkisar 3–14 km2 (1,2–5,4 sq mi). Teritori jantan tidak terlalu tumpang tindih dibandingkan teritori betina. Tidak diketahui apakah terjadi pertarungan teritorial.[38]

Pejantan menandai wilayah mereka dengan tumpukan kotoran dan dengan penyemprotan urine. Goresan kaki di tanah dan anak pohon yang terpilin juga tampaknya digunakan untuk komunikasi. Anggota spesies badak lain memiliki kebiasaan unik buang air besar di tumpukan kotoran badak yang besar dan kemudian menggesekkan kaki belakang mereka pada kotoran tersebut. Badak sumatra dan jawa, meskipun buang air besar dalam tumpukan, tidak melakukan penggesekan kaki tersebut. Adaptasi perilaku ini diperkirakan bersifat ekologis; di hutan basah Jawa dan Sumatra, metode tersebut mungkin tidak berguna untuk menyebarkan bau.[39][38] Badak jawa jauh lebih jarang bersuara dibandingkan badak sumatra; sangat sedikit vokalisasi badak jawa yang pernah terekam. Badak dewasa tidak memiliki predator alami selain manusia. Spesies ini, khususnya di Vietnam, mudah takut dan mundur ke hutan lebat setiap kali manusia mendekat. Meskipun sifat ini berharga dari sudut pandang kelangsungan hidup, hal ini membuat badak sulit dipelajari.[5] Namun, jika manusia mendekat terlalu dekat, badak jawa menjadi agresif dan akan menyerang, menusuk dengan gigi seri rahang bawahnya sambil menyodul ke atas dengan kepalanya.[38] Perilakunya yang relatif antisosial mungkin merupakan adaptasi baru terhadap tekanan populasi; bukti sejarah menunjukkan bahwa mereka, seperti badak lainnya, pernah hidup lebih berkelompok.[26]

Badak jawa adalah hewan herbivora, memakan beragam spesies tanaman, terutama tunas, ranting, dedaunan muda, dan buah yang jatuh. Sebagian besar tanaman yang disukai oleh spesies ini tumbuh di daerah yang terpapar sinar matahari di pembukaan hutan, semak belukar, dan tipe vegetasi lain tanpa pohon besar. Badak ini merobohkan anak pohon untuk menjangkau makanannya dan mengambilnya dengan bibir atas yang dapat memegang. Ia adalah pemakan yang paling mudah beradaptasi di antara semua spesies badak. Saat ini, ia adalah pemakan semak (peramban) murni, tetapi mungkin pernah menjadi pemakan semak sekaligus pemakan rumput (perumput) di wilayah jelajah historisnya. Badak ini memakan sekitar 50 kg (110 pon) makanan setiap hari. Seperti badak sumatra, ia membutuhkan garam dalam makanannya. Tempat mengasin yang umum ditemukan di wilayah jelajah historisnya tidak ada di Ujung Kulon, tetapi badak di sana teramati meminum air laut, kemungkinan untuk kebutuhan nutrisi yang sama.[38]

Konservasi

[sunting | sunting sumber]
Lukisan dari tahun 1861 yang menggambarkan perburuan R. s. sondaicus

Faktor utama penurunan populasi badak jawa yang terus berlanjut adalah perburuan liar untuk mengambil culanya, masalah yang menimpa semua spesies badak. Cula tersebut telah menjadi komoditas perdagangan selama lebih dari 2.000 tahun di Tiongkok, tempat cula diyakini memiliki khasiat penyembuhan. Secara historis, kulit badak digunakan untuk membuat baju zirah bagi prajurit Tiongkok, dan beberapa suku lokal di Vietnam percaya bahwa kulit tersebut dapat digunakan untuk membuat penawar bisa ular.[40] Karena wilayah jelajah badak mencakup banyak daerah miskin, sulit untuk meyakinkan penduduk setempat agar tidak membunuh hewan yang tampaknya tidak berguna (selain culanya) namun dapat dijual dengan harga yang sangat tinggi.[33] Ketika Konvensi Perdagangan Internasional Spesies Fauna dan Flora Liar yang Terancam Punah pertama kali diberlakukan pada tahun 1975, badak jawa terdaftar dalam Apendiks I yang berarti perdagangan internasional komersial badak jawa dan produk turunannya dilarang.[41] Survei pasar gelap cula badak telah menentukan bahwa cula badak Asia dihargai setinggi $30.000 per kg, tiga kali lipat nilai cula badak Afrika.[4]:31

Hilangnya habitat akibat pertanian juga berkontribusi terhadap penurunannya, meskipun ini bukan lagi faktor yang signifikan karena badak hanya hidup di satu taman nasional yang dilindungi. Habitat yang memburuk telah menghambat pemulihan populasi badak yang menjadi korban perburuan liar. Bahkan dengan semua upaya konservasi, prospek kelangsungan hidup mereka suram. Karena populasi terbatas pada satu area kecil, mereka sangat rentan terhadap penyakit dan depresi perkawinan sekerabat. Ahli genetika konservasi memperkirakan populasi 100 badak akan dibutuhkan untuk melestarikan keragaman genetik spesies yang bergantung pada konservasi ini.[27]

Ujung Kulon

[sunting | sunting sumber]
Seorang pemburu Belanda dengan seekor R. s. sondaicus mati di Ujung Kulon, 1895

Semenanjung Ujung Kulon di Jawa luluh lantak akibat letusan Krakatau pada tahun 1883. Badak jawa kembali mengolonisasi semenanjung tersebut pascabencana, namun manusia tidak pernah kembali menghuni dalam jumlah besar, sehingga menciptakan suaka bagi satwa liar.[27] Pada tahun 1931, ketika badak jawa berada di ambang kepunahan di Sumatra, pemerintah Hindia Belanda menetapkan badak ini sebagai spesies yang dilindungi secara hukum, sebuah status yang tetap bertahan hingga kini.[32] Sensus badak di Ujung Kulon pertama kali dilakukan pada tahun 1967; hanya 25 ekor yang tercatat. Menjelang tahun 1980, populasi tersebut meningkat dua kali lipat dan tetap stabil pada angka sekitar 50 ekor sejak saat itu. Meskipun badak di Ujung Kulon tidak memiliki predator alami, mereka harus bersaing memperebutkan sumber daya yang terbatas dengan banteng liar, yang dapat menahan jumlah populasi mereka di bawah daya dukung semenanjung tersebut.[42] Ujung Kulon dikelola oleh Kementerian Kehutanan Indonesia.[32] Bukti keberadaan setidaknya empat bayi badak ditemukan pada tahun 2006, jumlah terbanyak yang pernah didokumentasikan bagi spesies ini.[43]

Pada bulan Maret 2011, sebuah video dari kamera tersembunyi dipublikasikan memperlihatkan badak dewasa dan muda, yang mengindikasikan adanya perkawinan dan perkembangbiakan baru-baru ini.[44] Selama periode Januari hingga Oktober 2011, kamera-kamera tersebut telah menangkap gambar 35 ekor badak. Per Desember 2011, sebuah suaka pengembangbiakan badak di area seluas 38.000 hektare sedang diselesaikan untuk membantu mencapai target 70 hingga 80 ekor badak jawa pada tahun 2015.[45]

Pada bulan April 2012, WWF dan Yayasan Badak Internasional (International Rhino Foundation) menambahkan 120 kamera video ke 40 kamera yang sudah ada untuk memantau pergerakan badak dengan lebih baik dan memperkirakan ukuran populasi hewan tersebut. Survei terbaru menemukan jumlah betina yang jauh lebih sedikit daripada pejantan. Hanya empat betina di antara 17 badak yang tercatat di bagian timur Ujung Kulon, yang merupakan potensi kemunduran dalam upaya penyelamatan spesies ini.[46]

Pada tahun 2012, Asian Rhino Project menyusun program pemberantasan terbaik untuk pohon aren, yang menyelimuti taman nasional dan mendesak sumber makanan badak. Menelusuri jejak badak jawa memungkinkan pengamatan mendalam terhadap kebiasaan makan mereka di habitat aslinya. Membandingkan kandungan abu tak larut asam (MA) pada kotoran dan pada berat kering makanan memberikan perkiraan kecernaan yang dapat diandalkan, dan metode ini berpotensi untuk penerapan yang lebih luas dalam situasi di mana pengumpulan total materi kotoran tidak memungkinkan. Terdapat korelasi positif yang kuat antara ukuran wilayah jelajah dan keragaman asupan makanan, serta antara ukuran wilayah jelajah dengan jumlah kubangan yang digunakan. Kuantitas dan kualitas asupan makanan bervariasi antarindividu badak dan seiring berjalannya waktu. Konsumsi energi secara keseluruhan berkaitan dengan ukuran hewan, sementara kecernaan tanaman yang dikonsumsi tampaknya dipengaruhi oleh usia individu dan kondisi habitat.[47]

Pada Mei 2017, Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Bambang Dahono Adji, mengumumkan rencana untuk memindahkan sebagian badak ke Suaka Margasatwa Cikepuh yang terletak di Jawa Barat.[48] Hewan-hewan tersebut akan menjalani tes DNA terlebih dahulu untuk menentukan garis keturunan dan risiko penyakit guna menghindari masalah seperti "inbreeding" atau perkawinan sedarah.[49][50] Hingga Desember 2018, rencana ini belum terealisasi secara konkret.[51]

Pada bulan Desember 2018, sisa populasi badak jawa sangat terancam oleh tsunami yang dipicu oleh gunung berapi terdekat, Anak Krakatau.[51]

Pada tahun 2024, para pejabat mengumumkan bahwa pemburu liar yang baru saja ditangkap mengaku telah membunuh total 26 badak jawa, yang berpotensi memangkas total populasi hingga sepertiganya.[52] Setidaknya empat anak badak jawa telah tercatat antara Agustus 2023 dan 2024; satu yang terlihat pada Mei 2024 diperkirakan berusia tiga hingga lima bulan.[53]

Kepala R. s. annamiticus jantan yang ditembak di Perak di Semenanjung Malaya

Pernah tersebar luas di Asia Tenggara, badak jawa dianggap punah di Vietnam pada pertengahan 1970-an, pada akhir Perang Vietnam. Peperangan tersebut membawa kehancuran pada ekosistem wilayah itu melalui penggunaan napalm, penggundulan hutan secara luas akibat Agen Oranye, pemboman udara, penggunaan ranjau darat, dan perburuan berlebihan oleh pemburu liar setempat.[40]

Pada tahun 1988, asumsi kepunahan subspesies ini terbantahkan ketika seorang pemburu menembak seekor badak betina dewasa, yang membuktikan bahwa spesies ini entah bagaimana berhasil bertahan dari perang. Pada tahun 1989, para ilmuwan mensurvei hutan selatan Vietnam untuk mencari bukti adanya individu lain yang selamat. Jejak segar milik hingga 15 ekor badak ditemukan di sepanjang Sungai Dong Nai.[54] Sebagian besar dikarenakan oleh keberadaan badak tersebut, wilayah yang mereka huni menjadi bagian dari Taman Nasional Cat Tien pada tahun 1992.[40]

Menjelang awal tahun 2000-an, populasi mereka dikhawatirkan telah menurun melampaui titik pemulihan di Vietnam, dengan beberapa konservasionis memperkirakan hanya tinggal tiga hingga delapan ekor badak, dan mungkin tidak ada pejantan yang tersisa.[27][43] Para konservasionis berdebat apakah badak vietnam memiliki peluang untuk bertahan hidup atau tidak, dengan beberapa pihak berpendapat bahwa badak dari Indonesia harus didatangkan sebagai upaya penyelamatan populasi, sementara pihak lain berpendapat bahwa populasi tersebut masih dapat pulih.[5][55]

Analisis genetik terhadap sampel kotoran yang dikumpulkan di Taman Nasional Cat Tien dalam survei dari Oktober 2009 hingga Maret 2010 menunjukkan hanya satu individu badak jawa yang tersisa di taman tersebut. Pada awal Mei 2010, bangkai seekor badak jawa ditemukan di taman itu. Hewan itu telah ditembak dan culanya diambil oleh pemburu liar.[56] Pada bulan Oktober 2011, Yayasan Badak Internasional (International Rhino Foundation) mengonfirmasi bahwa badak jawa telah punah di Vietnam, sehingga hanya menyisakan badak-badak yang ada di Ujung Kulon.[57][58][59]

Di penangkaran

[sunting | sunting sumber]

Badak jawa belum pernah dipamerkan lagi di kebun binatang selama lebih dari satu abad. Pada abad ke-19, setidaknya empat ekor badak dipamerkan di Adelaide, Calcutta, dan London. Setidaknya 22 ekor badak jawa telah didokumentasikan pernah dipelihara di penangkaran; jumlah sebenarnya mungkin lebih besar, karena spesies ini terkadang disalahartikan sebagai badak india.[60]

Badak jawa tidak pernah bertahan hidup dengan baik di penangkaran. Individu tertua hidup hingga usia 20 tahun, sekitar setengah dari usia yang dapat dicapai badak di alam liar. Tidak ada catatan mengenai badak penangkaran yang melahirkan. Badak jawa penangkaran terakhir mati di Kebun Binatang Adelaide di Australia pada tahun 1907, di mana spesies tersebut sangat sedikit diketahui hingga ia dipamerkan sebagai badak india.[23]

Pada tahun 2025, seekor badak jantan bernama Mustofa berhasil direlokasi dari alam liar ke Wilayah Studi dan Konservasi Badak Jawa (Javan Rhino Study and Conservation Area / JRSCA) di dalam Taman Nasional Ujung Kulon, menjadikannya badak jawa pertama yang berhasil ditranslokasi ke penangkaran dalam lebih dari 100 tahun.[61].

Sayangnya badak Musofa hanya dapat bertahan selama 3 hari lalu mati setelah menjalani perawatan oleh tim medis di lokasi JRSCA.. Berdasarkan hasil pemeriksaan tim medis, dan tim patologi SKHB Institut Pertanian Bogor, badak Musofa mati karena penyakit bawaan yang telah dideritanya jauh sebelum translokasi. [62][63][64][65][66]

Dalam kebudayaan

[sunting | sunting sumber]
Badak yang menyiksa orang-orang terkutuk di relief "surga dan neraka" di Angkor Wat (abad ke-12)

Di masa lampau, badak jawa dapat ditemukan di Kamboja dan terdapat setidaknya tiga penggambaran badak pada relief dasar di candi Angkor Wat. Sayap barat Galeri Utara memiliki relief yang menampilkan seekor badak yang ditunggangi oleh dewa yang diperkirakan sebagai dewa api Agni. Badak-badak tersebut dianggap sebagai badak jawa, alih-alih badak india bercula satu yang memiliki tampilan agak serupa, didasarkan pada lipatan kulit di bahu yang berlanjut di sepanjang punggung badak jawa yang memberikan tampilan menyerupai pelana. Sebuah penggambaran badak di sayap timur Galeri Selatan memperlihatkan seekor badak yang sedang menyerang orang-orang terkutuk pada panel relief yang melukiskan surga dan neraka. Salah satu arsitek candi tersebut diperkirakan adalah seorang pendeta Brahmana dari India bernama Divakarapandita (1040–1120 M) yang mengabdi pada Raja Jayavarman VI, Dharanindravarman I, serta Suryavarman II yang membangun candi tersebut. Diperkirakan bahwa pendeta India tersebut, yang wafat sebelum pembangunan candi, mungkin memengaruhi penggunaan tonjolan-tonjolan (tuberkel) pada kulit yang didasarkan pada ciri fisik badak india, sementara para pengrajin Khmer setempat memahat detail-detail lainnya berdasarkan badak jawa lokal yang lebih mereka kenal.[67] Asosiasi badak sebagai wahana dewa Agni merupakan keunikan budaya Khmer.[68][69] Ukiran badak lain yang berada di tengah susunan melingkar pada sebuah pilar, bersama lingkaran-lingkaran lain yang berisi gajah dan kerbau, diketahui terdapat di candi Ta Prohm. Ukiran ini telah menjadi pusat spekulasi anakronistis yang menyatakan bahwa ukiran tersebut mungkin merepresentasikan seekor Stegosaurus dikarenakan adanya dedaunan di belakangnya yang memberikan kesan seperti lempengan punggung.[70]

Maskot Piala Dunia U-20 FIFA 2023 adalah seekor badak jawa bernama Bacuya.[71][72]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. 1 2 Ellis, S. & Talukdar, B. (2020). "Rhinoceros sondaicus" e.T19495A18493900. doi:10.2305/IUCN.UK.2020-2.RLTS.T19495A18493900.en. ;
  2. 1 2 3 (Inggris) Grubb, P. (2005). "Species Rhinoceros sondaicus". Dalam Wilson, D.E.; Reeder, D.M (ed.). Mammal Species of the World: A Taxonomic and Geographic Reference (Edisi 3rd). Johns Hopkins University Press. hlm. 636. ISBN 978-0-8018-8221-0. OCLC 62265494.
  3. 1 2 Desmarest, A. G. (1822). "Rhinocéros des Îles de La Sonde". Mammalogie, ou, Description des espèces de mammifères. Vol. 2. Paris: Mme Agasse. hlm. 399–400.
  4. 1 2 Dinerstein, E. (2003). The Return of the Unicorns; The Natural History and Conservation of the Greater One-Horned Rhinoceros. New York City: Columbia University Press. ISBN 978-0-231-08450-5.
  5. 1 2 3 Santiapillai, C. (1992). "Javan rhinoceros in Vietnam" (PDF). Pachyderm. 15: 25–27. doi:10.69649/pachyderm.v15i1.739.
  6. Centre, UNESCO World Heritage. "Ujung Kulon National Park". UNESCO World Heritage Centre (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2023-09-07.
  7. WWF – Critically Endangered Javan Rhinos and Calves Captured on Video. wwf.panda.org. Retrieved 24 February 2012.
  8. Liddell, H. G. & Scott, R. (1940). "ῥίς". A Greek-English Lexicon (Edisi Revised and augmented). Oxford: Clarendon Press.
  9. Liddell, H. G. & Scott, R. (1940). "κέρᾳ". A Greek-English Lexicon (Edisi Revised and augmented). Oxford: Clarendon Press.
  10. "Javan Rhino (Rhinoceros sondaicus)". International Rhino Foundation. Diarsipkan dari asli tanggal 22 July 2011. Diakses tanggal 17 December 2014.
  11. Rookmaaker, L.C. (1982). "The type locality of the Javan Rhinoceros (Rhinoceros sondaicus Desmarest, 1822)" (PDF). Zeitschrift für Säugetierkunde. 47 (6): 381–382.
  12. Lesson, R. P. (1838). "Le Rhinocéros sans cornes ou Gaindar". Compléments de Buffon. Vol. 1 (Edisi Deuxième, revue, corrigée et augmentée). Paris: Pourrat Frères. hlm. 514–515.
  13. Gray, J. E. (1864). "Observations on the preserved specimens and skeletons of the Rhinocerotidae in the collection of the British Museum and Royal College of Surgeons, including the descriptions of three new species". Proceedings of the Zoological Society of London. 1867: 1003–1032.
  14. Heude, P. M. (1892). "Étude sur les suillens. Chapitre II". Mémoires concernant l'Histoire naturelle de l'Empire chinois; par des Pères de la Compagnie de Jésus. 2: 85–115, XIX–XXIX.
  15. Xu, X.; Janke, A.; Arnason, U. (1996). "The Complete Mitochondrial DNA Sequence of the Greater Indian Rhinoceros, Rhinoceros unicornis, and the Phylogenetic Relationship Among Carnivora, Perissodactyla, and Artiodactyla (+ Cetacea)". Molecular Biology and Evolution. 13 (9): 1167–1173. doi:10.1093/oxfordjournals.molbev.a025681. PMID 8896369.
  16. Lacombat, F. (2005). "The evolution of the rhinoceros". Dalam Fulconis, R. (ed.). Save the rhinos: EAZA Rhino Campaign 2005/6. London: European Association of Zoos and Aquaria. hlm. 46–49.
  17. 1 2 3 Liu, S.; Westbury, M. V.; Dussex, N.; Mitchell, K. J.; Sinding, M.-H. S.; Heintzman, P. D.; Duchêne, D. A.; Kapp, J. D.; Von Seth, J.; Heiniger, H.; Sánchez-Barreiro, F. (2021). "Ancient and modern genomes unravel the evolutionary history of the rhinoceros family". Cell. 184 (19): 4874–4885.e16. doi:10.1016/j.cell.2021.07.032. hdl:10230/48693. PMID 34433011.
  18. Maung-Thein, Z.-M.; Takai, M.; Tsubamoto, T.; Egi, N.; Thaung, H.; Nishimura, T.; Maung, M.; Zaw, M. (2010). "A review of fossil rhinoceroses from the Neogene of Myanmar with description of new specimens from the Irrawaddy Sediments". Journal of Asian Earth Sciences. 37 (2): 154–165. Bibcode:2010JAESc..37..154Z. doi:10.1016/j.jseaes.2009.08.009.
  19. Groves, C.P.; Leslie, D.M. (2011). "Rhinoceros sondaicus (Perissodactyla: Rhinocerotidae)". Mammalian Species. 43 (887): 190–208. doi:10.1644/887.1. hdl:1885/52865.
  20. Zubaid, S.; Waseem, M.T.; Khan, A.M.; Sarwar, G. (2024). "Systematic and Taxonomic Investigations of Newly Discovered Mammalian Fauna from Late Pliocene of the Siwalik Sub-group of Pakistan". Dalam Çiner, A.; Naitza, S.; Radwan, A.E.; Hamimi, Z.; Lucci, F.; Knight, J.; Cucciniello, C.; Banerjee, S.; Chennaoui, H.; Doronzo, D.M.; Candeias, C.; Rodrigo-Comino, J.; Kalatehjari, R.; Shah, A.A.; Gentilucci, M.; Panagoulia, D.; Chaminé, H.I.; Barbieri, M.; Ergüler, Z.A. (ed.). Recent Research on Sedimentology, Stratigraphy, Paleontology, Geochemistry, Volcanology, Tectonics, and Petroleum Geology. Advances in Science, Technology & Innovation. Cham: Springer. hlm. 67–71. doi:10.1007/978-3-031-48758-3_16. ISBN 978-3-031-48757-6.
  21. Longuet, M.; Handa, N.; Zin-Maung- Maung-Thein; Thaung- Htike; Man-Thit- Nyein; Takai, M. (2024). "Post-cranial remains of Rhinocerotidae from the Neogene of central Myanmar: morphological descriptions and comparisons with ratios". Historical Biology: An International Journal of Paleobiology. 37 (8): 1859–1873. doi:10.1080/08912963.2024.2408617.
  22. images and movies of the Javan Rhinoceros (Rhinoceros sondaicus) Diarsipkan 27 September 2011 di Wayback Machine., ARKive
  23. 1 2 3 van Strien, Nico (2005). "Javan Rhinoceros". Dalam Fulconis, R. (ed.). Save the rhinos: EAZA Rhino Campaign 2005/6. London: European Association of Zoos and Aquaria. hlm. 75–79.
  24. Munro, Margaret (2002). "Their trail is warm: Scientists are studying elusive rhinos by analyzing their feces". National Post.
  25. "Top 10 most endangered species in the world". The Daily Telegraph. 4 January 2010. Diarsipkan dari asli tanggal 6 January 2010. Diakses tanggal 19 March 2012.
  26. 1 2 Fernando, Prithiviraj; Gert Polet; Nazir Foead; Linda S. Ng; Jennifer Pastorini; Don J. Melnick (June 2006). "Genetic diversity, phylogeny and conservation of the Javan rhinoceros (Rhinoceros sondaicus)". Conservation Genetics. 7 (3): 439–448. Bibcode:2006ConG....7..439F. doi:10.1007/s10592-006-9139-4. S2CID 24586209.
  27. 1 2 3 4 Derr, Mark (11 July 2006). "Racing to Know the Rarest of Rhinos, Before It's Too Late". The New York Times. Diakses tanggal 14 October 2007.
  28. 1 2 Rookmaaker, L. C. (2002). "Historical records of the Javan rhinoceros in North-East India". Newsletter of the Rhino Foundation of Nature in North-East India (4): 11–12.
  29. 1 2 Cranbook, Earl of; Philip J. Piper (2007). "The Javan Rhinoceros Rhinoceros Sondaicus in Borneo" (PDF). The Raffles Bulletin of Zoology. 55 (1): 217–220. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 11 August 2007. Diakses tanggal 4 November 2007.
  30. Piper, P. J. (2007). The Javan rhinoceros Rhinoceros sondaicus in Borneo. The Raffles Bulletin of Zoology, 55(1), 217-220.
  31. Rookmaaker, L. C. (2006). Distribution and extinction of the rhinoceros in China: review of recent Chinese publications. Pachyderm, 40, 101-105.
  32. 1 2 3 Foose, T. J.; van Strien, N. (1997). Asian Rhinos – Status Survey and Conservation Action Plan. IUCN, Gland, Switzerland, and Cambridge, UK. ISBN 978-2-8317-0336-7.
  33. 1 2 Corlett, R. T. (2007). "The Impact of Hunting on the Mammalian Fauna of Tropical Asian Forests". Biotropica. 39 (3): 202–303. Bibcode:2007Biotr..39..292C. doi:10.1111/j.1744-7429.2007.00271.x. S2CID 85988264.
  34. Ismail, F. (1998). "On the horns of a dilemma". New Straits Times.
  35. Daltry, J.C.; F. Momberg (2000). Cardamom Mountains biodiversity survey. Cambridge: Fauna and Flora International. ISBN 978-1-903703-00-7.
  36. WWF (25 October 2011) Inadequate protection causes Javan rhino extinction in Vietnam Diarsipkan 5 March 2016 di Wayback Machine.
  37. Brook, S. M.; Dudley, N.; Mahood, S. P.; Polet, G.; Williams, A. C.; Duckworth, J. W.; Van Ngoc, T.; Long, B. (2014). "Lessons learned from the loss of a flagship: The extinction of the Javan rhinoceros Rhinoceros sondaicus annamiticus from Vietnam" (PDF). Biological Conservation. 174: 21–29. Bibcode:2014BCons.174...21B. doi:10.1016/j.biocon.2014.03.014.
  38. 1 2 3 4 Hutchins, M.; M.D. Kreger (2006). "Rhinoceros behaviour: implications for captive management and conservation". International Zoo Yearbook. 40 (1): 150–173. doi:10.1111/j.1748-1090.2006.00150.x.
  39. Setiawan, R.; Gerber, B. D.; Rahmat, U. M.; Daryan, D.; Firdaus, A. Y.; Haryono, M.; Khairani, K. O.; Kurniawan, Y.; Long, B.; Lyet, A.; Muhiban, M. (2018). "Preventing Global Extinction of the Javan Rhino: Tsunami Risk and Future Conservation Direction". Conservation Letters. 11 (1) e12366. Bibcode:2018ConL...11E2366S. doi:10.1111/conl.12366.
  40. 1 2 3 Stanley, Bruce (22 June 1993). "Scientists Find Surviving Members of Rhino Species". Associated Press News.
  41. Emslie, R.; M. Brooks (1999). African Rhino. Status Survey and Conservation Action Plan. IUCN/SSC African Rhino Specialist Group. IUCN, Gland, Switzerland and Cambridge, UK. ISBN 978-2-8317-0502-6.
  42. Dursin, R. (16 January 2001). "Environment-Indonesia: Javan Rhinoceros Remains At High Risk". Inter Press Service.
  43. 1 2 Williamson, Lucy (1 September 2006). "Baby boom for near-extinct rhino". BBC News. Diakses tanggal 16 October 2007.
  44. Rare rhinos captured on camera in Indonesia, video, ABC News Online, 1 March 2011 (Expires: 30 May 2011)
  45. Cameras show 35 rare rhinos in Indonesia: official, PhysOrg, 30 December 2011
  46. "Cameras Used to Help Save Endangered Javan Rhino". Jakarta Globe. 2012. Diarsipkan dari asli tanggal 23 June 2012.
  47. Hariyadi, A. R. S. (July 2015). "Analysis of nutritional quality and food digestibility in male Javan rhinoceros (Rhinoceros sondaicus) in Ujung Kulon National Park". Pachyderm (57): 86–96.
  48. "Javan Rhinos to be Transferred to Cikepuh Wildlife Reserve".
  49. "Badak Jawa Akan Jalani Tes DNA Sebelum Dipindah ke Cikepuh".
  50. "Badak jawa akan huni Suaka Margasatwa Cikepuh". 23 May 2017.
  51. 1 2 "Endangered Javan rhino at risk from tsunami". BBC News. 28 December 2018. Diakses tanggal 28 December 2018.
  52. "Poachers claim to have killed one-third of all Javan rhinos, Indonesian police say". Mongabay Environmental News (dalam bahasa American English). 2024-05-31. Diakses tanggal 2024-06-06.
  53. "Javan Rhinoceros Update:Court Cases, Conservation Actions and New Calves". Save the Rhino. 2024. Diakses tanggal 2025-02-10.
  54. Raeburn, Paul (24 April 1989). "World's Rarest Rhinos Found in War-Ravaged Region of Vietnam". Associated Press News.
  55. "Javan Rhinoceros; Rare, mysterious, and highly threatened". World Wildlife Fund. 28 March 2007. Diakses tanggal 4 November 2007.
  56. "Rare Javan rhino found dead in Vietnam". WWF. 10 May 2010.
  57. Kinver, M. (24 October 2011). "Javan rhino 'now extinct in Vietnam'". BBC News. Diakses tanggal 19 June 2012.
  58. Gersmann, Hanna (25 October 2011). "Javan rhino driven to extinction in Vietnam, conservationists say". The Guardian. Diakses tanggal 25 October 2011.
  59. WWF – Inadequate protection causes Javan rhino extinction in Vietnam. Wwf.panda.org (25 October 2011). Retrieved 24 February 2012.
  60. Rookmaaker, L.C. (2005). "A Javan rhinoceros, Rhinoceros sondaicus, in Bali in 1839". Zoologische Garten. 75 (2): 129–131.
  61. National Park, Ujung Kulon (2025-11-21). "Pertama Kali dalam Sejarah: Badak Jawa Ditranslokasi dengan Dukungan Transportasi KAPA K-61 Marinir TNI Angkatan Laut". tnujungkulon.ksdae.kehutanan.go.id. Diakses tanggal 2025-11-21.
  62. Author (2025-11-28). "Kementerian Kehutanan Sampaikan Penjelasan Resmi Terkait Musofa, Badak Jawa Hasil Translokasi, Wafat Akibat Penyakit Kronis Bawaan". Situs resmi Kementerian Kehutanan Republik Indonesia. Diakses tanggal 2025-12-18.
  63. Triferna Violleta, Prisca (2025-11-28). "Kemenhut pastikan badak mati saat translokasi akibat penyakit kronis". Antara News. Diakses tanggal 2025-12-18.
  64. Fachreinsyah, Dendy (2025-11-27). [Badak Jawa yang Ditranslokasi Meninggal Dunia "Badak Jawa yang Ditranslokasi Meninggal Dunia"]. RRI. Diakses tanggal 2025-12-18.
  65. "Musofa, Badak Jawa Bercula Satu Mati di Translokasi Ujung Kulon". CNN Indonesia. 2025-11-27. Diakses tanggal 2025-12-18.
  66. Rivaldo, Aris (2025-11-27). "Badak Jawa Mati Usai Translokasi di Taman Nasional Ujung Kulon". Detik News. Diakses tanggal 2025-12-18.
  67. de Longh, H. H.; Prins, H. H. T.; van Strien, N.; Rookmaaker, L. G. (2005). "Some observations on the presence of one-horned rhinos in the bas reliefs of the Angkor Wat temple complex, Cambodia" (PDF). Pachyderm. 38: 98–100. doi:10.69649/pachyderm.v38i1.1226.
  68. Poole, C. M.; Duckworth, J. W. (2005). "A documented 20th century record of Javan Rhinoceros Rhinoceros sondaicus from Cambodia". Mammalia. 69 (3–4): 443–444. doi:10.1515/mamm.2005.039. S2CID 85394693.
  69. Stönner, H. (1925). "Erklärung des Nashornreiters auf den Reliefs von Angkor-Vat". Artibus Asiae. 1 (2): 128–130. doi:10.2307/3248014. JSTOR 3248014.
  70. Switek, B. (2009). "Stegosaurus, Rhinoceros, or Hoax?". Smithsonian Magazine.
  71. Fédération Internationale de Football Association [@FIFAWorldCup] (18 September 2022). "Meet Bacuya, the Javanese rhinoceros and mascot of the 2023 #U20WC Indonesia!" (Tweet). Diakses tanggal 18 September 2022 via X.
  72. "Bacuya™ the rhino bounds in as Official Mascot of FIFA U-20 World Cup Indonesia 2023™". FIFA.com. Fédération Internationale de Football Association. 18 September 2022. Diakses tanggal 12 November 2022.

Pranala luar

[sunting | sunting sumber]