Alfian Harahap

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Alfian Harahap
Alfian posing for Favorita's Magazine Vol 25 1967.png
LahirAlfian Rusdi Nasution
(1942-04-27)27 April 1942
Kekaisaran Jepang Binjai, Masa pendudukan Jepang
Meninggal11 Januari 1992(1992-01-11) (umur 49)
Jakarta, Indonesia
PekerjaanPenyanyi, Komposer, Penulis lagu
Suami/istriEndang Irawati
AnakTonny Alfian, Yanti, Erry, Alfiriza
Orang tuaZaenal Abidin Harahap (ayah)
Siti Chodijah Nasution (ibu)
Karier musik
GenrePop
InstrumenVokal
Tahun aktif1963 - 1975
LabelPT Remaco, Irama Tara


Alfian Harahap (dikenal juga sebagai Alfian Rusdi Nasution; 27 April 1942 – 11 Januari 1992)[1] adalah penyanyi, pemusik, dan pencipta lagu yang dikenal lewat lagunya yang paling hits berjudul Semalam di Cianjur, yang direkam sekitar tahun 1965. Beberapa lagu lainnya yang terkenal adalah Salawati, Bimbang, Senja di Kaimana, Dara Singapura, Sebiduk di Sungai Musi, Terpesona, dan Tiada Tangis Mengiringi Perpisahan.

Biografi[sunting | sunting sumber]

Masa Kecil[sunting | sunting sumber]

Tidak banyak yang diketahui tentang masa kecilnya di Sumatra Utara. Hanya diketahui bahwa is mulai menunjukkan bakat menyanyi pada usia 20 tahun. Saat itu ia kerap mencontoh gaya Elvis Presley, Cliff Richard, dan Pat Boone, yang tengah digandrungi anak-anak muda pada era awal 1960-an. Pada usia 20-an tahun itu Alfian sudah mulai menulis lagu seperti 'Terkenang Ibu', 'Relakan', 'Di Mana Kasih'. Berkarier di daerah asalnya tidak mampu mengangkat namanya menjadi seorang penyanyi seperti yang diinginkannya.

Karier Bermusik[sunting | sunting sumber]

Bermodalkan kemampuan olah vokal dan menulis lagu, pada 1964 Alfian memutuskan merantau ke Jakarta. Di ibukota ia berhasil meyakinkan perusahaan rekaman untuk merekam suaranya dan mengorbitkannya sebagai seorang penyanyi. Ia merekam suara emasnya di PT Remaco, perusahaan rekaman [label] terkenal masa itu. Debut perdananya dengan album Senja di Kaimana [ciptaan Surni Warkiman] sangat sukses. Lagu lain Sebiduk di Sungai Musi, Senja di Pantai Sanur.

Setahun kemudian, 1965, Alfian meraih beberapa penghargaan termasuk salah satunya dari Radio Republik Indonesia (RRI). Hal itu membuat Remaco semakin bersemangat mengontraknya untuk merilis album berikutnya. Saat mulai masuk kembali ke studio rekaman, Alfian secara spontan menulis lagu Semalam di Cianjur. Dia konon menulis lagu itu apa adanya di studio. Lagu inilah yang mengangkat namanya di Indonesia serta negara-negara tetangga. Pihak Singapura, Philips, menawari Alfian membuat album bareng Tety Kadi.

Setelah memulai karier bermusik sekitar tahun 1964 lewat album Senja di Kaimana, Semalam di Cianjur yang lagunya ia ciptakan sendiri, disusul album-album selanjutnya, semakin melambungkan namanya di jagat musik Indonesia saat itu. Kesuksesan album-album itu seperti tak terbendungkan lagi. Ia pun menjadi salah satu maestro penyanyi solo terpopuler tanah air pada era akhir 1960-an sampai awal 1970-an.

Karier Bekerja di Perusahaan[sunting | sunting sumber]

Pada awal 1970-an musik pop Indonesia secara perlahan mulai dikuasai oleh grup-grup band baru macam Koes Bersaudara (Koes Plus), Panbers, D'Lloyd, dsb yang menawarkan warna baru. Penyanyi-penyanyi solo, termasuk Alfian pun ikut terkena imbasnya. Namanya meredup pada tahun 1970-an. Sayang, ketika bermunculan grup musik seperti Koes Plus dan Panbers itu ia justru tidak percaya diri untuk tetap menekuni karier bernyanyi solo yang telah mempopulerkan namanya.

Alfian memilih lengser dari studio rekaman dan dunia tarik suara. Ia kemudian bekerja di PT Bonded Warehouse Indonesia di kawasan Tanjung Priok – Jakarta, menjadi pengawas bongkar muat kapal yang masuk. Karena pekerjaan sebagai pengawas di kawasan Tanjung Priok – Jakarta ini tidak mengenal waktu, praktis ia tidak bisa menyisihkan waktu untuk menyanyi.

Sejak itu namanya mulai tenggelam dari dunia musik dan tarik suara Indonesia. Akhirnya seolah terlupakan oleh berbagai pergantian generasi dan angkatan penyanyi baru yang terus bermunculan hingga saat ini.

Kehidupan Pribadi[sunting | sunting sumber]

Pernikahan dan Keluarga[sunting | sunting sumber]

Di puncak kepopulerannya, Alfian menikah dengan Endang Irawati pada tahun 1968. Mereka dikaruniai empat orang anak, yakni : Tonny Alfian, Yanti, Erry, dan Alfiriza.

Meninggal Dunia[sunting | sunting sumber]

Alfian meninggal dunia pada tanggal 11 Januari 1992 di Jakarta karena penyakit jantung dan diabetes yang dideritanya. Ia wafat setelah terjatuh ketika sedang menyannyi di sebuah acara di kawasan Halim Perdanakusuma. Saat itu juga ia langsung dilarikan ke RS. Fatmawati, Jakarta. Dari sana baru diketahui kelau ia mendapat gangguan jantung. Setelah dirawat selama lima hari akhirnya ia pun menghembuskan nafas terakhirnya.[2]

Pelanjut Dalam Keluarga[sunting | sunting sumber]

Tonny Alfian, anak sulung almarhum, kemudian berupaya meneruskan jejak ayahnya di blantika musik Indonesia dengan memperkenalkan 'The Best of Alfian'. Album ini berisi kompilasi lagu-lagu : Semalam di Cianjur, Sebiduk di Sungai Musi, Hadiah Ulang Tahun, Senja di Kaimana, Yang Ditinggalkan, Semalam di Kota Bogor. dll.

Lagu yang Melegenda[sunting | sunting sumber]

Selama kariernya Alfian mencipta dan membawakan puluhan lagu. Umumnya lagu-lagunya sukses di pasaran dan berhasil merebut hati penggemarnya masa itu. Lagu-lagunya mampu melegenda, tak lekang dan terlupakan oleh waktu. Meski namanya sempat seolah terlupakan oleh generasi berikutnya, namun tidak dengan lagu-lagunya. Hingga saat ini lagu-lagunya masih sering diputar di berbagai stasiun radio dalam acara lagu nostalgia, tembang kenangan, dsb di seluruh Indonesia maupun di beberapa negara tetangga. Juga kerap dibawakan oleh penyanyi era setelahnya ataupun para pejabat yang menggemarinya dalam berbagai acara.

Keunggulan Lagu-lagunya[sunting | sunting sumber]

Salah satu kelebihannya adalah kebanyakan lagunya menggambarkan hidup dan cinta di tengah kesederhanaan namun sangat mengena di hati. Hal ini tampak pada tembang-tembang seperti Kasih Ibu, Kisah di Bulan April, Sahlawati, Anak Desa, Suling Bambu, Relakan, Hadiah Ulang Tahun, hingga Gadis Pujaan.

Alfian juga dikenal sebagai musisi yang memiliki banyak lagu romantis berlatar keindahan tempat dan panorama alam di Tanah Air. Umumnya mengangkat kisah cinta dengan mengambil setting beberapa tempat di Indonesia seperti Senja di Kaimana, Semalam di Cianjur, Sebiduk di Sungai Musi, Semalam di Kota Bogor, dan Sungai Kahayan . Semua dinyanyikan dengan irama Pop Country nan apik, mengingatkan pada Pat Boone, penyanyi Amerika yang terkenal pada masa itu.

Lewat tembang “Semalam di Cianjur” (1964), Alfian menceritakan Cianjur sebagai kota tempat kenangan cintanya. Berkat lagu ini Alfian Harahap pernah disambut luar biasa oleh khalayak anak muda Cianjur pada suatu malam sekitar pertengahan 1960-an. Hal itu karena ia telah membuat harum nama Cianjur ke seantero negeri. Konon, saat manggung di Wisma Karya Cianjur, Alfian sempat berkenalan dan ”digosipkan” jatuh cinta dengan seorang mojang Cianjur keturunan Tionghoa. Beberapa saat setelah Alfian manggung di Wisma Karya, tiba-tiba penyanyi kenamaan yang dalam aksi-aksinya sering meniru gaya Elvis Presley dan Pat Boone itu muncul dalam sebuah lagu berjudul Semalam di Tjiandjoer.[3]

Sama seperti lagu Semalam di Kota Cianjur, dalam lagu "Semalam di Kota Bogor" Alfian juga menceritakan tentang kisah cintanya di kota hujan. Bedanya, Pada lagu itu, Bogor dengan Kebun Raya Bogor dimunculkan, sebagai kota yang mengakhiri keindahan di antara banyak kota lainnya.

Satu lagu lain sangat berkesan adalah "Anak Desa". Lagu ini menceritakan seseorang yang mengembara di perantauan. Di tengah hidupnya yang sulit, ia tetap tabah. Dan ia berjanji, kelak akan berkumpul kembali dengan sanak keluarga. Cukup Mengharukan.

Lagu lainnya, Senja di Kaimana, menceritakan kenangan akan kisah cinta di Kaimana, Papua Barat dalam suasana sunset yang sangat mungkin lokasinya di pantai. Kedatangan seorang kekasih yang memberi usapan lembut bagi pribadi yang terluka. Sungguh romantis. Apalagi ternyata, lagu ini diciptakan oleh prajurit Trikora yang saat itu berjuang dalam Pembebasan Irian Barat. Cinta kasih tak lekang walau di tengah gejolak konflik yang memanas.

Selepas berakhirnya konfrontasi' Indonesia dan Malaysia pada tahun 1965/66 sempat diadakan pertukaran artis kedua negara. Acara ini disiarkan di stasiun televisi saat itu yakni TVRI. Alfian adalah salah satu artis yang mewakili Indonesia dengan membawakan lagunya 'Sahlawati'.

Disukai Berbagai Generasi[sunting | sunting sumber]

Dari Liputan6.com, Jakarta - Lagu Senja di Kaimana belakangan ini kembali ramai diputar oleh masyarakat. Gara-garanya adalah kunjungan kerja Presiden Joko Widodo ke Provinsi Papua Barat, Minggu (27/10/2019). Dalam kesempatan itu, Jokowi dan istrinya menyambangi Taman Kota Senja di Kabupaten Kaimana, Papua Barat, yang menjadi tema utama lagu Senja di Kaimana milik penyanyi lawas Alfian tersebut. Jokowi pun mengunggah momen ketika ia berada di lokasi tersebut. Jokowi menambah, lirik yang ada di lagu "Senja di Kaimana" itu benar-benar mewakili perasaannya ketika berada di salah satu kabupaten di leher Burung Cendrawasih Pulau Papua.[4]

Dr. Muliaman D. Hadad, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (2012-2017) yang pernah menjabat Deputi Gubernur Bank Indonesia, sangat sering (suka) menyanyikan lagu ini. Selama 15 tahun terakhir, apabila ia didaulat menyanyi di atas panggung, belian selalu membawakan lagu "Semalam di Tjiandjoer".[5]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Kisah Cinta Sang Biduan di Cianjur". Historia - Majalah Sejarah Populer Pertama di Indonesia. 2015-10-15. Diakses tanggal 2022-08-19. 
  2. ^ https://majalah.tempo.co/read/album/9863/meninggal?
  3. ^ https://www.kaskus.co.id/thread/514149c06112432f0f000008/kisah-dibalik-lagu-lawas-quotsemalam-di-cianjurquot/
  4. ^ http://www.liputan6.com/showbiz/read/4097130/senja-di-kaimana-ngetop-lagi-karena-jokowi-ini-3-lagu-alfian-lainnya-yang-populer
  5. ^ :http://philipsrobert.blogspot.com/2015/06/penyanyi-masa-lalu-alfian.html