Kota Tanjungpinang

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Tanjungpinang)
Langsung ke: navigasi, cari
Kota Tanjungpinang
كوتا تنجوڠڤينڠ
Bintan 1rightarrow blue.svg Kepulauan Riau
Pemandangan Kota Tanjungpinang  كوتا تنجوڠڤينڠ
Pemandangan Kota Tanjungpinang
كوتا تنجوڠڤينڠ
Lambang Kota Tanjungpinang  كوتا تنجوڠڤينڠ
Lambang
Semboyan: Jujur Bertutur Bijak Bertindak
Lokasi Kota Tanjungpinang  كوتا تنجوڠڤينڠ di Pulau Bintan
Lokasi Kota Tanjungpinang
كوتا تنجوڠڤينڠ di Pulau Bintan
Kota Tanjungpinang  كوتا تنجوڠڤينڠ is located in Indonesia
Kota Tanjungpinang
كوتا تنجوڠڤينڠ
Lokasi Kota Tanjungpinang
كوتا تنجوڠڤينڠ di Pulau Bintan
Koordinat: 1°5′0″LU 104°29′0″BT / 1,08333°LU 104,48333°BT / 1.08333; 104.48333
Negara  Indonesia
Hari jadi 17 Oktober 2001
Ibu kota Senggarang
Pemerintahan
 • [[]] H. Iis darmansyah
Populasi ((2010))
 • Total 187.359 jiwa
 • Kepadatan 804/km2 (2,080/sq mi)
Demografi
 • Suku bangsa Melayu, Tionghoa, Jawa, Minang, Bugis
 • Agama Islam, Kristen, Buddha
 • Bahasa Melayu
Zona waktu WIB
Kecamatan 4
Desa/kelurahan 18
Situs web www.tanjungpinangkota.go.id
Sebelumnya ibukota Kabupaten Riau Kepulauan.

Tanjungpinang atau sebelumnya disebut Tanjung Pinang (disingkat Tg. Pinang) adalah ibu kota dari provinsi Kepulauan Riau, Indonesia. Yang terletak di koordinat 0º5' Lintang Utara dan 104º27' Bujur Timur, tepatnya di Pulau Bintan.

Kota ini memiliki cukup banyak daerah parawisata seperti Pulau Penyengat yang hanya berjarak kurang lebih 2 mil dari pelabuhan laut Tanjungpinang - Pelabuhan Sri Bintan Pura, Pantai Trikora dengan pasir putihnya terletak kurang lebih 65 km dari kota, dan pantai buatan yang terletak di garis pantai pusat kota sebagai pemanis atau wajah kota (waterfront city).

Pelabuhan Laut Tanjungpinang - Pelabuhan Sri Bintan Pura memiliki kapal-kapal jenis feri dan feri cepat (speedboat) untuk akses domestik ke pulau Batam dan pulau-pulau lain seperti; kepulauan Karimun dan Kundur, serta kota-kota lain di Riau daratan, juga merupakan akses internasional ke negara Malaysia dan Singapura.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Berdasarkan Sulalatus Salatin kawasan kota ini merupakan bagian dari Kerajaan Melayu, setelah jatuhnya Malaka ke tangan Portugal, Sultan Mahmud Syah menjadikan kawasan ini sebagai pusat pemerintahan Kesultanan Malaka. Kemudian menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Johor, sebelum diambil alih oleh Belanda terutama setelah Belanda menundukan perlawanan Raja Haji Fisabilillah tahun 1784 di Pulau Penyengat.

Pada masa kolonial Belanda, Tanjungpinang ditingkatkan statusnya menjadi pusat pemerintahan dari Residentie Riouw pemerintah Hindia-Belanda. Kemudian di awal kemerdekaan Indonesia, menjadi ibu kota Kabupaten Kepulauan Riau. Setelah menjadi Kota Administratif - Kabupaten Kepulauan Riau hingga tahun 2000, berdasarkan UU Nomor 5 Tahun 2001, pada tanggal 21 Juni 2001, statusnya menjadi Kota Tanjungpinang. Pusat pemerintahan yang semula berada di pusat Kota Tanjungpinang di pemukiman padat penduduk kemudian dipindahkan ke Senggarang (bagian utara kota) sebagai pusat pemerintahan. Hal ini ditujukan untuk mengimbangi kesenjangan pembangunan dan kepadatan penduduk yang selama ini berpusat di kota lama (bagian barat kota).

Pemerintahan[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 2002 terpilih Dra. Hj. Suryatati A. Manan sebagai Walikota pertama melalui pemilihan oleh DPRD Kota Tanjungpinang. Pada tahun 2007, ia terpilih kembali untuk menjadi Wali Kota Tanjungpinang. Kemudian pada tahun 2012, ia digantikan oleh H. Lis Darmansyah.

Wilayah administrasi pemerintahan Kota Tanjungpinang dibagi menjadi 4 kecamatan dan 18 kelurahan. Kecamatan-kecamatan di Kota Tanjungpinang adalah: Tanjungpinang Barat, Tanjungpinang Kota, Bukit Bestari, dan Tanjungpinang Timur

Geografi[sunting | sunting sumber]

Sebagian wilayah Tanjungpinang merupakan dataran rendah kawasan rawa bakau dan sebagian lain merupakan perbukitan sehingga lahan kota sangat berfariasi dan berkontur.

Iklim[sunting | sunting sumber]

Kota Tanjungpinang maupun Pulau Bintan keseluruhan beriklim tropis dengan temperatur 23 °C – 34 °C. Tekanan udaranya berkisar antara 1.010,2 mbs dan 1.013,7 mbs.

Musim[sunting | sunting sumber]

Secara resmi memiliki musim kemarau dan musim penghujan. Tidak ada perbedaan musim yang mencolok di daerah ini. Hujan dapat turun sepanjang tahun. Namun setiap akhir sampai dengan awal tahun terjadi "Angin Utara" yang sangat berbahaya dengan gelombang yang sangat kuat.

Kependudukan[sunting | sunting sumber]

Suku Melayu merupakan penduduk asli dan kelompok suku bangsa yang dominan di Tanjungpinang, selain itu terdapat juga suku Bugis dan Tionghoa yang sudah ratusan tahun berbaur dengan suku Melayu dan menjadi penduduk tetap semenjak zaman Kesultanan Johor Riau dan Residentie Riouw. Suku Bugis awalnya menetap di Kampung Bugis dan suku Tionghoa banyak menempati Jalan Merdeka dan Pagar Batu. Suku Jawa mulai ramai mendatangi Tanjung Pinang pada tahun 1960, pemukiman awal orang Jawa terletak di Kampung Jawa.

Menjelang tahun 2000 hingga sekarang orang Sunda, Minangkabau dan Batak menjadi suku pendatang yang paling banyak mendatangi Tanjungpinang. Suku Sunda, Minang, dan Batak datang dengan tujuan mengubah nasib melalui berbagai jenis pekerjaan di berbagai bidang, karena saking minimnya lapangan pekerjaan dan pembangunan di kampung-kampung mereka di Jawa Barat dan Sumatera akibatnya minimnya investasi asing.

Suku Batak secara besar-besaran bermigrasi ke Kepulauan Riau, khususnya Batam, Tanjung Pinang, dan Tanjung Balai Karimun dengan ambisi menguasai perekonomian dan politik kepulauan riau, dengan disertai misi penyebaran agama melalui HKBP. Suku Batak banyak terlibat dalam usaha 'peminjaman uang', tambal ban, tukang parkir, sopir angkot, kuli pelabuhan, kuli bangunan, advokat, hingga menjadi anggota DPRD. Suku Batak menyadari betapa strategis dan berharganya kepulauan Riau. Begitu juga dengan suku Minang dan Sunda, semenjak pembangunan Tanjung Pinang di arahkan ke arah batu 8 ke atas, ramai suku Minang, Sunda, dan batak datang beramai-ramai membawa kawan dan sanak saudaranya dari kampung untuk pindah ke kepulauan riau dengan alibi tradisi merantau. Hal ini terjadi akibat di daerah mereka di Sumatera barat dan Sumatera Utara terlalu ketat dalam menerapkan hak ulayat, hingga investor susah mendapat lahan untuk investasi, akibat sengketa tanah adat. Hal-hal seperti inilah yang mengakibatkan provinsi mereka menjadi provinsi yang tidak berkembang, yang membuat banyak penduduknya tidak sejahtera dan kehilangan rasa cinta tanah air, dan ahkhirnya memilih bermigrasi ke kepulauan riau karena banyaknya peluang emas di provinsi ini, ditambah lagi dengan kedekatan kepulauan riau dengan singapura dan malaysia. Sementara itu, perempuan Sunda banyak yang bekerja di klub malam, salon, dan panti pijat dengan harapan dinikahi pria-pria tua asal Singapura yang banyak ditemukan di kepulauan Riau pada hari Sabtu dan Minggu. Jalan raya yang panjang dan lebar, gedung-gedung yang tinggi, jembatan yang megah, bandara dan pelabuhan yang modern adalah beberapa hal yang membuat mereka tercengang karena tidak pernah mereka temukan di kampung halaman mereka.

Bahasa yang digunakan di Tanjung Pinang adalah bahasa Melayu. Bahasa Melayu di kota ini sama dengan bahasa melayu yang digunakan di Singapura, Johor, Pahang, Selangor, Malaka hingga Kuala Lumpur, karena memang sejak zaman pemerintahan kesultanan Riau Lingga dahulu Tanjungpinang sudah menjadi pusat budaya Melayu bersama Singapura. Selain itu bahasa Tiochiu dan Hokkien juga banyak digunakan oleh suku Tionghoa di Kota Tanjungpinang.

Perhubungan[sunting | sunting sumber]

Kota Tanjungpinang terdapat Pelabuhan Domestik dan Internasional yaitu Pelabuhan Sri Bintan Pura, serta Bandara Internasional, Bandar Udara Internasional Raja Haji Fisabilillah.

Perekonomian[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 2001, sektor perdagangan, hotel, dan restoran memberikan kontribusi yang cukup signifikan dalam membangun perekonomian Kota Tanjungpinang yaitu sebesar 35,54% kemudian diikuti oleh sektor industri pengolahan 15,37%, sektor bangunan 13,29%, sektor jasa-jasa 12,51%, dan sektor pengangkutan dan komunikasi 10,82%. Sedangkan sektor lainnya meliputi sektor listrik, gas, dan air bersih, keuangan, pertanian, dan sektor pertambangan dan penggalian sebesar 12,47%.[1]

Pariwisata[sunting | sunting sumber]

Pulau Penyengat merupakan salah satu kawasan wisata di Kota Tanjungpinang. Pulau seluas 3,5 km² ini berada di sebelah barat Kota Tanjungpinang dan dapat ditempuh 15 menit dengan transportasi laut. Pada pulau ini terdapat banyak peninggalan lama dengan wujud bangunan dan makam yang telah dijadikan situs cagar budaya. Selain itu juga dijumpai kelenteng atau vihara di kawasan Kampung Bugis yang sekaligus menjadi kawasan wisata religi.

Pariwisata di kota Tanjungpinang ditunjang oleh adanya 13 hotel bintang, 43 hotel non bintang, 34 rumah makan dan pusat-pusat belanja yang terdiri dari 13 supermarket serta pertokoan yang tersebar di wilayah kota. Sementara jumlah kunjungan wisatawan didominasi dari negara Singapura, Malaysia dan Belanda. Kota ini juga menawarkan sajian kuliner aneka hidangan laut, dan masakan Cina.[2]

Galeri[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ ciptakarya.pu.go.id Profil Kota Tanjungpinang (diakses pada 4 Februari 2012)
  2. ^ www.bappedatanjungpinang.info Sekilas Kota Tanjungpinang (diakses pada 4 Februari 2012)

Pranala luar[sunting | sunting sumber]