Keuskupan Bogor
| Informasi |
| Latin |
Dioecesis Bogorensis |
| Uskup |
Mgr Cosmas Michael Angkur OFM |
| Vikjen |
RD. Benyamin Sudarto |
| Sekretaris keuskupan |
RD. Stefanus Sri Haryono Putro |
| Ekonom |
RD. Markus Lukas |
| Katedral |
St. Perawan Maria, Bogor |
| Alamat keuskupan |
Jl. Kapt. Muslihat No. 22, Bogor 16122 |
| Pusat |
Bogor |
| Sejarah |
| Berdiri |
3 Januari 1961 |
| Sebelumnya |
Prefektur Apostolik Sukabumi (9 Desember 1948) dan Paroki Bogor |
| Statistik |
| Jumlah paroki |
21[1] |
| Jumlah imam |
56 |
| Jumlah umat |
90.000 |
| Website |
http://www.keuskupanbogor.org |
Keuskupan Bogor merupakan keuskupan sufragan dari Keuskupan Agung Jakarta. Wilayahnya meliputi 18.400 km2 di enam kabupaten di Provinsi Jawa Barat dan Banten, berpusat di Bogor. Umat Katolik di Keuskupan Bogor berjumlah sekitar 90.000 dan tersebar dalam 21 paroki dan dilayani oleh 56 imam.
Imam diosesan (Praja) dikembangkan sejak awal di Keuskupan Bogor dan sekarang berjumlah 42 orang. Jumlah imam dari tarekat religius 14 orang. Rata-rata setiap imam melayani keperluan rohani 1.607 orang umat.
Walaupun kontak pertama agama Katolik yang dibawa para pedagang Portugis dengan penduduk Banten yang beragama Hindu terjadi di awal abad ke-16, namun baru pada pertengahan abad ke-19 Bogor dikunjungi oleh imam dari Batavia (Jakarta) untuk merayakan Ekaristi. Pada 1885 Pastor MYD Claessens Pr menetap di Bogor. Ia juga mendirikan gereja di Sukabumi (1896) dan membangun gereja yang sekarang menjadi katedral Bogor. Pada tahun 1929 imam-imam Fransiskan Konventual (OFM Kon) mulai bekerja di Batavia (Jakarta) dan berangsur-angsur mereka membina stasi-stasi Rangkasbitung (1933), Cianjur (1933), Cicurug (1934) dan Serang (1939). Dalam perkembangan selanjutnya kemudian dibentuklah suatu Prefektur Apostolik Sukabumi dipisahkan dari Vikariat Apostolik Batavia (Jakarta) pada 9 Desember 1948, dan pembinaannya diserahkan kepada Ordo Fransiskan (OFM Kon). Dengan berdirinya hirarki Gereja Katolik mandiri di Indonesia pada 3 Januari 1961, paroki Bogor digabungkan dengan Prefektur Apostolik Sukabumi menjadi Keuskupan Bogor.
Prefek Apostolik [sunting]
- Paternus Nicholas Joannes Cornelius Geise OFM (1948-1961)
- Katedral St Perawan Maria, Bogor (1889)
- St Fransiskus Asisi, Sukasari, Bogor (1963)
- Maria Bunda Segala Bangsa, Cileungsi
- St Petrus, Cianjur (1931)
- St Fransiskus, Cibadak
- Hati Maria Tak Bernoda, Cicurug (1951)
- St Andreas, Ciluar
- St Maria Ratu Para Malaikat, Cipanas (1948)
- Keluarga Kudus, Cibinong (1975)
- St Paulus, Depok Lama (1960)
- St Herkulanus, Depok Jaya
- St Matias, Cinere (1994)
- St Matius, Depok II Tengah
- St Markus, Depok II Timur
- St Thomas, Kelapa Dua Cimanggis (1991)
- St Maria Tak Bernoda, Rangkasbitung (1888)
- Kristus Raja, Serang (1950)
- St Joannes Baptista, Parung
- St Yoseph, Sukabumi (1927)
- St Yakobus, Megamendung (1984)
- St Maria Fatima, Sentul City
- MAWI, Buku Petunjuk Gereja Katolik Indonesia 1986, hal 43-44
- CLC, Ensiklopedi Populer Tentang Gereja Katolik di Indonesia, 1989, HAL 46-49
Pranala luar [sunting]
|
|
|
| Keuskupan Agung |
|
|
| Keuskupan Sufragan |
|
|
| Keuskupan Ordinariat Militer |
|
|
|
|
|
|
|
|
| Keuskupan Agung |
|
|
| Keuskupan Sufragan |
|
|
|
|
|