Kertosono, Nganjuk

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Kertosono
—  Kecamatan  —
Negara  Indonesia
Provinsi Jawa Timur
Kabupaten Nganjuk
Pemerintahan
 • Camat Tri Wahyu Kuntjoro,S.Sos,MM
Luas - km²
Jumlah penduduk ±52.700
Kepadatan - jiwa/km²
Desa/kelurahan 13 Desa; 1 Kelurahan

Kertosono adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Indonesia.

Kecamatan ini terletak di bagian timur Kabupaten Nganjuk, berbatasan dengan wilayah Kabupaten Jombang dan Kabupaten Kediri. Kertosono terletak di persimpangan jalur utama Surabaya-Yogyakarta dan jalur menuju Kediri/Tulungagung.

Pusat kota Kertosono berjarak kira-kira 19 km dari kota Jombang, 23 km dari Nganjuk, dan 23 km dari Kediri.

Di Kertosono terdapat stasiun kereta api. Stasiun ini cukup signifikan, karena satasiun kertosono cukup besar dibandingkan dengan stasiun di kabupaten atau kota di sekitarnya dan hampir semua kereta api reguler berhenti di sini. Kereta api dari Surabaya dengan tujuan Kediri/Blitar harus langsir di Stasiun Kertosono. Jadi, stasiun Kertosono bisa disebut stasiun pertigaan yang menghubungkan dari arah Madiun, Surabaya, dan Blitar.

Masyarakat di sini rata-rata mempunyai mata pencaharian bertani dan berdagang.

Makanan khas Kertosono adalah nasi pecel+ tumpang (sambal tumpang dari tempe yg dibusukan dan sambal pecel), makanan tersebut merupakan perpaduan kuliner pecel khas madiun dan tumpang khas kediri sehingga tercipta cita rasa khas nasi pecel tumpang Kertosono. Masyarakat di kertosono sangat menggemari kopi.Banyak sekali warung kopi tradisional di kertosono. Tiap malam beragam kuliner menghiasi Kota Kertosono disepanjang Jl.Gatot Soebroto & Jl. A.Yani.

Masyarakat Kertosono mempunyai media online yaitu Majalah Kertosono (http://kertosono.net)

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Konon nama Kertosono diambil dari seorang nama pahlawan yang berasal dari daerah Kuncen Kecamatan Patianrowo. Dulu hidup seseorang yang bernama Kertosono atau biasa di panggil Mbah Kerto, Beliau adalah seorang pembabat hutan yang tidak lain dilakukan mbah kerto hanya untuk mempertahankan daerah tersebut dari jajahan belanda Namun kejadian bersejarah mulai terjadi ketika pasukan yang di komandoi Mbah Kerto mempertahankan tempat tersebut dari jajahan belanda yang di kenal dengan perang “Treteg Tosono” yang berada di atas jembatan sungai Brantas. Para tentara Belanda sendiri membangun jembatan sebagai jalur penghubung sekaligus mempermudah Belanda menjajah tempat tersebut, namun dengan kegigihan pasukan Mbah Kerto pertumpahan darahpun tak terelakkan. Saksi bisu dari perang “Treteg Tosono” kini masih gagah berdiri di terjang waktu dan aliran sungai Brantas. Untuk memperingati perang Treteg Tosono, biasanya para penduduk sekitar waktu hari raya Idhul Fitri (bodo) datang langsung ke Treteg Tosono yang kini disebut sebagai jembatan lama, mereka mengingat kembali & mendoakana para pahlawan yang gugur ketika perang Treteg Tosono dulu. Maka dari itu di Kecamatan Kertosono tidak ada tempat yang bernama Kertosono ataupun desa Kertosono, di karenakan Kertosono sendiri adalah nama dari seorang pahlawan. Makam dari Mbah Kerto tidak berada di Kecamatan Kertosono melainkan di barat Pondok milik Pak Komari di Desa Kuncen kecamatan Patianrowo. kertosono sendiri juga mempunyai icon yaitu jembatan lama yang dahulu adalah jalur utama menuju Surabaya jembatan ini pula menyimpan sejuta sejarah, mulai sejarah kelam G 30sPKI dan sejarah perjuangan merebut kemerdekaan. Kertosono memiliki sekolah menengah atas dan menengah pertama yang cukup terkenal di kabupaten nganjuk sekolah itu adalah SMA Negeri 1 Kertosono dan SMP Negeri 1 Kertosono. Yang merupakan sekolah tertua di kota kecil ini

Tokoh[sunting | sunting sumber]

Kertosono terkenal dengan sebutan "Kota Intelektual", karena banyak tokoh besar nasional lahir dari kota kecil ini. Tercatat ada beberapa tokoh besar yang pernah menetap dikota kertosono, antara lain:

Referensi[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]