Ultras

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Kelompok ultras

Ultras adalah sebutan bagi kelompok suporter sepak bola yang cenderung fanatisme dan ekstremisme dalam memberikan dukungan bagi klub sepak bola tertentu. Terkadang ultras juga dapat disebut dengan hooligan, tetapi istilah ini lebih dekat ke budaya sepak bola Inggris.[1] Kelompok suporter ultras tidak seperti pendukung biasa, mereka terorganisir dan memiliki ikatan setiap anggotanya, baik itu latar belakang ekonomi, budaya, agama dan ideologi.[2][3]

Asal Usul[sunting | sunting sumber]

Istilah ultras pertama kali muncul dalam sepak bola Italia. Pada periode 1960-an dan 1971-an, istilah ini muncul sebagai bentuk perlawanan terhadap komersialisasi dan invasi kapitalisme dalam dunia sepak bola. Bentuk-bentuk perlawanan itu dimunculkan secara eksplisit dengan menonjolkan simbol-simbol kelompok, terutama sekali simbol yang terafiliasi dengan ideologi politik tertentu, seperti swastika dan palu arit.[2]

Kelompok-kelompok ultras secara terbuka menunjukkan diri sebagai sayap kiri ataupun sayap kanan. Kini ultras tidak lagi terdapat dalam sepak bola Italia saja, tetapi sudah menyebar ke seluruh dunia, bahkan ke wilayah yang tradisi sepak bola-nya kurang menonjol.[2]

Penyebaran[sunting | sunting sumber]

Sejak kemunculannya, ultras sudah berkembang dan menyebar hampir ke seluruh dunia. Beberapa kelompok ultras menjadi sangat terkenal, ada yang dikenal karena kebrutalannya, fanatismenya, hingga kreativitasnya.

Italia[sunting | sunting sumber]

Sisi selatan Stadion Olimpico menjadi tribun khusus bagi suporter A.S. Roma. Terlihat banner berkibar berwarna merah-kuning, warna kebesaran Roma.

Sebagai negara asal-usul ultras, Italia tentu saja yang memiliki kelompok-kelompok ultras militan. Sebagai sebuah negara yang memiliki riwayat sejarah penuh konflik, termasuk Perang Dunia II dan dipimpin oleh rezim fasisme memunculkan polarisasi dalam masyarakat Italia. Beberapa kelompok suporter secara terang-terangan menujukkan identitasnya dan kebenciannya terhadap kelompok suporter yang dianggap bertentangan dengan prinsip mereka.[4]

Daftar Beberapa Kelompok Ultras Klub Serie A
Klub Suporter Ideologi
AS Roma logo (2017).svg Commando Ultrà Curva Sud, AS Roma Ultras, Boys, Giovinezza, dst. Kanan tengah[5]
SS Lazio.svg Tifoseria Laziale, Tuparamos, Eagles, Irriducibili, dst. Sayap kanan[6]
Logo of AC Milan.svg Fossa dei Leoni, Brigette Rossonere, Commandos Tigre, Curva Sud Milano, dst. Sayap kiri[7]
FC Internazionale Milano 2021.svg Boys-San, Vikings, Gammelagio Irriducibili, Brianza Aloolica, Milano Nerazzurra, dst. Sayap kanan[8]
Juventus FC 2017 icon (black).svg Gruppo Storico Fighters 1977, Black and White Fighters 1977, Drughi, Vikings, dst. Kiri tengah[9]

Selain beberapa nama-nama kelompok suporter di atas, masih banyak klub sepakbola Italia yang memiliki pendukung dengan reputasi "ultras". Kelompok-kelompok suporter tersebut tersebar di berbagai wilayah di Italia, bahkan di luar kota yang menjadi markas klub yang mereka dukung.[4]

Sebuah spanduk melawan kriminalisasi aktivis yang dibentangkan oleh suporter FC Barcelona. Tertulis dalam bahasa Inggris, "Only dictatorship jail peaceful political leaders".

Spanyol[sunting | sunting sumber]

Perkembangan sepakbola di Spanyol juga tidak terlepas dari latar belakang sejarah, sosial dan politik negara itu. Konflik yang ada di dalam sejarah masyarakat Spanyol dapat ditarik sejak Perang Saudara Spanyol, rezim Francisco Franco, dan pasca Franco. Kelompok-kelompok suporter sepakbola mulai mendikotomikan diri mereka ke dalam kelompok yang saling berlawanan.[10]

Beberapa kelompok suporter mengafilisiasikan diri mereka dengan kekuatan nasionalis yang dipimpin Francisco Franco, sementara yang lain mengidentifikasikan diri sebagai loyalis Republik. Di tambah lagi ada beberapa klub yang membangun sentimen etnis dan separatisme, seperti Catalunya dengan FC Barcelona dan Basque Country dengan Athletic Bilbao.[11]

Jerman[sunting | sunting sumber]

Seperti halnya Italia dan Spanyol, sepakbola bagi masyarakat Jerman juga tidak dapat dilepaskan dari sejarah dan hubungannya dengan politik.[12] Selama kekuasaan Jerman Nazi, sepakbola telah diubah menjadi alat politik dan propaganda pemerintah. Intervensi rezim Hitler bahkan mampu merubah sistem kompetisi hingga membubarkan klub yang tidak mau patuh terhadap regulasi.[13]

Setelah keruntuhan Jerman Nazi pasca Perang Dunia II, sisa-sisa loyalis Nazi masih kuat, termasuk di dalam sepakbola Jerman. Beberapa suporter klub mengidentifikasikan diri sebagai Neo-Nazi.[14] Asosiasi Sepakbola Jerman sendiri sedang berupaya untuk menghapus pengaruh Nazisme.[15] Beberapa klub Jerman yang menyatakan dirinya anti-Nazi diantaranya adalah BVB Dortmund dan FC St. Pauli.[16][17]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Prasetyo, Hari (2019-08-15). "Suporter: Ultras, Jebakan Hooligan, dan Mania yang Menenteramkan". Tempo (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2020-01-22. 
  2. ^ a b c "What is a football ultra? Serie A hardcore fan culture explained | Goal.com". www.goal.com. Diakses tanggal 2020-01-22. 
  3. ^ Loop. "Kreatif tapi Suka Bikin Rusuh, Ini 5 Ultras Paling Sangar di Dunia Sepakbola | Loop.co.id". loop.co.id. Diakses tanggal 2020-01-22. [pranala nonaktif permanen]
  4. ^ a b Jones, Tobias (2019-09-15). "At home with Italy's ultras: 'It isn't about watching football, but watching each other'". The Guardian (dalam bahasa Inggris). ISSN 0261-3077. Diakses tanggal 2020-01-22. 
  5. ^ Hall, Richard; Hodges-Ramon, Luca (2014-12-11). "Roma: Serie A alternative club guide". The Guardian (dalam bahasa Inggris). ISSN 0261-3077. Diakses tanggal 2021-01-04. 
  6. ^ "Lazio: Serie A alternative club guide". the Guardian (dalam bahasa Inggris). 2014-08-14. Diakses tanggal 2021-01-04. 
  7. ^ Hall, Richard (2014-09-12). "Milan: Serie A alternative club guide". The Guardian (dalam bahasa Inggris). ISSN 0261-3077. Diakses tanggal 2021-01-04. 
  8. ^ Hall, Richard (2014-06-05). "Internazionale: Serie A alternative club guide". The Guardian (dalam bahasa Inggris). ISSN 0261-3077. Diakses tanggal 2021-01-04. 
  9. ^ "Juventus: Serie A alternative club guide". the Guardian (dalam bahasa Inggris). 2014-07-22. Diakses tanggal 2021-01-04. 
  10. ^ Westby, David (2017). Ultras in Spain: A Study on the Relationship Between Macro-level Cleavages and Micro-level Actors. Massachusetts: Tufts University. hlm. 65–69. 
  11. ^ País, El (2014-12-12). "Spain's soccer hooligan map". EL PAÍS (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-01-04. 
  12. ^ "Germany's ultra fans are fighting for the future of Bundesliga clubs". South China Morning Post (dalam bahasa Inggris). 2020-03-02. Diakses tanggal 2021-01-04. 
  13. ^ Niiler, Eric. "World Cup 1938: When Nazi Germany Forced Austrians to Play For Them—And Lost". HISTORY (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-01-04. 
  14. ^ Welle (www.dw.com), Deutsche. "Why was a Neo-Nazi hooligan mourned at a football game in Germany? | DW | 14.03.2019". DW.COM (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-01-04. 
  15. ^ Welle (www.dw.com), Deutsche. "German Soccer Faces Nazi Past | DW | 15.09.2005". DW.COM (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-01-04. 
  16. ^ Shidiq, Taufik Nur (2014-10-29). "Hooligan Neo-Nazi dan Anti-Salafi". Pandit Football Indonesia. Diakses tanggal 2021-01-04. 
  17. ^ "St. Pauli, Klub Sepakbola Musuh Sejati Kaum Fasis". tirto.id. Diakses tanggal 2021-01-04.