Titik Nol Kilometer Yogyakarta

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Titik Nol Kilometer Yogyakarta
Gedung Bank BNI 1946 Yogyakarta.jpg
Gedung Bank BNI 1946 Yogyakarta, salah satu bagian dari Titik Nol Kilometer Yogyakarta
Nama lokal ꦠꦶꦠꦶꦏ꧀ꦤꦺꦴꦭ꧀ꦏꦶꦭꦺꦴꦩꦺꦠꦼꦂꦔꦪꦺꦴꦒꦾꦏꦂꦠ  (Jawa)
Bagian dari Sumbu Filosofis Yogyakarta
Tipe Persimpangan
Lokasi Kota Yogyakarta, Indonesia
Koordinat 7°48′05″S 110°21′53″E / 7.801363°S 110.364787°E / -7.801363; 110.364787Koordinat: 7°48′05″S 110°21′53″E / 7.801363°S 110.364787°E / -7.801363; 110.364787
Persimpangan
besar
1
Utara Jalan Margo Utomo
Timur Jalan Panembahan Senopati
Selatan Jalan Pangurakan
Barat Jalan KH Ahmad Dahlan

Titik Nol Kilometer Yogyakarta (bahasa Jawa: ꦠꦶꦠꦶꦏ꧀ꦤꦺꦴꦭ꧀ꦏꦶꦭꦺꦴꦩꦺꦠꦼꦂꦔꦪꦺꦴꦒꦾꦏꦂꦠ, translit. Titik Nol Kilomèter Ngayogyakarta) adalah sebuah kawasan persimpangan yang terletak di Gondomanan, Yogyakarta, yang kerap dikunjungi oleh wisatawan karena lokasinya yang strategis dan dekat dengan banyak lokawisata.[1]

Di sekitar Titik Nol Kilometer terdapat Jalan Malioboro, Pasar Beringharjo, Monumen Serangan Umum 1 Maret, Museum Benteng Vredeburg, Taman Pintar Yogyakarta, Alun-Alun Utara Yogyakarta, Keraton Yogyakarta, Museum Sonobudoyo, Gedung Agung, bangunan-bangunan peninggalan Belanda seperti Kantor Pos Indonesia, Bank Indonesia, dan gedung Bank BNI 1946 Yogyakarta, dan bangunan penting lainnya.

Gambaran umum[sunting | sunting sumber]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Titik nol kilometer Yogyakarta sudah ada pada masa Hamengkubuwana I, ketika membangun kawasan keraton Yogyakarta di wilayah Pacethokan pada tahun 1755. Saat itu, kawasan ini menjadi bagian dari Sumbu Imajiner Yogyakarta yang menghubungkan antara Gunung Merapi dengan Keraton Yogyakarta. [2]

Kedatangan Belanda di Yogyakarta membuat kawasan ini mengalami perubahan. Belanda membangun pemukiman untuk warganya di sisi timur laut kawasan ini, dengan nama loji. Belanda juga membangun Benteng Rustenburg pada tahun 1767 yang digunakan untuk mengawasi gerak-gerik dalam keraton. Belanda juga membangun gedung-gedung pemerintahan di kawasan tersebut seperti gedung Chung Hua Tsung Hui pada tahun 1775, Kantor Residen pada 1869, Javasche Bank pada 1879, Post, Telegraaf en Telefoonkantoor pada 1912 dan NILMIJ pada 1921. Keberadaan bangunan-bangunan tersebut saat itu secara tidak langsung mengurangi filosofi sumbu imajiner yang ada sehingga dianggap mengurangi kewibawaan keraton.

Adanya gedung kantor pos saat itu, membuat Belanda membangun sebuah bundaran di tengah-tengah persimpangan tersebut. Bundaran inilah yang diyakini sebagai titik nol kilometer Yogyakarta, karena berfungsi untuk mengukur jarak dari kota Yogyakarta menuju daerah di sekitarnya, seperti Sleman dan Bantul.[2]

Kawasan ini juga menjadi tempat bermulanya Serangan Umum 1 Maret 1949, dimana kawasan ini menjadi tempat awal berkumpulnya pasukan Indonesia sebelum akhirnya menyebar untuk melakukan penyerangan terhadap Belanda dari segala arah. Untuk memperingati terjadinya serangan tersebut, maka dibangun monumen di komplek Benteng Vredeburg yang terletak pada sisi barat daya kawasan ini.

Deskripsi[sunting | sunting sumber]

Titik nol kilometer Yogyakarta berbentuk persimpangan yang mempertemukan empat ruas jalan. Sisi utara adalah Jalan Margo Mulyo, bagian dari Kawasan Malioboro. Sisi selatan adalah Jalan Pangurakan, jalan utama menuju keraton. Sedangkan sisi barat adalah Jalan Panembahan Senopati, yang merupakan akses menuju kota Yogyakarta dari arah timur, dan Jalan KH Ahmad Dahlan di sisi barat yang menjadi akses menuju kota Yogyakarta dari arah barat.

Di ujung jalan Pangurakan, pada awalnya terdapat sebuah gapura milik keraton yang bernama Gapura Gladhag, namun saat ini sudah tidak ada lagi. Bundaran yang dibangun sejak zaman kolonial Belanda juga sempat diubah menjadi air mancur pada dekade 1970-an, sebelum akhirnya dibongkar permanen pada pertengahan dekade 1980-an.[2]

Pemanfaatan[sunting | sunting sumber]

Kawasan ini memiliki area pedestarian yang luas dan dilengkapi dengan beberapa kursi taman, dan dihiasi oleh lampu-lampu jalan dan bangunan-bangunan peninggalan Belanda,[3] menjadikan kawasan ini menjadi salah satu ruang publik dan pusat perekonomian yang dipadati masyarakat dan wisatawan di kota Yogyakarta.[4][5]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Prasetya, Anggara Wikan, ed. (9 Oktober 2020). "Wisata ke Titik Nol Kilometer Yogyakarta, Ada Kantor Pos Zaman Belanda". Kompas.com. Diakses tanggal 19 November 2021. 
  2. ^ a b c "Sejarah Titik Nol Kilometer Yogyakarta, Sudah Ada Sejak 1775 dan Ada Air Mancurnya". inews.com. 28 Agustus 2022. Diakses tanggal 29 November 2022. 
  3. ^ "Mengenal Titik Nol Kilometer, Persimpangan Istimewa di Jogja". detikcom. 19 November 2019. Diakses tanggal 19 November 2021. 
  4. ^ "KM 0 JOGJA, Tempat Wisata di Kota Jogja". www.yogyes.com. 15 Agustus 2021. Diakses tanggal 19 November 2021. 
  5. ^ "Kawasan Nol Kilometer Yogyakarta". pariwisata.jogjakota.go.id. 21 Februari 2019. Diakses tanggal 19 November 2021. 

Lihat pula[sunting | sunting sumber]