Testosteron sipionat
| Data klinis | |
|---|---|
| Nama dagang | Depo-Testosterone, dll. |
| Nama lain | TC; TCPP; Testosteron siklopentilpropionat; Testosteron siklopentanapropionat; Testosteron 17β-siklopentilpropionat |
| Rute pemberian | Injeksi intramuskular |
| Kelas obat | Androgen; Steroid anabolik; Ester androgen |
| Status hukum | |
| Status hukum |
|
| Data farmakokinetika | |
| Bioavailabilitas | Oral: sangat rendah IM: sangat tinggi |
| Metabolisme | Hati |
| Waktu paruh eliminasi | ~8 hari (IM))[1] |
| Ekskresi | 90% urin; 6% feses[1] |
| Pengenal | |
| |
| Nomor CAS | |
| PubChem CID | |
| DrugBank | |
| ChemSpider | |
| UNII | |
| KEGG | |
| ChEMBL | |
| CompTox Dashboard (EPA) | |
| ECHA InfoCard | 100.000.335 |
| Data sifat kimia dan fisik | |
| Rumus | C27H40O3 |
| Massa molar | 412,614 g/mol |
| Model 3D (JSmol) | |
| |
| |
Testosteron sipionat, dikenal pula dengan nama dagang seperti Depo-Testosterone, adalah sebuah obat androgen dan steroid anabolik yang utamanya digunakan untuk mengobati tingkat testosteron rendah pada pria.[2][3][4] Testosteron sipionat juga digunakan dalam terapi hormon bagi pria transgender.[5] Rute pemberian obat ini adalah melalui injeksi ke dalam otot atau subkutan satu hingga empat minggu sekali.[6][7][8]
Efek samping dari testosteron sipionat mencakup gejala-gejala maskulinisasi seperti jerawat, pertumbuhan bulu badan, suara yang memberat, serta meningkatnya libido.[4] Testosteron sipionat adalah androgen dan steroid anabolik sintetik sehingga merupakan agonis reseptor androgen (AR)—target biologis dari androgen seperti testosteron dan dihidrotestosteron (DHT).[4][9] Testosteron sipionat juga memiliki efek androgenik yang kuat dan efek anabolik yang sedang sehingga berguna dalam memunculkan maskulinisasi pada terapi penyulihan androgen.[4] Testosteron sipionat adalah ester testosteron dan merupakan bakal obat testosteron di tubuh.[2][3][6] Karena itu, testosteron sipionat dinilai sebagai bentuk natural dan bioidentik dari testosteron.[10]
Testosteron sipionat pertama kali digunakan secara medis pada tahun 1951.[11][12] Obat ini merupakan salah satu ester testosteron yang paling banyak digunakan, bersama dengan testosteron enantat, testosteron undekanoat, dan testosteron propionat.[4][9] Testosteron sipionat paling banyak Selain dari penggunaannya secara medis, testosteron sipionat juga digunakan sebagai obat peningkat performa.[4] Penggunaan testosteron sipionat diatur sebagai bukan obat bebas di banyak negara.[4]
Kegunaan medis
[sunting | sunting sumber]Testosteron sipionat utamanya digunakan dalam terapi penyulihan androgen. Food and Drug Administration Amerika Serikat mengindikasikan obat ini untuk pengobatan hipogonadisme. Penggunaannya untuk penanganan andropause belum diuji keamanannnya.[1] Testosteron sipionat juga digunakan secara off-label (di luar indikasi) dalam pengobatan kanker payudara dan penyakit payudara lainnya, pubertas tertunda pada anak laki-laki, oligospermia (jumlah sperma rendah), terapi penyulihan hormon pada pria transgender,[8] serta untuk osteoporosis.[1][13]
Efek samping
[sunting | sunting sumber]Salah satu efek samping testotsteron sipionat adalah munculnya gejala virilisasi.[4]
Ketersediaan
[sunting | sunting sumber]Testosteron sipionat paling banyak digunakan di Amerika Serikat. Obat ini sulit ditemukan di luar Amerika Serikat meskipun terdaftar di Kanada, Australia, Spanyol, Brasil, dan Afrika Selatan.[4][14]
Referensi
[sunting | sunting sumber]- 1 2 3 4 "Depo-Testosterone; testosterone cypionate injection, USP" (PDF). United States Food and Drug Administration.
- 1 2 Nieschlag, E.; Behre, H. M.; Nieschlag, S. (2012). Testosterone: Action, Deficiency, Substitution. Cambridge University Press. hlm. 315–. ISBN 978-1-107-01290-5.
- 1 2 Nieschlag, E.; Behre, H. M.; Nieschlag, S. (2010). Andrology: Male Reproductive Health and Dysfunction. Springer Science & Business Media. hlm. 442–. ISBN 978-3-540-78355-8.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Llewellyn, W. (2011). Anabolics. Molecular Nutrition Llc. hlm. 212–216. ISBN 978-0-9828280-1-4.
- ↑ Irwig, M. S. (2017). "Testosterone therapy for transgender men". Lancet Diabetes Endocrinol. 5 (4): 301–311. doi:10.1016/S2213-8587(16)00036-X. PMID 27084565.
- 1 2 Becker, K. L. (2001). Principles and Practice of Endocrinology and Metabolism. Lippincott Williams & Wilkins. hlm. 1185, 1187. ISBN 978-0-7817-1750-2. Kesalahan pengutipan: Parameter "<ref" tidak sah pada tanda
<<ref>. Parameter yang didukung adalah: dir, follow, group, name. - ↑ Ayd, F. J. (2000). Lexicon of Psychiatry, Neurology, and the Neurosciences. Lippincott Williams & Wilkins. hlm. 974–. ISBN 978-0-7817-2468-5.
- 1 2 Hembree WC, Cohen-Kettenis PT, Gooren L, Hannema SE, Meyer WJ, Murad MH, et al. (2017). "Endocrine Treatment of Gender-Dysphoric/Gender-Incongruent Persons: An Endocrine Society Clinical Practice Guideline". The Journal of Clinical Endocrinology and Metabolism. 102 (11): 3869–3903. doi:10.1210/jc.2017-01658. PMID 28945902.
- 1 2 Kicman AT (2008). "Pharmacology of anabolic steroids". British Journal of Pharmacology. 154 (3): 502–21. doi:10.1038/bjp.2008.165. PMC 2439524. PMID 18500378.
- ↑ Santoro N, Braunstein GD, Butts CL, Martin KA, McDermott M, Pinkerton JV (2016). "Compounded Bioidentical Hormones in Endocrinology Practice: An Endocrine Society Scientific Statement". The Journal of Clinical Endocrinology and Metabolism. 101 (4): 1318–1343. doi:10.1210/jc.2016-1271. PMID 27032319.
- ↑ William Andrew Publishing (2013). Pharmaceutical Manufacturing Encyclopedia, 3rd Edition. Elsevier. hlm. 3170–. ISBN 978-0-8155-1856-3.
- ↑ Hoberman, John (2005). Testosterone Dreams: Rejuvenation, Aphrodisia, Doping. University of California Press. hlm. 134–. ISBN 978-0-520-93978-3.
- ↑ "Testosterone cypionate drug profile". Adis Insight.
- ↑ Index Nominum 2000: International Drug Directory. Taylor & Francis. 2000. hlm. 1002–1004. ISBN 978-3-88763-075-1.