Lompat ke isi

Testosteron

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Struktur testosteron

Testosteron adalah hormon steroid dari kelompok androgen. Penghasil utama testosteron adalah testis pada jantan dan indung telur (ovari) pada betina, walaupun sejumlah kecil hormon ini juga dihasilkan oleh zona retikularis korteks kelenjar adrenal. Hormon ini merupakan hormon seks jantan utama dan merupakan steroid anabolik. Baik pada jantan maupun betina, testoren memegang peranan penting bagi kesehatan. Fungsinya antara lain adalah meningkatkan libido, energi, fungsi imun, dan perlindungan ada terhadap osteoporosis. Secara rata-rata, jantan dewasa menghasilkan testosteron sekitar dua puluh kali lebih banyak daripada betina dewasa. Hormon ini juga berperan dalam bertambahnya hormon adrenalin yang menyebabkan ketertarikan atau kekaguman terhadap lawan jenis.

Alat produksi

[sunting | sunting sumber]

Hormon testosteron dihasilkan pada organ reproduksi pria yang dinamakan testis.[1] Testosteron merupakan hormon yang dihasilkan oleh sel Leydig.[2] Lokasi sel Leydig berada di luar tubulus mesonefros.[3] Sehingga pembentukan hormon testosteron terjadi di sel Leydig yang terletak di antara tubuli seminiferi.[4] Sel Leydig sendiri memerlukan bantuan hormon luitenisasi untuk menghasilkan hormon testosteron melalui stimulasi.[5] Penghasilan hormon testosteron melalui stimulasi hormon luitenisasi didukung pula dengan hormon perangsang folikel dan pengaruh prolaktin.[6]

Waktu produksi

[sunting | sunting sumber]

Pada anak laki-laki, produksi hormon testosteron terjadi dengan pola diurnal. Pola ini terjadi pada masa prapubertas maupun pubertas. Kadar tertinggi dalam produksi terjadi sekitar pukul 6 pagi. Sementara kadar terendah terjadi pada sore hari.[7]

Hormon testosteron berfungsi untuk meningkatkan libido. Keberadaan testosteron sebagai hormon juga meningkatkan massa pada otot dan tulang. Selain itu, Hormon testosteron berfungsi untuk meningkatkan energi dan metabolisme tubuh.[8]

Penyimpanan

[sunting | sunting sumber]

Lokasi penyimpanan

[sunting | sunting sumber]

Pada awal abad ke-20, terungkap bahwa penyimpanan testosteron dipengaruhi oleh kondisi ginjal. Penemuan menunjukkan bahwa ginjal memiliki peran dalam seksualitas.[9]

Kadar penyimpanan

[sunting | sunting sumber]

Pada bayi laki-laki sejak awal kelahiran hingga berusia enam bulan, kadar hormon testosteron di tubuhnya sangat melimpah. Kelimpahan ini dipengaruhi oleh tingginya kadar hormon luitenisasi sejak beberapa menit setelah kelahiran.[10] Peningkatan kadar hormon testosteron pada bayi laki-laki pada usia 2-4 bulan pertama kehidupannya diduga untuk keperluan perkembangan penis dann skrotum secara normal.[11]

Penyaluran

[sunting | sunting sumber]

Penyaluran hormon testosteron dapat secara endokrin dan eksokrin. Secara endokrin, hormon testosteron disekresikan ke aliran darah.[3] Namun di dalam aliran darah, kadar hormon testosteron sangatlah kecil untuk dapat bekerja secara endokrin.[3] Sementara secara eksokrin, hormon testosteron dengan konsentrasi tinggi dibawa menuju duktus wolfii. Di duktus wolfii, persistensi hormon testosteron dijaga sehingga membentuk duktus eferen, duktus epididimis, vas deferens, duktus ejakulatorius, dan vesikula seminalis.[3]

Senyawa turunan

[sunting | sunting sumber]

Dua senyawa turunan dari hormon testosteron adalah estradiol 17β dan 5α-dihidrotestosteron. Estradiol 17β merupakan hasil hasil aromatisasi dari testosteron. Sedangkan 5α-dihidrotestosteron merupakan hasil reduksi dari estradiol 17β.[12] Proses aromatisasi hormon testosteron menjadi dilakukan oleh sel Sertoli di dalam tubuli seminiferi.[2] Pengubahan hormon testosteron menjadi estradiol 17β menerima pengaruh dari hormon perangsang folikel. Kondisi ini terjadi pada banyak spesies.[6]

Referensi

[sunting | sunting sumber]

Catatan kaki

[sunting | sunting sumber]
  1. ^ Sofwan dan Aryenti 2022, hlm. 49.
  2. ^ a b Susilawati 2011, hlm. 24.
  3. ^ a b c d Agustinus, I’tishom, dan Pramesti 2018, hlm. 4.
  4. ^ Gofur 2017, hlm. 10.
  5. ^ Susilawati 2011, hlm. 30.
  6. ^ a b Susilawati 2011, hlm. 32.
  7. ^ Agustinus, I’tishom, dan Pramesti 2018, hlm. 26.
  8. ^ Sofwan dan Aryenti 2022, hlm. 52.
  9. ^ Black, Jonathan (2015). Wiyati, Nunung, ed. Sejarah Dunia yang Disembunyikan [The Secret History of the World] (PDF). Diterjemahkan oleh Soekato, I. B., dan Toha, A. Tangerang Selatan: PT Pustaka Alvabet. hlm. 51. ISBN 978-602-9193-67-1. 
  10. ^ Agustinus, I’tishom, dan Pramesti 2018, hlm. 13.
  11. ^ Agustinus, I’tishom, dan Pramesti 2018, hlm. 13-14.
  12. ^ Gofur 2017, hlm. 37.

Daftar pustaka

[sunting | sunting sumber]

Pranala luar

[sunting | sunting sumber]