Lompat ke isi

Takjil

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Takjil secara harfiah berarti "menyegerakan" dalam konteks berbuka puasa umat Islam di Indonesia. Seiring waktu, terjadi pergeseran makna takjil yang awalnya kata kerja diserap menjadi kata benda untuk makanan atau minuman ringan pembatal puasa. Meskipun penggunaan istilah takjil berlaku untuk pembatal puasa apa pun, namun secara umum takjil dimaknai sempit dalam konteks bulan Ramadan saja karena istilah ini musiman (hanya muncul pada bulan Ramadan).

Kolak, salah satu kudapan umum yang dijadikan takjil di bulan ramadhan.

Takjil atau perbukaan adalah istilah umum untuk kudapan yang dimakan sesaat setelah berbuka puasa, biasanya berupa makanan manis seperti kolak pisang, sup buah, es campur, dan lain sebagainya. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata takjil memiliki arti mempercepat dalam berbuka puasa.[1] Kata tersebut berakar dari kata 'ajila dalam bahasa Arab yang memiliki arti menyegerakan, sehingga takjil bermakna perintah untuk menyegerakan untuk berbuka puasa.[2]

Dalam bahasa Minang, istilah takjil dikenal dengan pabukoan. Terdapat tradisi mengantarkan takjil dari menantu perempuan kepada mertuanya yang disebut dengan maanta pabukoan.[3]

Catatan terkait istilah takjil Indonesia pertama kali terdapat pada catatan milik Snouck Hurgronje dalam ‘De Atjehers’, yaitu laporannya saat mengunjungi Aceh pada tahun 1891-1892. Dalam catatan tersebut, dijelaskan penduduk Aceh telah menyiapkan menu berbuka puasa (takjil) di masjid untuk masyarakat dengan menu ie bu peudah atau bubur pedas.[4]

Pada konteks tertentu, istilah takjil dapat bermakna sama dengan iftar. Meski keduanya berasal dari bahasa Arab, namun sebenarnya ada perbedaan antara keduanya. Iftar secara harfiah berarti "berbuka puasa" atau momen membatalkan puasa, tanpa bermakna menyegerakan. Dengan demikian, iftar mencakup keseluruhan proses buka puasa, termasuk makanan utama (makanan berat) setelah takjil, bahkan setelah salat Maghrib. Dapat disimpulkan secara sederhana bahwa takjil adalah bagian dari rangkaian iftar.

Etimologi

[sunting | sunting sumber]

Kata 'takjil' dasarnya adalah ‘ajjala (verba transitif), yang artinya ‘menyegerakan’. Kata turunannya ta’jiil (nomina abstrak) berarti ‘penyegeraan (dalam hal berbuka puasa)’.[5]

Takjil war

[sunting | sunting sumber]

Salah satu momen menarik ketika bulan Ramadan adalah takjil war. War adalah bahasa Inggris yang berarti perang[6]. Dengan demikian, takjil war berarti "perang" memperebutkan kudapan pembatal puasa. Perang di sini adalah majas hiperbolia dari kompetisi membeli kudapan, bukan perang dalam arti sebenarnya atau konteks negatif.

Takjil war biasanya dimulai setelah shalat ashar hingga menjelang adzan magrib. Kendati banyak bermunculan pedagang kaki lima penjual takjil dadakan, namun rasio antara pembeli dan penjual yang tidak sepadan menimbulkan kompetisi sengit di antara para pembeli untuk mendapatkan menu takjil favorit mereka.

Takjil war memiliki dampak positif bagi pembeli dan penjual. Bagi pembeli, mereka dapat saling bersosialisasi satu sama lain, tidak hanya ketika salat tarawih. Hal ini membantu mengalihkan perhatian mereka agar tidak terlalu merasakan lapar puasa. Para pedagang jelas diuntungkan dengan tradisi yang meningkatkan penghasilan mereka.

Saking menariknya takjil war, pembeli takjil tidak terbatas pada umat muslim atau WNI saja. Di banyak tempat, umat nonmuslim dan warga negara asing juga ikut bergembira mengikuti tradisi ini. Alasan mereka karena menyukai sejumlah takjil yang sulit ditemukan di luar bulan Ramadan atau untuk membuat konten media sosial[7][8].

Lihat pula

[sunting | sunting sumber]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. https://kbbi.web.id/takjil
  2. https://megapolitan.kompas.com/read/2021/04/13/12162071/takjil-bukan-berarti-makanan-ini-arti-sesungguhnya
  3. firdausmarbun (2019-05-29). "Maanta Pabukoan: Tradisi yang Makin Ditinggalkan". Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2021-04-16.
  4. "Serba-serbi Takjil: Sejarah, Makna dan Dalil". Friksi.id. Diakses tanggal 4 April 2024.
  5. https://www.liputan6.com/ramadan/read/3966309/memperdebatkan-makna-kata-takjil
  6. Lidya, Nareswari (2025-03-03). "Takjil for All: How Non-Muslims and Foreigners Celebrate Ramadan in Indonesia". Bali Expat. Diakses tanggal 2026-01-28.
  7. "Berburu Takjil Bukan Lagi Monopoli Umat Islam, Umat Non Muslim Ikut Meramaikan Tradisi Menjelang Buka Puasa". Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur. 2025-03-23. Diakses tanggal 2026-01-28.
  8. Hidayat, Faqih; Aulia Ramadhanty, Dinda (2025-03-07). "Umat Nonmuslim Ikut "War" Takjil Viral: Daripada Mati Penasaran". Kompas.com. Diakses tanggal 2026-01-28.