Skadron Udara 3

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Skadron Udara 3
Lanud Iswahyudi
LOGO SKADRON 3.png
Dibentuk9 April 1951
NegaraIndonesia
CabangLambang TNI AU.png TNI Angkatan Udara
Tipe unitSatuan Tempur Buru Sergap
Situs webwww.lanud-iswahjudi.mil.id

Skadron Udara 3 Tempur disingkat (Skadud 3) adalah Satuan Tempur Buru Sergap di bawah kendali Wing Udara 3 Tempur, Lanud Iswahyudi yang bermarkas di Maospati, Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Skadron Udara 3 merupakan salah satu skadron tertua dan nomer 3 yang dibentuk Presiden Soekarno pada 21 Maret 1951.

Kegiatan Skadron Udara 3, dahulu mengoperasikan pesawat P-51D Mustang (1950 - 1975), OV-10F Bronco (1976 - 1989) dan sekarang menggoperasikan pesawat tempur buru sergap andalan TNI Angkatan Udara F-16 Fighting Falcon A/B (1989 - Sekarang) F-16 Fighting Falcon C/D (2014 - Sekarang).[1]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Skadron Udara (Skadud) tempur tertua yang paling banyak terlibat dalam operasi tempur ini dibentuk pada tanggal 9 April 1951 di Pangkalan Udara Cililitan (sekarang Lanud Halim Perdanakusuma), Jakarta Timur. Lambang yang digunakan berupa perisai merah dan hitam dengan lukisan panah dan api melukiskan kemampuan tinggi dengan gerakan yang cepat dalam pertempuran. Pesawat tempur pertama yang mengisi Skadud 3 adalah 50 pesawat P-51 Mustang sumbangan dari AU Belanda (Militaire Luchvaart) pada tahun 1950. Pada bulan Desember 1951, Skadud 3 dipindahkan dari Pangkalan Udara Cililitan (sekarang Lanud Halim Perdanakusuma) ke Pangkalan Udara Bugis (sekarang Lanud Abd. Saleh). Skadud 3 mulai terjun kedalam kancah pertempuran tahun 1953. Operasi-operasi yang diikuti pada saat itu adalah operasi menumpas pemberontakan separatis seperti penumpasan DI/TII di Jawa Barat, Permesta di Sulawesi Selatan/Utara, PRRI di Sumatera Barat dan Operasi Sorong hingga tahun 1960. Pada tahun yang sama, Skadud 3 diterjunkan dalam operasi pembebasan Irian Barat dan konfrontasi dengan Malysia dalam operasi Trikora dan Dwikora hingga tahun 1967. Dalam rangka menumpas pemberontakan PKI Skadud Udara 3 dilibatkan dalam Operasi Trisula di Blitar Selatan dan Operasi Sabre Kilat. Pada tahun 1973 diadakan penambahan pesawat dan suku cadang melalui program "Peace Phonix".

Pesawat OV-10 Bronco menjadi tulang punggung Skadud 3 mulai tanggal 28 September 1976. Setelah pesawat P-51 Mustang dinyatakan grounded pada tanggal 25 Juli 1975 dan seluruhnya berjumlah 16 pesawat. Selain itu Skadud 3 juga memiliki empat pesawat Cessna T-41D, dua pesawat Cessna L-180 dan tiga pesawat AT-16 Harvard. OV-10F Bronco banyak ikut andil dalam operasi-operasi yang digelar oleh TNI AU seperti Operasi Seroja di Tim-tim (1976/1979/1981/1983-1989), Oprasi Tumpas (1977/1978) di Irian Jaya, Operasi Halilintar di Tanjung Pinang, Operasi Guruh di Maluku, Operasi Tumpas III (1981) dan Operasi Halau di Ranai (1985-1987) serta latihan bersama yang dilaksanakan bersama dengan Thailand dalam Elang Thainesia tanggal 18 Agustus 1989. Antara tahun 1982-1983, seluruh Skadud 3 pernah dipindahkan ke Pekanbaru. Mulai akhir 1989 nama Skadud 3 digunakan sebagai nama skadron pesawat tempur F-16A/B yang baru memasuki jajaran alat utama sistem senjata (alut sista) TNI AU. Skadud ini berpangkalan di Lanud Iswahyudi menggunakan bekas hanggar Skadron Udara 11 yang telah dipindahkan ke Ujung Pandang, sedangkan pesawat OV-10 Bronco dimasukkan ke dalam Skadud 1 yang sebelumnya adalah Skadron Pembom Taktis.

Kedatangan F-16 Fighting Falcon[sunting | sunting sumber]

Skadud 3 F-16A/B dibentuk bersamaan dengan program pengadaan pesawat F-16A/B melalui program "Peace Bima Sena" yang diikuti dengan pengiriman 67 personel teknisi pesawat terbang dan empat penerbang ke Amerika Serikat untuk melaksanakan pelatihan pengoperasian dan perawatan pesawat F-16. Dua pesawat F-16 pertama mendarat di Runway Lanud Iswahyudi pada tanggal 5 Desember 1989 setelah melalui perjalanan panjang dan melelahkan pabrik pembuatnya di Forth Worth, Dallas. Total jumlah pesawat F-16A/B blok 15 Operational Capabilities Upgrade (OCU) yang di miliki oleh TNI AU adalah 12 pesawat. Konversi penerbang pertama dibuka lima bulan kemudian pada bulan April 1990 dan hingga tahun 1999, Skadud 3 telah mencetak 31 penerbang F-16. Skadud 3 ikut andil dalam berbagai operasi pertahanan udara, latihan tingkat komando operasi, latihan tingkat angkatan, latihan gabungan dan latihan bersama. Latihan bersama yang pernah dilaksanakan adalah Elang Thainesia, Elang Ausindo, Cope West, Elang Malindo dan Elang Indopura serta kunjungan ke negara sahabat seperti Thailand, Singapura dan Australia.

Hibah F-16 dari Pemerintah Amerika Serikat[sunting | sunting sumber]

Program "Peace Bima Sena II"[2] selain pengadaan 24 pesawat F-16 C/D Blok 52ID,[3] kontrak kerja sama juga meliputi pengadaan spare parts, ground support equoment, training, JMPS (Joint Mission Planning System), RIAIS (Rackmount Improve vionic Intermediate System), AME (Alternate Mission Equipment) dan PMEL (Precesion Measurement Equipment Laboratory). Proyek yang dinamakan "Peace Bima Sena II" yang memakan waktu hampir 14 bulan ini dimulai sejak bulan April 2013. Penerbangan Uji Fungsi dilaksanakan untuk memastikan semua sistem yang terintregrasi bisa beroperasi dengan baik. Selain pengadaan 24 pesawat F-16, kontrak kerjasama juga meliputi pengadaan spare parts, support equipment, training, JMPS (Joint Mission Planning System), RIAIS (Rackmont Improve Aivonic Intermediate System ), AME (Alternate Mission Equipment) dan PMEL (Precision Measurment Equipment Laboratory). Dua puluh pesawat F-16 C/D-52ID yang terdiri dari lima pesawat F-16 D berkursi ganda dan 19 pesawat F-16 C berkursi tunggal akan dikirimkan secara bertahap ke Indonesia. Enam orang penerbang Skadron Udara 3 sudah mulai melaksanakan pelatihan “Differential Training” di Tucson Arizona mulai tanggal 30 Juni - 14 Juli 2014. Selanjutnya dua penerbang akan ikut ferry flight tiga pesawat pertama dari Utah-AlaskaGuamMadiun dengan Air Refueling (Pengisian bahan bakar via Udara) sepanjang perjalanan yang direncanakan berangkat tanggal 15 Juli hingga tanggal 20 Juli 2014 tiba di Lanud Iswahyudi, Madiun, Jawa Timur.

Dari jumlah itu, pesawat ini akan dibagi, 16 unit di Skadron Udara 16 Lanud Roesmin Noerjadin dan 8 unit di Skadron Udara 3 Lanud Iswahyudi.[4] Tetapi satu dari 24 Pesawat F-16 Fighting Falcon dari hibah pemerintah Amerika Serikat dan bernomor registrasi TT-1643 yang diterbangkan oleh Letkol Penerbang Firman Dwi Cahyono menggalami insiden kecelakaan, meledak dan terbakar saat akan take off di Lanud Halim Perdanakusuma Saat terbakar, sang pilot berhasil keluar dari pesawat untuk menyelamatkan diri.[5]

Team Aerobatik[sunting | sunting sumber]

Team Aerobatik "Elang Biru" terbentuk pada tahun 1996 dalam rangka memeriahkan Indonesia Air Show (IAS) '96 di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Untuk meningkatkan kemampuan dan variasi aerobatik, TNI AU pernah mengundang tim aerobatik USAF "Thunderbirds" untuk menularkan kemampuannya kepada para penerbang F-16 "Elang Biru". Saat ini warna pesawat F-16 TNI AU tidak lagi berwarna biru terang dengan strip kuning, tetapi berwarna hijau tua abu-abu millenium dengan lambang Wing Operasional 300 warna merah menyala pada vertical stabilizer-nya. Skadud 3 mempunyai tugas pokok sebagai alut sista pertahanan udara dengan tugas tambahan sebagai pesawat tempur taktis dan strategis.

3000 Jam Terbang[sunting | sunting sumber]

Prestasi 3000 jam terbang dengan F16, merupakan prestasi yang patut dibanggakan oleh setiap penerbang tempur, karena pencapaian 3000 jam terbang membutuhkan waktu yang panjang, usaha keras dan penuh kegigihan serta kondisi yang prima. Saat ini baru dua orang penerbang tempur yang berhasil meraih 3000 jam terbang dengan pesawat F16 Fighting Falcon.

  1. Letkol Pnb. Muhtadi Anjar “Beagle” Legowo
  2. Letkol Pnb. Gusti Made Yoga “Barong” Ambara
  3. Letkol Pnb. Nur "Racer" Alimi

Komandan[sunting | sunting sumber]

Skadron Udara 3 dipimpin oleh seorang perwira menengah berpangkat Letnan Kolonel (Pnb). Berikut daftar Komandan yang pernah menjadi Komandan Skadron Udara 3/Tempur.

  1. Letkol Pnb P.G.O Noordraven
  2. Lettu Udara Muljono (1950-1951)
  3. Lettu Udara Hadi Supandi (1951-1953)
  4. Letda Udara Rusmin Nuryadin (1953-1960)
  5. Kapten Udara Soemitro (1960-1962)
  6. Kapten Udara Luly Wardiman (1962-1963)
  7. Kapten Udara Sobirin Misbach (1963-1966)
  8. Kapten Udara Srijono (1966-1968)
  9. Kapten Udara I.G.N. Danendra (1968-1969)
  10. Kapten Udara Soeharso (1969-1971)
  11. Kapten Udara Rukandi (1971-1975)
  12. Mayor Udara Rusmali Arifin (1975-1978)
  13. Mayor Pnb Rilo Pambudi (1978-1979)
  14. Mayor Udara Soetedjo (1979-1983)
  15. Mayor Pnb Tamtama Adi (1983-1987)
  16. Mayor Pnb Sony Rizani (1987-1989)
  17. Mayor Pnb Alimunsiri Rape (1989-1990)
  18. Letkol Pnb Wartoyo (1990-1992)
  19. Letkol Pnb M. Basri Sidehabi (1992-1994)
  20. Letkol Pnb Rodi Suprasodjo (1994-1996)
  21. Letkol Pnb Bambang Samoedro (1996-1999)
  22. Letkol Pnb Muhammad Syaugi (1999-2002)
  23. Letkol Pnb Tatang Harlyansyah (2003-2004)
  24. Letkol Pnb Fachri Adamy (2004-2005)
  25. Letkol Pnb Andyawan Martono Putra (2005-2006)
  26. Letkol Pnb Age Wiraksono (2006-2007)
  27. Letkol Pnb Fajar Adriyanto (2007-2009)
  28. Letkol Pnb Ian Fuady (2009-2011)
  29. Letkol Pnb Ali Sudibyo (2011-2012)
  30. Letkol Pnb Setiawan (2012-2014)
  31. Letkol Pnb Firman Dwi Cahyono (2014-2014)
  32. Letkol Pnb M. Anjar Legowo (2014-2017)
  33. Letkol Pnb G.M. Yoga Ambara (2017-2019)
  34. Letkol Pnb Agus Dwi Aryanto, S.E., MMOAS. (2019-Sekarang)

Referensi[sunting | sunting sumber]