Peran internet

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian


Pengertian internet[sunting | sunting sumber]

Internet adalah suatu sistem informasi yang terhubung secara logika oleh address yang unik secara global dan mengacu pada Internet Protocol (IP), serta mendukung komunikasi dengan menggunakan TCP/IP, menggunakan, menyediakan, dan membuatnya dapat diakses baik secara umum dan juga secara khusus.[1]

Internet juga dapat dikatakan sebagai suatu jaringan besar yang menghubungkan jaringan antar komputer baik dari organisasi pemerintahan, organisasi bisnis, dan sekolah-sekolah dari seluruh dunia secara langsung dan cepat.[2]

Sejarah internet[sunting | sunting sumber]

Pada awalnya internet dimulai pada tahun 1960-an yang dibentuk oleh proyek ARPANET atau Advanced Research Project Agency Network (ARPA) berada di bawah bimbingan Departemen Pertahanan Amerika Serikat. Proyek ini bertujuan untuk keperluan militer dengan menghubungkan jaringan komputer secara bersama- sama dalam sebuah sistem yang diharapakan dapat terus berjalan di saat komunikasi dengan cara tradisional tidak memungkinkan. Pengguna internet pada awalnya, yang didominasi oleh anggota penelitian di laboratorium dan universitas, menggunakannya untuk mengirimkan pesan elektronik dan memposting informasi di papan buletin.

Pengguna internet mengalami peningkatan pesat pada tahun 1982 setelah National Science Foundation menyediakan koneksi berkecepatan tinggi yang tersedia di berbagai tempat disekitar Amerika Serikat. Lebih dari 150.000 jaringan komputer dan 95 juta server komputer untuk pengguna internet.[3]

Internet telah menjadi sebuah cara untuk mengetahui informasi maupun berita yang ada di seluruh belahan dunia hanya dengan satu klik saja. Kemunculan internet di Indonesia sendiri baru dimulai pada tahun 1994 yang diiprakarsai oleh IndoNet, padahal internet di negara-negara lainnya sudah mulai berkembang sejak tahun 1960-an.

Penggunaan internet di indonesia[sunting | sunting sumber]

Hasil riset nasional terkait dengan jumlah pengguna dan penetrasi internet di Indonesia untuk periode tahun 2014 kemarin telah dirilis oleh Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII). Riset tersebut digelar berdasarkan kerjasama dengan pihak Pusat Kajian Komunikasi ( PusKaKom ) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia dan hasilnya terlihat bahwa pengguna internet di Indonesia saat ini telah mencapai 88,1 juta jiwa. Dengan melihat hasil riset yang ada, bila mengacu pada jumlah populasi penduduk Indonesia yang menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS) sebanyak 252,5 juta jiwa, maka pengguna internet di Indonesia mengalami peningkatan sebesar 16,2 juta jiwa dibandingkan dengan tahun 2013 yang berjumlah total 71,9 juta pengguna.[4]

Meskipun angka penetrasi terus mengalami kenaikan, namun pengguna internet di Indonesia belum merata secara geografis. Di Indonesia, pengguna internet yang paling banyak berada di wilayah Indonesia bagian Barat, yaitu di pulau Jawa (khususnya di ibu kota provinsi seperti Jakarta dan Surabaya), Sumatra, dan Bali. Hasil survey Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia ( APJII ) juga mengatakan bahwa mayoritas pengguna internet di Indonesia berdomisili di wilayah barat Indonesia, khususnya pulau Jawa. Penetrasinya mencapai 36.9% dari jumlah total seluruh penduduk di pulau Jawa. Selain itu, wilayah urban di Indonesia ini juga menjadi penyumbang terbanyak pengguna internet yang mencapai 83,4%.[5]

Secara tidak langsung, data-data tersebut menggambarkan bahwa pengembangan infrastruktur di Indonesia belum merata dan juga tidak tersedianya layanan sambungan internet yang menyeluruh di setiap daerah di Indonesia. Padahal memiliki akses internet yang menyeluruh dan dapat diandalkan ke setiap daerah termasuk pedesaan telah diidentifikasi sebagai faktor kunci untuk pembangunan.[6]

Selain jumlah pengguna, kecepatan koneksi internet di Indonesia juga membutuhkan perhatian lebih. Berdasarkan laporan yang ada, kecepatan rata-rata koneksi internet di Indonesia hanya mencapai 2.2 Mps. Hal ini menempatkan indonesia pada peringkat yang terendah untuk kuartal pertama pada tahun 2015, di antara negara-negara lainnya di Asia Pasifik termasuk negara tetangga seperti Singapura ( 12.9 Mbps ), Filipina ( 2.8 Mbps ), Malaysia ( 4.3 Mbps ), dan Vietnam ( 3.2 Mbps ). Di dalam kategori ini, Kores Selatan berhasil memimpin dengan 23. Mbps, diikuti oleh Hong Kong dan Jepang. Situasi ini berlaku sama untuk konektivitas mobile, yang menunjukkan bahkan kecepatan rata- rata koneksi di Indonesia hanya mencapai 1.7 Mbps, sedikit lebih unggul dibadingkan dengan Vietnam dengan kecepatan rata- rata 1.3 Mbps. Dalam kondisi paling puncak, Indonesia bahkan tidak dapat mencapai performa dua digit angka namun hanya dapat mencapai 8.2 Mbps. Hal ini menunjukkan sebuah kesenjangan yang signifikan dengan negara- negara lain, mengingat Australia mampu mencapai 149.3 Mbps selama kondisi puncak.[7]

Survey yang telah dilakukan terhadap 2000 pengguna internet di 42 kota baik wilayah urban maupun rural di Indonesia, memberikan gambaran demografis pengguna internet, gaya hidup serta perilaku mereka yang dilihat secara keseluruhan menggambarkan tren penggunaan internet di Indonesia. Sebagai tambahan penting, pengguna internet ini didominasi oleh penduduk yang berdomisili di wilayah urban Indonesia. Dengan demikian, komitmen pemerintah yang berbentuk rencana pita digital dalam memberi kesempatan bagi masyarakat yang tinggal di daerah rural agar dapat mengakses internet membuka peluang yang sangat positif, tidak hanya berlaku bagi masyarakat di daerah rural namun juga kepada para pengusaha provider.

Dilihat dari sisi usia pengguna, mayoritas pengguna internet di Indonesia berusia di antara 18-25 tahun, yaitu sebesar 49% yang menunjukkan hampir setengah dari total jumlah pengguna internet di Indonesia. Artinya, dapat disimpulkan bahwa segmen klasifikasi pengguna internet di Indonesia yaitu mereka yang masuk ke dalam kategori ‘digital natives’. Digital natives merupakan generasi yang lahir setelah tahun 1980, di saat teknologi jejaring sosial digital seperti buletin board system dan Usenet lahir [8].

Kategori usia yang disebut sebagai digital natives ini memiliki karakter yang gencar dan aktif menggunakan jejaring teknologi digital dan memiliki kemampuan dalam mengoperasikan teknologi berbasis internet. Berkaitan dengan teknologi berbasis internet, sebesar 85% dari total pengguna internet di Indonesia mengakses internet dengan menggunakan telepon seluler. Hasil ini diperoleh dari data di seluruh kepulauan di Indonesia, baik daerah urban maupun rural Indonesia. Membaca dari hasil penelitian tersebut mengkonfirmasi beberapa temuan mengenai kenaikan tingkat pembelian dan penggunaan smartphone di Indonesia. Apabila dilihat dari kategori usia, mobile phone paling banyak digunakan oleh mereka yang berusia antara 18-25 tahun. Sebanyak 60% pengguna internet dari total jumlah pengguna di kategori usia ini mengakses internet dari telepon seluler.[6]

Peran internet dalam komunikasi[sunting | sunting sumber]

Komunikasi adalah suatu proses yang dilakukan oleh seseorang atau beberapa orang, kelompok, masyarakat, dan organisasi dalam menciptakan, dan menggunakan informasi dengan tujuan agar dapat terhubung dengan lingkungan sekitar dan orang lain.[9] Tidak dapat dimungkiri bahwa manusia sebagai makhluk sosial membutuhkan komunikasi dengan manusia lainnya untuk memenuhi kebutuhannya. Selaras dengan kemajuan teknologi, cara dan perilaku masyarakat dalam berkomunikasi juga mengalami perkembangan. Dari yang awalnya hanya berupa tulisan, kini bentuk komunikasi telah berubah ke era telekomunikasi dan era komunikasi interaktif.

Internet telah menarik perhatian banyak pengguna-pengguna baru dari berbagai jenis kalangan penduduk di seluruh dunia. Organisasi- organisasi non-profit, persatuan buruh, sampai ke partai politik, mempercayai bahwa internet merupakan sebuah alat komunikasi yang sangat berguna. Internet membangun sebuah prospek baru dalam berkomunikasi tanpa batas. Layanan internet memungkinkan siapa pun yang memiliki akses dan terhubung dengan bantuan media sebuah komputer atau smartphone untuk mengirim atau menerima e -mail ke atau dari orang lain yang memiliki jaringan internet.[3]

Teknologi digital yang semakin berkembang pesat diiringi oleh tumbuhnya pengguna layanan internet di masyarakat. Dapat kita lihat bahwa pengguna internet di Indonesia paling banyak mengakses informasi yang mereka butuhkan dengan bantuan internet menggunakan telepon seluler. Kemudahan yang ditawarkan menjadi faktor utama tingginya pengguna internet yang mengandalkan telepon seluler miliknya. Harga yang bervariasi juga memungkinkan masyarakat dari kelas manapun untuk mendapatkannya sehingga pola komunikasi yang mereka lakukan mulai berubah.

Dewasa ini, Internet menjadi sebuah hal yang tidak bisa dilepaskan dari diri kebanyakan orang dikarenakan oleh manfaat yang begitu jelas dirasakan. Internet yang terdapat pada telepon seluler memungkinkan penggunanya untuk melakukan komunikasi jarak jauh tidak hanya terbatas pada panggilan suara atau mengirimkan pesan singkat, namun juga dapat melakukan panggilan video dan saling berkirim pesan melalui aplikasi- aplikasi yang tersedia. Akses internet mendukung bentuk-bentuk komunitas virtual atau jejaring sosial seperti MySpace dan Facebook. Jejaring sosial tidak hanya memungkinkan anggotanya saling terhubung namun lebih dari itu yakni menawarkan pesan instan, berbagi musik, berbagi dokumen, berbagi video, permainan, dan fasilitas lainnya.[10]

Salah satu hal yang sangat dirasakan dari manfaat internet adalah kemudahan berkomunikasi dalam mengirimkan sebuah pesan atau menerima pesan. Selain itu beberapa efek positif yang ditimbulkan dari penggunaan internet yakni menjadi sarana dan tempat untuk menambah teman baru, kembali berkomunikasi dengan teman lama, tetap terhubung dengan anggota keluarga, mempelajari profile kandidat saat pemilihan umum, membeli barang secara online, sampai mengeksplore hal-hal lainnya yang dibutuhkan. Informasi atau berita yang ingin diketahui masyarakat juga dapat diakses menggunakan internet yang berefek masyarakat cenderung dengan mudah mendapatkan apa yang dia inginkan dalam waktu hitungan detik saja.

Penggunaan internet memang berdampak positif dalam proses berkomunikasi namun apabila digunakan tanpa mengikuti batas kewajaran dapat membawa efek buruk bagi perilaku berkomunikasi masyarakat. Hal ini disebabkan penggunaan internet yang sudah sangat banyak digunakan oleh berbagai pihak sering kali membuat munculnya berbagai pro dan kontra mengenai penggunaan internet, seperti yang menjadi fokus kita bersama adalah bagaimana pengaruh internet terhadap anak-anak yang membutuhkan pengawasan secara penuh dari orang tuanya. Namun apabila digunakan secara bijak, internet membawa dampak positif yang besar terhadap pola komunikasi masyarakat.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Greenlaw and Happ, Ellen (2002) In-Line/On- Line: Fundamentals of the Internet and the World Wide Web, Boston: McGraw-Hill
  2. ^ Turban, Rainer, and Potter ( 2005, p. 674) Introduction To Information Technology
  3. ^ a b Grant & Meadows (2010), Communication Technology Update and Fundamentals, USA: Elsevier
  4. ^ http://tekno.liputan6.com/read/2197413/jumlah-pengguna-internet-indonesia-capai-881-juta
  5. ^ Indonesia Netizen Survey, Markplus 2013
  6. ^ a b http://www.apjii.or.id/upload/statistik/Survey%20APJII%202014%20v3.pdf
  7. ^ http://e27.co/akamais-q1-2015-report-indonesias-internet-speed-declining-20150707/
  8. ^ Palvrey dan Gasser, 2013
  9. ^ Ruben Brent D dan Lea P Stewart. 2006. Communication and Human Behavior. United States: Allyn and Bacon
  10. ^ Grant & Meadows, Communication Technology Update and Fundamentals, 2010: 34