Lompat ke isi

Penembakan massal

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Penembakan massal adalah insiden yang melibatkan banyak korban kekerasan terkait senjata api. Tidak ada definisi dari istilah "penembakan massal" yang diterima secara luas, meskipun pembunuhan massal sebagai akibat dari terorisme, penegakan hukum yang berwenang atau tindakan militer yang berwenang biasanya tidak dianggap sebagai penembakan massal.[1] Congressional Research Service dari Amerika Serikat mengakui bahwa tidak ada definisi yang diterima secara luas dan mendefinisikan "penembakan massal publik"[2] sebagai peristiwa di mana seseorang memilih empat orang atau lebih dan membunuhnya dengan cara yang membabi buta, sesuai dengan definisi Biro Investigasi Federal (FBI) dari istilah "pembunuhan massal."[3]

Penembakan massal menurut daerah

[sunting | sunting sumber]

Amerika Serikat

[sunting | sunting sumber]
Total kematian di AS yang disebabkan penembakan massal: 1982 hingga saat ini.[4]

Amerika Serikat adalah negara dengan penembakan massal terbanyak.[5][6][7][8][9]

Penembakan massal dapat dimotivasi oleh ideologi politik (misalnya Neo-Nazisme, politik kiri jauh dan terorisme), misantropi,[10] gangguan jiwa,[11][12] perundungan (bullying),[13] serta alasan-alasan lainnya.[14] Psikolog forensik Stephen Ross berpendapat bahwa amarah yang ekstrem dan gagasan bahwa seseorang berbuat untuk suatu prinsip atau pergerakan—bukan gangguan jiwa—adalah penjelasan utama dari penembakan massal.[15] Sebuah studi oleh para peneliti Vanderbilt University menemukan bahwa "kurang dari 5% dari 120.000 pembunuhan terkait senjata di Amerika Serikat antara tahun 2001 dan 2010 dilakukan oleh orang yang didiagnosis dengan gangguan jiwa."[16] John Roman dari Urban Institute berpendapat bahwa, meskipun akses yang lebih baik ke perawatan kesehatan mental, membatasi senjata bertenaga tinggi, dan menciptakan infrastruktur defensif untuk memerangi terorisme bersifat konstruktif, hal-hal itu tidak membahas masalah yang lebih besar, yaitu "kita memiliki banyak pemuda yang benar-benar marah di negara kita dan di dunia."[17]

Penulis Dave Cullen, dalam bukunya yang terbit tahun 2009 Columbine mengenai pembantaian Columbine High School 1999 dan pelakunya Eric Harris dan Dylan Klebold, menyebut Harris sebagai "pengumpul ketidakadilan."[18] Ia memperluas konsep tersebut dalam esai tahun 2015 dalam New Republic mengenai pengumpul ketidakadilan,[19] mengidentifikasi beberapa pembunuh terkenal ke dalam kategori ini, termasuk Christopher Dorner, Elliot Rodger, Vester Flanagan, dan Andrew Kehoe. Demikian juga, ahli penembakan massal dan mantan profiler FBI Mary O'Toole juga menggunakan frasa “pengumpul ketidakadilan” dalam karakterisasi motif beberapa pelaku penembakan massal.[20] Sehubungan dengan itu, kriminolog James Alan Fox berpendapat bahwa pembunuh massal "dimungkinkan oleh isolasi sosial" dan biasanya mengalami "kekecewaan dan kegagalan bertahun-tahun yang menghasilkan campuran dari keputusasaan yang mendalam dan kebencian yang mendalam."[21][22] Jillian Peterson, seorang asisten profesor kriminologi di Hamline University yang berpartisipasi dalam pembangunan basis data penembak massal, mencatat bahwa dua fenomena muncul berulang kali dalam statistik: keputusasaan dan kebutuhan akan ketenaran dalam hidup atau mati.[23] Ketenaran pertama kali disarankan sebagai motif yang mungkin dan diteliti oleh Justin Nutt. Nutt menyatakan dalam sebuah artikel 2013, “mereka yang merasa tidak bernama dan seolah-olah tidak ada yang akan peduli atau mengingat mereka ketika mereka mati mungkin merasa melakukan sesuatu seperti penembakan di sekolah akan memastikan mereka diingat dan tertulis dalam buku-buku sejarah."[24]

Dalam mempertimbangkan frekuensi penembakan massal di Amerika Serikat, kriminolog Peter Squires mengatakan bahwa budaya individualistis di Amerika Serikat menempatkan negara itu pada risiko lebih besar untuk penembakan massal daripada negara-negara lain, mencatat bahwa "banyak negara lain yang kepemilikan senjatanya tinggi, seperti Norwegia, Finlandia, Swiss dan Israel . . . cenderung memiliki masyarakat yang lebih erat di mana ikatan sosial yang kuat mendukung seseorang dalam melewati krisis, dan pembunuhan massal lebih sedikit." Dia adalah pendukung pengendalian senjata, tetapi berpendapat bahwa penembakan massal tidak hanya dipengaruhi oleh banyaknya senjata.[25] Akademisi Marxis Italia, Franco Berardi, berpendapat bahwa hiper-individualisme, alienasi sosial, dan persaingan yang dipicu oleh ideologi neoliberal dan kapitalisme menciptakan penembak massal dengan menyebabkan orang mengalami "malafungsi".[26]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. Follman, Mark. "What Exactly Is A Mass Shooting". Mother Jones. Diakses tanggal Agustus 9, 2015. What is a mass shooting?
    Broadly speaking, the term refers to an incident involving multiple victims of gun violence. But there is no official set of criteria or definition for a mass shooting, according to criminology experts and FBI officials contacted by Mother Jones.
    {{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. Bjelopera, Jerome P. (Maret 18, 2013). "Public Mass Shootings in the United States: Selected Implications for Federal Public Health and Safety Policy" (PDF). CRS Report for Congress. Congressional Research Service. Diakses tanggal Desember 8, 2015.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) "There is no broadly agreed-to, specific conceptualization of this issue, so this report uses its own definition for public mass shootings."
  3. Morton, Robert J. "Serial Murder". FBI Updates, Reports and Publications. Diakses tanggal Desember 8, 2015. Generally, mass murder was described as a number of murders (four or more) occurring during the same incident, with no distinctive time period between the murders.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  4. "US Mass Shootings, 1982–2018: Data From Mother Jones' Investigation".
  5. Palazzolo, Joe; Flynn, Alexis (Oktober 3, 2015). "U.S. Leads World in Mass Shootings". The Wall Street Journal. Diakses tanggal Oktober 2, 2017.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  6. Christensen, Jen (Oktober 5, 2017). "Why the US has the most mass shootings". CNN. Diakses tanggal November 6, 2017.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  7. Healy, Melissa (Agustus 24, 2015). "Why the U.S. is No. 1 – in mass shootings". Los Angeles Times. Diakses tanggal Oktober 2, 2017.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  8. Michaels, Samantha (Agustus 23, 2015). "The United States Has Had More Mass Shootings Than Any Other Country". Mother Jones. Diakses tanggal Oktober 2, 2017.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  9. Fox, Kara (Maret 9, 2018). "How US gun culture compares with the world in five charts". CNN.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  10. De Freitas, Julian, and Mina Cikara. "Deep down my enemy is good: Thinking about the true self reduces intergroup bias." (2017)
  11. "High school students demand action on gun control following Parkland shooting – rabble.ca". rabble.ca. Diakses tanggal 2 Juli 2018.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  12. Van Brunt, Brian, and W. Scott Lewis. "Costuming, misogyny, and objectification as risk factors in targeted violence." Violence and gender 1.1 (2014): 25–35.
  13. Rocque, Michael. "Exploring school rampage shootings: Research, theory, and policy." The Social Science Journal 49.3 (2012): 304–313.
  14. Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama "frum"
  15. Campbell, Holly (Desember 2, 2015). "Inside the mind of a mass murderer". WANE.com. Diarsipkan dari asli tanggal 2017-10-03. Diakses tanggal Desember 10, 2015. {{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  16. Wolf, Amy (Desember 11, 2014). "Mental Illness is the wrong scapegoat after mass shootings". Vanderbilt University. Diakses tanggal Agustus 12, 2015.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  17. Angry young Men and Mass Killings. The Huffington Post. June 16, 2016.
  18. "Finally understand why. Dave Cullen's Edgar-winning Columbine book: the Columbine killers, shooting & myths". davecullen.com. Diakses tanggal September 27, 2015.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  19. Cullen, Dave (Agustus 31, 2015). "Inside the Warped Mind of Vester Flanagan and Other Shooters". The New Republic. Diakses tanggal September 27, 2015.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  20. Bekiempis, Victoria (September 4, 2015). "Meet Mass-Shooting Expert Mary Ellen O'Toole". Newsweek. Diakses tanggal September 6, 2015.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  21. Fox, James Alan (Januari 16, 2011). "The real causes of mass murder". Boston.com. Diakses tanggal November 25, 2015.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  22. "James Alan Fox: In San Bernardino, focus on the murderous partnership". USA Today. Desember 3, 2015.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  23. Wanamaker, John (Oktober 8, 2017). "'This shooter is a little different': Hamline professor studies mass shootings". MPR News. Diakses tanggal Oktober 9, 2017.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  24. "School Shootings and Possible Causes". 14 Desember 2013. Diakses tanggal 15 Februari 2018.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  25. Dorell, Oren (Desember 18, 2012). "In Europe, fewer mass killings due to culture not guns". USA Today. Diakses tanggal Agustus 11, 2015.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  26. McIntyre, Niamh (April 16, 2015). "This Theorist Believes That Capitalism Creates Mass Murderers by Causing People to 'Malfunction'". Vice. Diakses tanggal Maret 11, 2019.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)

Pranala luar

[sunting | sunting sumber]