Misantropi

Misantropi adalah bentuk umum dari kebencian, ketidaksukaan, atau ketidakpercayaan terhadap spesies manusia, tingkah laku manusia, maupun hakikat manusia. Seorang misantrop atau misantropis adalah mereka yang memegang pandangan atau merasakan hal itu. Misantropi melandaskan dirinya pada sikap evaluatif negatif terhadap umat manusia, suatu penilaian yang lahir dari kecacatan jiwa manusia. Para misantrop beranggapan bahwa cacat-cacat tersebut bukanlah pengecualian melainkan esensi yang mengakar pada sebagian besar, bahkan seluruh, manusia. Menurut mereka, tidak ada jalan pintas untuk memperbaikinya kecuali melalui transformasi mendalam dari gaya hidup yang dominan.
Dalam ranah akademis, dikenal berbagai jenis misantropi, dibedakan berdasarkan sikap apakah yang terlibat, kepada siapa ia diarahkan, dan bagaimana ia diwujudkan. Dasarnya bisa berupa emosi, atau berupa penilaian teoretis; ia bisa ditujukan kepada seluruh manusia tanpa terkecuali, atau memberi toleransi terhadap beberapa sosok ideal. Dalam hal ini, ada misantrop yang juga mengutuk dirinya sendiri, sementara yang lain memosisikan diri di atas orang lain.
Misantropi kadang terkait erat dengan pandangan destruktif, dorongan untuk melukai sesama atau kecenderungan melarikan diri dari masyarakat. Namun, ada pula bentuk lain: aktivisme yang berupaya memperbaiki umat manusia, quietisme berupa penyerahan diri, atau humor yang menertawakan absurditas kondisi manusia.
Pandangan negatif misantropi berakar pada ragam kelemahan manusia. Cacat moral dan keputusan yang tidak etis sering dijadikan dasar: kekejaman, keegoisan, ketidakadilan, kerakusan, dan ketidakpedulian terhadap penderitaan makhluk lain. Semua itu dapat menimbulkan kerugian bagi manusia dan hewan, mulai dari genosida hingga peternakan massal. Ada pula cacat intelektual seperti dogmatisme dan bias kognitif, serta cacat estetika berupa keburukan dan tak adanya kepekaan terhadap keindahan.
Dalam kajian akademik, sering diperdebatkan apakah misantropi merupakan pandangan yang sah dan apa konsekuensinya. Pendukungnya menyatakan bahwa cacat manusia serta kerusakan yang ditimbulkannya sudah cukup sebagai alasan mengecam umat manusia. Para penentang menanggap bahwa cacat parah itu hanya muncul dalam kasus ekstrem (misalnya pelaku dengan kondisi gangguan mental) bukan mewakili seluruh kemanusiaan. Kritik lain menyebut bahwa manusia juga memiliki kebajikan, sehingga evaluasi yang seimbang mungkin akan lebih positif. Kritik selanjutnya menolak misantropi karena hubungannya dengan kebencian yang bisa mendorong kekerasan, dan karena ia mungkin membuat seseorang terasing, tanpa teman, dan tidak bahagia. Pembela misantropi pun merespons bahwa kesan itu hanya berlaku pada beberapa ragam misantropi, bukan pada misantropi secara umum.
Faktor psikologis dan sosial yang dapat melahirkan misantropi antara lain ketidaksetaraan sosial-ekonomi, hidup di bawah rezim otoriter, serta kekecewaan pribadi dalam kehidupan. Misantropi relevan dalam berbagai disiplin ilmu, dan sepanjang sejarah telah diulas serta diwujudkan oleh para filsuf seperti Herakleitos, Diogenes, Thomas Hobbes, Jean-Jacques Rousseau, Arthur Schopenhauer, dan Friedrich Nietzsche. Pandangan misantropis juga hadir dalam beberapa ajaran agama yang menyingkap kelemahan terdalam manusia, seperti doktrin Kristen tentang dosa asal.
Tokoh dan perspektif misantropis pun mewarnai sastra dan budaya populer: dari gambaran William Shakespeare tentang Timon dari Athena, lakon The Misanthrope karya Molière, hingga Perjalanan Gulliver karya Jonathan Swift. Misantropi sangat berkaitan tetapi tidak identik dengan pesimisme filosofis. Beberapa misantrop juga menganjurkan antinatalisme, pandangan bahwa manusia sebaiknya menahan diri dari prokreasi.[1][2]
Definisi
[sunting | sunting sumber]Misantropi secara tradisional dipahami sebagai kebencian atau ketidaksukaan terhadap umat manusia.[3][4] Istilah ini muncul pada abad ke-17, berakar dari kata-kata Yunani Kuno: μῖσος mīsos yang berarti ‘kebencian’ dan ἄνθρωπος ānthropos yang berarti ‘manusia’.[5][6] Dalam filsafat kontemporer, makna misantropi diperluas: ia tidak sekadar menunjuk pada kebencian, melainkan penilaian negatif terhadap manusia secara menyeluruh, didasarkan pada cacat dan kelemahan yang melekat dalam diri manusia itu sendiri.[7][8] Kebencian hanyalah salah satu wujudnya; inti dari misantropi adalah sikap kognitif yang lahir dari penilaian muram tentang umat manusia, bukan sekadar penolakan buta.[7][8][9]
Misantropi kerap dipertentangkan dengan filantropi, yakni kasih terhadap sesama manusia yang biasanya diejawantahkan dalam upaya meningkatkan kesejahteraan bersama melalui niat baik, bantuan, atau derma. Namun, keduanya bukanlah lawan mutlak; satu pribadi dapat sekaligus memendam misantropi dalam satu sisi hidupnya dan menampilkan filantropi dalam sisi lainnya.[10][11][12]
Satu ciri utama misantropi adalah bahwa sasaran sikap ini bersifat menyeluruh, tidak terbatas pada individu atau kelompok tertentu, melainkan tertuju pada umat manusia secara keseluruhan.[13][14][15] Di sinilah letak perbedaannya dengan sikap diskriminatif lain seperti misogini, misandri, atau rasisme, yang mengarah pada kelompok tertentu seperti perempuan, laki-laki, atau ras tertentu.[9][16][17][9] Menurut kritikus sastra Andrew Gibson, misantropi tidak harus dipahami sebagai kebencian terhadap setiap manusia di muka bumi. Batasannya bergantung pada cakrawala seseorang. Seorang penduduk desa yang membenci semua sesama warganya, tanpa kecuali, tetaplah seorang misantrop bila cakrawalanya hanya sebatas desa itu.[18]
Baik para misantrop maupun pengkritiknya sepakat bahwa sifat buruk tidak tersebar merata: ada yang menonjolkan keburukan lebih daripada yang lain. Namun bagi misantrop, penilaian negatif tidak bertumpu pada kasus-kasus ekstrem semata, melainkan merupakan kecaman terhadap umat manusia secara menyeluruh, termasuk orang biasa yang tampak "biasa-biasa saja".[7][14] Fokus pada yang sehari-hari ini membuat sebagian orang menilai cacat manusia sebagai hal remeh yang kerap diabaikan karena kelemahan akal budi. Sebagian memandangnya sebagai bagian hakiki dari hakikat manusia itu sendiri.[19][20][21] Sebagian lagi melihatnya sebagai cacat non-esensial, yakni hasil dari perjalanan peradaban, gejala dari dunia modern. Namun keduanya sepakat bahwa cacat itu bersifat "membatu": tidak mudah, bahkan mungkin mustahil, diperbaiki kecuali melalui transformasi radikal atas cara hidup manusia yang dominan.[22][23]
Jenis-jenis
[sunting | sunting sumber]Dalam ranah kajian akademis, dikenal berbagai corak misantropi. Pembedaan itu muncul dari sikap dasar yang melandasinya, cara ia diekspresikan, serta apakah sang misantrop turut memasukkan dirinya sendiri dalam penilaian yang suram itu.[24][25][26] Perbedaan-perbedaan ini sering kali menentukan cara menimbang argumen yang mendukung maupun menolak misantropi.[27][28] Klasifikasi awal yang digagas oleh Immanuel Kant membedakan antara misantropi positif dan negatif. Misantrop positif adalah mereka yang menjelma sebagai musuh umat manusia: mereka mendambakan celaka bagi sesamanya dan berusaha mewujudkan niat itu dalam beragam bentuk. Sebaliknya, misantropi negatif menyerupai antropofobia yang damai, sebuah kecenderungan menarik diri dari kehidupan sosial. Mereka mungkin masih berharap yang baik bagi orang lain, meski menilai ada cacat mendalam di dalamnya, dan karena itu memilih menjauh. Kant menautkan misantropi negatif dengan kekecewaan moral akibat luka pengalaman bersama orang lain.[24][29]
Ada pula pembedaan lain yang menyoroti apakah kutukan misantrop terhadap umat manusia diarahkan hanya kepada orang lain, atau juga kepada dirinya sendiri. Dalam hal ini, misantrop inklusif-diri memelihara konsistensi dengan menyertakan dirinya dalam penilaian buruk itu. Lawannya adalah misantrop yang meninggikan diri, yakni mereka yang secara implisit maupun terang-terangan menyingkirkan diri dari kutukan umum itu, lalu menempatkan dirinya sebagai sosok yang lebih luhur dibanding semua yang lain.[25][30] Sikap ini kerap dibarengi dengan rasa harga diri dan kepentingan diri yang berlebihan.[31] Menurut teoritikus sastra Joseph Harris, tipe yang meninggikan diri ini justru lebih lazim. Namun, ia menilai pandangan demikian mudah melemahkan dirinya sendiri karena berujung pada bentuk kemunafikan.[32] Klasifikasi yang berdekatan, dirumuskan oleh Irving Babbitt, membedakan misantrop dari segi apakah mereka memberi pengecualian dalam penilaian negatifnya. Misantrop dengan intelek telanjang menganggap seluruh umat manusia tiada harapan. Sedangkan misantrop lembut menyisihkan beberapa sosok yang mereka idealkan dari vonis itu. Babbitt menunjuk pada Rousseau, dengan kekagumannya pada manusia alami yang belum tersentuh peradaban, sebagai contoh misantropi lembut; dan ia membandingkannya dengan Jonathan Swift yang menolak seluruh umat manusia tanpa sisa.[33][34]
Cara lain memahami ragam misantropi adalah dengan menilik sikap dasar yang terarah pada umat manusia. Filsuf Toby Svoboda membedakan empat corak: rasa tidak suka, kebencian, penghinaan, dan penghakiman. Seorang misantrop yang berangkat dari rasa tidak suka memendam perasaan enggan atau jijik terhadap orang lain.[13] Bila sikap itu bertumbuh menjadi kebencian, ia menjelma intensitas yang lebih dalam, mencakup hasrat agar orang lain celaka, kadang bahkan berusaha mewujudkannya.[35] Dalam kasus penghinaan, sikap tersebut tak lagi berbasis pada rasa atau emosi, melainkan pada pandangan teoretis: manusia dipandang hina dan tak bernilai, sementara si misantrop mengangkat dirinya di luar penilaian itu.[36] Sedangkan bila ia berakar pada penghakiman, sikap itu tetap bersifat teoretis, tetapi tanpa membedakan diri dari yang lain. Pandangannya: manusia secara umum buruk, tetapi si misantrop tidak mengklaim dirinya lebih baik dari mereka.[37] Menurut Svoboda, hanya misantropi yang berlandaskan penghakimanlah yang dapat disebut sebagai posisi filosofis yang sungguh-sungguh. Ia beranggapan bahwa misantropi yang berpijak pada penghinaan bersifat bias terhadap orang lain, sementara misantropi berupa rasa tidak suka dan kebencian sulit dinilai karena sikap emosional itu kerap tak tunduk pada bukti objektif.[38]
Bentuk-bentuk kehidupan misantropis
[sunting | sunting sumber]
Misantropi biasanya tidak berhenti pada sekadar pandangan teoretis. Ia menyiratkan sikap penilaian yang menuntut jawaban praktis. Dalam hidup sehari-hari, misantropi dapat mengambil rupa-rupa bentuk, masing-masing dengan emosi yang dominan serta konsekuensi nyata bagi cara seseorang menapaki kehidupannya.[7][39] Gambaran mengenai respons misantropi kerap disajikan lewat arketipe sederhana, terlalu kasar untuk menangkap keseluruhan kehidupan batin seorang individu, tetapi cukup kuat untuk melukiskan sikap yang umum dijumpai di antara kelompok para misantrop. Dua respons yang paling sering dikaitkan dengan misantropi ialah dorongan untuk menghancurkan atau dorongan untuk melarikan diri dari masyarakat. Sang misantrop perusak digerakkan oleh kebencian terhadap umat manusia, dengan hasrat merobohkannya, bahkan melalui kekerasan bila diperlukan.[7][40] Sebaliknya, bagi misantrop pelarian, rasa takut menjadi emosi yang paling menonjol. Ia terdorong mencari tempat yang terpencil, berusaha menjauh sejauh mungkin dari sentuhan peradaban dan umat manusia yang dianggap merusak.[7][9]
Sastra misantropi kontemporer mengenali pula ragam bentuk kehidupan misantropis yang kurang dikenal.[7] Ada yang disebut misantrop aktivis, ia digerakkan bukan semata oleh penilaian suram terhadap manusia, melainkan juga oleh secercah harapan. Harapan ini berakar pada meliorisme: keyakinan bahwa umat manusia masih mungkin dan sanggup mengubah dirinya, dan sang aktivis berusaha mewujudkan cita-cita itu.[7][41] Versi yang lebih lemah dari pendekatan ini adalah upaya memperbaiki dunia secara bertahap, sekadar menghindarkan malapetaka terburuk, meski tanpa harapan menuntaskan persoalan mendasar.[42] Misantrop aktivis berbeda dari misantrop quietis, yang berpandangan pesimis tentang apa yang bisa dilakukan untuk mengubah atau memperbaiki keadaan secara berarti. Alih-alih menempuh reaksi drastis, mereka memilih menyerah pada penerimaan yang hening dan penghindaran dalam skala kecil.[43][7]
Ada pula pendekatan lain yang berfokus pada humor, melalui olok-olok dan ejekan atas absurditas kondisi manusia. Misalnya, manusia saling menyakiti dan bahkan mempertaruhkan kehancuran dirinya demi hal-hal remeh, seperti peningkatan laba yang nyaris tak berarti. Dengan cara demikian, humor dapat berfungsi ganda: menjadi cermin yang menyingkap kebenaran getir keadaan, sekaligus menjadi obat penawar yang meredakan kepedihan itu.[44]
Bentuk-bentuk cacat kemanusiaan
[sunting | sunting sumber]Aspek mendasar dari misantropi adalah bahwa sikap negatifnya terhadap umat manusia berpijak pada cacat-cacat manusia itu sendiri.[45][7] Para misantrop dari berbagai zaman telah menyusun daftar panjang kelemahan manusia: kekejaman, keserakahan, keegoisan, pemborosan, fanatisme, penipuan-diri, hingga ketidakpekaan terhadap keindahan.[46][47][7] Daftar ini dapat dikategorikan dengan banyak cara, tetapi kerap diyakini bahwa cacat moral merupakan bentuk yang paling serius.[23][48] Literatur kontemporer juga membicarakan cacat-cacat intelektual, estetis, dan spiritual.[49][23]

Cacat moral biasanya dipahami sebagai kecenderungan melanggar norma-norma moral atau sikap keliru dalam memandang kebaikan.[50][51] Ia mencakup kekejaman, ketidakpedulian terhadap penderitaan orang lain, keegoisan, kemalasan moral, pengecut, ketidakadilan, kerakusan, serta sikap tidak tahu berterima kasih. Kerusakan yang lahir dari cacat-cacat ini dapat dibagi ke dalam tiga ranah: kerusakan langsung terhadap sesama manusia, kerusakan langsung terhadap hewan lain, serta kerusakan tak langsung terhadap keduanya melalui perusakan lingkungan. Contoh-contoh yang sering dikutip adalah Holocaust, peternakan intensif hewan ternak, serta pencemaran yang memicu perubahan iklim.[52][23][53] Dalam hal ini, yang penting bukan hanya bahwa manusia menimbulkan kerusakan, melainkan juga bahwa mereka memikul tanggung jawab moral atasnya. Sebab, mereka memiliki kesadaran akan konsekuensi tindakannya dan sesungguhnya mampu memilih jalan lain. Namun, manusia kerap memilih tidak melakukannya, misalnya dengan mengorbankan kesejahteraan jangka panjang orang lain demi keuntungan pribadi sesaat.[54]
Cacat intelektual berkaitan dengan kapasitas kognitif. Ia dapat didefinisikan sebagai apa yang melahirkan keyakinan keliru, menghalangi tercapainya pengetahuan, atau melanggar tuntutan rasionalitas. Cacat ini mencakup watak intelektual yang buruk, seperti kesombongan, berpikir sesuai keinginan belaka, dan fanatisme. Contoh lainnya adalah kebodohan, mudah tertipu, serta berbagai bias kognitif, misalnya bias konfirmasi, bias menguntungkan diri sendiri, bias retrospektif, dan bias jangkar.[55][56][50] Cacat intelektual kerap bersinergi dengan berbagai bentuk keburukan: ia menipu seseorang agar tidak menyadari kelemahannya sendiri, sehingga gagal memperbaiki diri. Misalnya, dengan hidup secara lalai dan menolak melihat kekurangan yang jelas. Ia juga mencakup bentuk penipuan-diri, ketidaktahuan yang disengaja, serta sikap menyangkal kenyataan.[57][58] Pertimbangan-pertimbangan serupa membuat beberapa tradisi menyebut kegagalan intelektual, khususnya ketidaktahuan, sebagai akar dari segala kejahatan.[59][60][61]
Cacat estetis memang tidak diberi bobot sebesar cacat moral atau intelektual, namun tetap memiliki tempat dalam renungan misantropis. Cacat ini berkaitan dengan keindahan dan kejelekan. Ia menyentuh sisi-sisi hidup manusia yang dianggap buruk rupa, seperti penuaan atau pembuangan tubuh. Contoh lainnya adalah keburukan yang lahir dari ulah manusia sendiri, seperti pencemaran dan sampah, atau sikap yang keliru terhadap dimensi estetis, misalnya ketidakpekaan terhadap keindahan.[62][63][23]
Penyebab
[sunting | sunting sumber]Berbagai faktor psikologis dan sosial telah diidentifikasi dalam literatur akademis sebagai kemungkinan penyebab lahirnya sentimen misantropis. Faktor-faktor itu, bila dipandang secara terpisah, mungkin tak cukup untuk menjelaskan misantropi secara utuh, tetapi dapat menunjukkan bagaimana ia menjadi lebih mungkin muncul.[28] Misalnya, kekecewaan dan patah harapan dalam hidup dapat menuntun seseorang pada pandangan misantropis.[64][65] Dalam hal ini, semakin idealis dan optimistis seseorang pada mulanya, semakin keras pula pembalikan yang dialami ketika harapan itu runtuh, dan semakin gelap pula pandangan yang mengikutinya.[64] Penjelasan psikologis semacam ini telah ditemukan sejak karya Plato berjudul Phaedo. Di dalamnya, Socrates menyinggung seseorang yang menaruh kepercayaan dan kekaguman pada orang lain tanpa benar-benar mengenalnya dengan baik. Ia berargumen, misantropi dapat muncul bila kemudian terbukti bahwa orang yang dikagumi itu memiliki cacat serius. Sikap awal pun berbalik dan digeneralisasi, sehingga menjelma sebagai ketidakpercayaan dan penghinaan terhadap seluruh manusia. Menurut Socrates, hal ini lebih mungkin terjadi bila orang yang dikagumi itu sahabat dekat, dan bila peristiwa semacam ini berulang lebih dari sekali.[66][67] Bentuk misantropi semacam ini kadang disertai rasa keangkuhan moral, di mana sang misantrop merasa dirinya lebih baik daripada semua orang lain.[64]
Pengalaman pribadi negatif lainnya juga dapat menimbulkan akibat serupa. Andrew Gibson menggunakan pendekatan ini untuk menjelaskan mengapa sejumlah filsuf menjadi misantrop. Ia menyinggung Thomas Hobbes yang hidup dalam lingkungan politik tak stabil dan peperangan yang berulang, yang diyakini menyuburkan sikap misantropis. Untuk Arthur Schopenhauer, Gibson menyebut kenyataan bahwa ia dipaksa meninggalkan rumah sejak kecil dan tak pernah benar-benar menemukan tempat untuk disebut "rumah" sebagai sebab yang berperan serupa.[28][68] Faktor psikologis lain menyangkut sikap negatif terhadap tubuh manusia, khususnya dalam bentuk rasa muak terhadap seksualitas.[69][28]
Selain penyebab psikologis, kondisi sosial yang lebih luas juga berperan. Secara umum, makin buruk keadaan sosial, makin besar kemungkinan tumbuhnya misantropi.[70][28] Misalnya, menurut ilmuwan politik Eric M. Uslaner, ketimpangan sosial-ekonomi akibat distribusi kekayaan yang tidak adil meningkatkan kecenderungan orang untuk mengadopsi pandangan misantropis. Hal ini karena ketimpangan melemahkan kepercayaan pada pemerintah maupun sesama. Uslaner berpendapat bahwa sumber misantropi ini dapat dikurangi dengan kebijakan yang membangun rasa saling percaya serta mendorong distribusi kekayaan yang lebih setara.[28][71] Faktor lain adalah sistem politik. Secara khusus, rezim otoriter menggunakan segala cara untuk menindas rakyatnya dan mempertahankan kekuasaan.[72][73] Sebagai contoh, penindasan keras di bawah Ancien Régime pada akhir abad ke-17 membuat orang lebih mudah mengadopsi pandangan misantropis karena kebebasan mereka dirampas.[28][74] Sebaliknya, Demokrasi dapat membawa dampak berlawanan, sebab ia membuka ruang kebebasan pribadi dengan bertolak pada pandangan yang lebih optimistis tentang kodrat manusia.[72][73]
Kajian empiris sering menggunakan pertanyaan seputar kepercayaan terhadap orang lain untuk mengukur misantropi, khususnya apakah seseorang percaya bahwa orang lain akan bersikap adil dan suka menolong.[75][76] Dalam sebuah studi tentang misantropi di masyarakat Amerika, Tom W. Smith menyimpulkan bahwa faktor-faktor yang meningkatkan pandangan misantropis adalah status sosial-ekonomi rendah, berasal dari kelompok ras atau etnis minoritas, serta pengalaman negatif baru-baru ini dalam hidup. Dalam kaitannya dengan agama, misantropi cenderung lebih tinggi pada mereka yang tidak menghadiri gereja dan pada kaum fundamentalis. Faktor lain tampaknya tak berperan besar, seperti jenis kelamin, pengalaman perceraian, atau tidak pernah menikah.[75] Studi lain oleh Morris Rosenberg menemukan bahwa misantropi terkait dengan pandangan politik tertentu: misalnya sikap skeptis terhadap kebebasan berpendapat serta kecenderungan mendukung kebijakan otoriter. Hal ini menyangkut, misalnya, kecenderungan membatasi kebebasan politik maupun kebebasan beragama.[75][76]
Argumen
[sunting | sunting sumber]
Berbagai diskusi dalam literatur akademis menyoal apakah misantropi merupakan penilaian yang tepat tentang umat manusia dan apa konsekuensi dari mengadopsinya. Banyak pendukung misantropi menitikberatkan pada cacat-cacat manusia beserta contoh ketika cacat itu melahirkan dampak-dampak negatif. Mereka berargumen bahwa cacat tersebut begitu parah hingga sikap misantropis merupakan jawaban yang wajar.[77]
Dalam konteks ini, cacat moral sering dianggap sebagai yang paling penting.[78][79][7] Pandangan ini berakar pada keyakinan bahwa manusia bukan hanya menyebabkan penderitaan dan kehancuran dalam skala luas, melainkan juga bertanggung jawab secara moral atasnya. Alasannya, manusia cukup cerdas untuk memahami konsekuensi dari tindakan mereka, dan karenanya berpotensi membuat keputusan jangka panjang yang seimbang, alih-alih sekadar mengejar keuntungan pribadi yang seketika.[54]
Para pendukung misantropi kadang menyoroti manifestasi ekstrem dari cacat manusia, seperti pembantaian massal yang diperintahkan para diktator. Ada pula yang menekankan bahwa masalah ini tidak terbatas pada segelintir kasus semata, melainkan melibatkan banyak orang biasa yang secara sadar atau tidak turut mendukung para pemimpin politik pelaku kejahatan tersebut.[80] Argumen yang berkaitan erat dengan ini adalah bahwa cacat-cacat mendasar itu pada dasarnya ada dalam diri setiap orang, meskipun hanya mencapai bentuk paling ekstrem pada sebagian kecil saja.[7] Pendekatan lain berfokus bukan pada kasus luar biasa, melainkan pada wujud kecil sehari-hari dari cacat manusia dalam kehidupan biasa seperti berbohong, menipu, mengingkari janji, atau bersikap tak tahu berterima kasih.[81][82]
Beberapa argumen misantropi tidak hanya berbicara mengenai kecenderungan umum, tetapi juga tentang kerusakan nyata yang telah ditimbulkan manusia di masa lampau.[53][83][84] Hal ini mencakup, misalnya, kerusakan terhadap ekosistem, seperti bencana ekologis yang berujung pada kepunahan massal.[85]
Kritik
[sunting | sunting sumber]Beragam pemikir telah melayangkan kritik terhadap misantropi. Sebagian penentang mengakui adanya manifestasi ekstrem dari cacat manusia, seperti pelaku kekerasan yang sakit jiwa, tetapi mereka berpendapat bahwa kasus-kasus demikian tidaklah mewakili umat manusia secara keseluruhan dan karenanya tidak cukup untuk membenarkan sikap misantropis. Misalnya, meskipun sejarah mencatat kebiadaban manusia dalam bentuk pembantaian massal yang dilakukan para diktator beserta pasukannya, menghimpun contoh-contoh tragis itu saja tidaklah memadai untuk menjatuhkan vonis atas kemanusiaan secara keseluruhan.[7][86]
Sebagian kritikus misantropi mengakui bahwa manusia memang memiliki beragam cacat, namun mereka menekankan bahwa cacat tersebut hanyalah satu sisi dari manusia, sementara sikap evaluatif seharusnya mempertimbangkan seluruh sisi. Pemikiran ini berakar pada gagasan bahwa manusia juga memiliki kebajikan-kebajikan yang sama pentingnya dan yang, dalam kadar tertentu, menebus kekurangannya.[87] Sebagai contoh, narasi yang hanya menyoroti peperangan besar, kekejaman, dan tragedi dalam sejarah manusia kerap mengabaikan pencapaian luhur dalam ilmu pengetahuan, seni, dan kemanusiaan.[88]
Penjelasan lain yang diajukan para kritikus adalah bahwa penilaian negatif tidak semestinya diarahkan pada umat manusia itu sendiri, melainkan pada kekuatan-kekuatan sosial tertentu. Kekuatan tersebut bisa berupa kapitalisme, komunisme, patriarki, rasisme, fundamentalisme agama, atau imperialisme.[89] Pendukung pandangan ini lebih memilih melawan kekuatan sosial tertentu ketimbang menumbuhkan sikap misantropis terhadap manusia secara menyeluruh.[90]
Sebagian keberatan terhadap misantropi tidak didasarkan pada pertanyaan apakah sikap itu mencerminkan nilai negatif manusia secara tepat, melainkan pada biaya yang mesti dibayar bila posisi tersebut diterima. Biaya ini dapat merugikan baik si misantrop sendiri maupun masyarakat luas. Hal ini kian relevan apabila misantropi berpadu dengan kebencian, yang dengan mudah dapat menjelma kekerasan terhadap lembaga sosial maupun sesama manusia, dan pada akhirnya menimbulkan luka baru.[91] Selain itu, misantropi dapat merampas aneka kenikmatan hidup, menjadikan penganutnya terasing, sengsara, dan tanpa kawan.[92]
Bentuk kritik lain bergerak pada tataran teoretis, dengan menyatakan bahwa misantropi adalah posisi yang tidak konsisten dan kontradiktif.[93][28] Salah satu contohnya adalah kecenderungan seorang misantrop untuk mengecam dunia sosial sembari tetap terlibat di dalamnya, tak pernah benar-benar mampu melepaskan diri darinya.[94] Kritik ini khususnya berlaku bagi para misantrop yang mengecualikan diri mereka dari penilaian negatif, lalu memandang rendah manusia lain dengan penuh cemooh dan egotisme.[95][96][30] Namun demikian, kritik ini tidak serta-merta berlaku untuk semua bentuk misantropi. Keberatan lain yang berhubungan erat dengan ini berangkat dari klaim bahwa misantropi merupakan sikap yang tidak alamiah, dan karenanya patut dipandang sebagai penyimpangan atau kasus patologis.[97]
Dalam berbagai disiplin
[sunting | sunting sumber]Sejarah filsafat
[sunting | sunting sumber]Misantropi telah dibicarakan dan dicontohkan oleh para filsuf sepanjang sejarah. Salah satu kasus paling awal adalah filsuf pra-Sokratik Herakleitos. Ia kerap digambarkan sebagai pribadi penyendiri, yang enggan bergaul dengan orang lain. Faktor utama dari pandangan negatifnya terhadap manusia adalah ketidakmampuan mereka memahami hakikat sejati realitas. Hal ini terutama terlihat ketika, meski telah diberi penjelasan yang terang dan lengkap, mereka tetap bertahan dalam kebodohan.[98][99][100] Pembahasan awal lain ditemukan dalam dialog Phaedo karya Plato, di mana misantropi dipahami sebagai buah dari harapan yang dikhianati dan optimisme yang terlalu polos.[101][66][67]

Renungan tentang misantropi juga banyak ditemukan dalam aliran sinis. Di sana, salah satu argumennya adalah bahwa manusia senantiasa melahirkan kembali kejahatan yang justru ingin mereka hindari. Contoh yang dikemukakan filsuf abad pertama, Dio Krisostomos, adalah bagaimana manusia pindah ke kota demi melindungi diri dari orang luar, tetapi justru menuai lebih banyak kekerasan akibat maraknya kejahatan di dalam kota itu sendiri. Diogenes adalah misantrop sinis paling masyhur. Ia melihat sesamanya sebagai munafik dan dangkal. Ia menolak secara terbuka norma dan nilai masyarakat, kerap sengaja melanggar konvensi serta bertingkah kasar untuk memprovokasi orang lain.[104][28][105]
Thomas Hobbes merupakan contoh misantropi dalam filsafat modern awal. Pandangan negatifnya tentang manusia tecermin dalam banyak karyanya. Baginya, manusia itu egois dan penuh kekerasan: bertindak demi kepentingannya sendiri dan siap mengorbankan orang lain untuk mencapai tujuan. Dalam keadaan alamiahnya, ini melahirkan perang tanpa akhir, di mana "setiap orang adalah musuh bagi setiap orang lainnya". Ia melihat pembentukan negara berotoritas dengan penegakan hukum yang ketat sebagai satu-satunya cara menundukkan sifat manusia yang buas dan mencegah perang abadi.[106][107][108]
Jenis misantropi lain tampak pada Jean-Jacques Rousseau. Ia mengidealkan harmoni dan kesederhanaan yang ditemukan di alam, lalu mengontraskannya dengan kekacauan dan kerusakan dalam masyarakat serta lembaga-lembaganya.[109][110][111] Ia, misalnya, menyatakan bahwa "Manusia dilahirkan merdeka; tetapi di mana-mana ia terbelenggu."[112][113] Pandangan muram ini tecermin pula dalam hidupnya: ia memilih kesunyian dan lebih suka bersama tumbuhan daripada manusia.[114]
Arthur Schopenhauer sering disebut sebagai contoh utama misantropi.[115][116] Menurutnya, segala sesuatu di dunia, termasuk manusia dan aktivitasnya, hanyalah ekspresi dari suatu kehendak yang mendasari. Kehendak ini buta, sehingga terus-menerus menyeret manusia dalam pergulatan sia-sia. Dalam taraf kehidupan manusia, hal ini "menampakkan diri sebagai penipuan tiada henti", sebab didorong oleh nafsu-nafsu tak bermakna. Nafsu itu kebanyakan egois, dan kerap berbuah ketidakadilan serta penderitaan bagi sesama. Begitu terpenuhi, nafsu itu hanya melahirkan nafsu baru yang sama tak bermaknanya, dengan penderitaan yang kian bertambah.[117][118][119] Karena itu, Schopenhauer menolak hampir segala hal yang lazim dipandang berharga seperti cinta romantis, individualitas, bahkan kebebasan.[120] Baginya, tanggapan terbaik atas kondisi manusia adalah bentuk asketisme: menolak ekspresi kehendak. Namun hal ini hanya mungkin bagi segelintir manusia, sebab "kebanyakan manusia yang tumpul" tak akan sanggup menggapai cita-cita tersebut.[121]
Friedrich Nietzsche, yang amat dipengaruhi Schopenhauer, juga kerap disebut sebagai contoh misantropi. Ia memandang manusia sebagai binatang sakit yang dekaden, tak menunjukkan kemajuan berarti dibanding hewan lain.[122][123][124] Bahkan ia menunjukkan sikap negatif terhadap kera, sebab kemiripannya dengan manusia (misalnya dalam hal kekejaman) lebih besar daripada hewan lain.[125] Bagi Nietzsche, salah satu cacat terbesar manusia adalah kecenderungan mencipta dan menegakkan sistem aturan moral yang menguntungkan yang lemah dan menindas keagungan sejati.[123][126] Ia berpendapat bahwa manusia adalah sesuatu yang harus diatasi, dan ia menggunakan istilah Übermensch untuk menggambarkan individu ideal yang melampaui norma moral dan sosial tradisional.[127][128]
Agama
[sunting | sunting sumber]
Beberapa pandangan misantropis juga hadir dalam ajaran agama. Dalam Kristen, misalnya, hal ini terkait erat dengan sifat manusia yang penuh dosa dan dengan mudah menampakkannya dalam kehidupan sehari-hari.[129] Bentuk-bentuk dosa umum kerap dibicarakan melalui kerangka tujuh dosa pokok. Contohnya adalah rasa kesombongan yang berlebihan, nafsu birahi yang tak terkendali, hasrat akan keserakahan terhadap harta, serta rasa iri pada kepunyaan orang lain.[130] Menurut doktrin dosa asal, cela ini melekat pada setiap manusia, karena sejak lahir manusia telah mewarisi noda dosa akibat pemberontakan Adam dan Hawa terhadap otoritas Tuhan.[129][131] Teologi John Calvin tentang Total depravity bahkan oleh sejumlah teolog digambarkan sebagai bentuk misantropi.[132][133][134]
Pandangan misantropis juga dapat dikenali dalam berbagai ajaran Buddha. Buddha, misalnya, memiliki pandangan muram terhadap kelemahan manusia yang merajalela: nafsu, kebencian, delusi, kesedihan, dan keputusasaan.[135] Semua kelemahan ini dipahami sebagai bentuk keterikatan atau nafsu keinginan (taṇhā) yang melahirkan penderitaan (dukkha).[136][137] Namun, dalam ajaran Buddha diyakini bahwa kelemahan-kelemahan ini dapat diatasi melalui jalan menuju Kebuddhaan atau pencerahan. Walau demikian, pencapaian itu dianggap amat sulit, sehingga sebagian besar manusia tetap terbelenggu olehnya.[138]
Namun, banyak pula ajaran agama yang menentang misantropi, dengan menekankan kebaikan hati serta sikap menolong sesama. Dalam Kristen, hal ini tampak pada gagasan agape, yaitu cinta tanpa pamrih yang penuh belas kasih dan kerelaan membantu orang lain.[139] Dalam Buddhisme, praktik cinta kasih (metta) dipandang sebagai aspek utama: niat welas asih yang terwujud dalam sikap lembut dan kebaikan terhadap semua makhluk hidup.[140][141]
Sastra dan budaya populer
[sunting | sunting sumber]Banyak contoh misantropi juga ditemukan dalam karya sastra dan budaya populer. Timon of Athens karya William Shakespeare adalah potret terkenal tentang kehidupan Timon dari Yunani Kuno, yang masyhur karena sikap misantropisnya yang ekstrem. Shakespeare melukiskannya mula-mula sebagai seorang bangsawan kaya raya dan dermawan. Namun, ia akhirnya dikhianati oleh sahabat-sahabat yang tak tahu berterima kasih, hingga muak pada seluruh umat manusia. Dengan begitu, kemurahan hatinya yang awal berubah menjadi kebencian tanpa batas, mendorongnya meninggalkan masyarakat untuk hidup menyendiri di hutan.[142][143] Karya Molière berjudul The Misanthrope adalah contoh terkenal lainnya. Tokoh utamanya, Alceste, memiliki pandangan rendah terhadap orang-orang di sekitarnya. Ia gemar menyoroti cacat mereka dan secara terbuka mengecam kepalsuan, kepura-puraan, serta kemunafikan mereka. Ia menolak sebagian besar tata krama sosial, dan kerap menyinggung orang lain, misalnya dengan menolak basa-basi sopan yang lazim dilakukan.[144][145][146]
Penulis Jonathan Swift dikenal luas akan reputasinya sebagai seorang misantrop. Dalam sejumlah pernyataannya, ia bahkan secara terang-terangan menyatakan kebenciannya terhadap "hewan bernama manusia".[147] Jejak misantropi ini juga kuat dalam karyanya, salah satunya Perjalanan Gulliver. Buku itu berkisah tentang petualangan tokoh Gulliver ke berbagai tempat, seperti negeri manusia mini atau tanah yang diperintah oleh kuda cerdas. Dari kontras antara manusia dan makhluk-makhluk lain inilah Gulliver makin menyadari cacat dalam diri umat manusia, hingga akhirnya timbul rasa muaknya terhadap sesama.[148][149] Ebenezer Scrooge dari A Christmas Carol karya Charles Dickens adalah contoh misantropi yang kerap disebut-sebut. Ia digambarkan sebagai seorang kikir berhati beku, hidup menyendiri, dan membenci Natal. Ia tamak, egois, serta tak peduli pada kesejahteraan orang lain.[150][151][152] Penulis lain yang juga kerap dikaitkan dengan misantropi antara lain Gustave Flaubert dan Philip Larkin.[153][154]
The Joker dari Semesta DC adalah contoh misantropi dalam budaya populer. Ia adalah salah satu musuh utama Batman dan tampil sebagai agen kekacauan. Joker percaya bahwa manusia pada dasarnya egois, kejam, irasional, dan munafik. Ia biasanya digambarkan sebagai seorang sosiopat dengan selera humor yang bengkok, yang menggunakan kekerasan untuk membongkar dan menghancurkan tatanan masyarakat.[155][156][157]
Konsep-konsep terkait
[sunting | sunting sumber]Pesimisme filosofis
[sunting | sunting sumber]Misantropi memiliki kedekatan erat, meski tidak sepenuhnya sama, dengan pesimisme filosofis. Pesimisme filosofis adalah pandangan bahwa hidup ini tidak layak dijalani, atau bahwa dunia pada hakikatnya adalah tempat yang buruk, misalnya karena dianggap tanpa makna dan penuh penderitaan.[158][159] Pandangan ini dijelmakan, antara lain, dalam pemikiran Arthur Schopenhauer dan Philipp Mainländer.[160]
Pesimisme filosofis kerap berjalan beriringan dengan misantropi, terutama bila seseorang berpandangan bahwa umat manusia itu sendiri adalah sesuatu yang buruk dan turut bertanggung jawab atas nilai negatif dunia. Namun, keduanya tidaklah saling mengandaikan dan dapat berdiri terpisah.[7][161] Seorang pesimis non-misantropis, misalnya, mungkin beranggapan bahwa manusia hanyalah korban dari dunia yang mengerikan, tanpa layak disalahkan atas keadaannya. Sebaliknya, para eko-misantropis berpendapat bahwa dunia dan alam semesta ini sesungguhnya bernilai dan indah, tetapi manusialah yang menebarkan pengaruh negatif serta kehancuran di dalamnya.[7][162]
Antinatalisme dan kepunahan manusia
[sunting | sunting sumber]Kemanusiaan adalah bencana moral. Dunia akan mengalami jauh lebih sedikit kehancuran andai kita tak pernah berevolusi. Semakin sedikit manusia di masa depan, semakin berkurang pula kerusakan yang ditinggalkan.
—David Benatar, "The Misantropic Argument for Anti-natalism"[79]
Antinatalisme adalah pandangan bahwa keberadaan itu sendiri merupakan keburukan, dan bahwa manusia memiliki kewajiban moral untuk menahan diri dari melahirkan keturunan.[163][164] Salah satu argumen sentral yang menopangnya disebut argumen misantropis, yakni keyakinan bahwa cacat mendasar dalam diri manusia, terutama kecenderungan untuk menebar penderitaan, adalah alasan kuat untuk mencegah kelahiran generasi baru.[165][166] Bentuk-bentuk penderitaan ini mencakup perang, genosida, peternakan massal yang eksploitatif, hingga kerusakan yang ditimpakan manusia pada alam.[167][168]
Argumen ini bertolak belakang dengan argumen filantropis, yang menitikberatkan pada penderitaan individu di masa depan: bahwa satu-satunya cara untuk melindungi mereka dari rasa sakit yang belum sempat dialami adalah dengan tidak membiarkan mereka lahir sama sekali.[165][166][42] Gerakan seperti Voluntary Human Extinction Movement dan Church of Euthanasia merupakan contoh terkenal dari upaya sosial yang mendukung antinatalisme dan kepunahan manusia.[169][2]
Antinatalisme kerap dijunjung oleh para pemikir misantropis.[42] Namun, ada pula beragam kemungkinan lain yang dapat membawa umat manusia menuju kepunahan secara tidak disengaja. Banyak pemikiran telah diajukan tentang ancaman jangka panjang terhadap kelangsungan spesies kita, mulai dari perang nuklir, nanorobot yang mampu bereplikasi, hingga patogen super yang mematikan.[170][171][172]
Bagi kebanyakan orang, skenario semacam ini adalah bencana tak terbayangkan. Namun, seorang misantrop mungkin justru melihatnya sebagai secercah harapan, sebuah akhir bagi dominasi manusia dalam panggung sejarah.[173] Pandangan serupa pernah disuarakan oleh Bertrand Russell, yang memandang keberadaan manusia beserta dosa-dosanya di bumi hanyalah "mimpi buruk yang berlalu; pada waktunya, bumi akan kembali tak mampu menopang kehidupan, dan kedamaian pun akan datang."[174]
Antroposentrisme dan ekologi dalam
[sunting | sunting sumber]Antroposentrisme adalah pandangan bahwa manusia memiliki arti yang unik dan kedudukan istimewa dibandingkan dengan semua makhluk lain. Keyakinan ini kerap berakar pada klaim bahwa manusia menonjol karena kapasitasnya yang khusus, seperti kecerdasan, rasionalitas, dan otonomi.[175] Dalam konteks religius, keistimewaan itu sering dijelaskan melalui peran khusus yang telah digariskan Tuhan bagi manusia, atau karena manusia diciptakan menurut gambar-Nya.[176]
Pandangan tentang keistimewaan manusia biasanya berpadu dengan keyakinan bahwa kesejahteraan manusia lebih penting daripada kesejahteraan spesies lainnya. Dari kerangka ini lahirlah berbagai kesimpulan etis. Salah satunya adalah klaim bahwa manusia berhak menguasai bumi dan menundukkan makhluk lain di bawah kehendaknya. Pandangan lain menyatakan bahwa menyakiti spesies lain dapat dibenarkan secara moral bila dilakukan demi menjaga kesejahteraan dan keunggulan manusia.[175][177]
Secara umum, posisi keistimewaan manusia berlawanan dengan misantropi dalam hal penilaian atas nilai umat manusia.[177] Namun, hal ini tidak selalu demikian, karena keduanya dapat pula dipegang bersamaan. Salah satu jalannya adalah dengan menyatakan bahwa umat manusia istimewa berkat segelintir individu langka, sementara kebanyakan orang justru buruk adanya.[178] Pendekatan lain menegaskan bahwa manusia istimewa justru dalam arti negatif: sejarah panjang kehancuran dan kerusakan yang ditimbulkan membuat mereka jauh lebih buruk daripada spesies mana pun.[177]
Para pemikir dalam ranah ekologi dalam sering kali bersikap kritis terhadap gagasan keistimewaan manusia dan condong pada perspektif misantropis.[179][180] Ekologi dalam merupakan gerakan filosofis sekaligus sosial yang menekankan nilai hakiki alam dan menyerukan perubahan radikal dalam sikap manusia terhadap alam.[181] Namun, sejumlah teoretikus mengkritik ekologi dalam karena dianggap mengutamakan spesies lain di atas manusia, sehingga berbau misantropis.[180] Misalnya, gerakan ekologi dalam Earth First! menuai kecaman keras setelah dalam buletinnya mereka memuji wabah AIDS di Afrika sebagai solusi bagi masalah kelebihan populasi manusia.[182][183]
Lihat pula
[sunting | sunting sumber]- Asosialitas – keadaan kurangnya motivasi untuk terlibat dalam interaksi sosial
- Antihumanisme – penolakan terhadap humanisme
- Gangguan kepribadian antisosial – gangguan kepribadian yang ditandai dengan pengabaian terhadap orang lain
- Kosmisme – filsafat sastra yang digagas oleh H. P. Lovecraft, ditandai keyakinan bahwa tiada tuhan dan bahwa manusia hanyalah makhluk yang "amat tidak berarti"
- Isolasi emosional – keadaan keterasingan di mana seseorang merasa terpisah secara emosional dari orang lain meskipun mengenal banyak orang
- Hatred (permainan video) – permainan video tahun 2015 dengan tokoh utama misantropis yang menjalankan "perang salib genosida"
- Nihilisme – sistem keyakinan bahwa hidup, pengetahuan, dan nilai-nilai tidak memiliki arti maupun makna
- Alienasi sosial – perasaan keterputusan seseorang dari sebuah kelompok manusia
Referensi
[sunting | sunting sumber]Kutipan
[sunting | sunting sumber]- ↑ Benatar 2015, hlm. 34–64.
- 1 2 MacCormack 2020, hlm. 143.
- ↑ Merriam-Webster staff 2023.
- ↑ AHD staff 2022a.
- ↑ OED staff 2019.
- ↑ Harper 2019.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Kidd 2020b.
- 1 2 Cooper 2018, hlm. 7.
- 1 2 3 4 Edyvane 2013, hlm. 53–65.
- ↑ AHD staff 2022.
- ↑ Lim 2006, hlm. 167.
- ↑ Sawaya 2014, hlm. 207.
- 1 2 Svoboda 2022, hlm. 6–7.
- 1 2 Cooper 2018, hlm. 54–6.
- ↑ Benatar 2015, hlm. 38, 41.
- ↑ Gibson 2017, hlm. 190.
- ↑ Gilmore 2010, hlm. 12.
- ↑ Gibson 2017, hlm. 145.
- ↑ Harris 2022, hlm. 118.
- ↑ Kidd 2020, hlm. 66–72.
- ↑ Kidd 2023.
- ↑ Cooper 2018, hlm. 7, 13, 54–8.
- 1 2 3 4 5 Kidd 2022, hlm. 75–99, 4. Misanthropy and the Hatred of Humanity.
- 1 2 Tsakalakis 2020, hlm. 144.
- 1 2 Harris 2022, hlm. 21.
- ↑ Svoboda 2022, hlm. 6–9.
- ↑ Svoboda 2022, hlm. 6, 9, 29.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Querido 2020, hlm. 152–7.
- ↑ Wilford & Stoner 2021, hlm. 42–3.
- 1 2 Svoboda 2022, hlm. 8.
- ↑ Harris 2022, hlm. 22.
- ↑ Harris 2022, hlm. 20–22.
- ↑ King 1993, hlm. 57–8.
- ↑ Babbitt 2015, Chapter VII: Romantic Irony.
- ↑ Svoboda 2022, hlm. 7.
- ↑ Svoboda 2022, hlm. 7–8.
- ↑ Svoboda 2022, hlm. 8–9.
- ↑ Svoboda 2022, hlm. 8–9, 40.
- ↑ Cooper 2018, hlm. 110–1.
- ↑ Cooper 2018, hlm. 115–6.
- ↑ Svoboda 2022, hlm. 14, 115.
- 1 2 3 Svoboda 2022, hlm. 14.
- ↑ Cooper 2018, hlm. 118–9.
- ↑ Svoboda 2022, hlm. 117–8.
- ↑ Cooper 2018, hlm. 7, 47–8.
- ↑ Cooper 2018, hlm. 3, 8, 48.
- ↑ Benatar 2015, hlm. 39–42.
- ↑ Benatar 2015, hlm. 34–36, 55.
- ↑ Cooper 2018, hlm. 7, 13, 48.
- 1 2 Hurka 2020, Virtues and vices.
- ↑ Hurka 2001, hlm. 195–212.
- ↑ Benatar 2015, hlm. 39–48.
- 1 2 Svoboda 2022, hlm. 4–5.
- 1 2 Svoboda 2022, hlm. 3, 5.
- ↑ Madison 2017, hlm. 1–6.
- ↑ Litvak & Lerner 2009, hlm. 89–90, cognitive bias.
- ↑ Cooper 2018, hlm. 50–51.
- ↑ Svoboda 2022, hlm. 18.
- ↑ Hackforth 1946, hlm. 118–.
- ↑ Menon 2023.
- ↑ Benatar 2015, hlm. 56–58.
- ↑ Cooper 2018, hlm. 7, 48.
- 1 2 3 Harris 2022, hlm. 195.
- ↑ Chambers 1847, hlm. 191.
- 1 2 Shakespeare 2001, hlm. 208.
- 1 2 White 1989, hlm. 134.
- ↑ Gibson 2017, hlm. 98–9, 107–8.
- ↑ Gibson 2017, hlm. 13, 119, 207.
- ↑ Gibson 2017, hlm. 119.
- ↑ Hooghe & Stolle 2003, hlm. 185.
- 1 2 Gibson 2017, hlm. 13, 62, 207.
- 1 2 Tsakalakis 2020, hlm. 142.
- ↑ Gibson 2017, hlm. 61, 207.
- 1 2 3 Smith 1997, hlm. 170–196.
- 1 2 Rosenberg 1956, hlm. 690–695.
- ↑
- Cooper 2018, hlm. 4, 7, 54
- Benatar 2015, hlm. 55
- Querido 2020, hlm. 152–7
- Gibson 2017, hlm. 13
- ↑ Svoboda 2022, hlm. 3, 13.
- 1 2 Benatar 2015, hlm. 55.
- ↑ Benatar 2015, hlm. 37, 41–42.
- ↑ Benatar 2015, hlm. 43.
- ↑ Kidd 2020a, hlm. 505–508.
- ↑ Cooper 2018, hlm. 80.
- ↑ Benatar 2015, hlm. 38–9.
- ↑ Svoboda 2022, hlm. 1, 5.
- ↑ Benatar 2015, hlm. 39–41.
- ↑ Benatar 2015, hlm. 51–52.
- ↑ Gibson 2017, hlm. 64.
- ↑ Svoboda 2022, hlm. 13, 69.
- ↑ Svoboda 2022, hlm. 69–70.
- ↑ McGraw 2014, hlm. 1–2, 1. Introduction.
- ↑ Shklar 1984, 5. Misanthropy (p. 192).
- ↑ Gibson 2017, hlm. 4–5.
- ↑ Gibson 2017, hlm. 4, 60.
- ↑ Harris 2022, hlm. 202–2.
- ↑ Gibson 2017, hlm. 63.
- ↑ Gibson 2017, hlm. 65.
- ↑ Moyal 1989, hlm. 131–148.
- ↑ Mark 2010.
- ↑ Ava 2004, hlm. 80.
- ↑ Stern 1993, hlm. 95.
- ↑ Yeroulanos 2016, hlm. 203.
- ↑ Gibson 2017, hlm. 14–6.
- ↑ Arruzza & Nikulin 2016, hlm. 119.
- ↑ Gibson 2017, hlm. 93, 95, 98.
- ↑ Williams 2023.
- ↑ Byrne 1997, hlm. 112.
- ↑ Gibson 2017, hlm. 110–1.
- ↑ Cooper 2018, hlm. 19.
- ↑ King 1993, hlm. 58–9.
- ↑ Gibson 2017, hlm. 112.
- ↑ Williams 2010, hlm. 147.
- ↑ Gibson 2017, hlm. 111.
- ↑ Svoboda 2022, hlm. 12, 15.
- ↑ Gibson 2017, hlm. 101.
- ↑ Gibson 2017, hlm. 101–3.
- ↑ Svoboda 2022, hlm. 15–6.
- ↑ Troxell 2023.
- ↑ Gibson 2017, hlm. 104–5.
- ↑ Gibson 2017, hlm. 105–6.
- ↑ Cooper 2018, hlm. 2.
- 1 2 Villa 2020, hlm. 127.
- ↑ Wilkerson 2023.
- ↑ Cooper 2018, hlm. 62.
- ↑ Solomon 2004, hlm. 67.
- ↑ Shaw 2021, hlm. xxxii.
- ↑ Grillaert 2008, hlm. 245.
- 1 2 Gibson 2017, hlm. 28–9.
- ↑ Kastenbaum 2003, Seven Deadly Sins.
- ↑ Hale & Thorson 2007, hlm. 46.
- ↑ Sarvis 2019, hlm. 8.
- ↑ Alger 1882, hlm. 109.
- ↑ Goodliff 2017, hlm. 108.
- ↑ Cooper 2018, hlm. 4.
- ↑ Cooper 2018, hlm. 6–7.
- ↑ Morgan 2010, hlm. 91.
- ↑ Cooper 2018, hlm. 56.
- ↑ Catholic University of America 1967, Agape.
- ↑ Aung 1996, hlm. E12.
- ↑ Morgan 2010, hlm. 138.
- ↑ Harris 2022, hlm. 27–30.
- ↑ Gibson 2017, hlm. 1–2.
- ↑ Gibson 2017, hlm. 2–4.
- ↑ Harris 2022, hlm. 58.
- ↑ Hawcroft 2007, hlm. 132.
- ↑ Gibson 2017, hlm. 14.
- ↑ Gibson 2017, hlm. 84–5.
- ↑ Jan & Firdaus 2004, hlm. 115.
- ↑ Moore 2011, hlm. 16.
- ↑ Pirson 2017, hlm. 58.
- ↑ Cornog 1998, hlm. 357.
- ↑ Steegmuller 1982, hlm. xiv.
- ↑ Raban 1992.
- ↑ Lee & Bird 2020, hlm. 164.
- ↑ Donohoo 2023.
- ↑ Bolus 2019, hlm. 24.
- ↑ Smith 2014, hlm. 1–3, Introduction.
- ↑ Jenkins 2020, hlm. 20–41.
- ↑ Fernández 2006, hlm. 646–664.
- ↑ Cooper 2018, hlm. 5–6.
- ↑ Gerber 2002, hlm. 41–55.
- ↑ Metz 2012, hlm. 1–9.
- ↑ Benatar 2015, hlm. 34–35.
- 1 2 Benatar 2015, hlm. 55–56.
- 1 2 Benatar 2015a.
- ↑ May 2018.
- ↑ Benatar 2015, hlm. 39, 44, 48.
- ↑ Stibbe 2015, hlm. 13.
- ↑ Leslie 1998, hlm. 25–26.
- ↑ Gordijn & Cutter 2013, hlm. 123.
- ↑ Svoboda 2022, hlm. 107.
- ↑ Svoboda 2022, hlm. 107–108.
- 1 2 Srinivasan & Kasturirangan 2016, hlm. 126–227.
- ↑ Durst 2022, hlm. 1.
- 1 2 3 Svoboda 2022, hlm. 9.
- ↑ Gibson 2017, hlm. 64–65.
- ↑ Malone, Truong & Gray 2017.
- 1 2 Sale 1988.
- ↑ Ball 2011.
- ↑ Hay 2002, hlm. 66.
- ↑ Taylor 2005.
Sumber
[sunting | sunting sumber]- AHD staff (2022). "The American Heritage Dictionary entry: philanthropy". www.ahdictionary.com. HarperCollins.
- AHD staff (2022a). "The American Heritage Dictionary entry: misanthropy". www.ahdictionary.com. HarperCollins. Diakses tanggal 5 July 2021.
- Alger, W.R. (1882). The Solitudes of Nature and of Man; Or, The Loneliness of Human Life. Roberts. hlm. 109.
- Arruzza, Cinzia; Nikulin, Dmitri (21 November 2016). Philosophy and Political Power in Antiquity (dalam bahasa Inggris). Brill. hlm. 119. ISBN 9789004324626.
- Aung, SK (April 1996). "Loving kindness: the essential Buddhist contribution to primary care". Humane Health Care International. 12 (2): E12. PMID 14986605.
- Ava, Chitwood (2004). Death by philosophy : the biographical tradition in the life and death of the archaic philosophers Empedocles, Heraclitus, and Democritus. University of Michigan Press. hlm. 80. ISBN 0472113887. OCLC 54988783.
- Babbitt, Irving (2015). "Chapter VII: Romantic Irony". Rousseau and Romanticism (dalam bahasa Inggris). Project Gutenberg.
- Ball, Terence (2011). Blanchfield, Deirdre S. (ed.). Environmental Encyclopedia (dalam bahasa Inggris). Gale / Cengage Learning. ISBN 978-1414487366.
- Benatar, David (2015). "The Misanthropic Argument for Anti-natalism". Dalam S. Hannan; S. Brennan; R. Vernon (ed.). Permissible Progeny?: The Morality of Procreation and Parenting. Oxford University Press. hlm. 34–64. doi:10.1093/acprof:oso/9780199378111.003.0002. ISBN 9780199378142.
- Benatar, David (15 July 2015a). "'We Are Creatures That Should Not Exist': The Theory Of Anti-Natalism". The Critique (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 4 July 2021.
- Bolus, Michael Peter (26 August 2019). Aesthetics and the Cinematic Narrative: An Introduction (dalam bahasa Inggris). Anthem Press. hlm. 24. ISBN 9781783089826.
- Bostrom, Nick (2003). "Extinction, Human". Dalam Demeny, Paul George; McNicoll, Geoffrey (ed.). Encyclopedia of Population (dalam bahasa Inggris). Macmillan Reference. ISBN 978-0028656779.
- Byrne, James M. (1 January 1997). Religion and the Enlightenment: From Descartes to Kant (dalam bahasa Inggris). Westminster John Knox Press. hlm. 112. ISBN 9780664257606.
- Catholic University of America (1967). "Agape". New Catholic Encyclopedia (dalam bahasa Inggris). McGraw-Hill. ISBN 9780787639990.
- Chambers, Robert (1847). Essays moral and economic (dalam bahasa Inggris). W. & R. Chambers. hlm. 191.
- Cooper, David E. (2 February 2018). Animals and Misanthropy (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 9781351583770.
- Cornog, Mary W. (1998). Merriam-Webster's Vocabulary Builder (dalam bahasa Inggris). Merriam-Webster. hlm. 357. ISBN 9780877799108.
- Donohoo, Timothy (6 January 2023). "The Joker Has a Morbidly Hilarious Reason For Not Killing Red Hood". CBR (dalam bahasa Inggris).
- Durst, Dennis L. (2022). The Perils of Human Exceptionalism: Elements of a Nineteenth-Century Theological Anthropology. Rowman & Littlefield. hlm. 1. ISBN 9781666900194.
- Edyvane, Derek (2013). "Rejecting Society: Misanthropy, Friendship and Montaigne". Res Publica. 19 (1): 53–65. doi:10.1007/s11158-012-9206-2. S2CID 144666876.
- Fernández, Jordi (2006). "Schopenhauer's Pessimism". Philosophy and Phenomenological Research. 73 (3): 646–664. doi:10.1111/j.1933-1592.2006.tb00552.x.
- Gerber, Lisa (2002). "What is So Bad About Misanthropy?". Environmental Ethics. 24 (1): 41–55. Bibcode:2002EnEth..24...41G. doi:10.5840/enviroethics200224140.
- Gibson, Andrew (15 June 2017). Misanthropy: The Critique of Humanity (dalam bahasa Inggris). Bloomsbury Publishing. ISBN 9781474293181.
- Gilmore, David D. (3 August 2010). Misogyny: The Male Malady (dalam bahasa Inggris). University of Pennsylvania Press. hlm. 12. ISBN 9780812200324.
- Goodliff, P.W. (2017). Shaped for Service: Ministerial Formation and Virtue Ethics. Lutterworth Press. hlm. 108. ISBN 978-0-7188-4736-4.
- Gordijn, Bert; Cutter, Anthony Mark (2013). In Pursuit of Nanoethics (dalam bahasa Inggris). Springer Science & Business Media. hlm. 123. ISBN 978-1402068171.
- Grillaert, Nel (2008). What the God-seekers Found in Nietzsche: The Reception of Neitzche's Übermensch by the Philosophers of the Russian Religious Renaissance (dalam bahasa Inggris). Rodopi. hlm. 245. ISBN 9789042024809.
- Hackforth, R. (1946). "Moral Evil and Ignorance in Plato's Ethics". Classical Quarterly. 40 (3–4): 118–. doi:10.1017/S0009838800023442. S2CID 145412342.
- Hale, Tom; Thorson, Stephen (2007). The Applied Old Testament Commentary (dalam bahasa Inggris). David C Cook. hlm. 46. ISBN 9780781448642.
- Harper, Douglas (2019). "misanthropy". www.etymonline.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 4 August 2023.
- Harris, Joseph (November 2022). Misanthropy in the Age of Reason (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. ISBN 9780192867575.
- Hawcroft, Michael (27 September 2007). Molière: Reasoning With Fools (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. hlm. 132. ISBN 9780191527937.
- Hay, P. R. (2002). Main currents in western environmental thought. Indiana University Press. hlm. 66. ISBN 0253340535.
- Hooghe, M.; Stolle, D. (15 May 2003). Generating Social Capital: Civil Society and Institutions in Comparative Perspective (dalam bahasa Inggris). Springer. hlm. 185. ISBN 9781403979544.
- Hurka, Thomas (2020). "Virtues and vices". Routledge Encyclopedia of Philosophy. Routledge.
- Hurka, Thomas (2001). "Vices as Higher-Level Evils". Utilitas. 13 (2): 195–212. doi:10.1017/s0953820800003137. S2CID 145225191.
- Jan, K. M.; Firdaus, Shabnam (2004). Perspectives on Gulliver's Travels (dalam bahasa Inggris). Atlantic Publishers & Dist. hlm. 115. ISBN 9788126903450.
- Jenkins, Scott (2020). "The Pessimistic Origin of Nietzsche's Thought of Eternal Recurrence". Inquiry: An Interdisciplinary Journal of Philosophy. 63 (1): 20–41. doi:10.1080/0020174x.2019.1669976. S2CID 211969776.
- Kastenbaum, Robert (2003). "Seven Deadly Sins". Encyclopedia of Death and Dying. Macmillan Reference USA. ISBN 9780028656908.
- Kidd, Ian James (28 February 2023). "From Vices to Corruption to Misanthropy". TheoLogica. 7 (2). doi:10.14428/thl.v7i2.66863. S2CID 257266338.
- Kidd, Ian James (2022). "4. Misanthropy and the Hatred of Humanity". Dalam Birondo, Noell (ed.). The Moral Psychology of Hate (dalam bahasa Inggris). Rowman & Littlefield. hlm. 75–99. ISBN 978-1538160862.
- Kidd, Ian James (1 April 2020). "Animals, Misanthropy, and Humanity". Journal of Animal Ethics. 10 (1): 66–72. doi:10.5406/janimalethics.10.1.0066. S2CID 219093758.
- Kidd, Ian James (2020a). "Humankind, Human Nature, and Misanthropy". Metascience. 29 (3): 505–508. doi:10.1007/s11016-020-00562-8. S2CID 225274682.
- Kidd, Ian James (2020b). "Philosophical Misanthropy". philosophynow.org (139).
- King, Florence (15 March 1993). With Charity Toward None: A Fond Look At Misanthropy (dalam bahasa Inggris). St. Martin's Press. ISBN 9780312094140.
- Lee, Judith Yaross; Bird, John (16 November 2020). Seeing MAD: Essays on MAD Magazine's Humor and Legacy (dalam bahasa Inggris). University of Missouri Press. hlm. 164. ISBN 9780826274489.
- Leslie, John (1998). The end of the world: the science and ethics of human extinction. Routledge. hlm. 25–26. ISBN 0203007727.
- Lim, Song Hwee (31 August 2006). Celluloid Comrades: Representations of Male Homosexuality in Contemporary Chinese Cinemas (dalam bahasa Inggris). University of Hawaii Press. hlm. 167. ISBN 9780824830779.
- Litvak, P.; Lerner, J. S. (2009). "cognitive bias". Dalam Sander, David; Scherer, Klaus (ed.). The Oxford companion to emotion and the affective sciences. Oxford University Press. hlm. 89–90. ISBN 978-0198569633.
- MacCormack, Patricia (2020). The Ahuman Manifesto: Activism for the End of the Anthropocene. Bloomsbury Publishing. hlm. 143. ISBN 978-1350081093.
- Madison, B. J. C. (2017). "On the Nature of Intellectual Vice". Social Epistemology Review and Reply Collective. 6 (12): 1–6.
- Mahathera, Nyanatiloka (1964). "II. Kamma and Rebirth". Karma and Rebirth (dalam bahasa Inggris). Buddhist Publication Society.
- Malone, Karen; Truong, Son; Gray, Tonia (2017). Reimagining Sustainability in Precarious Times (dalam bahasa Inggris). Springer. ISBN 978-9811025501.
- Mark, Joshua J. (2010-07-14). "Heraclitus of Ephesus". World History Encyclopedia. Diakses tanggal 2017-12-08.
- May, Todd (December 17, 2018). "Would Human Extinction Be a Tragedy?". The New York Times.
Human beings are destroying large parts of the inhabitable earth and causing unimaginable suffering to many of the animals that inhabit it. This is happening through at least three means. First, human contribution to climate change is devastating ecosystems .... Second, the increasing human population is encroaching on ecosystems that would otherwise be intact. Third, factory farming fosters the creation of millions upon millions of animals for whom it offers nothing but suffering and misery before slaughtering them in often barbaric ways. There is no reason to think that those practices are going to diminish any time soon. Quite the opposite.
- McGraw, Shannon (2014). "1. Introduction". Misanthropy and Criminal Behavior (PDF). hlm. 1–2. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 2021-07-09.
- Menon, Sangeetha (2023). "Vedanta, Advaita". Internet Encyclopedia of Philosophy. Diakses tanggal 3 July 2021.
- Merriam-Webster staff (2023). "Definition of Misanthropy". www.merriam-webster.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 5 July 2021.
- Metz, Thaddeus (2012). "Contemporary Anti-Natalism, Featuring Benatar's Better Never to Have Been". South African Journal of Philosophy. 31 (1): 1–9. doi:10.1080/02580136.2012.10751763. S2CID 143091736.
- Moore, Grace (2011). A Christmas Carol: Insight Text Guides (dalam bahasa Inggris). Insight Publications. hlm. 16. ISBN 9781921411915.
- Morgan, Diane (2010). Essential Buddhism: A Comprehensive Guide to Belief and Practice (dalam bahasa Inggris). ABC-CLIO. ISBN 9780313384523.
- Moyal, Georges J.D. (1989). "On Heraclitus's Misanthropy". Revue de Philosophie Ancienne. 7 (2): 131–148. ISSN 0771-5420. JSTOR 24353851.
- Navia, Luis E. (1996). Classical Cynicism: A Critical Study (dalam bahasa Inggris). Greenwood Publishing Group. ISBN 9780313300158.
- OED staff (2019). "misanthropy". www.etymonline.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 21 July 2021.
- Pirson, Michael (14 September 2017). Humanistic Management: Protecting Dignity and Promoting Well-Being (dalam bahasa Inggris). Cambridge University Press. hlm. 58. ISBN 9781107160729.
- Querido, Pedro (February 2020). "Andrew Gibson, Misanthropy: The Critique of Humanity". Comparative Critical Studies (dalam bahasa Inggris). 17 (1): 152–7. doi:10.3366/ccs.2020.0349. hdl:10451/46707. ISSN 1744-1854. S2CID 216373633.
- Raban, Jonathan (October 17, 1992). "Books: Mr Miseryguts: Philip Larkin's letters show all the grim humor that was a hallmark of his great poems, but, as the years pass, they also chart the true depths of his misanthropy and despair". The Independent. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2022-05-15. Diakses tanggal June 18, 2017.
- Rosenberg, Morris (December 1956). "Misanthropy and Political Ideology". American Sociological Review. 21 (6): 690–695. doi:10.2307/2088419. JSTOR 2088419.
- Sale, Kirkpatrick (14 May 1988). "Deep Ecology And Its Critics" (PDF). The Nation. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2022-10-06.
- Sarvis, W. (2019). Embracing Philanthropic Environmentalism: The Grand Responsibility of Stewardship. McFarland, Incorporated, Publishers. hlm. 8. ISBN 978-1-4766-7736-1.
- Sawaya, Francesca (15 July 2014). The Difficult Art of Giving: Patronage, Philanthropy, and the American Literary Market (dalam bahasa Inggris). University of Pennsylvania Press. hlm. 207. ISBN 9780812290035.
- Shakespeare, William (3 April 2001). Timon of Athens (dalam bahasa Inggris). Cambridge University Press. hlm. 208. ISBN 9781139835114.
- Shaw, George Bernard (2021). Man and Superman, John Bull's Other Island, and Major Barbara (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. hlm. xxxii. ISBN 9780198828853.
- Shklar, Judith N. (1984). "5. Misanthropy". Ordinary Vices. Belknap Press of Harvard University Press. hlm. 192. ISBN 978-0674641754.
- Smith, Cameron (2014). "Introduction". Philosophical Pessimism: A Study In The Philosophy Of Arthur Schopenhauer. hlm. 1–3.
- Smith, Tom W. (June 1997). "Factors Relating to Misanthropy in Contemporary American Society". Social Science Research. 26 (2): 170–196. doi:10.1006/ssre.1997.0592.
- Solomon, Robert C. (26 August 2004). In Defense of Sentimentality (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. hlm. 67. ISBN 9780198033288.
- Srinivasan, Krithika; Kasturirangan, Rajesh (October 2016). "Political ecology, development, and human exceptionalism". Geoforum. 75: 126–227. doi:10.1016/j.geoforum.2016.07.011. hdl:20.500.11820/92518b23-6ace-42ed-852a-1cf93f65a898. S2CID 148390374.
- Steegmuller, Francis, ed. (1982). The Letters of Gustave Flaubert: 1857-1880. Harvard University Press. hlm. xiv. ISBN 0674526406.
- Stern, Paul (1993). Socratic Rationalism and Political Philosophy: An Interpretation of Plato's Phaedo. SUNY Press. hlm. 95. ISBN 9780791415733.
- Stibbe, Arran (2015). Ecolinguistics: Language, Ecology and the Stories We Live By (dalam bahasa Inggris). Routledge. hlm. 13. ISBN 978-1317511908.
- Svoboda, Toby (29 April 2022). A Philosophical Defense of Misanthropy (dalam bahasa Inggris). Taylor & Francis Limited. ISBN 9781032029986.
- Taylor, Bron (2005). Jones, Lindsay (ed.). Encyclopedia of Religion (dalam bahasa Inggris). Macmillan Reference. ISBN 978-0028657349.
- Troxell, Mary (2023). "Schopenhauer, Arthur". Internet Encyclopedia of Philosophy. Diakses tanggal 8 January 2023.
- Tsakalakis, Thomas (15 October 2020). Political Correctness: A Sociocultural Black Hole (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 9781000205084.
- Villa, Dana (1 September 2020). Socratic Citizenship (dalam bahasa Inggris). Princeton University Press. hlm. 127. ISBN 9780691218175.
- White, David A. (1989). Myth and Metaphysics in Plato's Phaedo (dalam bahasa Inggris). Susquehanna University Press. hlm. 134. ISBN 9780945636014.
- Wilford, Paul T.; Stoner, Samuel A. (4 June 2021). Kant and the Possibility of Progress: From Modern Hopes to Postmodern Anxieties (dalam bahasa Inggris). University of Pennsylvania Press. hlm. 42–3. ISBN 9780812297799.
- Wilkerson, Dale (2023). "Nietzsche, Friedrich: 1. Life". Internet Encyclopedia of Philosophy. Diakses tanggal 8 January 2023.
- Williams, David Lay (1 November 2010). Rousseau's Platonic Enlightenment (dalam bahasa Inggris). Penn State Press. hlm. 147. ISBN 9780271045511.
- Williams, Garrath (2023). "Hobbes, Thomas: Moral and Political Philosophy". Internet Encyclopedia of Philosophy. Diakses tanggal 8 January 2023.
- Yeroulanos, Marinos (30 June 2016). A Dictionary of Classical Greek Quotations (dalam bahasa Inggris). Bloomsbury Publishing. hlm. 203. ISBN 9781786730497.
Pranala luar
[sunting | sunting sumber]
Definisi kamus misantropi di Wikikamus
Kutipan tentang Misantropi di Wikikutip