Pemindahan agama paksa umat Muslim di Spanyol

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Penganut Baru Uskup Besar Ximenez Dari Orang Moor, Granada, 1500 dari Edwin Long (1829–1891) yang lukisannya menjadi saksi bisu pembaptisan umat Islam secara gencar.

Pemindahan agama paksa umat Muslim di Spanyol pernah terlihat jelas terjadi dengan cara diberlakukannya serangkaian suruhan resmi dari pemegang kekuasaan yang mencabut umat-umat Islam dari perlindungan hukum di tanah Spanyol. Hal tersebut pernah diupayakan oleh beberapa negeri kerajaan Spanyol di sepanjang awal abad ke-16, di antaranya seperti kerajaan Kastila dan León (1500-1502) lalu dilanjutkan Navarra (1515-1516) dan hal tersebut dilakukan untuk terakhir kalinya oleh Takhta Aragon (1523-1526).[1]

Sesudah pernah dilakukannya penaklukan umat Islam di Spanyol pada tahun 1492, jumlah penduduk beragama Islam berkisar antara 500.000 hingga 600.000 orang saja. Pada masa tersebut, umat-umat Islam pernah dijuluki dengan sebutan Mudejar karena pernah bertempat tinggal dalam aturan agama Kristen dan umat-umat Islam pernah diperbolehkan mengamalkan ajaran agama mereka di sana. Pada tahun 1499, seorang pejabat berpengalaman dalam Gereja Katolik Roma dari kerajaan Granada bernama Francisco Jiménez de Cisneros atau dikenal sebagai Ximenez de Cisneros memutuskan memulai pemaksaan untuk rela beragama Kristen yang diupayakan dengan melakukan penyiksaan dan ancaman hukuman penjara bagi yang beragama Islam dan hal seperti itulah yang memicu kejadian pemberontakan yang dilakukan umat Islam di kerajaan Granada. Tak lama sejak meredamnya pemberontakan itu, usaha kerajaan Granada dalam mengurangi jumlah penduduk beragama Islam semakin melonjak dua kali lipat. Agar hak takhta Kastila dalam bertindak atas nama agama mereka semakin terpampang nyata saat tahun 1502, maka suruhan resmi dari pemegang kekuasaan pun segera dilaksanakan yaitu untuk melarang keberadaan umat-umat Islam agar diusir dari daerah kerajaan Granada. Setelah peristiwa penaklukan Navarra oleh Spanyol pada tahun 1515, masih banyak umat Islam yang setiap kalinya dipaksa menganut agama Kristen berdasarkan keputusan suruhan resmi dari pemegang kekuasaan takhta Kastila. Terakhir kalinya, pemaksaan berpindah agama dari Islam ini pernah ditetapkan oleh takhta Aragon. Sebelumnya, raja takhta Aragon pernah memastikan jaminan kebebasan beragama Islam bagi rakyatnya yang beragama Islam melalui sumpah. Pada awal tahun 1520-an, terjadilah tindakan memusuhi agama Islam yang dikenal dalam bahasa Spanyol sebagai Rebelión de las Germanías (Bahasa Indonesia: Pemberontakan Persaudaraan, bahasa Inggris: Revolt of the Brotherhoods) lalu para penganut agama Islam yang berada di dalam daerah lingkungan pemberontakan mendapatkan paksaan untuk berpindah agama dari Islam. Pada saat pasukan kerajaan Aragon yang menerima uluran bantuan dari umat-umat Islam telah berhasil memerdiarkan pemberontakan tersebut, diperintahkan oleh Raja Carlos I dari Aragon (atau Karl V, Kaisar Romawi Suci) bahwa sudah disahkan untuk melakukan pemaksaan memurtadkan umat-umat Islam. Hal tersebut telah digarisbawahi berdasarkan kekuasaan hukum milik Inkuisisi Spanyol. Akhirnya, raja Carlos telah mengajukan surat permohonan kepada Paus Klemens Ketujuh agar mau melepaskan takhta kerajaan dan sumpah untuk melindungi kebebasan beragama Islam lalu apa yang diinginkan Raja Carlos pun terkabul dengan menerima kewenangannya dalam melakukan pengurangan jumlah penduduk umat Islam yang masih tersisa. Pada akhir tahun 1525, ia pun mengumumkan kepada khalayak mengenai perintah resmi yaitu agama Islam tidak bisa lagi berada di seluruh daerah Spanyol.

Pada saat-saat pentingnya menganut agama Kristen sebagaimana yang diharuskan setiap maklumat atau keterangan yang berasal dari anggota keluarga kerajaan dan penegakannya diwajibkan oleh Inkuisisi Spanyol, banyak orang yang mengajukan alasan-alasan yang dapat menandai banyaknya penduduk yang dipaksa beragama Kristen (dikenal sebagai "Morisco") diam-diam masih berpegang teguh kepada agama Islam. Diketahui dari kehidupan masyarakat umum sehari-hari, memang terlihat tidak ada satupun penduduk yang menjalankan syariat Islam (atau hukum-hukum Islam) agar terhindar dari penganiayaan setelah dilakukannya pemeriksaan resmi secara teliti. Keadaan tersebut menjadikan munculnya keputusan untuk memberikan Fatwa Oran sebagai jalan lain agar tidak pernah meninggalkan syariat Islam dan tetap mengamalkannya dan juga peran Fatwa Oran yakni memberikan pengarahan secara rinci bagi umat-umat Islam dalam melaksanakan syariat Islam. Fatwa inilah yang menjadi landasan yang menggagas berdirinya Kripto-Islam (apabila diterjemahkan secara rinci ke bahasa Indonesia yakni penerapan keawanamaan umat Islam) yang pernah diamalkan orang-orang Morisco sampai tatkala mereka pernah diusir pada 1609-1614. Menanggapi hal seperti itu, banyak umat Islam yang khususnya mendiami daerah pesisir Spanyol memutuskan mengungsi ke luar Spanyol.

Acuan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Harvey 2005, hlm. 14.