Pembunuhan massal oleh rezim komunis

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Pembunuhan massal oleh rezim komunis adalah berbagai peristiwa pembunuhan besar-besaran yang dilakukan oleh rezim komunis di berbagai negara komunis sejak 1917 hingga 1987. Peristiwa pembunuhan massal ini pernah dialami oleh negara Rusia pada periode 1917—1923, Uni Soviet pada 1925—1953, Republik Rakyat Tiongkok pada periode 1947—1976, dan Kamboja pada periode 1975—1979.[1]

Peristiwa[sunting | sunting sumber]

Pembunuhan massal oleh rezim Lenin[sunting | sunting sumber]

Vladimir Lenin dan kaum Bolshevik berhasil menduduki kekuasaan di Rusia pada tahun 1917 dan menjadikan Rusia sebagai negara yang dipimpin oeh rezim komunis. Setelah kaum Bolshevik merebut kekuasaan Rusia, Lenin selaku pemimpinnya memerintahkan untuk membentuk polisi rahasia Tsheka yang bertujuan untuk menumpas semua lawan politik dari rezim Lenin. Kemudian pada tahun 1919, Lenin melakukan pembubaran dan penumpasan dewan-dewan buruh. Pemberontakan yang terjadi pada tahun 1921 membuat Lenin memerintahkan Leo D. Trostky untuk menumpas habis para tokoh penting Rusia yang menentang rezim komunis.[2]

Pembunuhan massal oleh rezim Stalin[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 1934, Rezim Stalin berkuasa di Uni Soviet dan berusaha menghilangkan pengaruh Bolshevik atau pemerintahan Lenin yang merupakan pesaing politiknya. Aksi pembunuhan dilakukan oleh rezim Stalin terhadap para tokoh penting Bolshevik seperti Sergei Kirov, Lev Kamenev, Grigorii Zinoviev, Nikolai Bukharin dan Aleksei Rykov. Selanjutnya, rezim ini melakukan penangkapan, pemenjaraan, dan pembunuhan terhadap para pendukung Bolshevik dan para anggota Tentara Merah. Para warga yang hanya dimasukkan ke penjara tetap dipaksa untuk melakukan kerja rodi hingga meninggal.[3]

Pembunuhan massal oleh rezim Mao Zedong[sunting | sunting sumber]

Pada periode tahun 1949—1976, Republik Rakyat Tiongkok dipimpin oleh rezim Partai Komunis Tiongkok yang diketuai oleh Mao Zedong. Pada mulanya, rezim ini menghilangkan nilai-nilai tradisional Tiongkok, seperti Lao-Tzu, Taoisme, dan Konfusianisme. Pembunuhan massal dilakukan dalam tiga tahap, yaitu pembersihan, rencana, dan penuduhan. Pembersihan dilakukan dengan cara menghancurkan tempat-tempat ibadah dan para tokohnya. Kekerasan dimulai dan kemudian menyebar ke kota-kota besar. Para pemilik tanah yang menentang rezim Mao dibunuh. Selain itu, rezim Mao juga membunuh para kriminal. Pada tahun 1957, rezim Mao melakukan tipuan berupa Kampanye Seratus Bunga selama dua bulan. Warga diberikan kebebasan berpendapat dan menyampaikan gagasan pemikiran mereka. Kebebasan ini membuat para pelajar ikut serta dalam kampanye itu. Namun, para pelajar yang berbicara dengan pemikiran yang menentang pemerintahan Mao Zedong kemudian ditangkap, dipenjara dan dibunuh. Kekejaman rezim Mao berlanjut dan mencapai akhirnya pada tahun 1976 ketika Mao Zedong meninggal.[4]

Pembunuhan massal oleh rezim Khmer Merah[sunting | sunting sumber]

Kamboja wkwk dipimpin oleh rezim komunis yang berpaham maoisme pada periode 1975-1979 yang disebut rezim Khmer Merah. Rezim ini dibentuk oleh Partai Komunis Kampuchea dan didukung oleh pasukan Khmer Merah. Rezim Khmer Merah mengawali pembunuhan massal dengan melakukan rekayasa sosial yang sangat besar. Warga negara Kamboja dilarang menerima semua pengaruh asing dan semua warga kota Phnom Penh dipindahkan ke pedesaan serta aktivitas perkotaan dihentikan secara menyeluruh. Rezim Khmer Merah memindahkan penduduk kota Phnom Penh ke wilayah pedesaan dan mengubah pekerjaan mereka menjadi petani. Perjalanan panjang dari kota ke pedesaan telah membunuh anak-anak, orang tua, dan orang sakit. Sedangkan penduduk yang selamat, tetap tersiksa karena kerja paksa dalam waktu yang lama. Sebagian meninggal karena kehabisan tenaga, kelaparan, atau terkena penyakit malaria. Para pekerja yang berusaha kabur atau melanggar aturan akan dihukum mati. Rezim Khmer Merah menangkap, menyiksa, dan membunuh warga yang melawan pemerintahan rezim Khmer Merah. Warga yang dianggap musuh oleh rezim Khmer Merah yaitu warga yang sebelumnya memilih untuk mendukung Republik Khmer. para kaum profesional dan intelektual, etnis Vietnam, etnis asing dan agama minoritas wkwk, para pekerja paksa, dan pengkhianat Partai Komunis Kampuchea.[5]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ antaranews.com (2016-05-27). "Taufiq Ismail: komunis bantai 120 juta orang di 75 negara". Antara News. Diakses tanggal 2020-06-19. 
  2. ^ Nugroho, R. Y. Y. (2014). "Pemikiran Ekonomi dari Lenin, Revisionis, dan Kiri Baru, serta Relevansinya di Indonesia saat ini". Media Trend. 9 (1): 1—27. 
  3. ^ "The Great Purge, Operasi Pembantaian 1,2 Juta Warga Uni Soviet Pengikut Lenin yang Dilakukan Oleh Rezim Stalin - Semua Halaman - Sosok". sosok.grid.id. Diakses tanggal 2020-06-20. 
  4. ^ "Horor Pemerintahan Komunis China Era Mao Zedong". SINDOnews.com. Diakses tanggal 2020-06-20. 
  5. ^ "Rezim Khmer Merah: Rekayasa Sosial Terbrutal dalam Sejarah Kamboja". tirto.id. Diakses tanggal 2020-06-19.