Pembicaraan:Chiefdom

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Perlukah istilah chiefdom (selain di artikel ini) diterjemahkan? Terkadang saya lihat ada yang memakai "negara kecil" atau "kerajaan kecil", tapi ini tentu saja tidak tepat dan bisa disalahpahami sebagai "entitas politik dengan wilayah kecil". Apakah ada literatur berbahasa Indonesia yang pernah memadankan istilah ini?  Masjawad99  (bicara) 12 April 2019 23.39 (UTC)

@Masjawad99 kalau dilihat di buku2 antropologi, biasanya istilah chiefdom masih dipertahankan karena memang sangat susah dicari padanan yang persis maknanya. Coba saya minta pendapat @Japra Jayapati. Tapi menurut saya kalau tidak ada padanannya ya tidak usah dipaksakan, biarkan saja chiefdom daripada memaksakan padanan tapi salah.  Mimihitam  13 April 2019 13.54 (UTC)
Chiefdom (bahasa Belanda: hoofdmanschap, negeri, nagari, kepenghuluan) adalah kelompok masyarakat mandiri yang dipimpin oleh seorang chief (bahasa Belanda: hoofdman, penghulu, pemuka, pemimpin, ketua), lebih besar daripada suku (masyarakat seketurunan) tetapi lebih kecil atau lebih sederhana daripada negara. Kira-kira setara dengan nagari di Minangkabau (terdiri atas beberapa suku), kepenghuluan di Melayu Riau, dan negeri di Maluku. Setuju dengan  Mimihitam , jika tidak/belum ada padanannya dalam istilah antropologi Indonesia, maka sebaiknya istilah asli dipertahankan, boleh juga didampingi penjelasan atau kata Indonesia yang maknanya mendekati, sekadar untuk memberi gambaran kepada pembaca Indonesia.تابيق ~ Japra (obrol) 13 April 2019 15.41 (UTC)

Terima kasih atas tanggapannya mas Japra :) semoga bisa membantu untuk Masjawad99  Mimihitam  13 April 2019 16.01 (UTC)

@Mimihitam @Japra Jayapati Terima kasih banyak tanggapan dan sarannya, sangat membantu.  Masjawad99  (bicara) 13 April 2019 22.37 (UTC)

Chiefdom ialah Kedatuan?[sunting sumber]

Saya mendapati pikiran ini setelah membaca kitab terjemahan Collapse karangan Jared Diamond dan membuka situs indonesia.go.id ini. Semogalah buah pikiran beta ini, dapatlah ditinjau oleh teman² semua. @Mimihitam: @Masjawad99: @Japra Jayapati: @HaEr48:. --AMA Ptk (bicara) 19 Agustus 2019 07.04 (UTC)

@AMA Ptk aku juga pernah nemu itu waktu lagi nyari padanan di Google Books. Aku sudah pernah jelaskan kayaknya di pengusulan AP sejarah awal Gowa Tallo, tidak tepat karena sepertinya kedatuan sudah sampai tahap kingdom dan bukan sekadar chiefdom lg.  Mimihitam  19 Agustus 2019 07.06 (UTC)
@Mimihitam: gimana ya, hmm, pun sistemnya seperti "pertuanan" juga (di mana kekuasaan itu di sisi² "tuan²" yang beraja dan mengatur wilayahnya), dan sy cek KBBI toh rupanya kena-mengena juga. --AMA Ptk (bicara) 19 Agustus 2019 07.10 (UTC)

Lihat: kedatuan.  Mimihitam  19 Agustus 2019 07.28 (UTC)

@AMA Ptk: Masalahnya kata "kedatuan" juga bisa dipakai untuk kerajaan besar seperti Luwu atau bahkan Sriwijaya. Di Sulawesi Selatan, misalnya, istilah datu sering dipakai untuk raja yang membawahi beberapa wanua. Wanua dalam masyarakat Bugis itu setara chiefdom, jadi kedatuan berada di atasnya. Definisi chiefdom juga tergantung konteksnya. Dalam sosioantropologi, chiefdom itu artinya spesifik untuk tahap perkembangan masyarakat yang sudah memiliki pemimpin, dan umumnya dibentuk berdasarkan hubungan kekerabatan. Sementara dalam arkeologi, maknanya lebih umum, yaitu masyarakat yang hidup tersebar dengan pusat pemerintahan yang permanen. Kalau dari Glosarium Pusba, kedatuan itu hanya berpadanan dengan chiefdom dalam konteks arkeologi, jadi ya kurang pas kalau untuk digunakan untuk chiefdom dalam konteks lain. Chiefdom yang dimaksud dalam penggunaan umum biasanya adalah chiefdom versi sosioantropologi, bukan arkeologi (teori chiefdom-arkeologi tidak sepopuler teori chiefdom-antropologi). Masjawad99💬 20 Agustus 2019 00.16 (UTC)