Muara Lawa, Kutai Barat

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search
Muara Lawa
Kecamatan
Kantor camat Muara Lawa
Kantor kecamatan Muara Lawa
Negara  Indonesia
Provinsi Kalimantan Timur
Kabupaten Kutai Barat
Luas ... km²
Jumlah penduduk ... jiwa (2015)
Kepadatan ... jiwa/km²
Desa/kelurahan 8/-

Muara Lawa adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Kutai Barat, Provinsi Kalimantan Timur, Indonesia. Kecamatan ini merupakan hasil pemekaran (sekitar tahun 1964) dari Kecamatan Muara Pahu pada saat masih sebagai bagian Kabupaten Kutai. Kecamatan Muara Lawa kemudian dimekarkan lagi, yang melahirkan kecamatan baru yaitu Kecamatan Bentian Besar (2001), yang terletak paling hulu Sungai Lawa. Dahulu nama kecamatan ini adalah Kecamatan Lawa, karena sebagian besar (sebelum pemekaran) kampung-kampung berada di tepian Sungai Lawa, tetapi kemudian tanpa alasa yang jelas berubah menjadi Kecamatan Muara Lawa.

Ibukota kecamatan Muara Lawa terletak di Kampung Lambing, yang letaknya hanya berseberangan sungai dengan Kampung Muara Lawa, di mana Sungai Lawa bermuara. Kampung Lambing dan Kampung Muara Lawa terletak di tepi Sungai Kedang Pahu anak Sungai Mahakam, sedangkan Sungai Lawa bermuara di Sungai Kedang Pahu, persis terletak di kedua kampung tersebut.

Mengingat kondisi topografis, maka Kantor Pemerintah Kecamatan Muara Lawa akan dipindahkan ke Kampung Dingin (sedang dalam pembangunan - Nopember 2007. Terletak di jalur Jalan Trans/Poros Kalimantan sekitar persimpangan jalan arah Dingin - Lotaq dan Benangin/Lampeong, Barito Utara, Kalimantan Tengah. Pada lokasi sekarang dijamin bebas banjir karena berada di perbukitan. Lokasi sekarang juga dipandang lebih strategis, baik bagi perkembangan kedepan (hubungan dengan Kalteng) maupun memperpendek birokasi karena terletak hampir di tengah-tengah wilayah kecamatan.

Namun proses dan prosedur pemindahan kantor kecamatan menimbulkan polemik bahkan penolakan masyarakat terutama bagi masyarakat Kampung Lambing dan Kampung Benggeris, selain menghilang jejak historis, juga dianggap tidak bijaksana, karena lokasi yang cukup strategis dan daerah bebas banjir tidak mengharuskan pindah "kampung" karena di Kampung Lambing sendiri banyak lokasi yang juga bebas banjir dan terletak di jalur poros jalan Trans Kalimantan.

Sebagai catatan bahwa Camat periode sekarang berasal dari Kampung Dingin. Menurut masyarakat yang kontra dengan pemindahan ini, bahwa pemindahan kantor tersebut tidak pernah disosialisasikan apalagi dimusyawarahkan, terutama dengan masyarakat Kampung Lambing dan Benggeris. Sesungguhnya mengingat telah lancarnya sistem transportasi dalam/antar wilayah Kecamatan Muara Lawa, maka relokasi kantor kecamatan mestinya tidak perlu pindah "kampung".

Catatan historis adalah bahwa kedudukan Kepala Adat Besar Tolan (almarhum Ngilikng alias Kakah Gahek dengan gelar Janulen (diberikan oleh Kerajaan Kutai) yang diakui dan ditetapkan oleh Kerajaan Kutai berada di Tolan (asal Kampung Lambing) yang meliputi seluruh wilayah Kecamatan Muara Lawa saat ini, tidak terkecuali Kampung Dingin sekarang. Sehingga pemindahan Kantor Kecamatan ke Kampung Dingin dapat dianggap merupakan pelecehan sejarah.

Tokoh Kecamatan Muara Lawa[sunting | sunting sumber]

Tokoh Masyarakat Adat - Budayawan Orang Benuaq :

  • Balootn (juga gelar Djanulen I) adalah pendiri Tolan yang pertama, sebelumnya dia mendirikan lamin di Siwo sekarang wilayah kampung Muara Lawa (sekarang jadi lapangan bola Kampung Muara Lawa), kemudian pindah ke Tolan dan meninggal di Tolan. Jabatan dan Lamin Tolan diwarisi oleh anak angkat dia yang bernama Ngilikng (Kakah Gahek - bergelar Djanulen II). (ditambahkan oleh "Setia Budi")
  • Kakah Gahek - Pada era Soeharto, masa sebelum Pemilihan Umum tahun 1971, pernah diundang ke Jakarta dan mendapat cindera mata berupa gong, sebagai Kepala Adat Besar Wilayah Tolan (Kecamatan) Muara Lawa.
  • Awang Ijau - sekarang Kepala Adat Kecamatan Muara Lawa

Tokoh perintis pendidikan :

  • Basnius Belugok
  • Nyurung Satrip - keponakan dari Kakah Gahek (Ngilikng gelar Djanulen II).
  • Agus Wowoseko
  • Boyniansyah

Wakil Rakyat pada era Kabupaten Kutai (Kecamatan Muara Lawa dan Bentian Besar) :

  • Samuel Robert Djukuw - sekarang Kadistamben Kutai Kartanegara
  • Agus Wowoseko
  • Selman Betari - mantan Camat Bentian Besar

Pada Pemilu Legislatif 2004 lalu, Kecamatan Muara Lawa menempatkan 3 wakil rakyat di DPRD Kutai Barat, masing-masing :

  • Drs. Amon Nereng (mantan Ketua BK DPRD Kutai Barat),
  • Syang Hai, SE (Sekretaris Komisi A) dan
  • Drs. Y. Don Bosco Bulor (Sekretaris Fraksi PN PDS).

Pembagian administratif[sunting | sunting sumber]

Sebelum pemekaran kecamatan ini terdiri dari 16 kampung. Pada tahun 2006 Kecamatan Muara Lawa terdiri atas 8 kampung, yaitu Kampung Lambing, Muara Lawa, Dingin, Benggeris terletak di Sungai Kedang Pahu, sedangkan Kampung Cempedas, Payang, Lotak dan Muara Begai terletak di tepian Sungai Lawa.

Jumlah penduduk mencapai 6.500 jiwa, di mana lebih dari separuhnya bermukim di sekitar ibukota kecamatan. Semua wilayah kampung dapat dicapai dengan jalan darat dan air/sungai, baik jalan negara (Trans Kalimantan) maupun jalan kabupaten dengan jarak tempuh terjauh yaitu Kampung Muara Begai selama +/- 1 Jam dari ibukota kecamatan sedangkan bila dilalui lewat sungai/air mencapai 3-4 jam.

Topografi[sunting | sunting sumber]

Wilayah Kecamatan Muara Lawa setengahnya merupakan dataran rendah, setengahnya wilayahnya bergelombang dan berbukit dengan kemiringan sedang dengan ketinggian 0 – 600 m dpl. Dengan curah hujan yang cukup tinggi, mengakibat wilayah ini secara rutin mengalami banjir tiap tahun. Karena secara geografis, kecamatan ini dilintasi 2 sungai yang memiliki DAS yang cukup luas, yaitu DAS Sungai Lawa dan DAS Sungai Nyuwatan

Potensi daerah[sunting | sunting sumber]

Kecamatan Muara Lawa mempunyai potensi tambang, kehutanan, pertanian dan perkebunan serta pariwisata. Tambang batubara terbesar di Kutai Barat terletak di kecamatan ini yaitu PT TCM Banpu, belum termasuk perusahaan tambang lainnya yang akan beroperasi.

Potensi pariwisata terutama budaya dan alam. Pariwisata budayanya adalah kehidupan sehari-hari Dayak Benuaq, terutama kehidupan laminnya seperti adat kematian (Parepm Api hingga Kwangkey), ritual penyembuhan secara tradisionil (Belian: Belian Bawo, Sentiyu, Kenyokng, Bejamu dll), kesenian (Ukir-ukiran, Tarian dan Seni Suara).

Terdapat lamin yang masih asli (paling asli), dibanding dengan lamin lain yang ada di Kutai Barat, namanya Lamin Tolan terletak di Kampung Lambing (+/- KM 300 dari arah Samarinda - 40 KM dari Sendawar). Di bagian bawah lamin terdapat Danau Tolan. Di kawasan lamin ini terdapat kompleks pekuburan khas Dayak Benuaq, di mana terdapat Templaaq, Lungun, Selokng dan lain-lain.

Penduduk[sunting | sunting sumber]

Penduduk yang mendiami kecamatan ini didominasi oleh etnis Dayak Benuaq, sisanya adalah Campuran Tonyoy/Tunjung Benuaq, Campuran Benuaq Bentian dan Etnis Kutai, serta kelompok pendatang etnis Banjar, Jawa dan Bugis. Sebagian besar penduduk (95 %) menganut agama Kristen baik Protestan maupun Katolik, sisanya (3 %) penganut Adat Lama yaitu Kaharingan (Hindu) sebagian kecil beragama Islam.

Fasilitas daerah[sunting | sunting sumber]

Fasilitas kesehatan terdiri dari 1 puskesmas (1 dokter umum; 1 dokter gigi), 2 pusban, 10 posyandu. Fasilitas pendidikan terdiri dari 3 sekolah SLTA (2 negeri - SMA Negeri 9 Sendawar dan SMK Negeri 3 Sendawar, 1 swasta - SMA Purnama 3 Lambing), 1 sekolah SLTP negeri - SMP Negeri 8 Sendawar, 12 sekolah dasar (10 negeri; 2 swasta Islam), 2 sekolah TK/playgroup (1 negeri, 1 swasta Kristen). Fasilitas olahraga seperti lapangan sepak bola dan volleyball dimiliki hampir setiap kampung.

Pada pertengahan tahun 2005, Rakyat Kecamatan Muara Lawa dapat berkomunikasi dengan komunikasi telepon seluler, 2 tower dari 2 operator jaringan telepon seluler masing-masing Telkomsel dan Indosat telah ditempatkan di kecamatan ini yaitu di sekitar Jembatan Kedang Pahu di Kampung Muara Lawa. Sebelumnya komunikasi telepon digunakan telepon satelit lewat beberapa wartel yang ada, selebihnya komunikasi dapat juga menggunakan pesawat HT (Handytalky) yang pernah trendy pada tahun sebelumnya.

Fasilitas umum lainnya adalah pasar kecamatan yang terletak di antara kampung Muara Lawa dan kampung Cempedas, di mana terdapat pula terminal kecamatan. Pasar ini menjual semua kebutuhan masyarakat Kecamatan Muara Lawa, mulai dari barang kebutuhan pokok hingga barang elektronik. Pasar lebih ramai pada hari Rabu karena merupakan hari pasar untuk pasar kecamatan ini, hari-hari lain tetap dibuka walaupun tidak seramai hari pasarnya.

Transportasi[sunting | sunting sumber]

Untuk mencapai kecamatan ini dapat ditempuh dengan jalur darat, sungai dan udara.

  • Jalur sungai: dari Samarinda (Pelabuhan Sungai Kunjang - Naik kapal jurusan Sungai Kedang Pahu ; Trayek Samarinda-Damai/Muara Lawa.
  • Jalur darat: dari Samarinda (Terminal Sungai Kunjang - Naik Bus trayek Samarinda-Melak atau naik taksi (plat hitam-taksi kijang) Samarinda-Melak).
  • Jalur udara dapat dicapai baik dari Samarinda (Bandara Temindung) atau Kota Balikpapan (Bandar Udara Sultan Aji Muhammad Sulaiman) dengan maskapai penerbangan Bintang Sendawar menuju kota Sendawar (ibukota Kabupaten Kutai Barat), penerbangan menuju Sendawar, selanjutnya dari Bandar Udara Melalan menuju Kecamatan Muara Lawa memakan waktu +/- 45 menit. Beberapa armada taxi bersedia mengantar penumpang dari Bandar Udara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Kota Balikpapan langsung ke Kutai Barat (ke Muara Lawa).

Pariwisata[sunting | sunting sumber]

Pariwisata Kecamatan Muara Lawa adalah wisata alam dan Budaya. Wisata tersebut antara lain:

  1. Kehidupan masyarakat Adat Dayak Benuaq di Lamin Tolan di Kampung Lambing
  2. Situs Pekuburan Dayak Benuaq di Lamin Tolan di Kampung Lambing
  3. Danau Tolan di Kampung Lambing
  4. Seni Kerajinan Anyam-anyaman rotan di Kampung Lambing
  5. Situs Pekuburan Dayak Benuaq di Kampung Dingin
  6. Memancing hampir di setiap kampung