Masjid Nurul Iman Koto Gadang

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Masjid Nurul Iman Koto Gadang sebelum gempa bumi 2007 (kiri) dan setelah pembangunan kembali (kanan)

Masjid Nurul Iman Koto Gadang atau Masjid Tapi Koto Gadang terletak di Nagari Koto Gadang, Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam, Sumatra Barat. Masjid ini merupakan masjid terbesar di Koto Gadang.

Sejak didirikan pertama kali pada tahun 1856, masjid ini telah mengalami perubahan bentuk dan beberapa kali perbaikan. Masjid paling awal, dikenal sebagai Masjid Jamik Tua, bergaya khas Minangkabau dengan atap-atap lancip berbentuk kerucut. Namun, bangunan masjid rusak berat akibat gempa bumi Padang Panjang pada tahun 1926.

Beberapa bulan setelah gempa, masjid yang baru segera dibangun atas prakarsa Yahya Datuk Kayo—seorang anggota Volksraad yang mewakili Minangkabau—dan diresmikan pemakaiannya pada 5 Februari 1932. Diarsiteki oleh Yazid Rajo Mangkuto, bentuk bangunan masjid berubah total dari sebelumnya. Namun, bangunan masjid kembali hancur akibat gempa pada Maret 2007. Setelah direnovasi, masjid ini sudah kembali berdiri dengan bentuk yang hampir sama seperti sebelum gempa 2007.

Letak[sunting | sunting sumber]

Masjid Jamik Tua pada tahun 1870 (atas) dan 1910 (bawah)

Koto Gadang adalah nagari yang terletak di sebelah barat Kota Bukittinggi. Jaraknya hanya beberapa kilometer saja dari kota, tetapi dipisahkan oleh lembah Ngarai Sianok yang curam. Nagari ini cukup tenang dan lengang. Banyak orang telah pindah ke kota-kota besar. Hanya pada hari libur dan perayaan seperti lebaran, orang-orang akan pulang kampung. Setelah lebaran, Koto Gadang akan kembali lengang, sebagaimana banyak nagari lainnya di Minangkabau yang ditinggal pergi oleh masyarakatnya merantau ke berbagai belahan dunia.[1][2]

Luas Koto Gadang hanya sekitar 600 hektare. Namun, karena letaknya yang berbatasan dengan lembah, akses untuk masuk dan keluar ke nagari ini hanya dapat dilewati melalui satu jalan. Di ujung paling depan jalan inilah berdiri sebuah masjid yang kini dikenal sebagai Masjid Nurul Iman Koto Gadang.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Masjid Jamik Tua dibangun pada tahun 1856.[3][4] Terbuat dari kayu, bangunannya bergaya arsitektur Minangkabau berdenah persegi berukuran 20 × 20 meter.[2] Pada bagian atap, terdapat menara yang tidak begitu tinggi.[5] Atapnya tidak memiliki kubah, tetapi terdiri dari beberapa gonjong yang terbuat dari ijuk. Satu gonjong di tengah, diapit delapan gonjong yang lebih kecil di sekelilingnya.[6]

Pada 28 Juni 1926, gempa bumi berkekuatan 7,6 SR yang berpusat di Padangpanjang menyebabkan kerusakan pada dinding-dinding masjid.[7] Sebagian dindingnya roboh dan bagian yang lain meskipun masih berdiri tetapi sudah rengkah-rengkah.[a][2] Karena dikhawatirkan mendatangkan bahaya, bangunan masjid akhirnya dibongkar.[8] Dalam sebuah rapat yang dihadiri sejumlah tokoh masyarakat setempat pada 18 Juli 1926, disepakatilah untuk segera mendirikan masjid yang baru dengan membentuk komite yang diketuai oleh Yahya Datuk Kayo.[8]

Pembangunan kembali[sunting | sunting sumber]

"Gempa pertama pukul sepuluh, mesjid batu jadi luluh, isi negeri banyak mengeluh, laksana malam kepadaman suluh... Masjid batu bagai ditimpa, pecah dan hancur merusakkan limpa... Guncang kedua pukulnya satu, tiga jam antaranya..., masjid hancur kayu dan batu, demikian halnya mesjid itu..."[4]

— Syair Mohammad Syarif Sutan Maruhum, 1929.[4]

Setelah mufakat tercapai, Yazid Rajo Mangkuto—yang sebelumnya telah merancang Jam Gadang pada tahun 1926—segera membuat gambar rancangan masjid yang baru.[9] Selama hampir lima tahun, panitia pembangunan masjid yang diketuai oleh oleh A.M. Sutan Maharaja dapat menghimpun uang sebesar 848,50 gulden.[4] Namun, kekurangan uang yang cukup banyak dicarikan dengan meminjam uang 2.000 gulden.[2] Masjid yang baru dapat dibangun dalam tempo yang relatif singkat, dan akhirnya diresmikan pemakaiannya pada Jumat, 5 Februari 1932.[4]

Setelah berdiri sekian lama, gempa bumi pada bulan Maret 2007 kembali membuat bangunan masjid rusak. Dengan bantuan para perantau Minang dan masyarakat setempat, dalam beberapa bulan masjid ini bisa dibangun kembali.[1]

Rujukan[sunting | sunting sumber]

Keterangan
  1. ^ Teks asli: "... sebahagian dindingnja soedah roeboeh, dan bahagian jang lain meskipoen masih berdiri djoega tetapi soedah rengkah2 ..."
Catatan kaki
Daftar pustaka