Legiun Mangkunegaran

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search
Legiun Mangkunegaran prajurit resmi Kadipaten Mangkunegaran.

Legiun Mangkunegaran adalah korps angkatan bersenjata Kadipaten Mangkunegaran yang dibentuk dan dibangun pada zaman Sri Mangkunegara II bertahta. Dibangun dengan pendanaan yang diperoleh dari Kerajaan Belanda dan muncul sebagai korps militer yang menampung bekas Pasukan Pasukan perang Pangeran Sambernyawa.

Asal usul[sunting | sunting sumber]

Kebangkrutan VOC sebagai kongsi dagang Belanda berakhir dengan dibubarkannya kongsi tersebut pada tanggal 1 Januari 1800 oleh Pemerintahan Kerajaan Belanda.Tanggung jawab VOC di Nusantara ini juga lantas diambil alih oleh kerajaan.

Pada waktu pembubaran terjadi, di Jawa kerajaan yang terbagi sudah menjalani suksesi untuk yang pertama kalinya sejak Perjanjian Giyanti (1755) dan Perjanjian Salatiga (1757).Kasunanan diperintah oleh Pakubuwana IV, Kasultanan diperintah oleh Hamengkubuwana II dan Mangkunegaran di perintah oleh Mangkunegara II.

Ketiga penguasa di Jawa itu dalam menghadapi perubahan zaman mengambil sikap yang berbeda. Semacam menganut suatu ideologi yang mendorong untuk bekerja demi kepentingan negara dan kerajaannya.

Mangkunegara II mengambil inisiatif yang cepat dengan datangnya Daendels ke Jawa. Legiun yang berkekuatan 1150 personil dibentuk tahun 1808 sebagai wadah untuk menampung dan membangun kembali kekuatan militer peninggalan pendahulunya. Legiun ini terdiri dari pasukan infantri, kavaleri atau pasukan berkuda dan artileri. Sri Mangkunegara II adalah Kolonel pertama dalam pasukan Legiun Mangkunegaran dengan kata lain dalam sejarah Legiun ini Adipati kedua di Mangkunegaran adalah pemegang jabatan komandan yang pertama kali.

Sri Mangkunegara II meski memiliki alasan kuat untuk membenci Belanda tetapi demi pembangunan militer yang kuat untuk sementara waktu mendahulukan kepentingan kerajaan dengan jalan mengundang perwira-perwira militer Belanda yang profesional untuk melatih dan menggembleng Korps Mangkunegaran ini.

Kekuatan militer Mangkunegaran yang dinamakan sebagai Legiun Mangkunegaran memiliki fungsi, (1) sebagai alat legitimasi Mangkunegara yang bertahta (raja), (2) sebagai alat untuk mengamankan dan tujuan diplomasi dari Praja Mangkunegaran.

Struktur Militer[sunting | sunting sumber]

Pada awalnya memiliki 2 perwira senior dengan pangkat mayor, 4 perwira letnan ajudan, 9 perwira kapitein, 8 perwira letnan tua, 8 perwira letnan muda, 32 sersan bintara, 62 tamtama kopral, 900 flankier, 200 dragonder (dragoon), dan 50 steffel (total 185 perwira dan 1150 prajurit). Seragam yang dipergunakan adalah; topi syako dan jas hitam pendek untuk bintara dan prajurit. Topi syako untuk perwira, kemudian jas hitam, dan celana putih (KOMPAS, 4 Oktober 2010).

Dari riwayat perjalanan legiun, Pasukan militer dari Mangkunegaran semula berjumlah sebelas pasukan;

  1. Ladrang Mangungkung Estri: 60 pasukan berkuda, bersenjata karbin wedung.
  2. Jayeng sastra: 44 berkuda, bersenjata keris.
  3. Bijingan: 44 berkuda, keris.
  4. Kapilih: 44 berkuda, keris.
  5. Taramrudita: 44 berkuda, pedang.
  6. Margarudita: 44 berkuda, pedang.
  7. Tanuastra Nampil: 44 berkuda, keris.
  8. Mijen: 44 berkuda, panah, keris.
  9. Nyutrayu: 44 berkuda, panah, keris.
  10. Gulanggula: 44 darat, panah, keris.
  11. Sarageni: 44 darat, panah, keris.

Setelah perjanjian Salatiga 17 Maret 1757, pasukan yang berjumlah sebelas ini kemudian ditambah lagi tiga puluh enam pasukan yang terdiri dari;

  1. Trunakroda: 44 darat, keris, pedang.
  2. Trunayudaka: 44 darat, keris, pedang.
  3. Minakan: 44 darat, keris, pedang.
  4. Tambakbana: 44 darat, keris, pedang.
  5. Tambakbrata: 44 darat, keris, pedang.
  6. Dasawani: 44 darat, keris, cengking.
  7. Dasarambat: 44 darat, keris, cengking.
  8. Prangtandang: 44 darat, panah, lawung, kris.
  9. Tirtasana: 44 darat, panah, lawung.
  10. Gunasemita: 44 darat, panah, slam, keris.
  11. Gunatalikrama: 44 darat, panah, slam, keris.
  12. Ciptamiguna: 44 darat, panah, keris.
  13. Sabdamiguna: 44 darat, panah, keris.
  14. Dasamuka: 44 darat, panah.
  15. Dasarat: 44 darat, panah.
  16. Maranggi: 44 darat, tombak separo, senapan separo.
  17. Nirbita: 44 darat, tombak separo, senapan separo.
  18. Trunaduta: 44 darat, tombak, gambuh.
  19. Trunasura: 44 darat, tombak, gambuh.
  20. Handakalawung: 44 darat, senapan.
  21. Handakawatang: 44 darat, senapan.
  22. Kauman: 44 darat, bandil.
  23. Danuwiratana: 44 darat, bandil.
  24. Danuwirapaksa: 44 darat, bandil.
  25. Madyautama: 44 darat, panah, keris, carabali.
  26. Madyaprabata: 44 darat.
  27. Madyapratala: 44 darat.
  28. Madyaprajangga: 44 darat
  29. Katawinangun: 44 darat, panah, pentung.
  30. Purwawinangun: 44 darat, panah, pentung.
  31. Singakurda: 88 darat, lawung, sulam.
  32. Brajawani: 44 darat, lawung.
  33. Maradada: 44 darat, lawung.
  34. Prawirarana: 44 darat, lawung.
  35. Prawirasakti: 44 darat, lawung.
  36. Sanaputra: 88 berkuda, karbin, keris,

Pembangunan Kekuatan[sunting | sunting sumber]

Legiun Mangkunegaran merupakan suatu kesatuan militer terbaik/termodern di Nusantara pada zamannya, artinya dalam kurun waktu yang sezaman kekuatan militer kerajaan kerajaan Nusantara ini tidak ada yang mampu menandingi kemoderenannya dalam satuan militer. Pembangunan kekuatan militer kerajaan secara periodik mencapai pasang surut sesuai dengan zamannya;

  1. Tahun 1808 Legiun Mangkunegaran memiliki; 1.150 prajurit yang terdiri dari 800 prajurit infanteri (Fusilier), 100 prajurit penyerbu (Jagers), 200 prajurit kavaleri (berkuda), dan 50 prajurit rijdende artileri (KOMPAS, 4 Oktober 2010)
  2. Tahun 1816 jumlah personilnya ada 739 serdadu kemudian sebanyak 800 orang.
  3. Tahun 1825-1830 jumlah personil militernya ada 1500 serdadu
  4. Tahun 1831 Jumlahnya berkurang menjadi 1000 serdadu.
  5. Tahun 1888 Pasukan Artileri berkekuatan 50 tentara ditiadakan dengan alasan krisis keuangan.

Untuk membentuk dan membangun militer yang modern dan tangguh pada zamannya dijalankan bentuk-bentuk pencapaian sebagai berikut:

  1. Reorganisasi kemiliteran
  2. Disusun buku panduan Sekolah Prajurit 1855
  3. Mendatangkan pelatif profesional ketentaraan dari Eropa; 1 kapten infanteri, 4 bintara infanteri, 1 letnan dan 1 bintara kavaleri.
  4. Tahun 1935 Legiun Mangkunegaran dibagi dalam staf yang memiliki; ajudan atau intendan, dokter militer, dan korps musik, dan batalyon dibagi dengan 6 kompi serta unit mitraliur

Tugas keluar Wilayah Kerajaan[sunting | sunting sumber]

Pertempuran Tarakan, Aceh, pendudukan Yogyakarta dan Perang Jawa adalah bagian dari ekspedisi Legiun di luar wilayah Mangkunegaran.

Misi di Yogyakarta[sunting | sunting sumber]

Pemberangkatan pasukan Mangkunegaran tiba di Yogyakarta pada tahun 1812 dan langsung dipimpin oleh sang komandan Pangeran Adipati Prangwadana. Misi di Yogyakarta selain mencegah konflik yang berlarut di kalangan keluarga sultan Yogyakarta juga untuk menghadiri wisuda Pangeran Natakusuma sebagai Adipati Paku Alam I.

Pasukan Mangkunegaran di Yogyakarta dihadang oleh oleh pasukan Yogyakarta yang dipimpin oleh Raden Sindureja.

Misi dan tugas di Aceh[sunting | sunting sumber]

Dalam misi penyerbuan ke Aceh Legiun Mangkunegaran dengan Paku Alam berangkat dari pelabuhan Semarang. KPH. Gandasisworo dari Mangkunegaran dan KPH. Pakukuning dari Paku Alaman keduanya adalah sebagai komandan misi dari masing-masing kerajaan.

Pertempuran Tuntang[sunting | sunting sumber]

Pertempuran di Tuntang tempat Gubernur Janssens menyerah kepada Britania adalah pertempuran mempertahankan pulau Jawa dari serbuan Britania tetapi gagal. Dalam Babad Paku Alaman dikatakan bahwa Pangeran Prangwadana keplajar atau melarikan diri dari arena pertempuran tetapi Babad Paku Alaman tidak pernah mengemukakan satuan pasukan dari Kasultanan dan Kasunanan yang memiliki kewajiban membantu pasukan Janssens menghadapi Inggris. Satu-satunya bantuan yang dinantikan oleh Janssens ternyata hanya datang dari Mangkunegaran.

Legiun Mangkunegara sempat dibubarkan oleh pemerintahan Letnan Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles (1811-1815) ketika Perancis menderita kekalahan dari peperangan dengan Inggris tetapi karena desakan kebutuhan, Legiun Mangkunegara segera dimobilisasi kembali.

Perang Dunia II[sunting | sunting sumber]

Legiun Mangkunegaran terlibat dalam Perang Dunia II ketika Jepang menyerbu Jawa.

Kemudian pada tahun 1942 adalah tahun pembubaran Legiun Mangkunegaran yang dilakukan oleh pemerintahan pendudukan Jepang.Pemerintahan pendudukan Jepang melarang masyarakat untuk berorganisasi secara politik dalam bentuk apa saja. Jepang berusaha melucuti kekuatan militer Mangkunegaran sehingga pasukan militer yang terlatih dengan kurikulum Eropa ini beralih fungsi sebagai abdi dalem penjaga istana Mangkunegaran belaka. Nama Legiun Mangkunegaran kemudian diubah menjadi ""Worontono"" (Wawancara dengan K.R.T.Soenarso Pontjosoetjitro pada tanggal 25 September 2006)

Setelah kemerdekaan Republik Indonesia, Worontono itu kemudian berubah menjadi Laskar Puro dengan nama Rumeksopuro dengan tugas khusus menjaga segala keamanan di wilayah Pura Mangkunegaran.

Mangkunegaran Tanpa Legiun[sunting | sunting sumber]

Mangkunegaran yang tanpa pasukan lagi kemudian diakui oleh Jepang sebagai Mangkunegaran Koochi dengan Adipati yang sedang bertahta sebagai Mangkunegara Koo. Sampai pada jaman kemerdekaan dan paska kemerdekaan Republik Indonesia, Mangkunegaran yang semula merupakan kekuatan militer andalan, para anggotanya kemudian bergabung ke dalam laskar laskar yang kemudian membentuk institusi cikal bakalnya Tentara Nasional Indonesia.

Legiun Mangkunegara Muda[sunting | sunting sumber]

Pada dekade awal tahun 2000, Mangkunegaran mengalami kebangkitan kembali semangat yang dipenuhi oleh Roh dan spiritual juang Pangeran Sambernyawa. Para generasi muda itu yang berasal dari berbagai trah terpanggil untuk menyamakan persepsi dan bentuk perjuangan baru untuk muncul sebagai agen kebudayaan. Para agen-agen kebudayaan ini selanjutnya menyepakati pembentukan korps dalam kemasan baru yang bergerak dalam rahan pemikiran dan kajian-kajian kebudayaan. LMM yang merupakan singkatan dari Legiun Muda Mangkunegaran adalah pilihan yang dibangkitkan kembali dalam semangat juangnya.

Sebagai suatu organisasi yang menghimpun para kerabat dan simpatisan dari Mangkunegaran, organisasi ini dibentuk untuk menumbuhkan kembali semangat dan nilai nilai patriotik Pangeran Sambernyawa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Legiun mangkunegara Muda berkantor pusat di Jakarta dan berinduk pada Istana Mangkunegaran. Legiun dalah kosakata yang lekat dengan bahasa Perancis karena memang dari sana inspirasi pertama dilahirkan oleh para pendahulu yang tergabung dalam Legiun Mangkunegaran dengan formasi jajaran kemiliteran. Dalam Legiun Mangkunegara Muda semangat korps diacu untuk memberi dasar bahwa yang tergabung dalam korps organisasi adalah para agen kebudayaan yang berinduk pada Istana Mangkunegaran sebagai tempat pusat anutan budaya.

1. Embrio Pembentukan Legiun Mangkunegara Muda

Dalam berita acara yang dibuat pada hari Minggu tanggal 27 Juni tahun 2010 pukul 15.00 WIB sampai pukul 17.00 WIB, dengan tempat penyelenggaraan rapat di Jalan Tebet Barat Dalam Raya No.15 Jakarta Selatan, rapat pembentukan Lembaga kekerabatan Muda Mangkunegara disepakati dengan di hadiri oleh;

1. R.Bg. Ardianto Wardono (Trah MN I) 2. RM.Andre Adriano Suryokusumo (Trah MN IV dan MN V) 3. R.Kurniawan Siliwangi (Trah MN I) 4. R.Adi Sono Puspahadi (Trah MN I) 5. Rd.Ngt. Annie Soedasmo (Trah MN I) 6. R.Puguh Raditio ( Trah MN II) 7. R.Sachri Setyawan (Trah MN I) 8. R.H.Djoko Pranyoto Nugroho (Trah MN I dan MN II) 9. RM.Abrianto Geodewa (Trah MN III) 10.R.Ngt.Erma Handaruni (Trah MN III) 11.R.Siswanto Ekotomo (Trah MN I) 12.R.Wishnu Sudarmadji (Trah MN I dan Trah HB II) 13.R.R.Berar Fathia (Trah MN III) 14.Rd.Ay.Viona Esfadiary (Trah MN IV dan MN V) 15.Ndaru Kusumo (Trah MN VI)

Seluruh peserta rapat secara aklamasi memilih 'R. Ardianto Wardono' sebagai ketua organisasi Lembaga Kekerabatan Muda Mangkunegara yang disingkat LKMM, setelah sebelumnya terjadi dua kubu antara yang mendukung 'RM.Andre Adriano Suryokusumo' (Trah MN IV dan MN V) dengan yang mendukung 'R.Bg. Ardianto Wardono' (Trah MN I)

2. Rapat Pembentukan

Rapat pembentukan kelanjutan dari rapat tanggal 27 Juni 2010 di Tebet Jakarta dilakukan dengan didahului ziarah pada leluhur dalam peristirahatannya di Astana Imogiri; Sultan Agung, Sunan Amangkurat Jawi, Pangeran Adipati Mangkunegara Kartasura,Istana Mangkunegaran , Astana Mangadeg ; Mangkunegara I , Mangkunegara II , Mangkunegara III, Astana Girilayu; Mangkunegara V , Mangkunegara VII , Mangkunegara VIII , Astana Bibis Luhur. Dalam Ziarah ini nama LKMM sudah berganti menjadi LMM (Legiun Muda Mangkunagaran).

Dari ziarah pada leluhur dan istana Mangkunegaran dapat dikatakan bahwa aktivitas ini merupakan napak tilas pada nilai nilai yang telah dipahatkan. Dalam rangkaian ziarah ini tinggal Mangkunegara VI yang akan diziarahi di Astana Utara Nayu.

3. Pemilihan Nama

Nama Lembaga Kekerabatan Muda Mangkunegaran (LKMM) yang kemudian beralih menjadi Legiun Mangkunegara Muda (LMM), setelah melalui pertemuan berkala di Jakarta 12 Desember 2010, selanjutnya dalam pertemuan 21-22 Januari 2011 di Bandung dibubarkan dan sebagai gantinya dibentuk organisasi baru dengan nama Garda Mangkunegaran. Dalam pertemuan sekaligus penanda-tanganan Piagam Bandung ini dihasilkan Ketua Umum Garda Mangkunegaran dijabat oleh R.M. Andre Adriano Suryokusumo dari Trah Mangkunegara IV-V sedang Sekretaris Jenderal dijabat oleh R. Kurniawan Siliwangi dari Trah Mangkunegara I. Adapun Dewan Penasehat di duduki oleh (1) R. Sachri Setyawan (Trah Mangkunegara I) dan R.H. Djoko Pranyoto Sri Nugroho (Trah Mangkunegara I dan II).

4. Mekar Dalam Proses

Belum genap setahun Garda Mangkunegaran muncul. untuk pemekaran dan lincah gerak organisasi maka pada 19 Maret 2011 sayap baru dibentuk dengan nama Patrap Sambernyawa yang merupakan singkatan dari Paguyupan Trah Pangeran Sambernyawa.Sekarang Legiun Mangkunegara Muda yang merupakan kreatifitas para keturunan Pangeran Sambernyawa memiliki dua sayap organisasi yang mewadahi para keturunan Mangkunegaran. Karena berasal dari gen yang sama maka segala kemiripan menjadi tidak terelakan, termasuk lambang organisasi.Perbedaan yang tampak hanya terletak jumlah personil.Garda Mangkunegaran masih dalam hitungan ratusan sedang Patrap Sambernyawa sudah dalam hitungan ribuan. Sayap Patrap Sambernyawa dipelopori oleh Ir. R.H. Djoko Pranyoto Sri Nugroho (Trah Mangkunegara I dan Mangkunegara II), dokter R.M. Budi Rahardjo (Trah Mangkunegara I dan Trah Paku Alam V) dan Ray. Tito Djajasuparman (Trah Mangkunegara I).

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. KOMPAS : Jakarta 4 Juni 2010
  2. Ricklefs,Calvin,Merle, Sejarah Indonesia modern 1200-2004,JAKARTA: Serambi Ilmu Semesta, 2007.
  3. Simbolon, Tahi, Parakitri,Menjadi Indonesia,JAKARTA: GRASINDO-KOMPAS, 1995.
  4. Sarwanto Wiryosaputro,1978,Legiun Mangkunegaran,Surakarta:ReksoPustoko