Lea, Tellu Siattinge, Bone

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Lea
Desa
Negara Indonesia
ProvinsiSulawesi Selatan
KabupatenBone
KecamatanTellu Siattinge
Luas12,36 km²
Jumlah penduduk2.065 (2003)
Kepadatan167 jiwa/km² (2003)

Lea merupakan salah satu nama dari sekian banyak desa yang ada di Kecamatan Tellu Siattinge Kabupaten Bone. Desa Lea terdiri atas empat wilayah adiministratif yang dibagi kedalam empat dusun. Keempat dusun tersebut adalah dusun Maccau, Wanuae, Alausawa, dan Cekko. Dari keempat dusun tersebut hampir seluruh penduduknya menggantungkan hidup dari pertanian. Luas wilayah pertanian yang terdiri atas sawah tadah hujan dan hampir sepanjang tahun digenangi air. Selain hasil pertanian berupa padi, dikarenakan air persawahan yang cukup melimpah maka umumnya warga desa lea menggabungkan sawah mereka sebagai lahan menanam padi dan sekaligus lahan untuk menabur benih ikan. Umumnya mereka menjadikan lahan sawah sebagai tempat pembesaran ikan Mas yang merupakan daerah yang sangat disukai oleh ikan jenis tersebut.

Hal yang paling mencolok dari desa ini adalah wilayah pemukimannya yang berada disepanjang aliran sungai Cenrana. Sungai cenrana yang berhulu di danau tempe dan bermuara di Teluk Bone. Sepanjang aliran air dari danau tempe yang berada di kabupaten Wajo, air tersebut membawa aliran pasir yang merupakan hasil dari pengerukan aliran sungai. Sehingga hal tersebut dimanfaatkan oleh para pengusaha lokal untuk mengeruk keuntungan dengan mendirikan usaha tambang pasir. Hal ini karena harga pasir sebagai bahan utama untuk membuat bangunan yang tergolong tinggi. Sehingga bertebaranlah para penambang pasir yang umumnya didirikan oleh kalangan orang berduit di desa tersebut. Hal inilah yang sering memicu konflik di antara warga. Karena dari sekian banyaknya warga yang mendirikan usaha pertambangan, membuat tanah yang di atasnya didirikan rumah panggung oleh warga sering longsor. Sehingga para penambang pasir tersebut seringkali terjadi konflik. Selain itu yang merugikan adalah beberapa warga terpaksa harus rela memindahkan rumahnya untuk menghindari bahaya longsor yang sewaktu-waktu bisa terjadi.

Beberapa warga sudah sering melaporkan hal ini kepada dinas terkait. Namun sayang laporan warga tidak pernah direspon oleh pihak berwajib. Padahal tambang pasir tersebut sudah jelas-jelas merupakan tambang yang ilegal dan merusak. Hal ini memicu pro dan kontra di antara warga, apalagi sudah ada beberapa orang yang tak bertanggung jawab yang juga mencoba untuk turut mengambil keuntungan dengan memperkeruh suasana di desa tersebut.