Kerajaan Lan Xang

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Lan Xang)
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Kerajaan Lan Xang
ລ້ານຊ້າງ
1354–1707
Negara-negara di Asia Tenggara kontinental, 1400 Masehi.
Dari kanan ke kiri, berlawanan arah jarum jam

     Đại Việt      Lan Xang      Lan Na
     Ava      Hanthawaddy      Sukhothai
     Ayutthaya      Khmer      Champa

Ibu kota Luang Prabang,

Vientiane (1560–1707)

Bahasa Lao
Agama Buddha
Bentuk pemerintahan Kerajaan
Raja
 -  1354–1385 Fa Ngum
 -  1373–1416 Samsenethai
 -  1548–1571 Setthathirath
 -  1637–1694 Sourigna Vongsa
Era sejarah Abad Pertengahan dan Renaisans
 -  Didirikan oleh Fa Ngum 1354
 -  Pembagian daerah 1707
Pengganti
Kerajaan Luang Prabang
Kerajaan Vientiane
Kerajaan Champasak
Sekarang bagian dari  Laos
 Thailand
 Cambodia
 China
 Myanmar
 Vietnam
Daftar Raja-Raja Lan Xang

(1353–1707)

Fa Ngum (1353–1373)
Samsenthai (1373–1416)
Lan Kham Deng (1416–1428)
Phommathat (1428-1429)
Yukhon (1429-1430)
Khon Kham (1430-1432)
Kham Tam Sa (1432)
Lusai (1432-1433)
Khai Bua Ban (1433–1436)
Kham Keut (1436–1438)
Nang Keo Phimpha (1438)
Interregnum (1438–1442)
Chakkaphat Phaen Phaeo (1442–1480)
Souvanna Banlang (1480–1486)
La Sen Thai (1486–1496)
Somphou (1496–1501)
Visoun (1500–1520)
Photisarath (1520–1548)
Setthathirath (1548–1571)
Sen Soulintha (1571–1575)
Masa penjajahan Burma

(1574–1597)

Voravongsa I (1575–1579)
Sen Soulintha (1580–1582)
Nakhon Noi (1582–1583)
Interregnum (1583–1591)
Keo Koumane (1591–1596)
Masa kemerdekaan kedua
Voravongsa II (1596–1622)
Upayuvarath (1622–1623)
Photisarath II (1623–1627)
Mon Keo (1627-1633)
Vichai (1633–1638)
Sourigna Vongsa (1638–1695)
Nantharat (1696-1698)
Setthathirath II (1700–1707)

Kerajaan Lan Xang Hom Khao (bahasa Laos: ລ້ານຊ້າງຮົ່ມຂາວ; /laːn˥˧ saːŋ˥˧ hom˧ khaːw˥/; "Satu Juta Gajah dan Chatra Putih")[note 1] merupakan sebuah kerajaan yang berdiri dari tahun 1354 hingga tahun 1707.

Kerajaan Lan Xang selama tiga setengah abad merupakan salah satu kerajaan terbesar di Asia Tenggara. Arti dari nama Kerajaan Lan Xang sendiiri menunjukkan kekuatan dari raja dan tentara kerajaan pada masa-masa awal berdirinya.[1] Lan Xang merupakan negara pendahulu dari negara Laos serta menjadi basis bagi identitas historis dan kebudayaan nasional Laos.[2][3]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Asal muasal[sunting | sunting sumber]

Daerah Kerajaan Lan Xang dihuni oleh masyarakat suku berbahasa Austroasia yang melahirkan kebudayaan Zaman Perunggu di Ban Chiang (kini Isan, Thailand) dan budaya Đông Sơn, serta masyarakat Zaman Besi di wilayah Dataran Tinggi Xiangkhoang di Dataran Jars, Funan, dan Chenla (kini Vat Phou, Provinsi Champasak). [4] [5][6]

Hikayat tentang perluasan daerah selatan Dinasti Han menjadi sumber primer pertama yang menceritakan masyarakat berbahasa Tai–Kadai atau Ai Lao yang menghuni daerah Yunnan dan Guangxi, China kini. Orang Tai bermigrasi ke selatan pada beberapa gelombang mulai dari abda ke-7 dengan jatuhnya Nanzhao ke tangan Dinasti Han yang mempercepat proses Invasi Mongol di Yunnan (1253–1256) di daerah yang kelak menjadi bagian utara Kerajaan Lan Xang.[7][8]

Bagian utara Lembah Sungai Mekong yang subur dihuni oleh masyarakat budaya Dvaravati yang merupakan rumpun Orang Mon. Kekaisaran Khmer kemudian menduduki wilayah tempat berdirinya Kota Muang Sua (Xieng Dong Xieng Thong, "Kota Pohon Api di Sungai Dong", kini of Luang Prabang).[7][8]

Kekuasaan Kerajaan Sukhothai membawa Muang Sua (Luang Prabang) dan Vieng Chan Vieng Kham (Vientiane) berada di bawah pengaruh Tai.[9] Setelah kematian Raja Ram Khamhaeng dan disertai dengan konflik internal di dalam Kerajaan Lan Na, Vieng Chan Vieng Kham (Vientiane) dan Muang Sua (Luang Prabang) menjadi mandala Lao-Tai merdeka hingga berdrinya Lan Xang pada tahun 1354.[10]

Legenda Khun Borom[sunting | sunting sumber]

Ingatan kultural tentang migrasi awal serta pencampuran pengaru Tai dengan masyarkat pribumi, Mon, dan Khmer terabadikan di dalam mitologi kejadian dan tradisi Lan Xang. Akar kebudayaan, bahsa, dan politik yang menyoroti kesamaan di antara legenda-legenda terdahulu digunakan dalam pengkajian mengenai Lan Xang dan hubungannya dengan kerajaan sekitarnya. Nithan Khun Borum atau "Kisah Khun Borom" menjadi bagian pokok dari kisah kejadian dan merupakan pengantar dalam hikayat Phongsavadan yang dibacakan dengan suara lantang saat acara penting dan perayaan.[11] Sepanjang sejarah Lan Xang, legitimasi terletak pada satu wangsa yaitu Khun Lo, dengan legenda Raja Muang Sua, putra dari Khun Borom.[12][13][14]

Raja Fa Ngum[sunting | sunting sumber]

Sejarah tradisional Lan Xang bermula pada Tahun Nāga 1319 (naga Mekong sebagai ruh pelindung kerajaan) dengan lahirnya Fa Ngum.[15] Kakek dari Fa Ngum yaitu Souvanna Khampong adalah raja dari Muang Sua sementara ayahnya yaitu Chao Fa Ngiao adalah putra mahkota. Fa Ngum kecil tinggal di Kekaisaran Khmer dan hidup sebagai putra dari Raja Jayavarman IX serta dinikahkan dengan Putri Keo Kang Ya. Pada tahun 1343, Raja Souvanna Khampong mangkat dan perebutan takhta Muang Sua terjadi.[16]

Fa Ngum memperolehh pasukan yang disebut "Pasukan Sepuluh Ribu" pada tahun 1349 untuk merebut tahta. Kala itu, kejayaan Kekaisaran Khmer sedang menurun (kemungkinan akibat dari wabah pes Maut Hitam ditambah dengan datangnya orang Tai).[16] Kerajaan Lanna dan Sukhothai saat itu juga telah berdiri di daerah bekas keukasaan Khmer sementara kekuasaan Siam meluas ke wilayah Sungai Chao Phraya serta kelak akan menjadi Kerajaan Ayutthaya.[17] Peluang yang dimiliki Khmer adalah untuk membuat negara penyangga di wilaya yang tidak lagi dikuasainya, dan dapat dijaga dengan tentara yang lebih sedikit.

Penyerbuan Fa Ngum bermula di Laos bagian selatan dengan menguasai kota-kota di wilayah sekitar Champasak untuk kemudian bergerak ke utara melewati Thakek dan Kham Muang sepanjang Sungai Mekong. Dari sana Fa Ngum mencari pertolongan dari Vientiane untuk menyerang Muang Sua, tetapi Vientiane menolak. Akan tetapi, Pangeran Nho dari Muang Phuan (Muang Phoueune) menawarkan bantuannya dan menjadi negara bawahan dari Fa Ngum, yang membantunya dalam menyelesaikan persengketaan di Muang Phuan dan mengamankannya dari Đại Việt. Fa Ngum setuju dan dengan sigap mengerahkan pasukannya untuk menguasai Muang Phuan serta Xam Neua dan beberapa kota di Đại Việt.[18][19]

Đại Việt, khawatir dengan musuhnya di selatan yaitu Champa, mencoba merundingkan batas daerah mereka dengan Fa Ngum. Pegunungan Annam disetujui sebagai batas kultural dan politik dari kedua negara. Fa Ngum kemudian melanjutkan peperangannya menuju Sip Song Chau Tai, di sepanjang Sungai Merah dan Sungai Hitam, yang banyak dihuni oleh masyarakat Lao. Setelah menguasai kekuatan Lao di wilayah-wilayahnya, Fa Ngum bergerak ke Nam Ou untuk menguasai Muang Sua. Setelah tiga kali serangan, Raja Muang Sua yang merupakan paman dari Fa Ngum, tidak mampu untuk menahan serangan berikutnya dari pasukan Fa Ngum dan lebih rela membunuh dirinya daripada dijadikan tahanan.[18][19]

Fa Ngum naik takhta pada tahun 1353/1354,[20]:225 dan menamai kerajaannya Lan Xang Hom Khao atau "Negeri Sejuta Gajah dan Chatra Putih". Fa Ngum melanjutkan usahanya menguasai wilayah di sekitar Sungai Mekong dengan bergerak menuju Sipsong Panna (kini Xishuangbanna Dai) serta ke selatan menuju perbatasan Lanna. Raja Phayu dari Lanna menggalang kekuatan yang mampu ditaklukkan oleh Fa Ngum di Chiang Saen, membuat Lanna memberikan sebagian daerahnya serta beberapa upeti. Setelah berhasil mengamankan daerah kerajaannya, Fa Ngum kembali ke Muang Sua. [18][19]

Uthong, pada tahun 1351, yang merupakan suami dari seorang putri Raja Suphanburi dari Khmer, mendirikan kota Ayutthaya. Sisa-sisa dari Kekaisaran Khmer kini menimbulkan konflik dengan Ayutthaya yang semakin kuat hingga menjadi musuh satu sama lain. Selama dekade 1350-an, Ayutthaya memperluas kekuasaanya di daerah Khmer bagian barat dan Dataran Tinggi Khorat. Pada tahun 1352, Ayutthaya mencoba menyerang Angkor namun tidak berhasil. [21]

Vientiane masih menjadi kota yang kuat dan merdeka sementara pertumbuhan kekuatan Ayutthaya mengancam stabilitas negara-negara sekitarnya. Pada tahun 1356, Fa Ngum bergerak ke selatan untuk menguasai Vientiane sebagai repatriasi kegagalan Vientiane dalam membantu Fa Ngum menguasai Muang Sua. Pada tahun 1357, Fa Ngum menguasai Vientiane dan wilayah di sekitarnya dan bergerak lebih jauh ke selatan untuk menegaskan kendali Lao di daerah yang dikuasai Ayutthaya. Fa Ngum bergerak melintasi Dataran Tinggi Khorat dan mengambil alih kota-kota besar di sepanjang Sungai Mun dan Chi hingga ke daerah Roi Et.[22]

Ayutthaya, yang telah mengakui kekuasaan Lan Xang di Khorat, ditantang oleh Fa Ngum di Roi Et. Uthong mengirimkan 100 gajah, emas, perak, lebih dari 1.000 helai gading gajah dan menjadikan putri keduanya yaitu Nang Keo Lot Fa sebagai istri kedua Fa Ngum.[22] Pada tahun 1357, Fa Ngum telah mendirikan mandala untuk Kerajaan Lan Xang yang kini terbentang dari Sipsong Panna di perbatasan dengan China, hingga ke selatan di Sambor di Lembah Mekong dan di Pulau Khong, serta dari Pegunungan Annam di timur hingga Dataran Tinggi Khorat di barat. Lan Xang telah menjadi salah satu kerajaan terbesar di sejarah Asia Tenggara.

Raja Samsenthai dan Ratu Maha Devi[sunting | sunting sumber]

Patung Fa Ngum, pendiri Kerajaan Lan Xang.

Fa Ngum kembali memimpin Lan Xang di peperangan era 1360-an melawan Sukhothai. Lan Xang mampu untuk mempertahankan daerahnya namun cukup untuk memberi pihak kerajaan dan warga yang telah lelah akan perang alasan untuk menurunkan Fa Ngum dari takhta dan mengangkat putranya yaitu Oun Huean. Fa Ngum diasingkan ke Muang Nan, tempat ia wafat antara tahun 1373 dan 1390.[23]

Pada tahun 1371, Oun Huean mulai berkuasa sebagai Raja Samsenthai (Raja 300.000 orang Tai), sebuah nama yang dipilih khusus bagi seorang pangeran Lao-Khmer, yang menandakan pemihakannya kepada kubu Lao-Tai di kerajaan. Samenthai mengkokohkan daerah-daerah yang telah dikuasai oleh ayahandanya serta melawan Lanna di Chiang Saen pada 1390-an. Pada tahun 1402, ia menerima pengakuan resmi terhadap Lan Xang dari Dinasti Ming di China.[23]

Pada tahun 1416 di usianya yang keenam puluh, Samsenthai meninggal dan anaknya Lan Kham Daeng menjadi raja. Hikayat Viet menuliskan bahwa selama masa pemerintahan Lan Kham Daeng tahun 1421, Pemberontakan Lam Sơn yang dipimpin oleh Lê Lợi melawan Dinasti Ming terjadi. Kubu pemberontak meminta bantuan terhadap Lan Xang. Sebanyak 30.000 pasukan dan 100 kavaleri gajah digerakkan namun untuk berpihak terhadap Kaisar Ming.[24][25]

Kematian Lan Kham Daeng menyebabkan masa ketidakstabilan dan pembunuhan raja-raja. Mulai tahun 1428 hingga 1440, Lan Xang memiliki tujuh raja yang semuanya berenti berkuasa karena tewas dibunuh atau karena intrik dengan seorang ratu yang namanya hanya diketahui sebagai Maha Devi atau sebagai Nang Keo Phimpha ("Si Kejam"). Hal yang dapat terjadi adalah bahwa dari tahun 1440 hingga 1442, Maha Devi memerintah Lan Xang sebagai pemimpin perempuan pertama dan satu-satunya, sebelum ditenggelamkan di Sungai Mekong pada tahun 1442 sebagai persembahan kepada naga. Pada tahun 1440, Vientiane memberontak namun dapat ditekan oleh kekuatan dari ibu kota di Muang Sua di tengah instabilitas negara. Masa interregnum berjalan dari tahun 1453 hingga 1456 dengan dinobatkannya Raja Chakkaphat (1456–1479).[26]

Perang Gajah Putih[sunting | sunting sumber]

Di tengah-tengah kekacauan Maha Devi tahun 1448, Muang Phuan bersama beberapa wilayah di sekitar Sungai Hitam dikuasai oleh Đại Việt, dengan beberapa pertempuran melawan Lanna terjadi di sepanjang Sungai Nan.[27] Pada tahun 1471, Raja Lê Thánh Tông dari Đại Việt menyerang dan mengancurkan Kerajaan Champa. Pada tahun yang sama pula Muang Phuan memberontak terhadap Đại Việt. Pada tahun 1478, persiapan dilakukan sebagai rencana dalam penyerbuan Lan Xang sebagai repatriasi pemberontakan di Muang Phuan serta alasan yang lebih penting yaitu sebagai balasan dukungan terhadap Dinasti Ming tahun 1421.[28]

Kurang lebih pada waktu yang sama, seekor gajah putih telah ditangkap dan dibawa ke hadapan Raja Chakkaphat. Gajah sebagai lambang kekuasaan raja merupakan hal yang umum di Asia Tenggara dan Lê Thánh Tông meminta agar rambut gajah tersebut dibawa sebagai hadiah untuk Đại Việt. Permintaan tersebut dianggap sebagai sebuah cemoohan sehingga, menurut legenda, yang dikirim adalah sebuah kotak berisi kotoran hewan. Sebagai balasannya, bala tentara Viet berbaris dalam lima jajar untuk menundukkan Muang Phuan, yang bertemu dengan 200.000 infantri dan 2.000 kavaleri gajah Lan Xang yang dipimpin oleh putra mahkota dan tiga jenderal.[28]

Đại Việt dengan susahnya memperoleh kemenangan dan berlanjut ke utara untuk mengancam Muang Sua. Raja Chakkaphat melarikan dirinya ke selatan menuju Vientiane sepanjang Sungai Mekong. Đại Việt mengambil Luang Prabang dan kemudian membagi pasukannya untuk memotong serangan. Sebagian bergerak ke barat mengambil Sipsong Panna dan mengancam Lanna sementara sebagian yang lain bergerak ke selatan menyusuri Sungai Mekong menuju Vientiane. Raja Tilok dan Lanna mengalahkan tentara bagian utara sebagai antisipasi. Sementara itu, pasukan di sekitar Vientiane bergerak di bawah komandi Pangeran Thaen Kham. Pasukan gabungan tersebut berhasil mengalahkan pasukan Đại Việt, yang bergerak menuju Muang Phuan. Walaupun hanya berjumlah 4.000 orang, Đại Việt melakukan upaya balas dendam terakhirnya dengan menghancurkan ibu kota Muang Phuan sebelum mundur.[29]

Pangeran Thaen Kham lalu ditawari untuk mengembalikkan ayahandanya Raja Chakkphat ke atas takhta namun ia menolaknya dan menyerahkan takhta kepada anaknya yang berkuasa sebagai Suvanna Balang (Kursi Emas) pada tahun 1479. Đại Việt kemudian tidak menginvasi Lan Xang selama 200 tahun dan Lanna menjadi sekutu dekat Lan Xang.[30][31]

Raja Visoun[sunting | sunting sumber]

Wat Visoun, karya Louis Delaporte, +1867.

Lan Xang terus melakukan pemulihan dari damapak peperangan dengan Đại Việt, yang mengarah kepada berkembangnya sisi kebudayaan dan perdagangan. Raja Visoun (1500–1520) merupakan penyuka seni dan selama masa kekuasaannya, kesusastraan klasik Lan Xang ditulis.[32] Pendeta dan wihara Buddha Theraveda menjadi pusat pembelajaran dan sangha berkembang baik dari segi kebudayaan maupun politik. Nithan Khun Borom (Kisah Khun Borom) ditulis bersama dengan beberapa Kisah Jataka yang menceritakan kehidupan-kehidupan Buddha. Tripitaka diterjemahkan dari Pali ke bahasa Lao, serta versi Ramayana atau Pra Lak Pra Lam dalam bahasa Lao juga dibuat.[33]

Selain pupuh, dokumentasi dilakukan mengenai hal pengobatan, astrologi, dan hukum. Musik distandardisasi dengan dan gamelan tradisional kerajaan terbentuk. Raja Visoun juga membangun beberapa kuil atau wat di seluruh negeri. Ia memilih Phra Bang, patung Buddha dalam posisi mudra atau "mengusir rasa takut", sebagai pelindung Lan Xang.[33] Phra Bang sebelumnya adalah pemberian dari Angkor dari mertua Fa Ngum yang dibawa oleh istrinya Keo Kang Ya. Menurut tradisi, patung tersebut dibuat di Sri Lanka, yang merupakan pusat kebudayaan Therevada, dibuat dari thong, campuran emas dan perak.[34][35]

Phra Bang sebelumnya berada di Vientiane, sebagian karena masih kuatnya kepecayaan animisme di Muang Sua.[36] Patung Phra Bang sangat disucikan sehingga nama Muang Sua diganti menjadi Luang Prabang.[note 2] Raja Visoun, putranya Photisarath, dan cucunya Setthathirath, serta cicitnya Nokeo Koumane kelak akan memimpin Lan Xang dalam garis keturunan yang kuat dan mampu untuk menjaga dan mengembalikan kejayaan Lan Xang di tengah masuknya ancaman dari luar pada masa depan.

Wat Visoun, Luang Prabang.

Lanna dan perang melawan Ayutthaya[sunting | sunting sumber]

Raja Photisarath (1520–1550) merupakan salah satu raja termasyhur Lan Xang. Ia menikahi Nang Yot Kham Tip dari Lanna untuk menjadi permaisurinya dan. Ia juga menikahi bangsawan-bangsawan Ayutthaya dan juga Longvek.[37] Photisarath adalah penganut ajaran Buddha yang taat. Ia menajadikan agama Buddha sebagai agama negara di Lan Xang. Pada tahun 1523, ia meminta salinan Tripiṭaka dari Raja Kaeo di Lanna dan pada tahun 1527 ia menghapus praktik pemujaan arwah. Pada tahun 1532, masa damai di Lan Xang berkahir ketika Muang Phuan memberontak. Photisarath membutuhkan dua tahun untuk menekan pemberontakan tersebut.[38][39][40]

Pada tahun 1533, ia memindahkan ibu kota kerajaan ke Vientiane, yang saat itu merupaan ibu kota perdagangan Lan Xang yang berlokasi di sisi Sungai Mekong, ke arah hilir dari ibu kota lama Luang Prabang. Vientiane merupakan kota utama Lan Xang dan berada di perpotongan jalur perdagangan yang membuatnya juga rentan terhadap invasi. Pemindahan tersebut dilakukan Photisarath untuk mengatur negerinya dengan lebih baik dan sebagai penyeimbang terhadap provinsi terluar yang berbatasan dengan Đại Việt, Ayutthaya, serta Burma.[38][39][40]

Pada tahun 1539, ia melakukan ziarah ke Sikhottabong dan membangun That Phanom untuk memperkuat Lan Xang di selatan. Pada tahun yang sama pula, Photisarath menerima suaka seorang bangsawan Thai yang meminta perlindungannya dari Raja Chairacha dari Ayutthaya akibat pemeberontakannya yang gagal. Kejadian tersebut berujung pada serangan penuh terhadap Lan Xang yang mampu dikalahkan di Sala Kham tahun 1540.[38][39][40]

Lanna yang semakin lemah kini memiliki beberapa perebutan takhta selama dekade 1540-an. Invasi datang dari Burma yang diikuti invasi tahun 1545 dari Ayutthaya. Keduanya berhasil dilumpuhkan meskipun banyak desa-desa yang diserang hancur. Lan Xang menurunkan bantuan pasukan untuk mendukung Lanna. Sebagai balasannya, Chairacha memimpin pasukan kedua pada tahun 1547 untuk mengambil Chiang Mai namun ia pasukannya dapat dikalahkan kembali dan dipaksa mundur ke Ayutthaya dengan ia nyaris meninggal dalam proses kembalinya.[41]

Perebutan takhta di Lanna berlanjut namun karena letak Lanna yang berada di antara negara-negara agresif yaitu Burma dan Ayutthaya, stabilitas dipulihkan kembali. Sebagai hadiah atas bantuannya dalam menghadapi Ayutthaya serta keterikatan keluarganya terhadap Lanna, Raja Photisarath melalui putranya, Pangeran Setthathirath, ditawarkan untuk memangku takhta Lanna. Setthathirath pada 1547 dinobatkan sebagai raja di Chiang Mai. Lan Xang kini berada di tengah kekuatan politik tertingginya dengan Photisarath sebagai Raja Lan Xang dan putranya yaitu Setthathirath sebagai Raja Lanna. Seperti tercatat di dalam Hikayat Chiang Mai, Setthathirath mengambil kepemilikan Buddha Zamrud sebagai pelindung pribadinya (yang kelak menjadi pelindung Vientiane) dan menikahi Putri Nang Thip dan Nang Tonkham.[42]

Kedamaian berakhir ketika pada tahun 1548, Burma menginvasi Ayutthaya namun tidak berhasil merebut ibu kotanya. Pada tahun yang sama, Burma mendekat ke Photisarath dan menawarkan persekutuan. Photisarath menolak tawaran tersebut namun tidak pula mendukung Ayutthaya yang delapan tahun sebelumnya gagal menginvasi Lan Xang. Pada tahun 1550, Photisarath kembali ke Luang Prabang, tetapi meninggal dalam kecelakaan saat menaiki gajah selama perjalanan pulang di depan 15 utusan negara lain.[43]

Raja Setthathirath dan invasi Burma[sunting | sunting sumber]

Patung Raja Sai Setthathirath di Pha That Luang, Vientiane.

Pada tahun 1548, Raja Setthathirath (sebagai Raja Lanna) menjadikan Chiang Saen sebagai ibu kota. Chiang Mai masih memiliki kubu-kubu yang kuat di pemerintahan kerajaan sementara ancaman dari Burma dan Ayutthaya semakin besar. Setelah kematian dini ayahnya, Raja Setthathirath meninggalkan Lanna dengan dua istrinya sebagai wali. Di Lan Xang, Setthathirath dinobatkan sebagai Raja Lan Xang. Kepergian Setthathirath membuat kubu lain di Lanna menobatkan Chao Mekuti sebagai raja pada tahun 1551.[44]

Pada tahun 1553, Setthathirath mengirimkan pasukan untuk merebut Lanna namun dapat digagalkan. Selanjutnya pada tahun 1555, ia mengirim pasukan kembali dengan komando Sen Soulintha dan kini berhasil merebut Chiang Saen. Atas keberhasilannya, Sen Soulintha diberi gelar Luxai (Juara) dan menawarkan salah satu putrinya kepada Raja Setthathirath. Pada tahun 1556, Burma, di bawah Raja Bayinnaung menyerang Lanna. Raja Mekuti menyerah di Chiang Mai tanpa melakukan perlawanan. Burma membuatnya menjadi daerah bawahan dengan kendali militer.[45][46]

Pada tahun 1560, Setthathirath secara resmi memindahkan ibu kota Lan Xang dari Luang Prabang ke Vientiane, yang kelak menjadi ibu kota untuk 250 tahun berikutnya.[47] Pemindahan ibu kota secara resmi diiringi dengan program pembangunan yang besar yang mencakup penguatan pertahanan kota, pembangunan istana resmi dan Haw Phra Kaew untuk Buddha Zamrud, serta pemugaran That Luang di Vientiane. Di Luang Prabang, Wat Xieng Thong dibangun kemungkinan sebagai kompensasi pemindahan ibu kota Lan Xang. Sementara itu di Nakhon Phanom, pemugaran diakukan terhadap That Phanom.[48]

Sebua perjanjian ditandatangani antara Lan Xang dan Ayutthaya pada tahun 1563 yang dikokohkan dengan dipinangnya Putri Thepkasattri (putri dari Ratu Suriyothai dari Ayutthaya). Akan tetapi, Raja Maha Chakkraphat mencoba untuk menukarnya dengan Putri Kaeo Fa namun ditolak.[49] Di tengah konflik, Burma menginvasi Ayutthaya bagian utara dengan bantuan Maha Thammaracha, Raja Muda dan Gubernur Phitsanulok. Baru pada tahun 1564, Chakkraphat mengirimkan Putri Thepkasattri ke Lan Xang bersama dengan mas kawin yang besar sebagai upaya untuk memulihkan persekutuan yang telah hancur.[50]

Maha Thammaracha menyerang Thepkasattri dan mengirimnya ke Burma. Thepkasattri melakukan bunuh diri setelah tiba atau saat di perjalanan. Menghadapi pasukan Burma yang lebih kuat, Chakkraphat kehilangan persekutuannya dengan Lan Xang, daerah utara Ayutthaya, dan putrinya. Untuk menghindari serangan lain pada masa depan, ia tunduk di bawah Burma dan harus menyerahkan dirinya serta putranya yaitu Pangeran Ramesuan sebagai sandra kepada Raja Bayinnaung, meninggalkan Pangeran Mahinthrathirat sebagai Raja Ayutthaya di bawah Burma.[50]

Burma kemudian melihat ke utara untuk menggulingkan Raja Mekuti dari Lanna, yang tidak mendukung upaya invasi Burma di Ayutthaya tahun 1563.[51][52] Ketika Chiang Mai jatuh ke tangan Burma, sebagaian penduduk mengungsi ke Vientiane dan Lan Xang. Raja Setthathirath yang sadar bahwa Vientiane tidak dapat bertahan jika mengalami pengepungan yang lama, memerintahkan seluruh kota untuk dievakuasi dan dikosongkan dari pasokan perang. Saat Burma berhasil merebut Vientiane, mereka terpaksa mencari pasoka ke desa-desa. Setthathirath telah mengatur serangan-serangan kecil dan gerilya untuk melawan pasukan Burma. Di tengah kelaparan, wabah penyakit, dan organisasi yang kendor, Raja Bayinnaung terpakasa mundur pada tahun 1565, menjadikan Lan Xang sebagai satu-satunya kerajaan orang Tai yang merdeka.[53][54]

Persekongkolan[sunting | sunting sumber]

Raja Mahinthrathirat pada tahun 1567 mendekati Raja Setthathirath dengan rencana agar Ayutthaya melakukan pemberontakan terhadap Burma dengan melancarkan serangan balasan terhadap Mahathammarachathirat di Phitsanulok. Rencana tersebut mencakup penyerbuan dari Lan Xang di darat yang dibantu angkatan laut Ayutthaya yang bergerak ke arah hulu Sungai Nan. Mahathammarachathirat saat itu sedang berada di Burma sementara Maha Chakkraphat telah diizinkan kembali ke Ayutthaya karena Burma sibuk menghadapi pemberontakan Shan.[55]

Rencana tersebut diketahui oleh pihak Burma dan pasukan bantuan dikirim ke Phitsanulok. Mengetahui bahwa Phitsanulok telah disokong oleh kekuatan penuh, Raja Setthathirath menarik serangannya namun menangkis penyerbuan dari lima jenderal Burma yang mengejarnya di perjalanan kembali menuju Vientiane. Memanfaatkan situasi, Raja Chakkraphat melakukan serangan kedua ke Phitsanulok yang berhasil dilakukan namun tidak dapat ia pertahankan.[55]

Raja Bayinnaung mengirimkan bala tentara yang besar pada tahun 1568 sebagai respon dari perlawanan ini. Awal tahun 1569 menyaksikan Kota Ayutthaya dibawah ancaman langsung sehingga Vientiane mengirimkan bantuan. Burma telah memprediksi bantuan tersebut sehingga Raja Setthathirath masuk ke dalam jebakan.[56] Setelah pertempuran selama dua hari, pasukan Lan Xang menang di Lembah Pa Sak di dekat Phetchabun. Di saat yang sama, salah satu jenderal dari Nakhon Phanom lari ke selatan menuju Ayutthaya. Pasukan Burma berhimpun dan mampu mengalahkan pasukan lawan yang telah sementara Raja Setthathirath harus mundur ke Vientiane.[57]

Burma kemudian memusatkan serangannya ke Ayutthaya dan merebut kota tersebut. Raja Setthathirath setelah tiba di Vientiane memerintahkan evakuasi warga. Pasukan Burma membutuhkan beberapa minggu untuk istirahat dan menghimpun ulang kekuatannya setelah merebut Ayutthaya, sehingga memungkinkan Setthathirath untuk mengumpulkan pasukannya dan membuat rencana pertempuran gerilya panjang. Burma kemudian dapat mengambil Vientiane dengan mudah. Di awal tahun 1565, Setthathirath memulai perang gerilyanya dari markasnya di Nam Ngum, timur laut Vientiane. Pada tahun 1570, Bayinnaung mundur, Setthathirath melakukan serangan balasan, dan lebih dari 30.000 orang ditahan. 100 ekor garajh dan 2.300 helai gading direbut dari pasukan Burma yang mundur.[57]

Pada tahun 1571, Kerajaan Ayutthaya dan Lan Na masih berada di bawah Burma. Setelah dua kali mempertahankan Lan Xang dari serangan Burma, Raja Setthathirath bergerak ke selatan menyerang Kekaisaran Khmer. Mengalahkan Khmer akan memperbesar kekuatan Lan Xang, menyediakan akses laut, peluang perdagangan, dan yang terpenting yaitu persenjataan Eropa yang penggunaannya telah berkembang sejak awal 1500-an. Hikayat Khmer mencatat bahwa pasukan dari Lan Xang menyerang pada tahun 1571 dan 1572. Pada invasi kedau, Raja Barom Reacha I dibunuh dalam pertarungan gajah. Khmer telah memusatkan pasukannya dan Lan Xang mundur. Setthathirath diberitakan hilang di dekat Attapeu. Hikayat Burma dan Lao hanya menyebutkan asumsi bahwa ia meninggal di medan perang.[58][59]

Jenderal Setthathirath bernama Sen Soulintha kembali ke Vientiane dengan sisa-sisa ekspedisi Lan Xang. Ia menjadi pusat dari kecurigaan dan perang saudara pun meletus di Vientiane dengan perebutan takhta kerajaan. Pada tahun 1573, ia mampu naik menjadi raja wali namun sedikit yang mendukungnya. Setelah mendengar berita kekacauan di Vientiane, Bayinnaung mengirimkan utusan dengan pesan meminta Lan Xang untuk menyerah. Sen Soulintha membunuh utusan Burma tersebut.[60]

Bayinnaung kembali menyerang Vientiane pada tahun 1574. Sen Soulintha memerintahkan seluruh kota untuk mengungsi namun ia tidak didukung penuh leh pasukannya dan penduduk. Vientiane jatuh ke tangan Burma. Sen Soulintha dibawa sebagai tahanan ke Burma bersama dengan pewaris Setthathirath, Pangeran Nokeo Koumane.[61] Pejabat vasal Burma bernama Chao Tha Heua diperintahkan untuk mengepalai Vientiane. Ia hanya berkuasa selama empat tahun. Kekaisaran Taungoo Pertama (1510–1599) berdiri namun diikuti oleh pemberontakan internal. Pada tahun 1580, Sen Soulintha kembali sebagai vasal Burma. Bayinnaung meninggal pada tahun 1581 dengan putranya Raja Nanda Bayin memerintah Kekaisaran Toungoo. Perang saudara terjadi di Lan Xang dari tahun 1583 hingga 1591.[62]

Pemulihan Lan Xang[sunting | sunting sumber]

Pangeran Nokeo Koumane ditahan selama 21 tahun di Burma pada tahun 1591. Sangha di Lan Xang mengirimkan utusan untuk menemui Raja Nandabayin untuk meminta agar Nokeo Koumane dipulangkan ke Lan Xang sebagai raja vasal. Pada tahun 1591, Nokeo Koumane naik takhta di Vientiane, mengumpulkan pasukannya dan bergerak ke Luang Prabang untuk menyatukan kedua kota dan menyatakan kemerdekaan Lan Xang dan memutus segala hubungan dengan Kekaisaran Toungoo. Raja Nokeo Koumane kemudian bergerak ke Muang Phuan dan ke daerah negara bagian tengah untuk menyatukan kembali seluruh daerah Lan Xang.[63]

Pada tahun 1593, Raja Nokeo Koumane melacarkan serangan ke Lanna dan Pangeran Taungoo Tharrawaddy Min. Tharrawaddy Min meminta pertolongan kepada Burma, tetapi pemberontakan yang terjadi di seluruh negeri mencegahnya menerima bantuan. Di tengah keputusasaan, perimntaan bantuan disampaikan kepada vasal Burma di Ayutthaya, Raja Naresuan. Raja Naresuan menurunkan pasukan berjumlah besar dan beralih ke Tharrawaddy Min, memaksa Burma untuk menerima kemerdekaan Ayutthaya dengan Lanna sebagai vasal. Raja Nokeo Koumane mengetahui bahwa ia tidak lebih kuat dari Ayutthaya dan Lanna sehingga membatalkan rencana penyerangannya. Pada tahun 1596, Raja Nokeo Koumane wafat secara tiba-tiba tanpa memiliki pewaris takhta. Walaupun ia telah menyatukan Lan Xang dan mengembalikan kerajaan pada titik yang sama saat serangan dari luar mampu untuk ditangkis, perebutan takhta terjadi dan raja-raja dengan legitimasi lemah menjadi penerusnya hingga tahun 1637.[63]

Masa Kejayaan Lan Xang[sunting | sunting sumber]

Patung Buddha dari Lan Xang abad ke-17.

Selama kepemimpinan Raja Sourigna Vongsa (1637–1694), Lan Xang mengalami 57 tahun masa perdamaian dan pembangunan.[64] Sangha Lan Xang berada di titik tertingginya, pusat pembelajaran biksu dari seluruh Asia Tenggara. Sastra, seni rupa, seni musik, dan tarian mengalami kebangkitan. Raja Sourigna Vongsa merancang banyak undang-undang negara dan mendirikan sistem pengadilan. Ia juga menandatangani beberapa perjanjian baik politik maupun perdagangan dengan kerajaan-kerajaan di sekitarnya.[65]

Pada tahun 1641, Gerritt van Wuysthoff di bawah bendera Kongsi Dagang Hindia Timur Belanda menjalin hubungan perdagangan resmi dengan Lan Xang. Catatan van Wuysthoff menunjukkan rincian komoditas perdagangan dengan Eropa serta pendirian hubungan antara pihak kongsi dengan Lan Xang lewat Longvek dan Sungai Mekong.[65]

Pada tahun 1642, Romo Giovanni Maria Leria, anggota Serikat Jesuit, menjadi misionaris Katolik pertama yang mendatangi Lan Xang. Setelah lima tahun, ia hanya berhasil mengkonversi segelintir orang di tengah negara agama Buddha yang kuat. Ia pun kembali ke Makau melalui Vietnam pada tahun 1647. Ia menceritakan gambaran langsung istana raja di Vientiane selama masa kejayaan Lan Xang sebagai berikut.[65]

Istana kerajaan, dengan struktur dan simetrinya yang mempesona, dapat terlihat dari jauh. Ukurannya yang sangat menakjubkan hingga seseorang akan mengiranya sebuah kota, adalaah lambang dari keadaan negeri dan warganya yang tak terhingga yang dimilikinya. Wisma raja, dihiasi dengan sebuah gapura yang megah, memilki kamar-kamar yang bagus dengan sebuah ruang tamu yang indah, semuanya terbuat dari kayu yang tidak bisa rusak (jati) berhiaskan pahatan-pahatan di luar dan di dalam, yang disepuh secara detail hingga tidak terlihat seperti ditutupi lembaran emas namun seperti terlapisi emas. Dari wisma raja, memasuki pekarangan yang sangat luas, terlihat deretan rumah-rumah yang besar, seluruhnya terbuat dari batu bata dan beratapkan genting, tempat di mana istri kedua sang raja tinggal. Di luarnya terdapat banyak lagi deretan rumah, dibangun dengan simetri, tempat dari para pejabat kerajaan. Aku dapat menulis satu buku penuh jika aku ingin menggambarkan dengan lengkap seluruh bagian istana lainnya, kemewahannya, kamar-kamarnya, tamannya, dan seluruh hal lainnya yang serupa.
—  Rm. Giovanni Maria Leria, (1663) [note 3][66]

Istana kerajaan dan seluruh kota Vientiane rusak dan hancur akibat serangan Thai pada Perang Lao-Siam 1827–1828.[67]

Pha That Luang, Vientiane

Perebutan takhta[sunting | sunting sumber]

Reformasi hukum yang dibuat oleh Raja Sourigna Vongsa diterapkan dengan setara kepada kaum bangsawan dan rakyat. Ketika putra mahkota melakukan perzinaan dengan pelayan istana, raja memerintahkan ia agar dihukum mati. Ketika Sourigna Vongsa wafat pada tahun 1694, ia meninggalkan dua cucu laki-laki (Pangeran Kingkitsarat dan Pangeran Inthasom) dan dua anak perempuan (Putri Kumar dan Putri Sumangala) beserta takhta yang kosong. Perebutan takhta kemudian terjadi dengan keponakan raja, Pangeran Sai Ong Hue, mengklaim takhta kerajaan. Kedua cucu Sourigna Vongsa melarikan diri ke Sipsong Panna sementara Putri Sumangala berlari ke Champasak. Pada tahun 1705, Pangeran Kingkitsarat mengambil sebagian kecil dari pasukan pamannya di Sipsong Panna dan bergerak menuju Luang Prabang. Saudara laki-laki Sai Ong Hue yang saat itu adalah gubernur Luang Prabang, melarikan diri dan Kingkitsarat pun dinobatkan sebagai raja tandingan di Luang Prabang. Pada tahun 1707, kerajaan Lan Xang menjadi Luang Prabang dan Vientiane. Kerajaan Champasak muncul pada tahun 1713 setelah sebuah pemberontakan melawan Vientiane.[68]

Kerajaan-kerajaan Lao tersebut merdeka hingga tahun 1779 untuk menjadi vasal di bawah Thailand. Akan tetapi, masing-masing masih mempertahankan dinasitinya dan sebagian otonomi.[69][70]

Budaya populer[sunting | sunting sumber]

Lan Xang merupakan salah satu negara yang dapat dimainkan di Europa Universalis IV.

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Variasi latinisasi Lao dari kata Lan Xang di antara lain adalah Lan Sang, Lane Sang, dan Lane Xang. Nama lain Kerajaan Lan Xang di beberapa bahasa adalah sebagai berikut:
    • Myanmar: လင်ဇင်း
    • Kamboja: លានជាង, លានដំរី, or ស្រីសតនាគនហុត
    • Pali: Siri Satanāganahuta
    • Sansekerta: Srī Śatanāganayuta
    • Thai: ล้านช้าง (rtgsLan Chang) or ล้านช้างร่มขาว (rtgsLan Chang Rom Khao)
    • Vietnam: Vạn Tượng
  2. ^ Luang Prabang: "Bang" dapat diterjemahkan sebagai "kurus/kecil" sehingga Luang Prabang berarti "(Kota) Patung Buddha Kurus Kerajaan"
  3. ^ Diterjemahkan dari "The royal palace, of which the structure and symmetry are admirable, can be seen from afar. Truly it is of prodigious size, so large one would take it for a city, both with respect to its situation and the infinite number of people who live there. The apartments of the king are adorned with a magnificent portal and include a number of beautiful rooms along with a great salon, all made from incorruptible timber (teak) and adorned outside and inside with excellent bas-reliefs, so delicately gilded that they seem to be plated with gold rather than covered with gold leaf. From the king's apartments, on entering the very spacious courtyards, one sees first a great series of houses, all of brick and covered with tiles, where usually live the secondary wives of the king; and beyond them a line of more houses, built in the same symmetrical form for the officials of the court. I could write a whole volume if I tried to describe exactly all the other parts of the palace, its riches, apartments, gardens, and all the other similar things."

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Stuart-Fox (1998), hlm. 43–44.
  2. ^ Simms (1999), hlm. ix-xiii.
  3. ^ Stuart-Fox (1998), hlm. 143–146.
  4. ^ Solheim (1973), hlm. 145-62.
  5. ^ Gorman (1976), hlm. 14–26.
  6. ^ Higham (1996).
  7. ^ a b Simms (1999), hlm. 24–26.
  8. ^ a b Stuart-Fox (2006), hlm. 6.
  9. ^ Wyatt (2003), hlm. 45,51; 33–35.
  10. ^ Wyatt (2003), hlm. 51.
  11. ^ Stuart-Fox (1998), hlm. 22–29.
  12. ^ Stuart-Fox (2006), hlm. 11–15.
  13. ^ Wyatt (2003), hlm. 9–10.
  14. ^ Evans (2009), hlm. 2.
  15. ^ Simms (1999), hlm. 26.
  16. ^ a b Coe (2003).
  17. ^ Wyatt (2003), hlm. 30–49.
  18. ^ a b c Simms (1999), hlm. 30–35.
  19. ^ a b c Stuart-Fox (1998), hlm. 38–43.
  20. ^ Coedès, George (1968). Walter F. Vella, ed. The Indianized States of Southeast Asia. trans.Susan Brown Cowing. University of Hawaii Press. ISBN 978-0-8248-0368-1. 
  21. ^ Wyatt (2003), hlm. 52.
  22. ^ a b Simms (1999), hlm. 36.
  23. ^ a b Stuart-Fox (2003), hlm. 80.
  24. ^ Simms (1999), hlm. 47–48.
  25. ^ Stuart-Fox (2006), hlm. 20–21.
  26. ^ Stuart-Fox (1993).
  27. ^ Stuart-Fox (1998), hlm. 65.
  28. ^ a b Simms (1999), hlm. 51–52.
  29. ^ Stuart-Fox (1998), hlm. 66–67.
  30. ^ Stuart-Fox (2006), hlm. 21–22.
  31. ^ Bush, Elliot & Ray (2011), hlm. 26.
  32. ^ Stuart-Fox (2006), hlm. 22–25.
  33. ^ a b Stuart-Fox (1998), hlm. 74.
  34. ^ Tossa, Nattavong & MacDonald (2008), hlm. 116–117.
  35. ^ Simms (1999), hlm. 37–39.
  36. ^ Stuart-Fox (1998), hlm. 53.
  37. ^ Simms (1999), hlm. 56.
  38. ^ a b c Simms (1999), hlm. 56–61.
  39. ^ a b c Stuart-Fox (1998), hlm. 74–75.
  40. ^ a b c Viravong (1964), hlm. 50–51.
  41. ^ Wyatt (2003), hlm. 78.
  42. ^ Wyatt & Wichienkeeo (1995), hlm. 118–119.
  43. ^ Simms (1999), hlm. 64–68.
  44. ^ Wyatt & Wichienkeeo (1995), hlm. 120–122.
  45. ^ Simms (1999), hlm. 71–73.
  46. ^ Stuart-Fox (1998), hlm. 78.
  47. ^ Simms (1999), hlm. 73.
  48. ^ Stuart-Fox (2006), hlm. 61–72.
  49. ^ Wyatt (2003), hlm. 80.
  50. ^ a b Wyatt (2003), hlm. 81.
  51. ^ Harvey 1925: 167–168
  52. ^ Maha Yazawin Vol. 2 2006: 266–268
  53. ^ Simms (1999), hlm. 73–75.
  54. ^ Stuart-Fox (1998), hlm. 81–82.
  55. ^ a b Simms (1999), hlm. 78–79.
  56. ^ Wyatt (2003), hlm. 82.
  57. ^ a b Simms (1999), hlm. 79–81.
  58. ^ Stuart-Fox (2006), hlm. 72–73.
  59. ^ Stuart-Fox (1998), hlm. 83.
  60. ^ Simms (1999), hlm. 85.
  61. ^ Wyatt (2003), hlm. 83.
  62. ^ Simms (1999), hlm. 85–88.
  63. ^ a b Simms (1999), hlm. 88–90.
  64. ^ Ivarsson (2008), hlm. 113.
  65. ^ a b c Stuart-Fox (2006), hlm. 74–77.
  66. ^ Stuart-Fox (2006), hlm. 75.
  67. ^ Askew, Long & Logan (2007).
  68. ^ Viravong (1964).
  69. ^ Wyatt (1963), hlm. 13–32.
  70. ^ Ngaosyvathn (1998).

Daftar pustaka[sunting | sunting sumber]

  •  Artikel ini berisi bahan berstatus domain umum dari situs web atau dokumen Library of Congress Country Studies.
  • Askew, Marc; Long, Colin; Logan, William (2007). Vientiane: Transformations of a Lao Landscape. Routledge. ISBN 0-415-33141-2. 
  • Bush, Austin; Elliot, Mark; Ray, Nick (2011). Laos. Lonely Planet. ISBN 978-1-74179-153-2. 
  • Coe, Michael D. (2003). Angkor and Khmer Civilization. Thames & Hudson. ISBN 978-0-500-02117-0. 
  • Evans, Grant (2009). The Last Century of Lao Royalty. Silkworm Books. ISBN 978-616-215-008-1. 
  • Gorman, Chester (1976). "Ban Chiang: A mosaic of impressions from the first two years". Expedition. 18 (4): 14–26. 
  • Higham, Charles (1996). The Bronze Age of Southeast Asia. Cambridge World Archeology. ISBN 0-521-56505-7. 
  • Ivarsson, Soren (2008). Creating Laos: The Making of a Lao Space Between Indochina and Siam, 1860–1945. Nordic Institute of Asian Studies. ISBN 978-87-7694-023-2. 
  • Ngaosyvathn, Mayoury; Pheuiphanh Ngaosyvathn (1998). Paths to Conflagration: Fifty Years of Diplomacy and Warfare in Laos, Thailand, and Vietnam. Southeast Asia Program Publications. ISBN 978-0-87727-723-1. 
  • Simms, Peter and Sanda (1999). The Kingdoms of Laos: Six Hundred Years of History. Curzon Press. ISBN 0-7007-1531-2. 
  • Solheim, Wilhelm (1973). "Northern Thailand, Southeast Asia and World Prehistory". Asian Perspectives. 13: 145–162. 
  • Stuart-Fox, Martin (1993). "Who was Maha Thevi?". Siam Society Journal. 81. 
  • Stuart-Fox, Martin (1998). The Lao Kingdom of Lan Xang: Rise and Decline. White Lotus Press. ISBN 974-8434-33-8. 
  • Stuart-Fox, Martin (2003). A Short History of China and Southeast Asia: Trade, Tribute and Influence. Allen & Unwin. ISBN 978-1-86448-954-5. 
  • Stuart-Fox, Martin (2006). Naga Cities of the Mekong: A Guide to the Temples, Legends, and History of Laos. Media Masters. ISBN 978-981-05-5923-6. 
  • Stuart-Fox, Martin (2008). Historical Dictionary of Laos. The Scarecrow Press, Inc. ISBN 978-0-8108-5624-0. 
  • Tossa, Wajupp; Nattavong, Kongdeuane; MacDonald, Margaret Read (2008). Lao Folktales. Libraries Unlimited. ISBN 978-1-59158-345-5. 
  • Viravong, Sila (1964). History of Laos (trans.). New York: Paragon Book. hlm. 50–51. ISBN 0-685-41963-0. 
  • Wyatt, David K. (1963). "Siam and Laos, 1767–1827". Journal of Southeast Asian History. 4 (2): 13–32. 
  • Wyatt, David K. (2003). Thailand: A Short History. Yale University Press. ISBN 0-300-08475-7. 
  • Wyatt, David K.; Wichienkeeo, Aroonrut, ed. (1995). The Chiang Mai Chronicle. Silkworm Books. ISBN 974-7100-62-2. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]