Kecerdasan emosional

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Salah satu contoh pengungkapan emosi seseorang. Tubuh manusia akan mengalami reaksi ketika dihadapkan dengan suatu peristiwa tertentu. Kemudian tubuh akan membuat persepsi terhadap reaksi tersebut. Hal tersebut dinamakan emosi. Emosi tersebut dapat terlihat dari wajah, baik senang atau sedih.[1]

Kecerdasan emosional (bahasa Inggris: emotional quotient, disingkat EQ) adalah kemampuan seseorang untuk menerima, menilai, mengelola, serta mengontrol emosi dirinya dan orang lain di sekitarnya.[2] Dalam hal ini, emosi mengacu pada perasaan terhadap informasi akan suatu hubungan. Sedangkan, kecerdasan mengacu pada kapasitas untuk memberikan alasan yang valid akan suatu hubungan.[3] Kecerdasan emosional (EQ) belakangan ini dinilai tidak kalah penting dengan kecerdasan intelektual (IQ). Satu studi menemukan bahwa kecerdasan emosional dua kali lebih penting. Dalam buku Daniel Goleman "Kecerdasan Emosional" dijelaskan bahwa kecerdasan emosional bertanggung jawab atas keberhasilan sebesar 80%, dan 20% ditentukan oleh IQ.[4]

Menurut Howard Gardner (1983) terdapat lima pokok utama dari kecerdasan emosional seseorang, yakni mampu menyadari dan mengelola emosi diri sendiri, memiliki kepekaan terhadap emosi orang lain, mampu merespon dan bernegosiasi dengan orang lain secara emosional, serta dapat menggunakan emosi sebagai alat untuk memotivasi diri.[5] Selain itu, seseorang yang memiliki kecerdasan emosional yang baik, lebih mudah dipercaya, bisa beradaptasi dengan baik, bisa bergaul dan bekerjasama dalam tim, memiliki rasa tahu yang tinggi, serta memiliki motivasi yang tinggi.[6]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Konsep mengenai kekuatan emosional pertama kali diperkenalkan oleh Abraham Maslow pada tahun 1950-an.[7] Istilah "kecerdasan emosional" kemudian muncul pertama kali dalam makalah tahun 1964 oleh Michael Beldoch[8] dan dalam makalah tahun 1966 oleh B. Leuner berjudul Emotional intelligence and emancipation yang muncul pada jurnal psikoterapi yang bernama Practice of child psychology and child psychiatry.[9] Pada tahun 1983, Howard Gardner dalam bukunya yang berjudul Frames of Mind: The Theory of Multiple Intelligences[10] memperkenalkan sebuah gagasan bahwa jenis kecerdasan yang umum digunakan seperti IQ, gagal dalam menjelaskan keseluruhan kemampuan kognitif. Dia kemudian memperkenalkan gagasan kecerdasan ganda yang mencakup kecerdasan interpersonal (kapasitas untuk memahami niat, motivasi dan keinginan orang lain) dan kecerdasan intrapersonal (kapasitas untuk memahami diri sendiri, untuk menghargai perasaan, ketakutan, dan motivasi seseorang).[11]

Penggunaan istilah "EQ" (Emotional Quotient) atau kecerdasan sosial yang ada pada karya cetak yang tersebar secara publik baru pertama kali ada pada tahun 1987 dalam sebuah artikel oleh Keith Beasley di majalah British Mensa.[12] Meski begitu, istilah kecerdasan emosional baru dipopulerkan pada tahun 1995 oleh psikolog dan jurnalis ilmu perilaku Dr. Daniel Goleman dalam bukunya yang berjudul Emotional Intelligence – Why it can matter more than IQ.[13] Buku tersebut selanjutnya mendapatkan popularitas yang kemudian berakibat pada kepopuleran Daniel Goleman itu sendiri.[14] Akhir tahun 1998, artikel Goleman di Harvard Business Review berjudul "What Makes a Leader?"[15] menarik perhatian manajemen senior di Johnson & Johnson's Consumer Companies (JJCC). Artikel tersebut berbicara tentang pentingnya Kecerdasan Emosional (EI atau Emotional Intelligence) untuk kesuksesan dalam hal kepemimpinan. Daniel mengutip beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa EI sering menjadi faktor pembeda antara pemimpin hebat dan pemimpin yang cenderung biasa saja. JJCC mendanai sebuah penelitian yang menyimpulkan bahwa ada hubungan yang kuat antara pemimpin berkinerja unggul dengan kompetensi emosional. Hal ini mendukung pendapat dari sebuah teori bahwa dalam kompetensi sosial, kemampuan emosional dan relasional yang biasa disebut sebagai Kecerdasan Emosional, merupakan faktor pembeda dalam kinerja kepemimpinan.[16] Tes pengukuran EI masih belum dapat menggantikan tes IQ sebagai standar metrik dari kecerdasan yang lebih umum di masyarakat[17] dan Kecerdasan Emosional juga mendapatkan kritik mengenai peranan kecerdasan tersebut dalam kepemimpinan dan kesuksesan bisnis.[18]

Definisi[sunting | sunting sumber]

Kecerdasan emosional didefinisikan oleh Peter Salovey dan John Mayer, sebagai "kemampuan untuk mengatur emosi diri sendiri dan orang lain yang mana kecerdasan ini bertujuan untuk membedakan antara emosi yang beragam dan memberi label secara tepat, serta menggunakan informasi emosional untuk mengatur pikiran dan perilaku".[19] Definisi ini kemudian diperdalam, disempurnakan, dan kemudian diusulkan untuk dibagi menjadi empat kemampuan, yaitu memahami, menggunakan, memahami, dan mengelola emosi.[20] Kemampuan ini sebenarnya berbeda-beda namun saling terkait.

Kelompok Emosi[sunting | sunting sumber]

Marah[sunting | sunting sumber]

Gangguan kepribadian ambang adalah gangguan ketidakstabilan emosi. Sebagai cirinya sering mengalami rasa cemas, sedih, takut, dan mengalami tingkat kemarahan yang tinggi.[21]

Marah adalah ekspresi emosi yang bersifat agresif. Marah bisa dipicu akibat frustasi, merasa kecewa, dan rasa kesal terhadap suatu hal. Dampak positif dari marah, bisa meredakan rasa kesal dan bisa membuat emosi tenang. Selain itu, marah juga bisa berdampak buruk apabila tidak bisa mengendalikan emosi marah tersebut.[22] Emosi marah bisa diekspresikan dengan amukan, rasa benci dan marah yang besar, merasa jengkel terhadap suatu hal, merasa kesal dan terganggu, muncul karena singgungan, hingga menyebabkan kekerasan dan rasa benci secara patologis.[23]

Kesedihan[sunting | sunting sumber]

Kesedihan merupakan reaksi emosi yang timbul karena suatu hal, bisa karena peristiwa, pengalaman, dan keadaan yang menyakitkan dan rasa kecewa.[24] Rasa sedih bisa dipicu oleh rasa kecewa terhadap suatu hal, dan merasa tidak berdaya hingga tidak muncul rasa minat untuk melakukan hal apapun. Rasa sedih yang berlarut-larut bisa mengakibatkan depresi.[25]

Rasa takut[sunting | sunting sumber]

Rasa takut bisa menyebabkan stres gangguan emosional. Stres tersebut timbul karena adanya ancaman dan tekanan dan perubahan. Dampaknya akan menyebabkan respon tubuh, seperti napas dan detak jantung yang semakin cepat. Selain itu otat menjadi kaku, serta tekanan darah menjadi tinggi.[26]

Rasa takut bisa disebabkan oleh ancaman karena merasa diri dalam bahaya. Ancaman tersebut bisa ditimbulkan dengan ancaman fisik, psikologis, hal yang imajiner, serta emosional. Rasa takut dikategorikan sebagai emosi negatif, namun rasa takut juga berdampak positif karena bisa menjaga diri dari potensi yang menyebabkan bahaya.[27] Rasa takut bisa diekspresikan dengan kondisi gugup, cemas, merasa khawatir, rasa waspada terhadap suatu hal, dan tidak merasa tenang.[23]

Kenikmatan[sunting | sunting sumber]

Kenikmatan bisa diekspresikan dengan rasa bahagia dan gembira. Selain itu, kenikmatan menunjukkan rasa senangm terpesona, hingga rasa takjub akan suatu hal.[23] Kenikmatan pertama yaitu berupa nikmat sehat, yang diperoleh denga rasa kecukupan terhadap kebutuhan dasar, seperti makanan dan minum. Kenikmatan kedua yaitu kenikmatan sosial, yang bisa dipenuhi dengan rasa kebutuhan untuk hidup bersama dengan keluarga dan kelompok sosial. Kenikmatan ketiga yaitu kenikmatan spiritual, yaitu pemenuhan rohani akan kebutuhan untuk menenangkan hati dan pikiran.[28]

Cinta[sunting | sunting sumber]

Cinta merupakan salah satu jenis emosi yang timbul karena rasa intim, menyebabkan gairah, dan komitmen. Cinta juga juga merupakan emosi yang dipengaruhi oleh kedekatan, rasa tertarik, juga rasa percaya terhadap satu sama lain. Selain itu, cinta juga bisa timbul karena reaksi biologis yang timbul pada diri manusia.[29] Rasa cinta bisa diekspresikan dengan bentuk persahabatan, rasa percaya, rasa hormat terhadap seseorang, hingga rasa kasih sayang antar manusia.[23]

Terkejut[sunting | sunting sumber]

Terkejut merupakan salah satu emosi yang bisa terjadi dalam waktu yang singkat. Rasa terkejut bisa muncul karena menemukan sesuatu hal yang baru.[30] Emosi terkejut bisa diekspresikan dengan rasa takjub, kejutan, muak, terpanam hingga rasa mual ingin muntah.[23]

Malu[sunting | sunting sumber]

Malu merupakan rasa yang tidak nyaman yang muncul karena kondisi sosial dalam menghadapi orang baru, yang terjadi karena kondisi interaksi sosial yang buruk. Rasa malu merupakan hal yang normal, karena dapat terjadi dalam beberapa kondisi saja. Rasa malu bisa berdampak negatif apabila disertai dengan rasa sepi, cemas, hingga frustasi.[31] Rasa malu bisa diekspresikan dengan rasa bersalah, rasa hancur, kesal, hingga timbul karena adanya aib.[23]

Aspek[sunting | sunting sumber]

Salovey dan Mayer[sunting | sunting sumber]

Salovey dan Mayer mengungkapkan aspek-aspek yang ada di dalam kecerdasan emosional yaitu mampu merasakan empati, berani mengungkapkan dan memahami perasaan, bisa mengendalikan amarah, mampu beradaptasi, mandiri, setia terhadap pertemanan, ramah, dan hormat kepada yang lain.[32]

Goleman[sunting | sunting sumber]

Menurut Goleman, seseorang yang memiliki kecerdasan emosi memiliki aspek untuk memotivasi diri sendiri, apabila frustasi lebih siap untuk bertahan, bisa menghadapi sesuatu yang sulit dan tetap percaya diri, serta memiliki empati yang tinggi.[32]

W.T Grant Consortium[sunting | sunting sumber]

Menurut W.T Grant Consortium kecerdasan emosional bisa dilihat dari cara mengungkapkan perasaan dan bisa mengidentifikasi perasaan tersebut. Perasaan tersebut selain bisa diungkapkan, juga bisa dikelola juga dikendalika, serta bisa membedakan dan menyeimbangkan antara perasaan dan tindakan.[32]

Memaksimalkan Kecerdasan Emosional[sunting | sunting sumber]

Mengenali emosi diri[sunting | sunting sumber]

Mengenali emosi diri sendiri merupakan salah satu faktor untuk memaksimalkan kecerdasan emosi. Mengenali emosi adalah kemampuan dasar untuk mengetahui perasaan apa yang akan dan sedang terjadi. Kemampuan emosi diri adalah kemampuan dasar untuk menyadari akan emosinya sendiri. Hal tersebut bertujuan untuk mencegah terhadap keadaan suasana hati dan pikiran. Apabila tidak bisa mengetahui perasaan dan emosi sendiri akan terbawa akan emosi yang bisa menguasai diri.[33]

Mengelola emosi[sunting | sunting sumber]

Mengelola emosi merupakan manajeman untuk mengendalikan emosi. Dengan mengelola emosi diharapkan mampu untuk memahami, menerima, serta memberikan kontrol ketika mengekspresikan emosi.[34] Emosi harus diekspresikan sesuai tujuan yang jelas, agar tercipta hubungan yang harmonis secara interpersonal. Selain mengelola emosi diri sendiri, juga belajar untuk memahami emosi yang ada pada diri orang lain.[35]

Empati[sunting | sunting sumber]

Narsistik bisa timbul karena kurang empati terhadap keadaan orang lain. Narsistik adalah keadaan mental seseorang yang selalu merasa ingin mementingkan diri sendiri. Kepribadian narsistik bisa dihubungkan dengan keadaan lingkungan, bisa juga disebabkan karena kondisi keluarga yang selalu memuji atau mengkritik sesuatu dengan cara berlebihan.[36]

Empati merupakan salah satu bentuk kecerdasan emosional. Empati merupakan suatu sikap untuk mendalami perasaan orang lain, meskipun tidak mengalami secara langsung apa yang dirasakan orang tersebut.[37] Ciri dari pengaplikasian sikap empati mampu memahami diri sendiri, sebelum kita memahami diri orang lain. Selain itu, orang yang memiliki rasa empati yang tinggi bisa memahami bahasa isyarat.[38]

Menjalin hubungan[sunting | sunting sumber]

Kecerdasan emosional untum membangun hubungan dengan orang lain merupakan seni untuk menunjang popularitas, dan melatih untuk meminpin diri. Hal tersebut ditunjang oleh kemampuan komunikasi untuk menjalin hubungan dengan orang lain, hingga bisa bekerjasama dalam suatu tim.[39]

Komunikasi[sunting | sunting sumber]

Dengan berkomunikasi belajar untuk menyelesaikan masalah agar tidak timbul salah paham, juga berlatih membaca situasi sekitar agar lebih peka.[40]

Dampak[sunting | sunting sumber]

Tinggi[sunting | sunting sumber]

Dampak kecerdasan emosional yang terlalu tinggi, pertama sulit memberi dan menerima kritik yang negatif. Hal ini dikarenakan orang yang memiliki kecerdasan emosional yang tinggi memiliki empati yang tinggi pula. Oleh karena itu, ketika akan memberikan kritik yang tajam, mereka selalu memikirkan dampak terhadap orang lain, hingga enggan memberikan kritik. Begitu pun saat menerima kritik negatif, orang yang memiliki kecerdasan emosional yang tinggi tidak akan merasa sedang dikritik. Dampak kedua, orang yang memiliki kecerdasan emosional yang tinggi memiliki tingkat kreativitas yang rendah. Hal ini dikarenakan, mereka cenderung menyukai kerja secara kelompok dan tidak ingin menonjolkan diri. Dampak ketiga yaitu, selalu menghidari risiko. Hal ini dikarenakan orang yang memiliki kecerdasan emosional yang tinggi mereka memiliki kendali diri yang kuat, dan selalu menimbang dengan cermat atas apa yang mereka lakukan.[41]

Rendah[sunting | sunting sumber]

Dampak negatif dari rendahnya kecerdasan emosional bisa mempengaruhi kesehatan fisik. Hal ini dikarenakan ujung dari gangguan emosional salah satunya stres. Dampaknya bisa menjadi penyakit kurangnya imun, jantung, hingga tekanan darah tinggi. Selain kesehatan fisik, juga mempengaruhi kesehatan mental. Misalnya bisa membuat depresi, hingga susah bersosialisasi dengan orang lain.[42]

Kritik[sunting | sunting sumber]

Korelasi dengan kepribadian[sunting | sunting sumber]

Beberapa peneliti pernah mengangkat korelasi antara pengukuran kecerdasan emosional dengan dimensi kepribadian yang sesungguhnya. Umumnya, pengukuran kecerdasan emosional dan aspek-aspek kepribadian dianggap sebagai satu hal yang sama karena keduanya memiliki tujuan untuk mengukur sifat dari suatu kepribadian.[43] Secara spesifik, pengukuran kecerdasan emosional seringkali menonjolkan aspek neurotisisme dan ekstraversi dari kepribadian Big Five. Khususnya pada neurotisisme, ia dikatakan berhubungan dengan emosi negatif dan kecemasan. Secara konsisten, individu yang mencapai skor tinggi pada pengukuran neurotisisme cenderung memiliki skor rendah pada pengukuran kecerdasan emosional.

Interpretasi terhadap korelasi antara kuesioner kecerdasan emosional dengan kepribadian seringkali masih bervariasi. Akan tetapi, pandangan yang menonjol dalam literatur ilmiah merupakan pandangan mengenai Sifat Kecerdasan Emosional. Pandangan tersebut umumnya menafsirkan ulang Kecerdasan Emosional sebagai kumpulan dari berbagai sifat yang ada pada kepribadian.[44]

Sebuah meta-analisis 2017 dari 142 sumber data menemukan adanya tumpang tindih yang sangat besar antara faktor umum kepribadian dengan sifat yang ada pada kecerdasan emosional. Karena besarnya tumpang tindih antara dua hal tersebut, peneliti dalam meta-analisis tersebut kemudian menyimpulkan bahwa "Temuan menunjukkan kalau faktor umum kepribadian sangat mirip dengan sifat kecerdasan emosional."[45] Namun, tumpang tindih antara faktor umum kepribadian dengan kemampuan yang ada pada kecerdasan emosional cenderung lebih moderat, dengan korelasi sekitar 0,28.[45]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Hasanat, Nida UI (2016). "ANDA SEDANG BERSEDIH? COBALAH TERSENYUM ATAU TERTAWA...(Suatu bukti dari Facial Feedback Hypothesis)". Buletin Psikologi. 5 (2): 26. ISSN 2528-5858. 
  2. ^ Fadhil, Sahabat (2021). "Quantum Quotient (Kecerdasan Emosional) Pada Manusia". PMII Pakuan. Diakses tanggal 2022-03-07. 
  3. ^ Purnama, Indah Mayang (2016). "Pengaruh Kecerdasan Emosional dan Minat Belajar Terhadap Prestasi Belajar Matematika di SMAN Jakarta Selatan". Formatif: Jurnal Ilmiah Pendidikan MIPA. 6 (3): 237. doi:10.30998/formatif.v6i3.995. ISSN 2502-5457. 
  4. ^ Selviana (2021). "SKALA KECERDASAN EMOSIONAL" (PDF). Mahasiswa YAI. hlm. 2. 
  5. ^ Baktio, Hari (2013). "Kecerdasan Emosi" (PDF). Pusdikmin. hlm. 19. 
  6. ^ Misbach, Ifa Hanifah (2008). "Antara IQ, EQ, dan SQ" (PDF). File UPI. hlm. 5-6. 
  7. ^ Priyam Dhani, Tanu Sharma (Juli 2016). "Emotional Intelligence; History, Models and Measures". International Journal of Science Technology and Management. 5 (7): 189–201. 
  8. ^ Argyle. Social Encounters (dalam bahasa Inggris). Transaction Publishers. hlm. 121. ISBN 978-0-202-36897-9. 
  9. ^ Edara, Inna Reddy (2021). "Exploring the Relation between Emotional Intelligence, Subjective Wellness, and Psychological Distress: A Case Study of University Students in Taiwan". Behaviorial Sciences. 11 (124): 1–20. 
  10. ^ "Gardner's Theory of Multiple Intelligences". Verywell Mind (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-03-18. 
  11. ^ "Howard Gardner, multiple intelligences and education". web.archive.org. 2005-11-02. Archived from the original on 2005-11-02. Diakses tanggal 2022-03-18. 
  12. ^ Beasley K (May 1987). "The Emotional Quotient" (PDF). Mensa: 25. 
  13. ^ "What is emotional intelligence (EI)? - Definition from WhatIs.com". SearchCIO (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-03-18. 
  14. ^ "Daniel Goleman on Leadership and The Power of Emotional Intelligence - Forbes". web.archive.org. 2012-11-04. Archived from the original on 2012-11-04. Diakses tanggal 2022-03-18. 
  15. ^ Goleman, Daniel (1998). "What Makes a Leader?" (PDF). Harvard Business Review: 82–91. 
  16. ^ "Emotional Competence and Leadership Excellence at Johnson & Johnson: The Emotional Intelligence and Leadership Study". www.eiconsortium.org. Diakses tanggal 2022-03-18. 
  17. ^ "What is Emotional Intelligence? +23 Ways To Improve It". PositivePsychology.com (dalam bahasa Inggris). 2018-11-14. Diakses tanggal 2022-03-18. 
  18. ^ "Why emotional intelligence is just a fad - CBS News". web.archive.org. 2012-11-28. Archived from the original on 2012-11-28. Diakses tanggal 2022-03-18. 
  19. ^ "Emotional Intelligence". Noba (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-03-18. 
  20. ^ Salovey, Peter; Grewal, Daisy (2005). "The Science of Emotional Intelligence". Current Directions in Psychological Science. 14 (6): 281–285. ISSN 0963-7214. 
  21. ^ Sari, Ni Luh Krishna Ratna; Hamidah, Hamidah; Marheni, Adijanti (2020). "Dinamika Psikologis Individu dengan Gangguan Kepribadian Ambang". Jurnal Psikologi Udayana (dalam bahasa Inggris). 7 (2): 17. doi:10.24843/JPU.2020.v07.i02.p02. ISSN 2654-4024. 
  22. ^ Samiadi, Lika Aprilia (2016). "Masalah Dalam Pengendalian Amarah, Ini Tanda-tandanya". Hello Sehat. Diakses tanggal 2022-03-06. 
  23. ^ a b c d e f Daud, Firdaus (2012). "Pengaruh Kecerdasan Emosional (EQ) dan Motivasi Belajar terhadap Hasil Belajar Biologi Siswa SMA 3 Negeri Kota Palopo". Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran (JPP) (dalam bahasa Inggris). 19 (2): 245–246. 
  24. ^ Handayani, Verury Verona (2020). "Pentingnya Memahami Perbedaan Sedih dan Depresi". Halodoc. Diakses tanggal 2022-03-06. 
  25. ^ Trifiana, Azelia (2020). "Marah, Sedih, Bahagia: Apa Saja Emosi Dasar Manusia?". SehatQ. Diakses tanggal 2022-03-06. 
  26. ^ Willy, Tjin (2019). "Stres". Alodokter. Diakses tanggal 2022-03-07. 
  27. ^ Mardatila, Ani (2021). "Mengenal Rasa Takut dan Prosesnya dalam Tubuh". merdeka.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-03-06. 
  28. ^ Ruslan, Heri (2012). "Inilah Tiga Tingkat Kenikmatan Manusia". Republika Online. Diakses tanggal 2022-03-06. 
  29. ^ Murniaseh, Endah (2021). "Apa Itu Cinta dan Mengapa Perasaan Cinta Harus Diungkapkan?". tirto.id. Diakses tanggal 2022-03-06. 
  30. ^ Nanda, Salsabila (2021). "Mengenal 6 Emosi Dasar Manusia Beserta Fungsi dan Cara Kerjanya". www.brainacademy.id. Diakses tanggal 2022-03-06. 
  31. ^ Afandi, Nur Aziz; Adhani, Dwi Nurhayati; Hasiana, Isabella (2014). "Perasaan Malu (Shyness) pada Mahasiswa Baru di Program Studi Psikologi Universitas Trunojoyo Madura". Personifikasi: Jurnal Ilmu Psikologi (dalam bahasa Inggris). 5 (1): 44–45. doi:10.21107/personifikasi.v5i1.6570. ISSN 2721-0626. 
  32. ^ a b c Nasril; Ulfatmi (2018). "MELACAK KONSEP DASAR KECERDASAN EMOSIONAL". E-Journal UIN IB. hlm. 18-19. 
  33. ^ Hajeriati (2014). "Hubungan antara Kemampuan Mengenali Emosi Diri dan Kemampuan Mengelola Emosi dengan Perilaku Belajar Mahasiswa Jurusan Pendidikan Fisika Fakultas Tarbiyah danKeguruan UIN Alauddin Makassar". Journal UIN Alauddin. hlm. 11. 
  34. ^ Adelia, Audra Levana (2021). "Manajemen Emosi: Cara Mengendalikan Emosi dalam Diri". Satu Persen. Diakses tanggal 2022-03-06. 
  35. ^ kurniadi (2020-12-11). "Manajemen Emosi". Universitas Tanjungpura (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-03-06. 
  36. ^ Marella, Vania Dinda (2021). "Apa Itu Gangguan Kepribadian Narsistik? Pahami Pengertian Gejala dan Penyebabnya". liputan6.com. Diakses tanggal 2022-03-07. 
  37. ^ Silfiasari, Silfiasari (2017). "EMPATI DAN PEMAAFAN DALAM HUBUNGAN PERTEMANAN SISWA REGULAR KEPADA SISWA BERKEBUTUHAN KHUSUS (ABK) DI SEKOLAH INKLUSIF". Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan (dalam bahasa Inggris). 5 (1): 129. doi:10.22219/jipt.v5i1.3886. ISSN 2540-8291. 
  38. ^ Pamungkas, Igo Masaid; Muslikah, Muslikah (2019-12-31). "HUBUNGAN ANTARA KECERDASAN EMOSI DAN EMPATI DENGAN ALTRUISME PADA SISWA KELAS XI MIPA SMA N 3 DEMAK". JURNAL EDUKASI: Jurnal Bimbingan Konseling. 5 (2): 163. doi:10.22373/je.v5i2.5093. ISSN 2460-5794. 
  39. ^ Husni, Desma (2012). "HUBUNGAN ANTARA KECERDASAN EMOSIONAL DENGAN PENERIMAAN TEMAN SEBAYA PADA SISWA AKSELERASI SMA NEGERI 8 PEKANBARU" (PDF). Repositori Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim. hlm. 18. 
  40. ^ Sholichah, Fitria Nur (2015). "Pengaruh EQ (Emotional Quotient) dan SQ (Spiritual Quotient) terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran PAI di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Plus Al-Kautsar Blimbing-Malang" (PDF). Etheses UIN Malang. hlm. 31. 
  41. ^ Efendi, Ahmad (2020). "Dampak Negatif Kecerdasan Emosional yang Terlalu Tinggi". tirto.id. Diakses tanggal 2022-03-07. 
  42. ^ Hary W, Yoseph (2019). "Dampak EQ Lemah, Rendahnya Kecerdasan Emosional Bisa Bikin Beberapa Hal Ini Berantakan". Tribunjogja.com. Diakses tanggal 2022-03-07. 
  43. ^ Flora Kokkinaki, Ria Pita, Flora Kokkinaki (2007). "The location of trait emotional intelligence in personality factor space". British Journal of Psychology. 98: 273–289. doi:10.1348/000712606x120618. 
  44. ^ Austin EJ (2008). "A reaction time study of responses to trait and ability emotional intelligence test items" (PDF). Personality and Individual Differences. 46 (3): 381–383. doi:10.1016/j.paid.2008.10.025. hdl:20.500.11820/c3e59b2b-8367-4e8a-9d9c-9fb87c186fc1alt=Dapat diakses gratis. 
  45. ^ a b van der Linden, Dimitri; Pekaar, Keri A.; Bakker, Arnold B.; Schermer, Julie Aitken; Vernon, Philip A.; Dunkel, Curtis S.; Petrides, K. V. (January 2017). "Overlap between the general factor of personality and emotional intelligence: A meta-analysis". Psychological Bulletin (dalam bahasa Inggris). 143 (1): 36–52. doi:10.1037/bul0000078. ISSN 1939-1455. PMID 27841449.