Jatiarjo, Prigen, Pasuruan
Jatiarjo | |||||
|---|---|---|---|---|---|
| Negara | |||||
| Provinsi | Jawa Timur | ||||
| Kabupaten | Pasuruan | ||||
| Kecamatan | Prigen | ||||
| Kode pos | 67157 | ||||
| Kode Kemendagri | 35.14.10.2001 | ||||
| Luas | - | ||||
| Kepadatan | - | ||||
| |||||
Jatiarjo adalah desa di kecamatan Prigen, Pasuruan, Jawa Timur, Indonesia.
Desa Jatiarjo terdiri dari tiga dusun, yaitu Dusun Tonggowa, Dusun Tegal Kidul, dan Dusun Cowek. Desa ini terletak di kaki Gunung Arjuno dan terkenal akan keindahan panorama alamnya yang sangat asri serta berhawa sejuk. Karena keindahan dan keasrian alamnya, di desa ini terdapat sebuah tempat wisata yang sangat terkenal, yaitu Taman Safari Indonesia Prigen. Setiap akhir pekan, jalan di desa ini dipenuhi oleh kendaraan para pelancong yang ingin menikmati liburan di Taman Safari Indonesia. Di sepanjang jalan menuju Taman Safari Indonesia, banyak dijumpai rumah makan, pusat oleh-oleh, serta penjual buah-buahan yang berjajar di kanan dan kiri jalan.
Sejarah
[sunting | sunting sumber]Menurut tetua dan tokoh masyarakat setempat, nama Jatiarjo berasal dari kata Jati dan Rejo, yang diambil dari nama pohon jati dan rejo dalam bahasa Jawa, yang berarti "pohon jati yang membawa kesejahteraan." Sejarah Desa Jatiarjo dimulai pada awal masa penjajahan Belanda. Saat itu, Desa Jatiarjo masih berupa hutan jati, di mana belum ada satu pun orang yang mendiami tempat tersebut.
Sekitar tahun 1800-an, para pemberontak asal pulau Madura yang kalah perang melawan penjajah Belanda banyak yang melarikan diri ke berbagai tempat di Jawa Timur. Di Jawa Timur mereka berpencar, ada yang ke Problolingo, Jember, serta Pasuruan. Di Pasuruan, mereka lari bersembunyi di hutan-hutan dan gunung. Menurut cerita dari ImronTaneh, warga setempat, ada salah satu pemberontak yang bernama Mak Bujuk dan Bok Bujuk yang berasal dari Tanah Merah Bangkalan Madura melarikan diri ke hutan jati di kaki gunung Arjuno. Sejak saat itu Mak Bujuk dan Bok Bujuk tinggal di hutan itu. Pelan-pelan mereka berdua mulai membabat hutan, membuat tempat tinggal dan bercocok tanam. Tempat yang tadinya hutan belantara kini berubah menjadi pemukiman. Lambat laun banyak orang dari luar desa mendengar tentang keberadaan tempat itu, sehingga mereka mulai berdatangan untuk menetap di desa tersebut. Maka sejak saat itu orang-orang mulai menamakan tempat itu sebagai Jatiarjo.
Potensi
[sunting | sunting sumber]Dengan panorama alamnya yang sangat indah yang berada dikaki gunung Arjuno, desa ini cocok untuk di jadikan sebagai desa wisata. Belum lagi dengan keberadaan Taman Safari Indonesia semakin mengukuhkan desa ini sebagai tujuan wisata yang layak untuk dikunjungi.
Selain Pariwasata, desa ini juga memiliki tanah yang subur yang cocok untuk pertanian. Berbagai macam spesies tanaman dapat tumbuh dengan baik di desa ini, seperti berbagai jenis palawija, umbi-umbian, kacang-kacangan, segala jenis sayuran, serta tumbuhan keras semacam mahoni dan albasia.
Demografi
[sunting | sunting sumber]Kepercayaan
[sunting | sunting sumber]Sebelum agama Islam datang, masyarakat desa Jatiarjo memeluk agama dan kepercayaan para Leluhurnya yaitu Hindu dan Animisme. Ini di buktikan dengan keberadaan situs-situs pemujaan dan arca di sekitar Gunung Arjuna. Sampai saat ini situs-situs dan tempat pemujaan itu masih sering dikunjungi para peziarah dan pelancong. Kini situs dan tempat pemujaan itu telah di tetapkan sebagai cagar budaya oleh pemerintah kabupaten Pasuruan.
Sekitar tahun '60-an, dua ulama besar dan tokoh masyarakat setempat, Kyai Kholil beserta Kyai Musallam, mendirikan sebuah langgar atau Mushola di Dusun Tonggowa. Langgar atau Mushola tersebut didirikan bertujuan untuk dijadikan sebagai tempat ibadah sekaligus tempat belajar agama Islam. Pada saat itu langgar masih sepi dari aktivitas baik pengajian dan ibadah, tapi dengan kegigihan dua ulama tersebut lambat laun banyak masyarakat Tonggowa yang datang untuk belajar agama dan beribadah. Sejak saat itu masyarat Tonggowa yang dulunya menganut animisme beralih memeluk agama Islam. Setelah masyarakat Dusun Tonggowa memeluk Islam, Kyai Kholil dan Kyai Musallam lalu menyebarkan Islam ke Dusun Cowek dan Tegal kidul. Akhirnya dengan kegigihan dan kearifan kedua ulama tersebut, seluruh Dusun di desa Jatiarjo memeluk agama Islam.
Mata Pencaharian
[sunting | sunting sumber]Karena tanahnya yang sangat subur, mayoritas warga Desa Jatiarjo bekerja sebagai petani. Mereka menanami tanah mereka dengan berbagai jenis tanaman. Saat panen tiba, mereka menjual hasil panen ke pasar. Uang hasil penjualan dari ladang tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Selain bertani, warga Desa Jatiarjo juga ada yang berprofesi sebagai guru, buruh pabrik, buruh bangunan, pegawai negeri, dan lain-lain.

