Hulda

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Makam nabiah Hulda.

Hulda (Ibrani: חֻלְדָּה; bahasa Inggris: Huldah) adalah seorang nabiah dari abad ke-7 SM yang disebut dalam Alkitab Ibrani dan bagian Perjanjian Lama di Alkitab Kristen terutama pada 2 Raja-raja 22 dan 2 Tawarikh 34. Setelah penemuan kembali kitab Taurat pada waktu perbaikan Bait Allah, maka atas perintah raja Yosia, Imam Besar Hilkia bersama dengan Ahikam, Akhbor, Safan dan Asaya datang menemui nabiah ini untuk meminta petunjuk Tuhan.

Ia adalah istri Salum, seorang yang mengurus pakaian-pakaian, dan tinggal di Yerusalem, di perkampungan baru.

Menurut tafsiran Rabinik, Hulda dan Debora adalah dua nabiah utama dalam bagian Nevi'im ("Nabi-nabi") dari Alkitab Ibrani, meskipun ada perempuan-perempuan lain yang juga disebut "nabiah". "Hulda" berarti "cerpelai" atau "tikus tanah", sedangkan "Debora" berarti "lebah" atau "tawon".

Gerbang Hulda di Tembok Selatan pada Al-Haram asy-Syarif dinamai menurut namanya.[1]

Catatan Alkitab[sunting | sunting sumber]

Dalam Alkitab tercatat riwayat nabiah Hulda sebagai berikut:

12Kemudian raja memberi perintah kepada imam Hilkia, kepada Ahikam bin Safan, kepada Akhbor bin Mikha, kepada Safan, panitera itu, dan kepada Asaya, hamba raja, katanya: 13"Pergilah, mintalah petunjuk TUHAN bagiku, bagi rakyat dan bagi seluruh Yehuda, tentang perkataan kitab yang ditemukan ini, sebab hebat kehangatan murka TUHAN yang bernyala-nyala terhadap kita, oleh karena nenek moyang kita tidak mendengarkan perkataan kitab ini dengan berbuat tepat seperti yang tertulis di dalamnya." 14Maka pergilah imam Hilkia, Ahikam, Akhbor, Safan dan Asaya kepada nabiah Hulda, isteri seorang yang mengurus pakaian-pakaian, yaitu Salum bin Tikwa bin Harhas; nabiah itu tinggal di Yerusalem, di perkampungan baru. Mereka memberitakan semuanya kepadanya.15Perempuan itu menjawab mereka: "Beginilah firman TUHAN, Allah Israel! Katakanlah kepada orang yang menyuruh kamu kepada-Ku! 16Beginilah firman TUHAN: Sesungguhnya Aku akan mendatangkan malapetaka atas tempat ini dan atas penduduknya, yakni segala perkataan kitab yang telah dibaca oleh raja Yehuda; 17karena mereka meninggalkan Aku dan membakar korban kepada allah lain dengan maksud menimbulkan sakit hati-Ku dengan segala pekerjaan tangan mereka; sebab itu kehangatan murka-Ku akan bernyala-nyala terhadap tempat ini dengan tidak padam-padam.18Tetapi kepada raja Yehuda, yang telah menyuruh kamu untuk meminta petunjuk TUHAN, harus kamu katakan demikian: Beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Mengenai perkataan yang telah kaudengar itu, 19oleh karena engkau sudah menyesal dan engkau merendahkan diri di hadapan TUHAN pada waktu engkau mendengar hukuman yang Kufirmankan terhadap tempat ini dan terhadap penduduknya, bahwa mereka akan mendahsyatkan dan menjadi kutuk, dan oleh karena engkau mengoyakkan pakaianmu dan menangis di hadapan-Ku, Akupun telah mendengarnya, demikianlah firman TUHAN, 20sebab itu, sesungguhnya Aku akan mengumpulkan engkau kepada nenek moyangmu, dan engkau akan dikebumikan ke dalam kuburmu dengan damai, dan matamu tidak akan melihat segala malapetaka yang akan Kudatangkan atas tempat ini." Lalu mereka menyampaikan jawab itu kepada raja.[2]
20Kemudian raja memberi perintah kepada Hilkia, kepada Ahikam bin Safan, kepada Abdon bin Mikha, kepada Safan, panitera negara itu, dan kepada Asaya, hamba raja, katanya: 21"Pergilah, mintalah petunjuk TUHAN bagiku, bagi yang masih tinggal di Israel dan di Yehuda tentang perkataan kitab yang ditemukan ini, sebab hebat kehangatan murka TUHAN yang dicurahkan kepada kita, oleh karena nenek moyang kita tidak memelihara firman TUHAN dengan berbuat tepat seperti yang tertulis dalam kitab ini!" 22Maka pergilah Hilkia dengan orang-orang yang disuruh raja kepada nabiah Hulda, isteri seorang yang mengurus pakaian-pakaian, yaitu Salum bin Tokhat bin Hasra, penunggu pakaian-pakaian; nabiah itu tinggal di Yerusalem, di perkampungan baru. Mereka berbicara kepadanya sebagaimana yang diperintahkan.23Perempuan itu menjawab mereka: "Beginilah firman TUHAN, Allah Israel! Katakanlah kepada orang yang menyuruh kamu kepada-Ku! 24Beginilah firman TUHAN: Sesungguhnya Aku akan mendatangkan malapetaka atas tempat ini dan atas penduduknya, yakni segala kutuk yang tertulis dalam kitab yang telah dibacakan di depan raja Yehuda, 25karena mereka meninggalkan Aku dan membakar korban kepada allah lain dengan maksud menimbulkan sakit hati-Ku dengan segala pekerjaan tangan mereka; sebab itu nyala murka-Ku akan dicurahkan ke tempat ini dengan tidak padam-padam.26Tetapi kepada raja Yehuda yang telah menyuruh kamu untuk meminta petunjuk TUHAN, harus kamu katakan demikian: Beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Mengenai perkataan yang telah kaudengar itu, 27oleh karena engkau sudah menyesal dan engkau merendahkan diri di hadapan Allah pada waktu engkau mendengar firman-Nya terhadap tempat ini dan terhadap penduduknya, oleh karena engkau merendahkan diri di hadapan-Ku, mengoyakkan pakaianmu dan menangis di hadapan-Ku, Akupun telah mendengarnya, demikianlah firman TUHAN, 28maka sesungguhnya Aku akan mengumpulkan engkau kepada nenek moyangmu, dan engkau akan dikebumikan ke dalam kuburmu dengan damai, dan matamu tidak akan melihat segala malapetaka yang akan Kudatangkan atas tempat ini dan atas penduduknya." Lalu mereka menyampaikan jawab itu kepada raja.[3]

Analisis[sunting | sunting sumber]

Nubuat Hulda mengidentifikasikan kata-kata yang didengar oleh raja Yehuda (2 Raja-raja 22:18) dengan Firman Tuhan (2 Raja-raja 22:19). Menurut William E. Phipps, Hulda adalah orang pertama yang menyatakan suatu tulisan sebagai Kitab Suci.[4]

Hulda hanya muncul dua kali dalam Alkitab Ibrani dalam catatan yang paralel, tetapi naratif pendek ini cukup jelas bahwa Hulda dipandang sebagai seorang nabiah yang biasa menyampaikan Firman Tuhan langsung dengan nada keras kepada Imam Besar dan para pembesar kerajaan, di mana mereka datang bersama-sama, dan dengan tegas menyampaikan nasib raja dan bangsanya, serta mempunyai otoritas untuk menentukan apa yang benar-benar Hukum Allah. Alkitab tidak memberikan informasi lebih banyak kecuali keterangan mengenai pekerjaan suaminya dan tempat tinggalnya.

Sastra Rabinik[sunting | sunting sumber]

Menurut tafsiran Rabinik, perkataan Hulda kepada utusan raja Yosia, "Katakanlah kepada orang yang menyuruh kamu kepada-Ku," dan seterusnya,[5] mengindikasikan bahwa ia memandang Yosia seperti laki-laki biasa. Raja meminta nasihatnya, bukan nasihat Yeremia, karena mungkin raja berpikir seorang perempuan akan lebih mudah digerakkan oleh belas kasihan daripada seorang laki-laki, sehingga nabiah itu akan lebih bersedia daripada Yeremia untuk mendoakan raja di hadapan Allah (Meg. 14a, b; bandingkan Seder 'Olam R. xxi.). Hulda adalah sanak saudara Yeremia, keduanya adalah keturunan Rahab dari pernikahannya dengan Yosua (Sifre, Num. 78; Meg. 14a, b). Sewaktu Yeremia menegur dan berbicara mengenai pertobatan kepada kaum pria, Hulda melakukan hal yang sama kepada kaum wanita (Pesiḳ. R. 26 [ed. Friedmann, p. 129]). Hulda bukan hanya seorang nabiah, melainkan juga mengajar di sekolah (Targ. atas 2 Raja-raja 22:14), menurut sejumlah pengajaran khususnya doktrin oral. Masih diragukan apakah "Gerbang Hulda" pada Bait Allah Kedua (Mid. i. 3) berhubungan dengan nabiah Hulda; dapat saja itu berarti "Gerbang Kucing"; tetapi sejumlah sarjana menghubungkan gerbang ini dengan sekolah yang dipimpin oleh Hulda (Rashi mengenai Raja-raja l.c.).

Kitab yang dipastikan oleh Hulda[sunting | sunting sumber]

Sumber-sumber Rabinik seperti Rashi menjelaskan bahwa kitab yang dipastikan keasliannya oleh nabiah Hulda adalah kitab Taurat yang disusun oleh Musa yang disembunyikan dari raja Ahas. Sejumlah sarjana modern berpendapat bahwa yang ditemukan itu hanyalah kitab Ulangan, tetapi tidak didukung bukti kuat.

Makam[sunting | sunting sumber]

Ada dua tradisi mengenai makam Hulda. Tosefta mencatat bahwa makam Hulda terletak di antara tembok-tembok Yerusalem. Pada abad pertengahan muncul tradisi kedua yang mengidentifikasi makam Hulda dalam suatu gua yang digali dari batu di bawah suatu masjid di Bukit Zaitun (Lihat: Chapel of the Ascension di Yerusalem). Gua ini dianggap suci oleh orang Yahudi, Kristen dan Muslim.[6]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Jerusalem an Archaeological Biography", Hershel Shanks, Random House, 1995, p. 143.
  2. ^ 2 Raja-raja 22:12-20
  3. ^ 2 Tawarikh 34:20-28
  4. ^ William E. Phipps, Assertive Biblical Women, p. 85.
  5. ^ 2 Raja-raja 22:15
  6. ^ Michelson, Menachem (1996). he:מקומות קדושים וקברי צדיקים בארץ ישראל
    The Jewish Holy Places in the Land of Israel
    (dalam bahasa Ibrani). Milner, Moshe; Salomon, Yehuda. Israel: Israel Ministry of Defense. hlm. 48. ISBN 965-05-0836-8. בתוספתא מסופר אמנם במפורש כי חולדה הנביאה נקברה בירושלים שבין החומות, אולם המסורת העממית מימי הביניים ואילך מצביעה על קברה דווקא בהר הזיתים – חצוב בסלע בתוך מרתף של מסגד בתחום הכפר א-טור.
     

Pustaka tambahan[sunting | sunting sumber]

Reti, Irene Helen. The Kabbalah of Stone. ISBN 978-0-9843196-0-2

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

"Huldah", The Jewish Encyclopedia (Article in 1903 public domain Jewish Encyclopedia).