Geologi sejarah

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Geologi sejarah adalah salah satu cabang ilmu geologi khususnya geologi dasar.[1] Geologi sejarah secara khusus mengkaji tentang sejarah Bumi dan peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi padanya. Pertanyaan-pertanyaan mengenai sejarah Bumi meliputi masa lalu hingga masa kini. Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut diberikan menggunakan teori, hipotesis, atau bukti empiris yang ada pada permukaan Bumi. Kajian geologi sejarah mencakup pembahasan mengenai lokasi dan waktu terjadinya peristiwa sejarah Bumi.[2]

Prinsip[sunting | sunting sumber]

Kelimpahan fosil[sunting | sunting sumber]

Dalam geologi sejarah, tingkat kelimpahan fosil pada kolom geologi digunakan dalam penetapan waktu geologi. Prinsip ini diperoleh sebagai hasil dari pengetahuan mengenai asal-usul makhluk hidup dan kepunahan mereka. Fosil memiliki variasi yang sistematis secara kronologi sehingga mampu dijadikan sebagai informasi waktu geologi. Keunikan dari suatu fosil adalah adanya suksesi spesies yang sama di tiap benua di Bumi dan dalam kondisi yang masih utuh. Waktu geologi mengenai evolusi sejarah Bumi kemudian disusun berdasarkan kepada kelompok makhluk hidup yang diketahui melalui catatan fosil. Masing-masing suksesi spesies ditetapkan sebagai periode waktu geologi tertentu. Prinsip kelimpahan fosil kemudian mengawali terbentuknya kajian geologi modern.[3]

Prinsip-prinsip Steno[sunting | sunting sumber]

Prinsip-prinsip Steno merupakan prinsip dasar bagi semua jenis ilmu geologi. Prinsip-prinsip ini dikemukakan oleh fisikawan Denmark yang menetap di Florence, Italia bernama Nicolas Steno. Steno mengemukakan tiga prinsip yaitu prinsip horizontalitas, superposisi, dan kesenimbangan lateral. Ketiga prinsip ini berlaku pada lapisan batuan sedimen. Prinsip horizontalitas menyatakan bahwa pengendapan awal dari suatu batuan selalu dalam posisi horizontal. Pengecualian posisi ini hanya berlaku pada tepi cekungan karena adanya sudut kemiringan asli. Sudut cekungan ini ada secara alami karena adanya cekungan yang membentuk sudut. Prinsip superposisi menyatakan bahwa batuan yang paling awal erbentuk berada pada lapisan paling bawah pada kondisi normal atau tanpa gangguan. Lapisan paling bawah merupakan batuan tertua dan lapisan di atasnya berumur lebih muda. Prinsip kesinambungan lateral menyatakan bahwa sepanjang alur perlapisan batuan akan terjadi perlamparan secara terus-menerus. Suatu lapisan batuan dinyatakan mengalami perubahan fasies ketika terdapat perbedaan litologi pada lapisan batuan yang sama. Perubahan fasies ini diketahui melalui perbedaan sifat kimia, fisika, dan biologi di antara lapisan batuan dengan jalur yang sama.[4]

Kajian[sunting | sunting sumber]

Sejarah batuan[sunting | sunting sumber]

Kajian geologi sejarah yang paling dasar adalah mengenai sejarah batuan di Bumi. Sejarah batuan ini dimulai dari waktu terbentuknya batuan, lokasi terbentuknya batuan, proses-proses geologi yang mempengaruhi kondisi batuan, dan kondisi batuan tersebut pada masa kini. Waktu terbentuknya batuan berkaitan dengan umur dari batuan. Lokasi terbentuknya batuan berkaitan dengan lingkungan sedimentasi. Proses-proses geologi berkaitan dengan tenaga endogen dan tenaga eksogen. Sedangkan kondisi batuan pada masa kini berkaitan dengan proses-proses geomorfologi dan jenteranya. Uraian yang disajikan dalam geologi sejarah pada konteks ini adalah proses dan perkembangan cekungan, tektonika lempeng dan bentang alam.[5]

Teori-teori[sunting | sunting sumber]

Teori malapetaka[sunting | sunting sumber]

Teori malapetaka disebut juga sebagai teori katastrofa. Teori ini menyatakan bahwa kepunahan makhluk hidup merupakan suatu revolusi bagi kehadiran makhluk hidup baru di permukaan Bumi. Dalam teori malapetaka, keberadaan manusia, hewan dan tumbuhan yang ada pada masa sekarang disebabkan oleh kepunahan makhluk hidup baru yang pernah ada sebelumnya di Bumi. Teori malapetaka dikemukakan oleh ahli geologi dan ahli anatomi berkebangsaan Prancis, Georges Cuvier. Teori ini dikemukakan olehnya berdasarkan kepada hasil penemuan fosil yang berbeda-beda pada tiap lapisan permukaan Bumi di wilayah Paris dan sekitarnya. Asumsi yang diberikan dalam teori malapetaka adalah kepunahan disebabkan oleh adanya revolusi. Kesesuaian teori malapetaka dengan cerita mengenai air bah pada masa Nabi Nuh membuat teori ini mendapatkan dukungan dari gereja pada masanya. Namun, teori malapetaka ini hanya bertahan untuk kemudian digantikan oleh teori yang dikemukakan oleh Generelli. Generelli menyatakan bahwa sejarah permukaan Bumi tidak dibentuk melalui kekerasan.[6]

Teori uniformitarisme[sunting | sunting sumber]

Teori uniformitarisme merupakan teori yang dikemukakan oleh James Hutton pada tahun 1795. Teori ini dikemukakan dalam bukunya yang diterbitkan pada tahun yang sama, Theory of The Earth. Prinsip utama dalam pembentukan teori ini adalah pernyataan bahwa masa sekarang merupakan informasi yang dapat digunakan untuk mengetahui masa lalu. Dalam teori uniformitarisme, pembentukan permukaan Bumi berlangsung secara terus-menerus dan telah dimulai dalam waktu yang sangat lama sejak Bumi terbentuk. Teori uniformitarisme mengawali perkembangan pesat di bidang geologi pada akhir abad ke-18.[7]

Hubungan potong-memotong[sunting | sunting sumber]

Hubungan potong-memotong merupakan fenomena penerobosan suatu batuan terhadap batuan lainnya. Umur batuan diketahui melalui fenomena ini. Batu yang berumur lebih tua adalah batuan yang diterobos, sedangkan batuan yang menerobos merupakan batuan yang berumur lebih muda.[8]

Skala waktu geologi[sunting | sunting sumber]

Umur pembentuk Bumi dan permukaannya tidak diketahui dengan pasti karena terjadi jutaan tahun yang lalu. Umur ini hanya dapat diperkirakan melalui ilmu pengetahuan geologi yang diperoleh dari gejala-gejala geologi yang kejadiannya dapatt teramati di Bumi. Dari pengamatan ini kemudian disusunlah skala waktu geologi. Skala waktu geologi pertama kali diusulkan oleh seorang ahli geologi berkebangsaan Italia, Giovanni Arduino. Usulan ini disampaikannya pada tahun 1760. Arduino mengusulkan pembagian skala waktu geologi menjadi periode Primer (tertua), Sekunder (menengah) dan Tersier (termuda). Periode ini kemudian ditambahkan lagi dengan periode Kuarter yang dimaknai lebih muda dibandingkan periode Tersier. Pembagian periode oleh Arduino kini tidak lagi digunakan.[9]

Referensi[sunting | sunting sumber]

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Memed, M. W., dkk. (2019). Oktariadi, O., Yuwana, D. A., dan Kurnia, A., ed. Dinamika Geologi Selat Sunda dalam Pembangunan Berkelanjutan (PDF). Bandung: Badan Geologi. hlm. 2. ISBN 978-602-9105-79-7. 
  2. ^ Sukandarrumidi 2021, hlm. 1.
  3. ^ Erickson, Jon (2002). Historical Geology: Understanding Our's Planet's Past. New York: Facts On FIle, Inc. hlm. XI. ISBN 0-8160-4726-X. 
  4. ^ Noor 2014, hlm. 22.
  5. ^ Noor 2014, hlm. 503.
  6. ^ Sukandarrumidi 2021, hlm. 1-2.
  7. ^ Zuhdi, Muhammad (2019). Buku Ajar Pengantar Geologi (PDF). Mataram: Duta Pustaka Ilmu. hlm. 2–3. ISBN 978-623-7004-21-9. 
  8. ^ Noor 2014, hlm. 24.
  9. ^ Sukandarrumidi 2021, hlm. 4.

Daftar pustaka[sunting | sunting sumber]