Ekonomi Uni Soviet

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search

Ekonomi Uni Soviet berbasis pada sistem kepemilikan negara untuk alat produksi, pertanian kolektif, manufaktur industri, dan perencanaan administratif terpusat. Ekonomi dikontrol oleh negara mulai dari investasi, kepemilikan negara pada aset industri, stabilitas makroekonomi, pengangguran hampir nol, dan keamanan pekerjaan tinggi.[1]

Dimulai tahun 1928, keseluruhan ekonomi mengikuti serangkaian Rencana Lima Tahun. Pada tahun 1950-an, Uni Soviet telah berubah dari yang beberapa dekade sebelumnya adalah negara agraris menjadi kekuatan industri utama.[2] Kapasitas transformasinya-seperti yang dikatakan Dewan Keamanan Nasional AS sebagai "kemampuan yang terbukti untuk mengubah negara terbelakang dengan cepat melalui krisis modernisasi dan industrialisasi"—menjadikan komunisme menarik bagi kaum intelektual di negara berkembang di Asia.[3] Pertumbuhan yang luar biasa pada 3 periode pertama Rencana 5 Tahun (1928–40) juga makin impresif karena perlu dicatat bahwa pada periode ini terjadi Depresi Besar.[4] Selama periode ini Uni Soviet mengalami kemajuan industri yang pesat walaupun di negara lain mengalami krisis.[5]

Kekuatan utama ekonomi Soviet adalah jumlah minyak dan gasnya yang luar biasa, yang menjadi makin bernilai setelah harga minyak dunia meroket pada tahun 1970-an. Seperti catatan Daniel Yergin, ekonomi Soviet pada dekade akhirnya sangat bertumpu pada cadangan alam-terutama minyak dan gas. Menurut Yergin, harga minyak dunia yang jatuh tahun 1986 membuat tekanan amat besar pada ekonomi Soviet.[6] Setelah Mikhail Gorbachev berkuasa tahun 1985, ia memulai proses liberalisasi ekonomi menuju ekonomi campuran. Ketika Uni Soviet bubar akhir tahun 1991, negara ini meninggalkan utang 66 milyar dolar bagi Federasi Rusia, dengan hanya tersisa cadangan emas dan nilai tukar asing beberapa milyar dolar.[7]

Uni Soviet menempatkan diri sebagai ekonomi kedua terbesar dalam jumlah nominal dan keseimbangan kemampuan berbelanja ketika Perang Dingin sampai tahun 1988, ketika ekonomi Jepang melampaui 3 triliun dolar.[8]

Sektor konsumsi Uni Soviet hanya menyumbang sekitar 60% PDB negara per tahun 1990, sedangkan sektor industri menyumbang 22% dan sektor pertanian menyumbang 20%. Pertanian adalah pekerjaan utama di negara ini sebelum masifnya industrialisasi pada masa Joseph Stalin. Sektor jasa tidak begitu penting di Uni Soviet, mayoritas pekerja berada di sektor industri. Total angkatan kerja saat puncaknya mencapai 152,3 juta jiwa. Produk industri utama diantaranya minyak bumi, baja, pesawat, telekomunikasi, kimia, elektronik, pemrosesan makanan, perkayuan, pertambangan, dan industri pertahanan.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Hanson, Philip (2003). The Rise and Fall of the Soviet Economy (Routledge). pp. 1–8.
  2. ^ Davies 1998, hlm. 1, 3.
  3. ^ Peck 2006, hlm. 47.
    Salah satu yang dikenal adalah Nehru yang mengunjungi Uni Soviet pada akhir 1920-an dan sangat terkesan dengan kemajuan industrinya. Lihat Bradley 2010, hlmn. 475–6.
  4. ^ Allen 2003, hlm. 153.
  5. ^ Baten, Jörg (2016). A History of the Global Economy. From 1500 to the Present. Cambridge University Press. hlm. 62–63. ISBN 9781107507180. 
  6. ^ Daniel Yergin, The Quest: Energy, Security, and the Remaking of the Modern World (2011); quotes on pp 23, 24.
  7. ^ Boughton 2012, hlm. 288.
  8. ^ Japan's IMF nominal GDP Data 1987 to 1989 (October 2014)

Pranala luar[sunting | sunting sumber]