Dyah Raṇawijaya

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Dyah Ranawijaya)
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Girindrawardhana Dyah Ranawijaya
Illustration of Dyah Ranawijaya.jpg
Ilustrasi Dyah Raṇawijaya
Raja Majapahit
Berkuasa Majapahit 1474—1498
PendahuluSinghawikramawardhana
PenerusPatih Udara
Berkuasa1474-1498
LahirDyah Raṇawijaya
Nama takhta
Paduka Śrī Maharaja Śrī Wilwatiktapura Janggala Kaḍiri (Prasasti Jiyu I)
Nama anumerta
Bhaṭāra Prabhu Girīndrawardhana (Prasasti Pĕṭak)
Prabhu Nātha Śrī Girīndrawardhana (Prasasti Jiyu I)
AyahRajasawardhana

Girindrawardhana Dyah Ranawijaya adalah raja terakhir Majapahit yang memerintah tahun 1486—1498, dengan ibu kota di Daha.[1] Namanya dikenal melalui Prasasti Jiyu I, Prasasti Petak, Serat Pararaton, Kakawin Banawa Sekar, Suma Oriental, Babad Tanah Jawi, Serat Kanda dan Serat Pranitiradya.

Bhre Kertabhumi[sunting | sunting sumber]

Seorang raja dalam tradisi Majapahit memiliki gelar kerajaan dan nama muda yang dicirikan dengan penggunaan gelar kebangsawanan atau abhiseka Dyah, terutama berlaku untuk tokoh laki-laki dan perempuan.

Silsilah wangsa Rajasa, keluarga penguasa Singhasari dan Majapahit. Penguasa ditandai dalam gambar ini.[2]

Gelar Girindrawardhana (transliterasi: Girīndrawarddhana) adalah gelar bagi empat raja Majapahit. Keempat raja Majapahit yang menggunakan gelar ini adalah:

  • Bhre Kahuripan (identik dengan Dyah Samarawijaya)
  • Bhre Mataram/Keling (identik dengan Dyah Wijayakarana)
  • Bhre Pamotan (identik dengan Dyah Wijayakusuma)
  • Bhre Kertabhumi (identik dengan Dyah Raṇawijaya)

Menurut kitab Pararaton mereka adalah anak-anak dari Raja Majapahit Rajasawardhana yang sebelum menjadi raja pernah menjabat sebagai Bhre Kahuripan, Bhre Mataram, Bhre Pamotan dan Bhre Kertabhumi. Anak sulung Rajasawardhana, 'Dyah Samarawijaya' (identik dengan Bhre Kahuripan), diceritakan setelah Rajasawardhana meninggal, terjadi adanya perebutan takhta antara Samarawijaya melawan pamannya 'Dyah Suryawikrama' (identik dengan Girishawardhana), pada tahun 1456 Samarawijaya merelakan takhta Majapahit kepada Suryawikrama, yang tidak lain adalah paman sekaligus mertuanya tersebut.

Gelar ini ditemukan dalam Prasasti Waringinpitu yang bertahun 1369 Saka (1447 M), serta Prasasti Ptak (OJO XCI) dan Prasasti Jiwu (OJO XCII-XCV) yang keduanya bertahun 1408 Saka (1486 M).[3]

Identifikasi[sunting | sunting sumber]

Pada Prasasti Jiwu I bertarikh 1486, yang menceritakan penganugerahan tanah oleh Dyah Raṇawijaya kepada kepada pendukungnya 'Sri Brahmaraja Gangadhara' dalam perang saudara melawan Bhre Kertabhumi dan menyebutkan bahwa Girīndrawardhana Dyah Raṇawijaya adalah raja yang berkuasa atas Wilwatiktapura (nama lain Majapahit), Janggala, dan Kaḍiri.[4]

Masa Akhir Majapahit[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 1513 saat Tomé Pires mengunjungi Jawa, ibu kota sudah pindah ke Dayo (ejaan Portugis untuk Daha). Saat itu raja sudah tidak berkuasa penuh. Dyah Raṇawijaya hanya sebagai raja simbol belaka. Yang menjalankan roda pemerintahan adalah Guste Pate (ejaan Portugis untuk Gusti Patih) yang sebelumnya dikenal dengan nama Pate Amdura (ejaan Portugis untuk Patih Mahodara).[1] Cerita ini diperkuat oleh catatan Duarte Barbosa dari Italia yang menyebutkan pada tahun 1518 yang berkuasa atas Jawa pedalaman bernama Pate Udra (Patih Udara). Ia memerintah segala aspek. Ia menggenggam raja di tangannya, bahkan berhak memberikan perintah. Sang raja sudah tidak memiliki suara dalam hal apa pun. Rakyat sudah kehilangan kepercayaan kepada raja karena kecewa telah kehilangan sebagian besar tanah mereka.

Tomé Pires (1513) mencatat sering terjadi peperangan antara Pate Amdura (ejaan Portugis untuk Patih Mahodara) melawan persekutuan para pate (patih) pesisir utara yang dipimpin Pate Rodim dari Demaa (ejaan Portugis untuk Demak). Pate Rodim dan para pate yang beragama Islam itu membentuk aliansi melawan Daha. Meskipun demikian, tidak semua pate yang beragama Islam mendukung Pate Rodim. Ada seorang bernama Pate Vira dari Tuban yang meskipun muslim tetapi mendukung Guste Pate di Daha. Pate Vira ini adalah narasumber Tomé Pires mengenai kondisi politik di Jawa saat itu.[1]

Ketika Tomé Pires datang ke Jawa (1513), peperangan terjadi antara Daha melawan Demak. Terkadang Demak yang menyerang dahulu, kadang Daha yang ganti menyerang. Pihak Daha selaku penerus Majapahit ingin merebut kembali deretan kota pelabuhan utara yang dikuasai Dĕmak. Hanya Tuban saja di wilayah pantura yang masih setia kepada Daha, sedangkan Surabaya kadang melawan Daha, kadang menjadi kawan.[1]

Pada tahun 1522 penulis Italia bernama Antonio Pigaffeta mendapat keterangan dari para pelaut lainnya, bahwa ada kota besar di Jawa bernama Magepaher yang rajanya bernama Pati Unus telah meninggal. Menurut catatan Tomé Pires di tahun 1513 Pate Unus adalah pate yang berkuasa di Japara, yang merupakan pate Islam terbesar kedua sesudah Pate Rodim raja Demak. Jika keterangan ini benar, maka Pate Udra (Patih Mahodara) patih yang berkuasa di Daha telah dikalahkan oleh Pate Unus sesudah tahun 1518, sebelum tahun 1522.

Sementara itu, Babad Sĕngkala mencatat Tuban dan Daha (sekarang Kediri) baru bisa ditaklukkan oleh Demak pada tahun 1527. Saat itu yang menjadi raja Dĕmak adalah Sultan Trenggana putra Raden Patah.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d Tomé Pires (2015). Suma Oriental: Perjalanan dari Laut Merah ke Cina & Buku Francisco Rodrigues (penyunting, Armando Cortesao; penerjemah ed. Indonesia, Adrian Perkasa dan Anggita Pramesti). Yogyakarta: Ombak. ISBN 978-602-258-246-5. 
  2. ^ Bullough, Nigel (1995). Historic East Java: Remains in Stone. Jakarta: ADLine Communications. hlm. 116–117.  Teks "consulting editor: Mujiyono PH" akan diabaikan (bantuan); Teks "Printed in Singapore " akan diabaikan (bantuan)
  3. ^ Djaraf 1977.
  4. ^ Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama HD-1978

Kepustakaan[sunting | sunting sumber]

  • Babad Majapahit dan Para Wali (Jilid 3). 1989. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah
  • Babad Tanah Jawi. 2007. (terj.). Yogyakarta: Narasi
  • H.J. de Graaf dan T.H. Pigeaud. 2001. Kerajaan Islam Pertama di Jawa. Terj. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti
  • J.L.A. Brandes, 1897, Pararaton (Ken Arok) of het boek der Koningen van Tumapěl en van Majapahit. Uitgegeven en toegelicht. Batavia: Albrecht; 's Hage: Nijhoff. VBG 49.1.
  • Poesponegoro & Notosusanto (ed.). 1990. Sejarah Nasional Indonesia Jilid II. Jakarta: Balai Pustaka.
  • Slamet Muljana. 2005. Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara (terbitan ulang 1968). Yogyakarta: LKIS


Didahului oleh:
Dyah Suraprabhawa
Raja Majapahit
1474—1498
Diteruskan oleh:
-